"Mas kamu sudah pulang?" tanya itu sudah menjadi hal wajib ketika lelaki itu pulang dari mengajar.
Senyum wanita itu tak tersambut. Lelaki yang disambutnya dengan senyum manis justru pergi melewatinya begitu saja.
"Mas, tadi..."
Ucapan wanita itu terhenti mendapati tatapan mata tajam suaminya.
"Demi Allah aku lelah dengan semua ini. Bisakah barang sejenak kamu dan Ilyas pulang kerumah Abah."
Dinar tertegun mendengar ucapan suaminya.
Bukankah selama ini pernikahan mereka baik-baik saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa
"Ya Allah, Ratih. Kamu nggak papa?" tanya Irham menghampiri wanita yang dikenalnya itu.
"Kang Irham, bantu Ratih." mohon si wanita yang wajahnya penuh luka.
"Siapa yang tega membuatmu begini?" iba Irham.
"Su- suamiku, Kang."
"Aku bantu kamu buat lapor polisi, ya..?"
"Jangan, Kang." wanita itu buru-buru mencegah Irham. "Anakku ada padanya, dia akan menyakiti anakku jika aku berani melaporkannya ke polisi."
"Tapi, ini sudah termasuk penganiayaan."
"Kang, bantu Ratih untuk cari tempat tinggal, aku benar-benar sudah tidak sanggup, biar nanti aku cari anakku ketika aku sudah pulih." iba Ratih pada Irham yang masih kekeuh ingin membantunya untuk melapor.
"Pulang ke rumah Bude Yani?" tanya lelaki itu pada Ratih.
"Cari kost saja, Kang. Aku belum siap ketemu ibu."
Irham melirik jam di ponselnya. Sudah hampir magrib. Ia tidak melupakan janjinya pada sang istri untuk menjemputnya pulang bersama putra mereka. Tapi, ia juga tidak tega jika meninggalkan Ratih.
Ia segera mengontak atik ponselnya. Mengirimkan sebuah pesan untuk sang istri.
Di kediaman Pak Kyai. Dinar masih menunggu kedatangan suaminya. Ilyas beberapa kali sudah rewel karena mengantuk. Sebelum akhirnya bocah tiga tahun itu benar-benar memejamkan matanya. Dinar yang hendak memakai kembali hijabnya urung ketika menerima pesan dari Irham.
[Yank, Afwan. Mungkin aku sampai agak malam, karena ada urusan di luar dulu bersama Dafa.]
Senyum lembut Dinar terbit. Akhirnya Irham memberinya pesan, syukurlah dia tidak harus segera membangunkan Ilyas yang baru terlelap setelah beberapa kali rewel.
*******
Seusai shalat Magrib Irham belum juga datang. Dinar masih menunggu dengan sabar, hingga suara bel berbunyi wanita itu tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Tapi, begitu pintu dua daun itu terbuka, laki-laki yang muncul bukanlah Irham melainkan Dafa.
"Assalamualaikum, Ning Dinar. Pak Kyai ada?"
Dinar tersenyum kikuk, sebelum akhirnya menjawab juga.
"Waalaikumsalam, ada. Sebentar tak panggilkan Abah." tutur Dinar.
"Matur nuwun, Ning."
"Ngih, sami-sami." jawab Dinar yang hendak menutup kembali pintu rumah, sebelum ia mengingat sesuatu.
"Mas Dafa." panggil Dinar setelah buru-buru memutar badan menghadap kembali pada Safa.
"Ya, Ning?"
"Mas nggak sama Abu Ilyas?" tanyanya pada laki-laki yang tadi di sebut Irham dalam pesannya.
"Gus Irham pulang lebih dulu tadi Ning, katanya ada keperluan keluarga. Kalau ana baru pulang dari pondok karena sedang ada kegiatan memanah para santri hari ini."
Senyum manis Dinar berubah menjadi senyum masam.
Apa ini? Mengapa Irham berbohong.
"Oh, begitu. Ya udah, biar saya panggil Abah ke dalam."
"Memangnya, Gus Irham belum pulang, Ning?"
Yang di tanya hanya tersenyum saja. Dinar tidak lagi menjawab, ia melangkah meninggalkan Dafa dengan hati yang penuh tanya.
*******
Pukul sembilan malam, laki-laki berjambang tipis itu baru sampai di depan gerbang tinggi yang pintunya terbuka untuknya.
Dalam hati, Irham merasa sangat bersalah pada Dinar, sebab ingkar janji.
Begitu mobilnya terparkir didepan rumah megah mertuanya, ia buru-buru turun dan melangkah menuju pintu rumah.
Sepi.
Dua kali menekan bel, pintu baru di buka.
Irham tertegun ketika yang membuka pintu justru istrinya sendiri.
"Assalamualaikum." salamnya yang langsung dijawab Dinar.
Irham mencuri pandang ke arah Dinar yang mencium punggung tangannya dengan takzim.
"Afwan, Yank. Tadi ada kegiatan di luar pesantren bersama..."
"Masuklah, Mas. Mandi! Aku akan siapkan makan malam."
Irham melihat tubuh istrinya berbalik meninggalkannya lebih dulu. Tidak membiarkannya menyelesaikan kata-katanya, bahkan tidak ada senyum manis di wajah perempuan 22 tahun itu.
Marah kah Dinar karena dirinya telat?
Sedangkan Dinar sendiri sengaja memotong ucapan suaminya karena tidak mau Irham berdosa sebab kebohongan yang laki-laki itu ucapkan.
******
Usai membersihkan diri, Irham di siapkan makanan oleh Dinar.
Meskipun Dinar terus melayaninya tapi mulut wanita itu seolah terkunci rapat.
Irham tidak tahan dia ingin menanyakan apakah Dinar marah karena dirinya telat menjemput mereka.
"Yank..."
"Ning, Gus. Saya pamit dulu."
Irham buru-buru menoleh ke sumber suara.
"Dafa..." lirih Irham.
Dafa sedang berjalan bersama ayah mertuanya.
Melihat itu Irham gugup.
Bagaimana Dafa ada di rumah mertuanya? Dari arah dapur pula.
"Ma-makan Daf Abah." tawar Irham dengan suara yang dipaksa keluar.
"Wah, sudah Gus, tadi sama Pak Kiai, Bu Yai dan Ning Dinar." jawab Dafa sumringah.
Mendengar jawaban itu ludah Irham tiba-tiba terasa pahit.
Kedua mertuanya juga sempat menyapanya, tentu dengan hangat seperti biasanya.
Dinar masih setia menemani Irham, sementara Dafa sudah pulang.
*****
Kini mereka sedang berada di kamar. Ilyas tidur di tengah ranjang. Anak tiga tahun itu sudah tidur sejak sore, tapi belum ada tanda-tanda akan bangun. Padahal setiap Azan Dinar sudah mencoba membangunkannya.
"Yank, udah dari tadi Dafa di sini?" Irham berusaha mengajak Dinar bicara.
"Ya." Apa? Cuma Ya'?
"Tadi, aku memang..."
"Mas, aku nggak tahu apa alasanmu berbohong. Tapi tolong... jangan menambah kebohongan yang lainnya lagi, aku udah diam, jadi, mas nggak perlu banyak bicara."
Irham terdiam tanpa kata.
Dinar tidur di samping Ilyas, menarik selimut hingga menutupi lehernya.
Irham tertegun. Apa rencananya mengajak Istri dan anaknya pulang gagal?
"Kamu...nggak mau pulang ke rumah kita?" tidak ada jawaban dari Dinar, membuat Irham bingung hendak melakukan apa?
******
Dinar membuka matanya saat mendengar ponsel Irham berdering.
Melihat ke sisi ranjang, ternyata suaminya sudah terlelap.
Dinar hendak kembali memejamkan mata, saat dering ponsel itu kembali berbunyi. Alhasil Dinar meraihnya sebab takut ada sesuatu yang penting.
Dinar mengangkat panggilan dari nomor tanpa nama itu. Tapi, tidak ada suara di sebrang sana saat panggilan ia terima.
Saat panggilan itu terhenti, di susul dengan sebuah pesan masuk dari nomor yang sama.
[Kang Irham. Terimakasih sudah membantu Ratih mencari tempat kost hari ini. Kang Ilham tidak pernah berubah dari dulu. Tetap baik dan perduli dengan semua orang. Maaf mengganggu malam-malam, Ratih cuma mau kasih tahu ini adalah nomor Ratih, dan aku sudah menyimpan nomor yang Kang Irham berikan. Sekali lagi terima kasih Kang, atas bantuannya dan ponsel yang Kang Irham berikan untukku, selamat malam. Semoga mimpi indah.]
Dinar melihat rentalan pesan itu dan memahami maksud dari kata-katanya.
Jadi Irham ingkar janji sebab membantu seseorang? Tapi, kenapa tidak berani jujur? Memilih berbohong yang sudah pasti memicu banyak dusta?
Dinar masih menggenggam ponsel sang suami saat sang empu mulai membuka matanya.
"Dinar..." panggil Irham dengan suara serak.
Dinar menoleh, lantas memberikan ponsel itu pada pemiliknya.
Irham menerimanya dengan bingung. Tapi, matanya langsung terbelalak ketika membaca pesan di dalamnya.
Ya, ia gugup sekaligus takut Dinar salah paham.
"Yank, ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Demi Allah, aku nggak ngapa-ngapain sama Ratih, aku membantunya cari tempat tinggal....Yank...Yank.."
Irham gegas menyingkap selimut yang dikenakan, mengejar Dinar yang berlalu keluar.