Nayla Putri Atmaja (21) seorang gadis riang yang tengah menempuh pendidikan di sebuah universitas swasta di kota Jakarta, tak pernah menyangka hidupnya akan serumit ini setelah ia bertemu dengan Bayu Pratama (30). Seorang dosen muda yang mengisi mata kuliah di semester lima. Selain menjadi seorang dosen Bayu merupakan seorang pengusaha muda. Pria yang cukup sukses dan berpendidikan tinggi, namun menyandang status duda beranak satu.
Entah disengaja ataupun tidak pertemuan mereka di kampus menjadi awal kisah cerita mereka dimulai. Hidup Bayu yang semula terlihat begitu datar, kini berubah menjadi sangat menyebalkan ketika takdir mempertemukan dirinya dengan sosok Nayla yang memiliki sikap menjengkelkan, merepotkan, banyak maunya, bicara sembarangan dan blak-blakan. Sangat berbanding terbalik dengan kehidupan Bayu yang terlihat begitu tenang, datar dan tertutup.
Mau tau kelajutan kisah mereka selanjutnya? Yuk simak terus cerita Jodoh Tak Diundang...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JTD Bab 9
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Bayu masih sibuk memainkan ponsel Nayla yang tidak memiliki kunci rahasia. Ia terus saja berselancar di media sosial sang istri. Entah apa yang ia lakukan, yang pasti jika Nayla tahu apa yang dilakukan suami barunya ini, ia akan marah-marah seperti singa betina yang kelaparan.
Di saat suaminya tengah sibuk dengan ponsel milik istrinya itu, Nayla sudah tertidur begitu nyenyak. Ia mudah sekali tertidur malam ini, tidak seperti hari-hari biasanya, karena tubuh, pikiran serta perasaannya ini sudah terlalu lelah melewati harinya yang kelabu kali ini.
Setelah puas memainkan ponsel istrinya. Bayu pun merasa cukup mengantuk. Bayu pun akhirnya memutuskan untuk tidur. Ia berjalan ke ranjang dimana istrinya sudah tertidur lebih dahulu. Ia naik keranjang dan membaringkan tubuhnya di samping tubuh Nayla yang sedang memeluk guling kesayangan dengan tubuhnya yang tertutup dengan selimut.
Sejenak Bayu memandangi wajah cantik sang istri dari pantulan cahaya lampu temaram.
"Kamu itu cantik Nay, tapi mulutmu itu ketus dan berisik sangat menyebalkan namun begitu menggemaskan, sekarang kamu sudah menjadi milik ku, tidak ada lagi sebutan teman hati saya untuk pria lain selain diriku ini, suami mu," ucap Bayu dengan suara berbisik di depan wajah Nayla.
Nayla yang tertidur tak mungkin mendengar apalagi menanggapi ucapan Bayu yang terkesan posesif itu. Perlahan tapi pasti Bayu mendekatkan wajahnya ke wajah Nayla yang tertidur dengan damai.
Cup... Cup... [Suara kecupan yang mendarat di bagian wajah Nayla yang tengah tertidur].
"Selamat tidur Nayla, semoga kamu bermimpi indah malam ini," ucap Bayu yang kemudian menjauhkan guling yang dipeluk Nayla dan menggantikan posisi guling itu dengan tubuhnya. Setelah itu Bayu pun ikut terlelap di samping sang istri yang tengah memeluk erat tubuh kekarnya layaknya sedang memeluk sebuah guling.
Jam menunjukkan pukul 06:00. Nayla terbangun dari tidur lelapnya. Malam ini dia merasa sangat puas sekali dalam tidurnya.
"Mmmmm... Nyenyak sekali tidur gue semalam, apalagi gue semalam mimpi tidur di peluk pangeran tampan dari kayangan, ah andai saja itu bukan hanya sekedar mimpi, pasti bahagia banget hidup gue," gumam Nayla dengan suara seraknya yang begitu seksi terdengar.
Menyadari statusnya yang sudah memiliki suami sekarang, Nayla pun mengarahkan pandangan untuk pertama kalinya pagi ini ke bagian tubuhnya. Ia sangat bersyukur karena ia masih mengenakan pakaian yang utuh dan tidak ada perubahan dalam pakaiannya, itu artinya Bayu semalam tak menyentuh dirinya sama sekali, pikir Nayla.
Seluruh pandangan matanya kini tertuju ke penjuru kamarnya. ia sedang mencari suami yang semalam menikahinya.
"Kemana tuh Dosen Killer? Kok gak ada sepagi ini. Apa dia kabur habis nikahin gue semalam? Ih dasar pria gak bertanggung jawab," umpat Nayla pada suaminya yang tak terlihat batang hidungnya.
Nayla menyibakkan selimut yang masih menutupi sebagian tubuhnya itu, setelah itu ia beranjak dari tempat tidur dan berjalan gontai menuju kamar mandi untu membersihkan dirinya yang sudah bau jigong.
Disaat ia ingin membuka pintu, disaat itu pula ia terkejut karena sosok Bayu muncul dari balik pintu kamar mandi yang terbuka, ia hanya mengenakan handuk yang melilit di bawah pinggangnya dengan rambut yang terlihat masih basah, menandakan ia baru saja selesai mandi.
"Aaaaaaaaa....," teriak Nayla yang terkejut bukan kepalang, untuk pertama kalinya di dalam hidupnya melihat secara live pria bertelanjang dada yang begitu seksi apalagi habis mandi seperti ini.
Segera Bayu menutup congor Nayla yang terus saja berteriak, membuat gendang telingannya terasa mau pecah.
"Ya ampun ini anak suaranya benar-benar berisik dan meresahkan," dumel Bayu yang tengah berdiri dan membekap mulut Nayla dengan telapak tangannya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Bayu, ia ngedumel di pagi hari. Padahal dulu waktu menikah dengan Linda tidak pernah ia merasakan hal yang ia rasakan seperti saat ini, saat dimana ia mempersunting Nayla gadis muda bermulut ketus dan berisik, yang akan membuat hari-harinya berubah 180 derajat.
"Kamu ngapain sih pagi-pagi udah bikin gendang telinga saya serasa mau pecah saja, dengan suara kamu yang kaya petir itu? Kamu mau ya, keluarga kamu berpikir kita sedang ngapa-ngapain di pagi-pagi buta seperti ini hum?" tanya Bayu yang sudah melepaskan bekapannya pada mulut Nayla. Ia bertanya sambil bertolak pinggang menatap Nayla dengan tatapan tajam.
"Ya enggaklah, lagi pula Nay gak sudi diapa-apain sama dosen killer kaya Bapak, lagian Bapak ngapain juga nongol dari kamar mandi gak pakai baju kaya gini?" terang Nayla dengan ucapan kasar dan ketusnya.
"Gak sudi kamu bilang? Awas ya kalau nanti kamu malah merasa ketagihan kalau saya udah apa-apain kamu,"
"Jangan mimpi, itu hal yang gak mungkin, awas! Jangan menghalangi jalan, Nay mau mandi," ucap Nayla yang kemudian menyingkirkan tubuh Bayu yang menghalangi jalannya dengan mendorong sekuat tenaga.
Bayu pun menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mendapat perlakuan tidak sopan dari istri kecilnya ini. Tak berapa lama, keduanya sudah terlihat rapih menggunakan pakaian sehari-hari yang biasa mereka kenakan saat mereka pergi ke kampus.
Mereka berdua berjalan beriringan ke ruang makan yag sudah terdapat kedua orang tua Nayla dan juga Hendra berserta istrinya yang tengah duduk menikmati sarapan pagi mereka.
Mereka sengaja tak menunggu sepasang pengantin baru itu, karena mereka pikir keduanya akan melewatkan sarapan pagi, karena rasa letih dan kelelahan setelah menghabiskan malam pertama untuk membelah duren bersama.
Namun pikiran mereka itu ternyata sangat salah. Keduanya sama sekali tak melakukan apapun, Nayla malah tertidur begitu pulas sedang Bayu asyik mengotak-atik ponsel Nayla.
"Pagi semuanya, tega banget gak nungguin Nay, memang jahat ya keluarga ini sama Nay, jadi ngerasa kaya anak pungut deh jadinya," sapa Nayla dengan drama di pagi hari yang ia ciptakan.
"Beghh, mulai deh ratu drama beraksi," gumam Hendra yang seakan malas menatap wajah sang adik, ia tak menggubris ucapan sang adik dan memilih tetap fokus pada makanan yang sedang ia santap, begitu pula dengan sang istri yang mengikuti jejak sang suami untuk memilih diam.
"Nayla kamu kok ngomongnya gitu sih? Bunda kira kamu gak ikut sarapan karena kelelahan semalam, jadi ya kami tinggalin sarapan deh," protes Bunda yang memandangi sepasang pengantin baru itu penuh arti.
Nayla yang terlalu polos dan tak mengerti terlihat cuek dan terkesan bodo amat sedang Bayu setelah menyapa kedua mertuanya dan kakak iparnya ia tatap memasang wajah datar dan dinginnya.
Mereka berdua pun akhirnya ikut duduk bersama dan menikmati sarapan pagi mereka yang tertinggal, saat mereka sedang menikmati sarapan pagi mereka, tiba-tiba saja Gunawan mengajukan pertanyaan yang membuat Nayla membelalakan matanya.
"Kamu gak cuti untuk berbulan madu Bay?" tanya Gunawan pada menantu barunya itu.
"Segera saya jadwalkan Om, setelah mengurus dokumen pernikahan kami," jawab Bayu yang kembali membuat Nayla terperangah tak percaya.
Haddeh gue mau dibawa bulan madu, berarti gue mau di ajak bikin dede bayi, alamak gue gak mau punya anak dari dosen killer ini, bisa hancur titisan keturunan gue yang manis dan menggemaskan, gerutu Nayla di dalam hatinya dengan mata yang menatap tajam suami yang tengah duduk di sampingnya.
"Bayu jangan panggil Ayah dengan sebutan Om dong! Kamu-kan sudah menjadi suaminya Nayla, panggil kami degan sebutan Ayah dan Bunda seperti Nayla memanggil kami ya," pinta Riska pada menantunya yang hanya di jawab senyum tipis dan anggukan kepala dari menantunya.
emang bener-bner si Nayla