Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika seorang wanita menjadi istri ke 2?
Seorang pelakor?
Seorang wanita perebut suami orang?
Lalu bagaimana jika pernikahan itu berlandas keterpaksaan, dari seorang gadis berparas cantik dan baik bernama Isna Happy Puspita berusia 22 tahun, yang harus memilih diantara kesulitan hidup yang dia jalani, dan menerima sebuah penawaran dari seorang wanita elegan dan dewasa bernama Kartika Ratu berusia 43 tahun, untuk menjadi istri ke 2 suaminya yang tampan dan kaya raya, Krisna Aditya berusia 34 tahun.
Bagaimana kehidupan selanjutnya gadis itu, yang malah membuat suaminya jatuh cinta padanya?
Akankah dia bahagia?
"Salahkah bila aku jatuh cinta lagi? dan dosakah ketika aku menghianati perasaanmu, yang jelas itu ku labuhkan pada wanita pilihanmu, yang kini jadi istriku?" Krisna
"Bolehkah aku juga menyukainya? mendapatkan cinta dan kasih sayang darinya? aku tidak merebutnya, tapi kau yang menawarkannya?" Isna
"Kau hanya boleh menyentuhnya dengan tubuhmu, tapi bukan hatimu. Bagaimanapun aku serakah apapun alasanku. Aku menginginkan semua cinta untukku sendiri, dan benci untuk berbagi." Kartika
follow IG @Syalayaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Memikirkanmu
Happy Reading …
“Kau sengaja, kan?”
Isna duduk di sofa menghadap ke arah jendela kamarnya. Matanya merah, tetapi tidak ada isak tangis sama sekali. Dia menahan dirinya untuk menangis. Wisnu tetap saja terlihat tenang, duduk di kursi yanga berada di depan pintu yang berjarak sekitar lima meter darinya.
“Maaf, Nona.”
“Bisa-bisanya dia mengatai Tony punya selera buruk karena mengejarku. Lalu, dia sendiri apa? Huh? Selera tante-tante, bukankah lebih buruk?!” desisnya kesal.
Wisnu hanya bisa menahan senyum, mendengar ocehan kekesalan nona kecilnya tanpa mencoba menanggapi. Dia biarkan saja gadis itu berbicara sesuka hati sampai perasaannya bisa kembali tenang.
“Anda tidak ingin makan sesuatu?” tanyanya mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
“Kau tahu! Dia mengataiku semak belukar? Cih, dia yang membuatku jadi begini, bisa-bisanya!” decak gadis itu lagi mengabaikan pertanyaan Wisnu.
Dengan wajah bersungut Isna berdiri dan berjalan menghampiri Wisnu. Wisnu pun ikut bangkit dari kursi dengan wajah serius saat melirik kedatangan Isna. Isna pun berhenti dan berdiri tepat di hadapan Wisnu sambil menghela napas.
“Ayo, bantu aku keluar dari sini!” ucapnya mengagetkan Wisnu.
“Anda mau kabur, begitu maksud Anda?” Wisnu semakin menajamkan tatapan matanya, ia tidak setuju dengan permintaan Isna.
“Siapa yang mau kabur? Aku bukan tipe gadis cengeng yang menyerah hanya karena pria bermulut jahat seperti dia,” jawabnya sambil menatap sinis ke arah Wisnu.
“Lalu?” tanya Wisnu penuh selidik. Menatap kedua manik hitam gadis kecil di depannya yang mengerjap polos ke arahnya.
“Lakukan semua yang mesti kau lakukan untuk membantuku. Aku akan mengikuti semua yang kau ajarkan agar aku bisa keluar dari rasa hina ini.”
“Saya senang Anda tidak terlalu merasa sakit hati, Nona.”
“Sakit hati itu lebih berbahaya daripada sakit fisik, kau paham?” dengus Isna sambil kembali ke sofa.
“Anda berniat untuk membalas?” tanya Wisnu menatap gusar ke arahnya.
“Tidak, aku akan bersikap sangat baik padanya. Aku akan membuatnya menyesal sudah meremehkan aku,” jawabnya dengan raut wajah tampak ditekuk.
Isna mengambil makanan yang berada di atas nampan dan memakannya dengan tenang. Dia tidak berbicara lagi setelah itu. Yang dia lakukan hanya makan dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.
🐦🐦🐦🐦
Saat malam menjelang pukul dua belas Krisna kembali ke kediamannya. Bersama Seno, kini dia turun dari dalam mobil, masih berwajah tampan walau terlihat letih. Dia segera menuju ruang kerjanya. Bahkan Kartika mungkin sudah tidur saat ini. Dia sedang tidak mood bertemu dengan istrinya malam ini.
“Tuan tidak mandi dulu?” Seno melangkah mendahului Krisna dan membuka pintu untuknya.
“Aku akan mandi di dalam ruang kerjaku saja,” jawabnya singkat.
Ia segera masuk ke dalam ruang kerja, melempar jasnya ke sandaran sofa lalu tubuhnya segera menyusul jatuh, mendarat di sofanya yang empuk. Seno hanya terdiam dan mengambilkan minuman untuk pria itu.
“Apa Tony menghubungimu lagi?” tanyanya sambil meneguk bir yang diterimanya dari Seno.
“Iya, Tuan. Dia mengancam akan menyerang kita, kalau Anda tidak menyerahkan gadis itu segera.” Seno menjawab dengan raut wajah serius.
“Benarkah?” tanyanya sambil tergelak.
“Kenapa Anda malah tertawa saat Anda mendapat ancaman, Tuan Krisna?” Seno mengernyitkan keningnya melihat keanehan pada diri Krisna.
“Kau tahu, gadis bernama Isna yang kau lindungi itu?”
Sambil terbahak pria itu menoleh ke arah Seno yang kini ikut duduk di sofa yang tidak diduduki Krisna. Seno hanya terdiam menatap Krisna tanpa menjawab.
“Apa Wisnu belum melapor apa pun padamu?”
Krisna masih tergelak dengan ekspresi kekanakan, sesuatu yang jarang sekali dia tampilkan di luar ruang kerjanya selain bersama Seno.
“Anda telah menyakiti perasaannya, Tuan,” jawab Seno dengan raut wajah seperti tidak terima.
“Aku hanya mengetes dirinya saja, Sen. Kau paham, 'kan?” ungkapnya memberi pertanyaan yang jelas Seno sebenarnya cukup paham.
“Tetap saja, menurut saya itu terlalu berlebihan.”
“Aku hanya tidak mau orang memandangnya tidak layak saat berada di sisiku. Kau ini payah sekali membaca pikiranku!” ucapnya sinis menatap Seno dengan kesal.
“Maafkan saya, Tuan. Tapi, bukankah dia hanya akan menjadi istri bayangan saja. Jadi, tidak perlu membuatnya menjadi layak atau tidak, Tuan.”
“Kau ini! Tampangmu sangar bagai singa Sen, tapi kenapa hatimu selembut bulunya? Payah!” ejek Krisna memberi raut masam.
Seno hanya diam termangu, menatap Krisna yang juga menunduk diam. Raut wajahnya kini tampak berubah suram.
“Kenapa, Tuan?” tanya Seno membuyarkan lamunan Krisna.
Krisna menatapnya dengan senyuman geli dan menahan lagi tawanya. Seno semakin menjadi penasaran saja.
“Mata polos gadis itu, Sen. Benar-benar membuatku tidak berhenti memikirkannya,” ucapnya tiba-tiba membuat Seno terhenyak. Namun, kemudian ia tersenyum saat memandang Krisna lagi.
“Selera Anda buruk, Tuan,” ejek Seno sambil menahan tawanya. Krisna hanya bisa mendelik kesal saat mendapatkan reaksi seperti itu Seno.
“Ternyata semua pengawal sering membicarakan aku di belakang, ya?” cercanya sambil membuang muka.
“Anda selalu menjadi prioritas saya, Tuan.”
“Halah … kau belum tahu 'kan, siapa mata-mata Kartika selama ini? Payah sekali!”
“Anda tidak perlu memikirkan hal remeh temeh seperti itu, Tuan. Saya menjamin semua akan berjalan sesuai rencana. Malah mungkin Anda akan mendapatkan bonus besar dalam pertarungan kali ini,” jawab Seno penuh teka-teki dengan senyum menyeringai tampak di wajahnya.
“Buang senyum menakutkan itu, Sen! Aku jadi ragu, aku atau kau di sini yang sebagai Tuan Besar?” Krisna memiringkan wajahnya sambil memandang Seno dengan ejekan yang tampak nyata. Seno hanya membalas dengan cibiran lalu meminum bir yang berada di tangannya dalam sekali teguk.
“Lihat, tampangmu itu? Apa anak istrimu tidak takut padamu?” Krisna menahan senyuman penuh ejekan.
“Mereka tergila-gila kepada saya, Tuan,” jawabnya sombong.
“Selera mereka juga buruk,” balas Krisna.
Mereka berdua segera tergelak bersamaan dan bersulang. Namun, sayang bir milik Seno sudah habis tinggal setetes.
“Seno … Seno ... kau lucu malam ini. Ambil lagi, kita minum sampai pagi,” ajak Krisna kembali berdiri hendak menuju ke arah lemari pendingin.
“Maaf, Tuan. Malam ini saya harus tidur karena besok pagi ada meeting tahunan yang harus Anda hadiri atau Anda terdepak dari kandidat calon pemimpin terkuat di bisnis gelap Anda, Tuan.” Senyum licik kembali tercipta dari bibir Seno.
“Ck! Dasar! Baiklah, menginap di sini saja. Kau ini, merusak kesenanganku saja!” hardiknya kesal dan mengalihkan langkahnya ke arah kamar mandi yang berada di dalam Ruang kerjanya. Dia akan mandi di sana.
“Baik, Tuan. Selamat malam.”
Seno segera keluar ruangan meninggalkan Krisna yang telah berada di dalam kamar mandi. Mengguyur tubuhnya, mendinginkan pikirannya. Banyak hal rumit dalam hidupnya yang selalu mampu dia selesaikan dengan sedikit memakai sudut pandang yang lucu dan santai. Tapi kali ini berbeda, Seno sepertinya menyimpan sesuatu yang belum mau dia bagi pada siapa pun. Apa itu? Krisna sendiri juga belum tahu.
*****
Hai Readers tercinta 🥰
Jangan bosan membaca novelku ya.
Beri dukunganmu pada author yang haus like, komen ini. Juga tambahkan rate 5 dan Vote juga biar tambah semangat up.
Terima kasih ^_^
With Love ~ Syala yaya