Berdasarkan kisah nyata.
Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.
Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?
SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!
Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GANGGUAN YANG MEMBUATKU MERASA KASIHAN
Ku acuhkan kehadiran sosok lelembut berwujud anak kecil bernama Gilang itu...
Air mengalir dari kran dapur, jatuh tepat ke permukaan piring yang kugosok perlahan. Suaranya beradu dengan denting sendok dan mangkuk, membentuk irama sederhana yang biasanya menenangkan. Aku tahu Gilang masih ada memperhatikanku. Dan ada rasa yang berbeda bagiku.
Bukan karena kulihat wujudnya secara langsung, meski sebenarnya memang aku melihatnya, melainkan karena udara di dapur jadi terasa berbeda. Seperti ada sesuatu yang berdiri terlalu dekat, mengawasi, menunggu reaksiku. Tapi aku memilih diam saja.
Tanganku terus bergerak. Menggosok, membilas, menata piring bersih ke rak. Kupaksakan pikiranku fokus pada hal-hal biasa, busa sabun, air yang dingin, dan bau sisa minyak gorengan yang masih menempel di piring bapak.
"Jangan ditanggapi Nisa... Biarin aja..." aku mengulang kalimat itu di dalam hati, seperti wirid pendek yang kupeluk erat. Meski sesekali bulu kudukku merinding, aku tetap tak menoleh. Tak ingin memastikan keberadaannya. Tak ingin memberinya pengakuan.
Selesai mencuci piring, aku mengelap tanganku dengan lap kain, lalu mengambil keranjang pakaian yang sejak pagi sudah kusiapkan. Beberapa helai baju bapak, mukena, dan pakaianku sendiri terlipat rapi di dalamnya. Aku melangkah ke halaman depan tempat biasa aku menjemur.
Matahari sudah cukup tinggi. Cahayanya jatuh miring, membuat bayangan jemuran memanjang di tanah. Angin berhembus pelan, cukup untuk membuat kain-kain yang kujepit bergoyang ringan. Aku mulai menjemur satu per satu. Kaos bapak, sarung, mukena, dan bajuku.
Di sela-sela gerakanku, terasa ada pergerakan lain. Bukan angin dan bukan juga bayangan daun. Sesuatu melintas cepat di antara kain-kain yang tergantung, membuat salah satu jemuran bergoyang lebih kencang dari yang lain. Masih saja sosok Gilang itu menemaniku. Malah seolah seperti mengajakku untuk bermain dengannya.
Aku berhenti sebentar. Menarik napas. Lalu melanjutkan lagi.
Kali ini lebih cepat, seolah ingin segera menyelesaikan semuanya. Namun setiap kali satu pakaian terjepit, selalu ada rasa seperti… ditonton dari jarak sangat dekat. Kadang dari sisi kanan, kadang dari belakangku. Sesekali terasa seperti ada langkah kecil berlari di antara jemuran, membuat ujung kain tersentuh tanpa sebab.
Hatiku sedikit mengencang.
"Ya Allah... Aku cuma mau menyelesaikan pekerjaan rumah. Bisa gak sih jangan ganggu?!" ucapku dalam hati.
Tak ada rasa takut yang meledak-ledak. Yang ada justru rasa terganggu. Seperti seseorang yang terus mengusik, tapi tak pernah benar-benar menyentuh. Menguji batas kesabaranku makhluk halus kecil itu.
Setelah jemuran penuh, aku mengangkat keranjang kosong itu dan kembali ke teras. Sapuku bersandar di dinding, masih seperti semalam. Aku mengambilnya dan mulai menyapu dedaunan kering yang jatuh sejak subuh di halaman.
Sapuanku membentuk tumpukan kecil di sudut halaman. Belum sempat kuselesaikan satu sisi, dedaunan itu kembali berserakan. Sosok Gilang itu justru berlari-lari melintasinya. Aku berhenti, menatapnya, lalu kembali menyapu dengan gerakan lebih tegas.
Sekali lagi, tumpukan itu buyar.
Aku mengepalkan tangan sebentar. Bukan marah. Lebih ke lelah. Ini rumahku, batinku.
Aku tetap menyapu. Daun-daun itu kembali kukumpulkan, satu per satu, meski rasanya seperti mengulang pekerjaan yang sama berkali-kali. Sesekali, sudut mataku menangkap gerakan kecil Gilang yang melintas cepat, rendah, dan ringan. Tapi aku tak mau menanggapi tingkahnya. Aku tak mau bermain dengannya.
Selesai menyapu, keringat mulai membasahi pelipisku. Aku menyandarkan sapu, lalu duduk di kursi teras. Kutarik napas panjang, membiarkan angin semilir menyentuh wajahku. Dan saat itu aku benar-benar merasakannya. Ada tekanan ringan di kursi sebelahku.
Bukan tekanan fisik yang nyata, tapi sensasi yang sudah kutahu. Seperti ada seseorang duduk di sana, terlalu dekat, terlalu sunyi. Udara di sekitarnya terasa lebih dingin, kontras dengan hangatnya sinar matahari siang ini.
Aku menatap lurus ke depan. Tak bergerak. Tak menoleh.
Dalam hati, ada rasa iba yang tiba-tiba muncul. Rasa yang berbahaya jika dibiarkan tumbuh. Aku melirik, melihat wajah anak kecil itu. Kembali teringat tangisannya, kesepiannya, kata-katanya yang polos saat di area pemakaman tadi.
Aku merapatkan kedua tanganku di pangkuan. Bibirku bergerak pelan, melafalkan doa tanpa suara. Bukan untuk mengusir, tapi untuk menguatkan diri sendiri. Beberapa saat aku duduk dalam diam.
Angin kembali berhembus, kali ini sedikit lebih kencang. Daun kering berputar dari ranting pepohonan, lalu jatuh kembali ke tanah. Tekanan di kursi sebelah perlahan menghilang, dan sosok makhluk halus kecil itu melangkah hendak pergi.
Aku yang melihatnya, menjadi tak tega. Dan akhirnya aku berbicara dengannya...
"Mau kemana kamu?"
"Mau pulang..." jawabnya.
"Kenapa? Tadi katanya mau ikut sama Kakak?"
"Gak jadi..."
"Kenapa gak jadi?"
"Kakak marah sama aku..."
"Em... Hihihi..." aku tertawa kecil melihat tingkahnya. Meski dia adalah sosok makhluk halus, tapi kenapa sama persis bertingkah seperti anak-anak manusia sungguhan.
Gilang berbalik arah, berdiri di depan terasku. "Kok ketawa?" tanyanya saat melihatku tertawa kecil.
"Gak apa-apa... Kamu lucu..."
"Tapi... Tadi Kakak marah sama aku..."
"Iya, kenapa?"
"Jangan marah lagi Kak..."
"Habisnya kamu gak Kakak ajak ke sini, malah sengaja ikut. Terus gangguin Kakak juga."
"Aku kesepian Kak..." wajahnya langsung menunjukkan raut yang sedih.
"Iya, udah tau. Jangan ngomong gitu lagi."
Beberapa saat aku memandangi wajahnya. Masih dengan tatapan kosongnya. Namun ekspresinya selayaknya manusia yang hidup.
"Dek... Sini... Duduk..." kataku.
"Boleh Kak aku duduk...?"
"Iya."
Sosoknya berjalan mendekat. Sinar matahari menembus tubuhnya yang transparan di dalam pandanganku.
"Kakak mau tanya sama kamu." ucapku saat dia sudah duduk di kursi sebelahku lagi.
"Kenapa kamu bisa meninggal?"
"Kecelakaan Kak..." jawabnya singkat.
"Kapan?"
"Dua puluh tahun yang lalu..."
"Hah? Berarti kamu udah ada di makam sana sejak lama?"
"Iya..." jawabnya sambil mengangguk.
"Kamu punya banyak teman gak di makam?"
"Gak ada Kak..."
"Kenapa?"
"Aku gak mau berteman sama yang lain di sana..."
"Oh begitu." jawabku singkat.
"Aku mau berteman sama Kakak saja... Boleh...?"
"Baiklah. Tapi kamu jangan tinggal di rumah Kakak."
Tiba-tiba saja mulutnya menyeringai. Tatapannya yang kosong. Dan wajahnya yang pucat pasi. Seolah mengekspresikan rasa senang. Dan aku yang sudah terbiasa melihat penampakan seperti ini, hanya merasakan bulu kudukku merinding, tanpa rasa takut.
"Dan kamu jangan datang ke sini kalau Kakak gak memanggil kamu." tambahku.
"Iya Kak..." jawabnya singkat sambil mengangguk menyeringai.
"Ya sudah, kamu pulang sekarang." suruhku.
"Iya Kak... Aku pulang..."
Dan tanpa basa-basi lagi, sosok makhluk halus kecil itu beranjak pergi. Dan perlahan sosoknya yang transparan terkena sinar matahari memudar dan lenyap dari pandanganku.
Beberapa saat aku diam sambil duduk. Dan berkata pada diri sendiri...
"Ternyata seperti ini rasanya bisa melihat bangsa lelembut..."