Arumi tercenung, bimbang antara harus mengikuti permintaan seorang sekretaris pribadi dari Andara Group. Atau tetap menjadi budak seumur hidup, untuk tinggal bersama ibu dan saudara tirinya.
Memiliki kemiripan wajah dengan mendiang wanita yang amat di cintai sang pewaris tunggal Andara Group mungkin bisa menjadi sebuah keberuntungan atau mungkin petaka di kemudian hari. Sebab Pria bernama Arga Sanjaya itu menganggapnya sebagai Alicia bukanlah Arumi. Pria arogan yang belum bisa menerima kematian sang kekasih memang tidak pernah kasar padanya. Namun, ia bisa melakukan apapun demi menyingkirkan orang-orang yang berkemungkinan akan melukainya. Lantas, sampai kapan Arum akan berperan sebagai Alicia, melayani sang suami sepenuhnya. Lalu, apakah ia akan tetap selamat saat Arga mulai tersadar bahwa Arumi bukanlah Alicia-nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat Arumi
Arum duduk di meja kasir, sembari memandangi ponselnya juga kartu nama yang di letakkan sejajar dengan ponsel itu.
Berpikir dan berpikir, dari mana uang nominal segitu bisa ia peroleh jika dirinya tidak merendah sekaligus menerima tawaran untuk menikah itu?
Tapi, jika dipikir-pikir. Angka satu juta itu sejatinya bukanlah nominal uang yang tinggi. Justru seharusnya ia bisa mendapatkannya tanpa perlu menyerah dengan para pria asing itu.
"Aku tidak bisa melakukannya." Arum menggeleng cepat, tangannya memijat keningnya yang terasa berdenyut. Kenapa bisa ia berada dalam posisi sesulit ini? Padahal hanya satu juta saja kenapa sulit sekali untuk mendapatkannya. Sementara Ia hanya di bayar dua puluh ribu rupiah setiap harinya oleh Mama Linda. "Sungguh aku benar-benar menyesal, kenapa dari dulu tidak melarikan diri saja... setidaknya kan aku bisa bekerja dengan gaji yang lebih layak ku dapatkan."
Arum menjatuhkan kepalanya ke atas meja kasir, meratapi kelemahannya yang selama ini membuatnya muak pada diri sendiri. Tak lama pintu kaca itu terbuka. Arum pun bergegas duduk dalam posisi tegak.
"Selamat datang... oh, Denna?" Bibirnya tersenyum senang saat melihat teman masa SMA-nya sudah berdiri di depannya. Namun, ada yang aneh. Gadis itu nampak berantakan sekali. "Denna, apa yang terjadi?"
"Arum, hiks!" Gadis itu berjalan sembari merengek saat Arum bangkit dari kursinya lalu keluar dari meja kasir.
"Kau kenapa?" Memeluk tubuh Denna.
"Aku kena tipu pria berandalan itu..."
"Maksudmu?"
"Uangku, Rum... hiks!"
"Iya kenapa uangmu?"
"Uang ku raib di bawa kabur olehnya, huaaaaaaa..." Tubuh Denna merosot kebawah dalam posisi masih memeluk tubuh Arum. "Aku ingin mati saja, aku ingin mati...! Ayo bunuh aku sekarang Arumi... sebelum aku di bantai habis-habisan oleh ibuku dirumah... Huhuhuhu..."
"Ya ampun, Denna!" Arum memukul satu kali di bagian bahunya keras, "rupanya kau beneran jadi, menyerahkan tabungan ibumu untuk investasi?"
Gadis itu manggut-manggut. "Mau bagaimana lagi, ucapan Yayan benar-benar meyakinkan. Kau kan pernah melihatnya sendiri, Dia selalu ganti mobil setiap kali berkencan denganku? Sudah pasti siapapun akan menduga, bahwa bisnis investasinya berhasil."
"Ya tapi, bukan berarti kau harus percaya begitu saja! Memangnya berapa yang kau serahkan?"
"Aku meminjam uang ibuku sebanyak lima puluh juta."
"Hah!!!" Arumi tercekak. "Sebanyak itu? Kau ini bagaimana, sih?"
"Makanya aku tidak berani pulang hari ini, aku tidak tahu bagaimana caranya mengatakan ini pada ibuku. Oh... Mungkin aku harus melakukan aksi ninjaku ku, demi bisa mendapatkan uang itu kembali."
"Aksi ninja apa?"
"Menggoda seorang Daddy Sugar, lalu menggasak uangnya."
"Hei...!" Arum memukul lagi bahu gadis yang masih memeluk kakinya. "Kau itu benar-benar mau mati, ya?"
"Aku memang pantas mati, maka dari itu bunuh lah aku. Bunuh saja aku Arumi..."
Arumi menghela nafas, saat suara tangis temannya itu semakin kencang terdengar. Untunglah toserba sedang dalam keadaan sepi jadi dia bisa menenangkan temannya itu sejenak.
–––
Beberapa menit kemudian...
"Minum, nih?"
"Kau hanya memberikanku air mineral?"
"Kenapa memangnya? Apa kau berharap aku akan memberikanmu minuman bersoda beserta camilannya?" tanya Arum, Denna pun nyengir. "Aku tidak bisa memberikan minuman itu padamu secara gratis. Karena apapun yang ku makan dan minum harus di bayar. Dan aku hanya mampu membayar dua botol air mineral ini. Jadi terima saja yang ada."
Denna mendengus. "Iya deh, terima kasih."
Arum mengangguk, lantas menghempaskan bokongnya ke lantai. Duduk bersebelahan dengan Denna.
"Bagaimana kuliah mu?"
"Lancar, cuman akhir-akhir ini aku sedang malas. Maklumlah sudah mulai menyerah setelah mengajukan judul terakhir untuk skripsi-ku."
"Lantas, di terima?" tanya Arum antusias.
"Revisi–"
"Ya ampun, sudah berapa judul kau serahkan kepada dosen pembimbing-mu?"
"Entahlah tak terhitung jumlahnya. Yang terakhir Beliau melemparkan sebuah buku tebal ke arah mukaku. Mungkin memang semuanya tidak menarik bagi si tua bangka itu."
"Memang judul apa yang kau berikan?"
"Macam-macam, yang pasti puitis, dan unik..."
"Contohnya?"
"Ahool of love..." jawabnya dengan bangga, sembari mengembangkan senyumnya.
"Astaga! Kau itu mahasiswi Erkeologi. Apakah kau memberikan judul skripsi-mu layaknya judul Novel fantasi-mu? Kalau aku jadi dosen mu, yang ada tidak hanya buku. Namun kursi yang ku duduki sekaligus."
"Iiissshhh... kau itu tidak paham. Menurut ku itu keren. Kalau para dosenku ternyata penikmat fantasi. Bisa jadi mereka tertarik dan meminta ku untuk mencari tahu mahluk mitologi Indonesia itu. Kali aja, kan? Di dunia ini memang ada... lalu seperti dalam drama, dimana mahluk aneh itu ternyata berparas tampan dan memiliki kemampuan khusus. Ooohh....!" Denna menekan dadanya, membayangkan wajah pria Negeri ginseng dalam cerita Fantasi mereka.
"Kau tidak sedang membayangkan berciuman dengan mahluk sebangsa kalong itu, kan?" Arum memecahkan khayalan singkat Denna.
"Aaaahh... kau merusak, halu ku!"
"Sudah hentikan!" Hentak Arum. "Kau itu tidak berubah, ya? Masih saja main-main dengan pendidikan-mu. Kau itu harus segera lulus Denna–"
Gadis itu menghela nafas. "Aku benci sekolah tinggi-tinggi, Arum. Lagipula aku ingin menjadi penulis Fantasi yang sukses seperti J.K. Rowling."
"Ckckck... dasar tidak bersyukur. Hidupmu sudah nikmat, seharusnya kau bisa sedikit saja menjadi anak yang patuh dan rajin saat di sekolah."
Denna tersenyum, ia pun menengguk air dalam botolnya. Setelah itu menoleh pada gadis di sebelah.
"Sudah lupakan masalahku. Omong-omong, bagaimana dengan dirimu?"
"Aku?"
"Ya, apakah semuanya sudah baik-baik saja?"
Arum termenung, lantas menggeleng pelan. "Yang ada semakin parah. Aku saja sedang bingung bagaimana caranya untuk membayar perpanjangan sewa tanah makam orang tuaku."
"Loh, bukankah selalu di bayar oleh wanita rubah itu?"
"Dia sudah tidak membayar lebih dari satu tahun. Padahal sewa tanah kan di bayar tiga tahun sekali."
"Benar-benar mereka itu iblis yang tidak tahu malu." Denna geram. "Lagian kenapa si, kau masih mau bertahan di rumah itu?"
"Pergi juga mau kemana? Aku tidak punya tempat pelarian..."
"Kau kan bisa ke rumah ku."
"Sudah cukup aku menyusahkan-mu dan keluargamu."
"Kau selalu saja berpikir seperti itu. Kami itu tidak pernah merasa disusahkah. Nanti deh, coba aku pinjam ke Ibu. Kali saja dia masih mau meminjamkan uangnya, jika pakai namamu pasti di kasih."
Arum menggeleng cepat. "Jangan! Hutangku sudah banyak pada ibumu. Beberapa kali saat Mama Linda tidak memberikan uang tunggakan SPP ku saja yang membayar malah ibumu. Itu saja belum bisa ku ganti."
"Hei– ibuku tak pernah mempertanyakan itu. Dia bilang ikhlas untukmu."
"Tidak Denna... biarlah aku memikirkan semuanya sendiri. Pasti akan ada jalan keluar, kok." Walaupun harus menikah dengan pria asing itu... Arum melanjutkan ucapannya di dalam hati. Tangan mulus Denna mendarat di bahu Arum, lantas menepuk-nepuk pelan.
"Arum, aku ingin kau bahagia suatu saat nanti. Aku senantiasa berdoa, kau bisa menjemput kebahagiaanmu."
"Aamiin..." Ucapan Denna membuat Arum terharu. Ia lantas memeluk tubuh sahabatnya itu dengan perasaan hati yang lebih tenang.
Ya, Tuhan memang adil. Apabila kita dikerubungi orang-orang jahat dalam hidup. Sudah pasti akan ada beberapa orang lainnya yang tulus menjadi malaikat penghibur kita. Walaupun tak berpengaruh banyak. Setidaknya, mampu menjadi pelipur hati yang lara.
*semua pria lain yang menyukai akan dianggap lelaki baik2 dan cinta nya dinggap tulus dan harus diperlakukan sangat lembut dan baik2
*sedangkan semua wanita lain yang menyukai sang suami akan dianggap wanita pelakor murahan, menjijikan harus diperlakukan kasar, kejam dan dibinasakan
fakta novel mu cerminan pola pikirmu bagaimana pola pikir mu akan bisa dilihat dari novel mu
sampai disini paham akan
polah pikir bodoh kayak gini akan menunjukkan betapa egoisnya nya kalian
jika ada pria lain yang menyukainya maka dia akan anggap cinta pria itu tulus, dan akan memperlakukan pria itu secara lembut dana akan menolak dan menjelaskan secara lembut
tapi saat ada wanita lain yang menyukai suami otomatis wanita itu adalah wanita murahan, menjijikan pelakor, harus diperlakukan kasar dan harus dibinasakan
dengan pola pikir ini kalian berkarya novel maka jadi novel kayak gini yang begitu lembut memperlakukan pebinor
miris
klu di hati tuan muda cuma Alicia 🥺