Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.
Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.
Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.
Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 15
Cao Yi tiba di depan gerbang kayu rumahnya tepat sebelum matahari benar-benar menampakkan diri. Cahaya fajar masih terasa samar dan ragu-ragu, menyisakan gradasi warna kelabu kebiruan yang dingin di ufuk langit timur. Embun pagi yang tebal menempel di dedaunan dan atap rumah yang sederhana, sementara suasana di sekeliling pemukiman itu sangat sunyi, hanya diiringi oleh sisa-sisa suara serangga malam yang perlahan menghilang digantikan oleh kicauan burung pertama.
Begitu sepasang kakinya melangkah masuk ke halaman yang berpasir, Cao Yi langsung menghentikan langkahnya secara mendadak. Indranya yang setajam pisau menangkap sebuah kehadiran. Ada aura yang sangat ia kenali, sebuah frekuensi energi yang telah menemaninya sejak kecil. Itu bukan aura permusuhan yang haus darah, namun kehadiran itu tetap membuatnya waspada secara refleks sebagai seorang predator yang baru saja kembali dari perburuan.
Tangannya sedikit menegang di balik lengan jubah hitamnya yang kini dalam kondisi mengenaskan, penuh dengan robekah kasar bekas sayatan pedang, tusukan tombak, dan lubang-lubang kecil bekas anak panah.
Sebelum ia sempat memikirkan alasan atau menyembunyikan pakaiannya, sebuah suara yang berat dan penuh kekhawatiran terdengar dari arah pintu depan yang perlahan terbuka.
“Kamu baru pulang, Yi'er!”
Cao Yi menoleh perlahan. Di ambang pintu yang remang-remang, berdiri sosok Cao Xiang, ayahnya. Wajah pria paruh baya itu tampak jauh lebih lelah daripada saat terakhir kali mereka bertemu. Matanya sedikit cekung dengan lingkar hitam yang jelas di bawahnya, sebuah tanda yang tak terbantahkan bahwa pria itu tidak tidur sedikitpun sepanjang malam, terjaga dalam kecemasan yang membakar. Namun, sorot matanya yang redup langsung berubah menjadi binar kelegaan yang luar biasa saat melihat putrinya berdiri utuh di hadapannya.
“Ayah... kamu tidak tidur?” tanya Cao Yi dengan nada suara yang sangat pelan, hampir seperti bisikan yang terbawa angin pagi.
Pada saat itu juga, secara otomatis Cao Yi menekan sisi gelap dalam dirinya. Mata merah darahnya yang mengerikan telah kembali menjadi hitam normal yang jernih. Aura kematian yang biasanya menyelubunginya seperti selimut dingin kini menghilang tanpa jejak, menyisakan sosok gadis muda berjubah hitam yang tampak kurus dan tenang. Namun, jubah yang tercabik-cabik itu tetap menjadi saksi bisu yang tak bisa dibantah atas pertempuran sengit yang baru saja ia lalui untuk mempertahankan nyawanya.
“Bagaimana mungkin ayah bisa tidur dengan tenang,” jawab Cao Xiang dengan nada suara yang tertahan, bergetar antara rasa lega dan amarah yang diredam, “ketika kamu berada di luar sana selama dua hari dua malam tanpa ada satupun kabar yang sampai ke rumah?”
Cao Xiang melangkah mendekat, mengabaikan udara pagi yang menusuk tulang. Ia meneliti tubuh putrinya dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan seorang pendekar veteran. Meskipun bekas luka fisik di kulit Cao Yi sudah hilang secara ajaib berkat teknik regenerasinya, sobekan-sobekan pada kain jubahnya tidak bisa berbohong.
Hati Cao Xiang terasa mencelos, membayangkan badai besi macam apa yang baru saja menerjang putrinya hingga pakaiannya hancur seperti itu.
“Ayah, aku akan baik-baik saja. Aku selalu baik-baik saja,” kata Cao Yi dengan nada lembut, berusaha mencairkan ketegangan yang menggantung di udara. “Lebih baik Ayah masuk sekarang dan beristirahat. Selama aku sudah di rumah, tidak akan terjadi apa-apa yang perlu dikhawatirkan lagi.”
Nada suaranya begitu tenang dan meyakinkan, hampir seperti seorang anak dewasa yang sedang menenangkan orang tuanya yang sedang sakit. Cao Xiang terdiam sejenak, menatap mata putrinya dalam-dalam, mencoba mencari sisa-sisa kebenaran di sana. Setelah beberapa saat yang terasa lama, ia akhirnya menghela napas panjang yang seolah mengeluarkan seluruh beban di pundaknya.
“Baiklah... baiklah,” katanya akhirnya sambil mengangguk kecil dengan pasrah. “Karena kamu sudah pulang dalam keadaan utuh dan bernapas, ayah bisa sedikit lebih tenang. Masuklah, bersihkan dirimu.”
Pria itu berbalik masuk ke dalam rumah, langkah kakinya terdengar perlahan dan berat, menunjukkan betapa besar energi mental yang telah terkuras selama penantiannya. Cao Yi mengikutinya dari belakang dengan langkah yang nyaris tanpa suara. Di dalam rumah yang hangat itu, Cao Yi seolah berganti peran sepenuhnya. Ia kembali menjadi gadis yang terlihat lugu, sedikit lemah, dan polos di mata dunia. Tak ada yang tersisa dari sosok Dewi Kematian yang ditakuti oleh para pendekar tingkat tinggi. Padahal, gadis yang tampak rapuh itu baru saja menghabisi lima tetua dalam satu malam, termasuk seorang Pendekar Guru Suci yang disegani.
Cao Xiang tentu tidak sepenuhnya buta. Sebagai seorang pendekar tingkat tinggi, ia mengetahui siapa putrinya sebenarnya. Ia mungkin tidak mengetahui setiap detail pembantaian atau teknik rahasia yang dikuasai putrinya, namun ia paham betul bahwa Cao Yi memikul beban kekuatan yang melampaui logika manusia biasa.
Namun baginya, selama putrinya masih bisa pulang dan berdiri di hadapannya dengan selamat, itu sudah lebih dari cukup. Tak lama kemudian, rumah itu kembali sunyi. Cao Xiang akhirnya tertidur lelap karena kelelahan fisik dan mental yang luar biasa.
Sementara itu, di luar sana, dunia persilatan tidak pernah benar-benar diam. Berita tentang Perguruan Awan Mengalir yang tiba-tiba menutup pintu gerbang mereka dan menyatakan pengasingan diri menyebar seperti api yang ditiup angin kencang. Dalam hitungan hari, desas-desus itu menjadi topik pembicaraan paling hangat di kedai-kedai teh dan pasar-pasar di berbagai kota, termasuk Kota Yibei yang biasanya tenang.
“Ini benar-benar aneh,” ujar seorang pria paruh baya di sebuah kedai teh sambil mengelus janggutnya. “Walaupun mereka kehilangan beberapa orang di Lembah Teratai tempo hari, bukankah Perguruan Awan Mengalir masih memiliki lusinan tetua kuat? Orang gila macam apa yang berani cari gara-gara dengan mereka hingga mereka harus bersembunyi?”
“Benar juga,” sahut pendekar pengembara di sebelahnya sambil menyeruput teh panas.
“Tapi faktanya mereka benar-benar mengunci gerbang. Ini seolah-olah kekuatan inti mereka sudah runtuh secara misterius dalam semalam.”
“Hah, mungkin memang begitu sikap pengecut perguruan besar zaman sekarang,” celetuk seorang pemuda dengan nada sinis. “Sedikit melemah saja langsung menarik diri dari dunia. Kehilangan satu atau dua tetua saja sudah mereka anggap seperti kiamat. Benar-benar memalukan.”
Tawa kecil dan gumaman setuju terdengar di antara para pengunjung kedai, namun tak satupun dari mereka mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Tak ada yang tahu bahwa Perguruan Awan Mengalir mengalami kerugian yang jauh lebih besar dan mengerikan daripada yang berani mereka akui di permukaan. Mereka benar-benar mengisolasi diri karena rasa takut dan malu, menutup rapat rahasia tentang kegagalan total sepuluh tetua mereka dalam membunuh satu orang gadis.
Mereka mungkin berhasil menyembunyikan kelemahan itu untuk sementara waktu, namun ada satu masalah besar yang tak bisa mereka hapus dari kenyataan: Dewi Kematian masih hidup dan semakin kuat. Jika Cao Yi menginginkannya, satu kata atau satu kemunculan saja darinya sudah cukup untuk membuat para musuh Awan Mengalir berbondong-bondong menyerbu dan menguji seberapa rapuh fondasi yang kini sedang mereka sembunyikan di balik gerbang besi.
Cao Yi sendiri mendengar kabar penutupan perguruan itu melalui informasi yang beredar hingga ke telinganya tidak menunjukkan reaksi berarti. Ia hanya tersenyum samar, sebuah senyuman yang dingin dan penuh arti, seolah berita tersebut tidak lebih dari sekadar angin pagi yang lewat tanpa makna. Suatu hari nanti, ia melangkah menuju halaman belakang rumahnya yang tersembunyi, memastikan tidak ada satupun mata yang mengawasinya dari balik pagar. Di sana, di bawah naungan pohon rindang, ia membuka kipas hitamnya secara perlahan. Kabut hitam tipis mulai merayap keluar dari sela-sela kipas, berputar-putar mengikuti instruksi kehendaknya yang sunyi.
Dengan satu ayunan ringan yang terlihat lembut namun mengandung beban energi yang masif, kabut itu melesat ke arah tanah di depannya.
Swusss!
Tanah di hadapannya terbelah seketika, seolah-olah disayat oleh sebuah pedang raksasa yang tak terlihat namun sangat tajam. Retakan panjang terbentuk dengan kedalaman yang cukup untuk menelan lengan orang dewasa, dengan tepian yang halus dan bersih tanpa gumpalan tanah yang berantakan. Ini menunjukkan betapa tajam dan terkendalinya serangan energi Qi milik Cao Yi saat ini.
“Untuk saat ini, kemampuanku memang sudah meningkat, tapi belum benar-benar cukup,” gumam Cao Yi pelan dengan sorot mata yang serius. “Perguruan Awan Mengalir bukan lawan yang bisa diselesaikan dengan strategi gegabah atau sekadar kekuatan mentah.”
Bayangan sosok misterius yang pernah menghentikan pertempuran besar di Lembah Teratai beberapa waktu lalu kembali melintas dengan sangat jelas di benaknya. Tekanan aura yang luar biasa kuat yang ia rasakan saat itu masih terekam jelas di setiap serat sarafnya.
“Orang kuat itu, harusnya pemimpin utama Awan Mengalir. Dia adalah variabel yang sesungguhnya,” lanjutnya dengan nada bicara yang berat. “Kekuatannya saat itu bahkan terasa jauh melebihi Paman Ziang Guang. Jika dia keluar dari latihan tertutupnya, aku harus siap,” gumam Cao Yi sambil mengingat sosok yang menghentikan pertempuran yaitu Feng Xieyun.
Kabut hitam di sekitar kipasnya berputar semakin stabil dan padat. Cao Yi menutup kipasnya dengan satu hentakan yang bergema pelan, lalu menatap ke arah ufuk timur di mana matahari kini sudah mulai memancarkan sinarnya yang cerah, menyapu kegelapan malam namun tidak mampu menyapu kegelapan yang kian tumbuh di dalam dirinya.