NovelToon NovelToon
Cadar Sang Pendosa

Cadar Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Cintamanis / Balas Dendam / PSK / Konflik etika
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadiaa Azarine

Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.

“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”

“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”

“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”

“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”

“Namanya juga pelacur!”

Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.

Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.

Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.

“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diam-diam Mengagumi

Rafka menarik napas kasar. “Oke kalau gitu—berarti kamu nggak perlu lah minta tolong sama orang jelek ini. Saya sama temen-temen pamit pulang deh!” ucap Rafka.

“Eh… jangan gitu dong! Kalau mukanya udah jelek, jangan pelitnya juga diambil. Maruk banget!” gumam Adara.

Mereka tertawa mendengar celotehan Adara. Gadis itu benar-benar—tidak mau kalah. Dia sangat pintar menjawab ucapan Rafka dan membuat pria itu kalah telak. Suara dering ponsel membuat mereka semua spontan menghentikan tawa. Rafka merogoh  sakunya, meraih benda pipih itu dari dalam sana. Nama sang kakak tertera di layar ponsel itu.

“Assalamualaikum… kenapa, Mbak?” tanya Rafka.

“Waalaikumsalam. Kamu di mana sekarang, Raf? Masih di Solo sama temen-temenmu?” tanya Radisa—kakak pertamanya.

“Masih nih, Mbak. Rencananya habis Maghrib otw pulang!”

“Alhamdulilah! Kalau gitu kamu cari dulu santri putri yang ketinggalan di tempat lomba. Mbak kirimkan nomor hpnya!” ucap Radisa.

“Ketinggalan gimana maksudnya, Mbak? Santri kok bisa K.E.T.I.N.G.G.A.L.A.N?” Rafka melirik Adara dengan tatapan mengejek.

“Mbak kurang paham, Raf. Ustadzah Fira tadi bilang kalau ada salah satu santri yang ketinggalan. Orang-orang baru sadar setelah busnya udah separuh perjalanan,” jelas Radisa.

“Kok bisa pada nggak sadar kalau ada santri yang belum naik sih, Mbak? Memangnya santri ini nggak punya temen, ya?” tanya Rafka heran.

“Punya dong. Cuma keadaan santri lagi pada tepar karena mabuk, sepertinya ada makanan pemicu yang membuat mereka pada mabuk semua. Padahal pas berangkat aman-aman aja.”

“Oh gitu ya, Mbak. Santri yang hilang tadi namanya siapa?”

“Adara Naqia Selvira. Takutnya dia nyasar karena nggak tau jalanan Solo. Soalnya temennya bilang dia cuma pamit nyari jajan sama es.” 

Rafka menarik napas kasar. “Syukurlah Rafka udah ketemu sama dia dari tadi, Mbak. Nggak sengaja ketemu karena Rafka ngenalin dia dari seragamnya.”

“Alhamdulilah!” Radisa menghela napas lega. “Semua orang khawatir banget dan takut kalau Adara diculik.”

“Dia baik-baik aja, Mbak. Katanya tadi dia ketiduran di masjid,” jelas Rafka.

“Ketiduran?” tanya Radisa. Suara tawanya mengiringi pertanyaan itu.

“Iya, kayaknya emang anaknya ngebo banget, Mbak,” ucap Rafka terang-terangan mengejek.

Adara mendelik mendengar ucapan Rafka. Rasanya ia ingin sekali melempar sepatu yang dia pakai ke wajah pria itu. Sungguh menyebalkan sekali.

Radisa tertawa. “ Ya sudah. Mbak titipkan Adara sama kamu, ya. Bawa sekalian pulang ke pondok.”

“Tapi kayaknya mobilnya nggak muat deh, Mbak. Temen Rafka aja ada empat orang. Nggak mungkin dia duduk  di belakang dempet-dempetan sama temen Rafka. Apa Rafka suruh duduk di bagasi aja, ya?” ucap Rafka ngasal.

“Dasar menyebalkan!” batin Adara. Ia mengepalkan jarinya, bersiap menonjok pria itu. Untung saja dia masih bisa menahan diri.

“Jangan ngawur kamu, Dek!” Radisa tertawa. “Kata Abah biar dia duduk di depan bareng kamu yang nyetir. Nah temen kamu berempat duduk belakang.”

“Hah? Emang nggak apa-apa duduk sampingan gitu?” tanya Rafka kaget.

“Mau gimana lagi, Raf. Ini kan darurat. Lagian kursi depan nggak dempet-dempetan toh!” ujar Radisa.

“Iya sih, Mbak…” Rafka menghela napas pasrah.

“Hati-hati nyetirnya, Raf. Mbak tutup dulu, ya. Assalamu`alaikum.”

“Iya… Waalaikumsalam…”

“Emang nggak bisa kalau aku di belakang sendirian terus kalian berlima di depan?” tanya Adara begitu panggilan itu terputus.

“Wah, wah!” seru mereka serentak.

“Dikasih hati minta jantung!”

“Tinggalin aja, deh.”

“Padahal kita udah relain sempit-sempitan demi kamu, lho.”

Adara tertawa kecil. “Bye! Mau shalat dulu!” ujar gadis itu lalu pergi meninggalkan Rafka dan teman-temannya.

- - -

Adara mendaratkan bokongnya di kursi mobil. Ia menghela napas lega lalu memejamkan matanya, bersiap untuk tidur. Beberapa menit kemudian, suara pintu mobil yang terbuka terdengar di telinganya. Namun Adara mengabaikan suara itu. Ia tak ingin lagi beradu mulut dengan pria-pria menyebalkan itu.

“Tidur kah dia?”

“Iya kayaknya…”

“Tidur lagi?”

“Padahal aku mau wawancara.”

“Wawancara apaan?”

Mereka tertawa.

“Tutorial naikin nilai lah. Mau tanya apalagi ke si jenius kayak Adara itu!”

“Kirain mau tanya `apakah kamu berniat menjadi istriku` atau—”

“Jangan ngaco deh!”

“Eh bukannya santri putri yang disukai Mufasa itu Adara, ya?”

“Diem lo!” Mufasa mendelik ke arah Syabil.

“Hah?” Adara spontan menoleh ke belakang saat mendengar obrolan pria-pria itu.

Mereka semua terperanjat melihat gerakan Adara yang tiba-tiba. Setelahnya mereka mematung, tak berani bergerak dan hanya menatap Adara dengan tatapan bingung.

“K-kenapaa?” tanya Mufasa gugup.

“Kalian tuh santri putra Daarul Afkar, kah?” tanya Adara dengan tatapan polosnya.

“OALAHHH!” Seru mereka serentak lalu tertawa.

“Lah, menurut kamu mereka siapa kalau bukan santri Daarul Afkar?” Rafka balik bertanya.

“Kirain mereka tuh temen Gus Rafka dari luar pondok. Atau orang-orang random yang Gus Rafka Pungut, gitu…” Adara terkikik.

“Dia bilang apa, guys?” Pian menatap Adara dengan tatapan shock.

“Dia bilang kita orang random yang dipungut sama Rafka,” jawab Mufasa.

“PUNGUT KATANYAA!” seru Syabil tak terima.

“Orang seganteng kita dibilang hasil mungut…” lirih Ikhsan.

“Ganteng?” tanya Adara lalu tertawa. Ia sudah mengumpulkan kata di dalam kepalanya untuk membuat pria-pria itu sadar diri.

Namun, belum sempat Adara mengucapkan satu kata pun, Rafka sudah lebih dulu memotong ucapan gadis itu. Ia seolah tau apa yang akan Adara katakan.

“Cukup Adara… cukup.” Rafka mengulurkan sebungkus keripik kepada Adara. “Dari pada kamu menghabiskan suara untuk mengejek mereka yang memang sudah jelek, mending kamu makan keripik aja. Gunakan mulutmu untuk sesuatu yang bermanfaat.”

“Wah! Ternyata Gus Rafka baik, ya!” Adara tersenyum senang. “Jazakallah, bro!”

Rafka hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah random dan kalian asal-asalan yang keluar dari mulut gadis itu.

“By the way… kamu beneran nggak kenal sama kita-kita, Dar?” tanya Ikhsan penasaran.

Adara menggeleng cepat. “Aku nggak punya banyak waktu untuk kenal sama orang-orang nggak penting.”

Jantung mereka berempat terasa tertohok mendengar jawaban Adara. Namun Rafka malah tertawa mendengar jawaban Adara. Ia tersenyum tipis saat menyadari sesuatu.

“Berarti dia cuma kenal sama aku, dong?” batin Rafka. “Berarti aku nggak termasuk ke dalam golongan orang-orang nggak penting di kehidupan Adara!”

“YESSS!” Seru Rafka tanpa sadar.

“Gus kenapa? Konslet?” tanya Adara spontan. Ia menatap heran ke arah pria itu.

“Kenapa, Raf?”

“Ada berita baik, kah?”

“Buset, dia kalo bahagia nggak ngajak-ngajak kita, ya!”

“Spil dong. Apa yang buat seorang Rafka sangat kegirangan seperti itu?”

“RAHASIA!” jawab Rafka malu.

“Yee, nggak asik!”

“Eh, Adara. Masa sih kamu nggak kenal satu pun dari kita berempat?” tanya Syabil masih penasaran. “Secara kami berempat itu terkenal banget di pondok.”

“Tapi nggak terkenal di saya. Nggak penting!”

“Udah diem kalian! Jangan ditanya-tanya lagi. Jawaban dia selalu menusuk dan bikin kesal!” ujar Ikhsan.

Adara hanya tertawa mendengar ucapan mereka. 

***

Bersambung…

1
Lovita BM
ayok up lagi kakak ✊🏼
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Sweet Girl
Bisa jadi ... mesti diselidiki.
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
Sweet Girl
Ijin baca Tor...
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.
Sweet Girl
Kamu salah... Makai Cadar kok karena Adara...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!