⚠️Novel ini hanya karya fiksi semata ⚠️
Kesuciannya direnggut secara paksa oleh pria tak di kenal dalam semak-semak sepulang sekolah.
Dirinya yang ketahuan berbadan dua tak di terima dalam lapisan masyarakat, hingga ia berhenti sekolah dan di usir dari kampung halamannya.
Kedua orang tuanya yang hanya buruh lepas pemetik teh, terpaksa menikahkannya dengan sang tuan tanah yang telah memiliki istri namun tak punya keturunan.
“Aku hanya mau anak mu, setelah kau melahirkan kau akan ku ceraikan.” ucap Arash sang tuan tanah pengendali masyarakat setempat.
Bagaimana kisah hidup Ruby Maryam selanjutnya?
Akankah ia bahagia? Atau justru menderita?
Instagram : @saya_muchu
Ikuti terus alur novel Pelakor Tak Berdosa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reski Muchu Kissky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan
“Maaf sudah mengganggu waktu bapak dan ibu, saya Sarah, kepala sekolah disini, tujuan saya mengundang bapak dan ibu kemari untuk memberi tahu, bahwa Ruby, anak bapak dan ibu, sudah tidak bisa melanjutkan pendidikannya lagi di sekolah ini.” ucap Sarah tanpa berbasa-basi.
Baik Ruby, Dahlan dan Marisa merasa syok atas kabar buruk yang baru saja mereka dengar.
“Maaf bu, apa salah saya sebenarnya? Kenapa ibu tiba-tiba mengeluarkan saya dari sekolah?” Ruby tak mengerti apa yang terjadi.
“Betul bu. Apa karena anak saya bodoh bu?” hati Dahlan begitu tersayat melihat putrinya di keluarkan oleh ibu kepala sekolah.
“Benar bu, bukankah sekolah tempat menuntut ilmu? Jadi menurut saya, wajar saja kalau Ruby bodoh,” ucap Marisa.
“Bukan itu bu masalahnya, tapi ini.” Dia menyerahkan hasil tespek yang memiliki dua garis biru pada pihak Ruby.
Ruby yang melihat itu langsung gemetaran. Ia tak menyangka, apa yang ia khawatirkan selama ini menjadi kenyataan.
“Bukankah ini namanya tespek bu?” Marisa mengambil tespek tersebut, dan melihatnya baik-baik bersama Dahlan.
“Kau hamil?!” Marisa berteriak pada Ruby yang duduk di sebelahnya.
Suaranya yang kencang dapat di dengar oleh salah satu teman sekelas Ruby yang baru lewat dari kantor kepala sekolah.
Tuman yang penasaran tentang apa yang terjadi di dalam pun mulai menguping lewat jendela yang terbuka.
“Aku enggak tahu bu.” Ruby menggelengkan kepalanya.
“Kau tidak tahu, tapi ini apa? Ini punya mu apa bukan sialan!” Sarah melempar tespek itu ke wajah Ruby.
“Ruby, jawab yang jujur! Kau betul hamil atau tidak?!” Dahlan yang malu di hadapan semua orang hampir menangis. Ruby yang takut pun menitikkan air matanya.
“Aku enggak tahu ayah, ibu, maafkan aku.” Ruby mengepal kedua tangannya yang ada di lututnya.
“Untuk apa kau minta maaf kalau kau tak hamil binatan*!!” hardik Marisa
Plak!
Tamparan keras Marisa mendarat di kepala belakang Ruby.
“Ibu Marisa, tenanglah, jangan terbawa emosi.” Sarah tak suka jika ada kekerasan di ruangannya.
“Bagaimana saya enggak emosi bu, dia harapan kami kalau sudah tua kelak, tapi dia menghancurkan segalanya, dia hanya kami suruh belajar dan mengurus urusan rumah, Ruby, tak pernah kami suruh untuk mencari nafkah ibu! Tapi... hiks... dia menghancurkan segalanya!”
Marisa menangis histeris, terlebih ia tahu apa yang akan di hadapi keluarganya selanjutnya.
“Jangan menangis bu, nanti orang lain bisa dengar, malu bu.” Dahlan mengusap air mata istrinya.
“Sudahlah bu Marisa, semua telah terjadi, kami dari pihak sekolah bersedia membantu, untuk mencari siapa ayah dari anak yang Ruby kandung.” Sarah mengira kalau Ruby melakukannya dengan siswa di sekolahnya juga.
“Terimaksih banyak bu, kami sangat berharap, pacar anak ini segera bertanggung jawab!” Marisa menatap sinis ke arah Ruby yang terus berlinang air mata di sebelahnya.
“Ruby, katakan pada ibu, siapa laki-laki yang telah membuat mu hamil? Beritahu kami , agar kami bisa menuntut keadilan untuk mu.” Sarah membujuk Ruby agar mau buka mulut.
“Ma-maaf bu, saya tidak tahu siapa orangnya.” ucap Ruby dengan suara terbata-bata.
“Apa maksudnya kau tak tahu? Jujurlah pada kami, tak ada gunanya kau menyembunyikan orang itu, karena kalau kau diam, yang akan rugi kau sendiri, Ruby.” Dia ikut membujuk Ruby agar mau memberitahu mereka siapa laki-laki tersebut.
“Bukan aku tak mau mengatakannya bu, tapi... aku benar-benar tak tahu siapa dia.” Ruby merasa malu untuk mengatakan kalau dirinya di nodai orang yang tak ia kenal.
“Ruby! Apa kau yang menggoda laki-laki itu, sehingga kau tak berani untuk jujur pada kami semua?!” Sarah mulai hilang kesabaran pada Ruby yang bebal di matanya.
“Makanya Ruby, kalau pacaran itu ingat batasan, kalau sudah bablas begini, kau pun ketakutan untuk mengatakan siapa orang yang telah meniduri mu.” kata-kata menohok dari Dia membuat kedua orang tua Ruby tak punya muka.
“Benar, jadi perempuan harus bisa menjaga kehormatan sendiri, kalau sudah rusak, maka harga diri keluarga mu pun hilang, masa depan mu pun hancur, bagus kalau pacar mu mau tanggung jawab, kalau tidak, apa kau masih bisa hidup di tengah masyarakat?” ucap Wahyu yang sangat benci sifat-sifat tercela.
“Saya yakin, pasti dia yang menggoda pak Wahyu, makanya dia tak mau bicara, lihat saja roknya, sampai di atas lutut, sudah kelihatan nakalnya sih, tapi entahlah apa yang sebenarnya terjadi.” Dia semakin menyudutkan Ruby.
“Maaf, bapak dan ibu, kalau soal pakaian itu kesalahan saya sebagai ayah, karena tak mampu untuk membeli baju baru untuk anak saya, baju itu pun pemberian orang lain.”
Meski Dahlan marah pada putrinya, tapi hatinya tak terima saat ada hal yang tak benar keluar dari mulut orang lain mengenai Ruby.
“Apa memang kehidupan orang bapak sesusah itu? Atau pelit pada anak saja? Lihatlah pak, karena kalian yang lalai, menjadikan putri kalian secara tak sengaja memancing nafsu laki-laki saatmelihatnya.”
Sarah yang finansial nya mapan, tak perduli apa itu yang namanya susah, yang penting di benaknya, kalau berusaha keras, pasti bisa mendapatkan apapun yang di inginkan.
“Ya.” jawab Dahlan.
“Tapi tetap saja, seorang perempuan harus bisa menjaga harga dirinya, bapak Dahlan.” ucap Sarah, yang anti pada orang yang suka membuat dosa.
Perdebatan yang terjadi di dalam ternyata terdengar sampai keluar ruangan, sehingga banyak siswa dan siswi yang berkumpul untuk mendengar percakapan mereka.
Di antaranya pun ada Ida dan Ayu, mereka yang mengetahui kondisi Ruby merasa kasihan.
“Ruby, jujurlah, tak usah kau lindungi orang yang telah membuat mu hamil.” ucap Dia. Karena terus di desak, akhirnya Ruby jujur.
“Saya di perkosa oleh laki-laki yang saya tidak kenal. Saya yakin dia bukan warga sini, karena saya tidak mengenali dia sama sekali, bapak, ibu, semua di luar keinginan saya, jadi saya mohon, jangan keluarkan saya bu, saya masih ingin sekolah.” Ruby memohon pada sang kepala sekolah.
“Tidak bisa Ruby, karena sekolah ini, tidak menerima siswi yang sedang mengandung, apa lagi punya anak. Pastinya kau sudah tahu itu sebelumnya,” ucap Sarah.
“Tapi ibukan tahu sendiri, kalau saya di perkosa, saya tidak bersalah ibu, ini adalah musibah untuk saya, hiks...” Ruby yang tak dapat pengertian dari ibu kepala sekolah merasa sedih.
“Wanita bisa di lecehkan atau di perkosa, muasalnya pasti karena tak bisa menjaga penampilan, mengumbar aurat, kalau kau memakai baju yang lebih sopan, pasti semua ini tak terjadi, laki-laki itu tak bisa menjaga mata dan menahan nafsunya Ruby.” Sarah yang tak tahu kronologi yang sebenarnya malah melimpahkan kesalahan pada Ruby.
“Ibu, saya itu korban, saya hanya melintas di jalan, lalu dia menangkap saya, kalau begitu kejadiannya apa itu memang kesalahan saya seutuhnya?” Ruby membela dirinya yang tak mendapat keadilan sebagai korban.
...Bersambung......