NovelToon NovelToon
Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romansa Fantasi / Cinta Terlarang / Obsesi / Perperangan / Dark Romance
Popularitas:840
Nilai: 5
Nama Author: HOPEN

Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makhluk Yang Tidak Normal

Hari-hari berlalu.

Hari-hari di neraka biasanya diukur dari berapa banyak api yang berkobar atau berapa banyak jeritan yang bergema, tetapi bagiku, waktu kini diukur dari seberapa cepat makhluk kecil ini berkembang. Dan sialnya Cloudet belajar terlalu cepat. Terlalu efisien untuk ukuran makhluk yang seharusnya masih merangkak di lantai batu yang kasar.

Aku duduk bersandar pada dinding kamar yang dingin, melipat tangan di depan dada sambil memperhatikannya dari sudut mata. Tubuh kecilnya kini jauh lebih stabil. Meskipun langkahnya masih sesekali goyah, ia tidak lagi mencium lantai setiap tiga langkah. Ia mulai memiliki ritme sendiri, sebuah kegigihan yang entah ia warisi dari siapa.

Benar-benar menyebalkan, pikirku. Kehadirannya menghancurkan privasi yang selama bertahun-tahun kujaga dengan barikade aura dingin.

Ia berjalan mondar-mandir di depanku tanpa tujuan yang jelas. Terkadang ia berhenti hanya untuk menatap retakan pada dinding atau bayangan yang bergerak, lalu melanjutkan penjelajahannya. Saat ini, ia berada dalam wujud hellhound kecilnya. Telinga hitamnya yang lebar dan panjang tampak tidak proporsional dengan kepalanya, dan setiap kali ia bergerak, telinga itu mengepak-ngepak dengan liar. Ia terlihat seperti sedang mencoba terbang, sebuah upaya sia-sia karena hellhound ditakdirkan untuk berlari di atas bara, bukan mengepakkan telinga di udara.

Telinga itu hampir menyentuh wajahku setiap kali ia lewat. Aku harus menahan diri dengan sangat kuat agar tidak mencengkeram dan menariknya sebagai peringatan.

Tiba-tiba, Cloudet berhenti. Ia berbelok dan mendekat ke arahku. Terlalu dekat. Sebelum aku sempat bertanya apa maunya, tangan kecil berbulu itu terangkat.

Pat, pat.

Ia menepuk-nepuk perutku. Pelan. Berulang. Ada rasa ingin tahu yang aneh dalam caranya menyentuh, seolah-olah ia sedang menguji apakah aku ini makhluk hidup atau sekadar dekorasi di kamar ini.

Aku menegang. Napasku tertahan sejenak saat aku menunduk, menatapnya dengan mata menyipit tajam. “Hei,” kataku dengan suara datar yang sarat akan kekesalan, “bisakah kau melakukan hal lain? Pergi ke sudut sana dan gigitlah bantal atau apa pun.”

Ia berhenti. Ia mendongak, menatapku tepat di mata. Lalu—tanpa ragu sedikit pun—ia menepuk lagi.

Pat.

“…Aku serius, bocah,” gumamku, rahangku mengencang.

Cloudet berkedip polos, lalu suara tawa kecil pecah dari tenggorokannya. Itu adalah suara yang sangat ringan, kontras dengan beratnya udara belerang di sekitar kami. Ia tampak sangat puas, seolah-olah baru saja memecahkan teka-teki tentang cara termudah untuk membuat seorang makhluk neraka merasa tidak nyaman.

Aku mendecak, lalu dengan cepat menangkap pergelangan tangannya sebelum ia sempat memberikan tepukan ketiga. Tangannya kecil, hangat, dan sangat rapuh di genggamanku yang berlapis luka perang. Aku menunggu reaksinya. Biasanya, makhluk kecil akan menangis jika kebebasannya direnggut, atau setidaknya merengek ketakutan melihat kilat kemarahan di mataku.

Namun, Cloudet justru melakukan sesuatu yang tidak masuk dalam perhitungan strategiku. Ia duduk. Ia menjatuhkan pantat kecilnya begitu saja di lantai, tepat di antara celah kakiku, lalu menyandarkan punggungnya ke tubuhku seolah aku adalah bantal paling empuk di seluruh dunia bawah.

Aku membeku. Seluruh ototku mengeras. “…Apa lagi ini?” gumamku tak percaya.

Telinganya mengepak pelan sekali lagi sebelum akhirnya lemas dan diam. Ia tidak bergerak lagi. Tidak mengganggu. Ia hanya... ada di sana. Merasakan detak jantungku melalui punggungnya. Aku melepaskan tangannya perlahan, dan ia tidak kembali menyerang perutku.

Aku menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang gelap. “Kau tahu,” kataku tanpa menoleh, “kau jauh lebih merepotkan daripada menghadapi serangan iblis rendah.”

Ia tentu tidak mengerti hinaanku. Namun ekor kecilnya yang hitam mengibas pelan, memukul-mukul kakiku dengan ritme yang stabil. Aku menutup mata sesaat, menyadari bahwa keheningan di kamar ini telah berubah selamanya. Tidak lagi kosong. Tidak lagi dingin dengan cara yang menyakitkan. Dan itu sangat mencurigakan.

Rasa bosan mulai merayap. Dan di neraka, rasa bosan biasanya berujung pada sesuatu yang berbahaya.

Cloudet kini kembali ke wujud manusianya—kulit pucat dan rambut hitam yang berantakan—namun telinga anjing hitamnya masih tertinggal karena ia belum mahir bertransformasi sempurna. Telinga itu terus mengepak-ngepak tanpa henti, mengenai lenganku, dadaku, bahkan menyentuh daguku.

“Berhenti,” gumamku untuk yang kesepuluh kalinya.

Ia mengabaikanku. Sama sekali.

Di situlah ide gila muncul. Aku ingin tahu apakah anak ini memiliki emosi dasar seperti keturunan neraka lainnya. Apakah dia bisa marah? Malu? Atau setidaknya lari ketakutan jika aku benar-benar menunjukkan jati diriku?.

Aku mencondongkan tubuh, memperpendek jarak hingga wajah kami hanya terpaut beberapa inci. Aku menatap lurus ke matanya yang kuning besar. Mata kami memiliki warna yang identik, sebuah tanda darah yang tak bisa dipungkiri. Aku menyunggingkan senyum miring, sebuah seringai yang biasanya membuat lawan bicaraku gemetar.

Plak!

“Ah!”

Rasa nyeri yang panas menyentak pipiku. Aku terdiam kaku. Telapak tangan kecilnya baru saja mendarat dengan telak di wajahku.

Cloudet juga terdiam. Tangannya masih menggantung di udara. Matanya membulat lebih besar dari sebelumnya, seolah-olah dia sendiri baru sadar bahwa dia baru saja menampar salah satu entitas paling berbahaya di istana ini.

Aku mendengus kesal, bukan karena sakitnya, tapi karena harga diriku yang baru saja dicabik-cabik.

“Dasar anak kurang ajar!”

Aku memutuskan untuk tidak membiarkannya lolos begitu saja. Aku membiarkan mataku menyala dengan cahaya kuning yang tajam dan mengintimidasi. Taringku memanjang melewati bibir, sengaja kutunjukkan dengan cara yang paling buas. Aku menekan aura ku keluar, menciptakan gelombang energi berat yang mampu membuat iblis biasa berlutut memohon ampun.

“Boo,” kataku dengan suara rendah yang menggetarkan udara.

Cloudet menatapku lekat-lekat. Sedetik. Dua detik.

Lalu—ia tertawa.

Ia tertawa lepas, tawa yang begitu jernih hingga aura kegelapan yang baru saja kubangun terasa memudar dan konyol. Aku terdiam untuk kedua kalinya hari itu, merasa seperti badut yang gagal melakukan trik sulap.

Sebelum aku sempat bereaksi lebih jauh, ia berdiri dan berlari tertatih menjauh dariku, mencoba kabur dengan langkahnya yang masih belum sempurna itu.

“Oh tidak, kau tidak akan ke mana-mana !”

Dengan gerakan secepat kilat, aku menangkapnya dengan satu tangan sebelum ia mencapai pintu. Aku mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara, membiarkannya menggantung.

“Kau pikir kau bisa kabur setelah memukulku, hm?” kataku datar.

Aku menatapnya, lalu menyunggingkan senyum paling menakutkan yang kupunya. Aku membuka mulut lebar-lebar, memperlihatkan barisan taring tajamku, dan mendekatkan wajahku hingga hidung kami bersentuhan.

“Rawr.”

Aku menunggu tangisannya pecah. Aku menunggu dia memohon untuk diturunkan.

Grrk.

“—!”

Aku refleks mengendurkan genggaman karena rasa sakit yang tajam di tanganku. Hampir saja ia terlepas dan jatuh. Bocah itu baru saja menggigit tanganku dengan taring kecilnya yang baru tumbuh!

“Cloudet—!”

Aku segera mendekapnya kembali erat-ke dadaku agar dia tidak jatuh. Dan dia? Dia tertawa keras. Sangat keras. Dia tampak begitu puas dan bahagia, seolah-olah digigit balik atau diancam dimakan adalah permainan terbaik yang pernah ada di dunia ini.

Aku menatapnya dengan pandangan tak percaya

“Kau benar-benar tidak normal. Ada yang salah dengan dirimu.”

Ia bersandar di lenganku, masih tersisa tawa di wajahnya, tangannya mencengkeram bajuku dengan erat. Telinganya mengepak kegirangan, menimbulkan angin kecil di wajahku. Aku menghela napas panjang, menatap bayangan kami di dinding.

Lalu tanpa sadar, tanpa bisa kutahan—aku tertawa kecil. Sebuah suara yang asing bagi tenggorokanku sendiri. Pendek, hampir tak terdengar, tapi nyata.

“Jangan pernah lakukan itu lagi,” kataku, mencoba kembali bersikap tegas. “Aku bisa saja menjatuhkanmu jika aku tidak sigap.”

Ia menatapku, lalu mengangguk kecil dengan gerakan yang sok tahu. Aku sama sekali tidak percaya padanya. Aku tahu besok dia akan melakukannya lagi.

Aku menyesuaikan posisinya di lenganku agar ia lebih nyaman dan aman

“Dan berhenti menggigit orang. Kau bukan anjing liar.”

Ia menyeringai kecil—sama sekali tidak menunjukkan penyesalan. Aku kembali menatap ke depan, merasakan kehangatan kecil yang merambat dari tubuhnya ke dadaku. Perasaan aneh mulai mengendap. Aku bermaksud menakutinya agar dia menjauh dan membiarkanku sendiri.

Sebaliknya, akulah yang mulai kehilangan kewaspadaan. Akulah yang mulai terbiasa dengan kepakan telinga itu. Dan di tempat sekejam neraka, kehilangan kewaspadaan adalah ancaman yang jauh lebih berbahaya daripada apa pun yang bisa dilakukan Calona.

Namun, saat melihatnya mulai mengantuk di pelukanku, aku memutuskan bahwa untuk malam ini, semua bahaya itu bisa menunggu.

Bersambung

1
Im_Uras
🤭🤭
Im_Uras
😍
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
lucu itu.. namanya juga masih masa pertumbuhan🤭🙏
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
wah.. pasti cakep banget
j_ryuka
namanya juga anak-anak
Tulisan_nic
ikut aku aja cloudet
Tulisan_nic
unyu banget,🫣
chrisytells
Kalau nggak keras, bukan kepala namanya 🤭😄
chrisytells
Udah otot kawat, tulang besi dari sononya nih si Cloudet
chrisytells
Gimana rasanya tuh, ditempelin? 🤣
Panda%Sya🐼
Benar kamu harus tumbuh jadi kuat
Blueberry Solenne
Cloudet masih masa pertumbuhan dan bimbingan orang dewasa, dan seusia dia lagi Lucu-lucunya
Vanillastrawberry
kasian nggak tau wajah ibunya 😥
Mentariz
siapp ntar kamu akan jatuh hati padanya😁
Mentariz
Kekuatannya emang gak main-main yaa 😂
Mentariz
Wuuiihh pasti cantik banget nih cloudet😄
j_ryuka
nyebelin tapi lucu
chrisytells
Iseng banget sih🤣
chrisytells
Udah nakutin, body shaming lagi😄
chrisytells
Nggak kebayang gimana karakternya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!