NovelToon NovelToon
Pangeran Tidur

Pangeran Tidur

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir / Romansa
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.

" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~


"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~

Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malwa ?

Para tamu akhirnya pulang. Kediaman Arkaven kembali sunyi, seolah gemerlap dan tawa beberapa jam lalu hanyalah bayangan yang cepat menguap.

Sejak kejadian di ruang makan, Elora tak keluar dari kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, memeluk lutut, pikirannya berputar pada suasana hangat antara keluarga Thomas dan Arkaven. Tawa ringan, obrolan akrab… dan senyum cantik Althea yang nyaris tak pernah lepas dari arah Arelion.

“Mereka sangat serasi… dan sepadan,” gumamnya lirih.

Sedangkan ia? Hanya anak panti. Seseorang yang keberadaannya bahkan harus disamarkan dengan seragam pelayan.

Dada Elora terasa sesak. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

“Aku sangat merindukan mereka… Romi… Bu Panti…” suaranya nyaris tenggelam oleh sunyi.

Angin malam menyusup lewat celah jendela yang belum tertutup sempurna. Elora bangkit, berniat menutupnya. Namun langkahnya terhenti.

Di luar jendela, seekor kupu-kupu bersayap keperakan terbang pelan, berkilau tertimpa cahaya lampu taman.

Malwa…

Bibir Elora membentuk nama itu tanpa suara.

Kupu-kupu itu hinggap di dahan pohon kecil yang berdiri di dekat kolam. Tanpa berpikir panjang , Elora membuka pintu kamarnya dan melangkah keluar.

Kediaman Arkaven sudah sepi. Lampu-lampu diredupkan, hanya menyisakan cahaya temaram yang memanjang di lorong. Langkah Elora nyaris tak bersuara saat ia menuju taman belakang.

“Malwa…” panggilnya pelan.

Ia semakin mendekat ke pohon itu. Tangannya terulur, hampir menyentuh sayap berkilau tersebut—namun tiba-tiba kupu-kupu itu terbang, melayang ke arah kolam.

“Malwa… jangan pergi…”

Dari lantai atas, Arelion yang berdiri di dekat jendela ruang kerjanya tak sengaja melihat sosok Elora di taman.

Apa yang dilakukan gadis itu malam-malam begini?

Apa ia akan… berenang?

Keningnya berkerut. Sebuah ingatan tajam menyambar benaknya.

Berenang? Bukankah Elora sempat tenggelam ?

Tanpa berpikir panjang, Arelion meraih jaketnya dan bergegas keluar. Langkahnya cepat, hampir berlari, menuju taman belakang..menuju Elora.

Arelion berhenti beberapa langkah dari taman, matanya terpaku pada sosok Elora.

Kaki gadis itu semakin mendekati tepi kolam. Gaunnya bergoyang pelan tertiup angin malam, sementara bibirnya terus bergerak, memanggil sebuah nama dengan suara lirih namun penuh kerinduan.

“Malwa…”

Arelion mengerutkan dahi.

Malwa?

Pandangannya mengikuti arah tatapan Elora ke arah seekor kupu-kupu bersayap keperakan yang terbang rendah di atas permukaan air.

Apa dia… sedang berbicara dengan seekor kupu-kupu?

Hatinya dipenuhi rasa tak percaya, namun ada sesuatu yang membuatnya gelisah. Gerak Elora terlalu dekat dengan kolam. Terlalu berbahaya.

“Elora.”

Panggilan itu tegas, memecah kesunyian malam.

Langkah Elora terhenti seketika.

Ia menoleh.

Dan seketika matanya membola saat melihat Arelion berdiri tak jauh darinya, siluet tubuhnya diterangi lampu taman. Jantung Elora berdegup kencang, seolah tertangkap basah melakukan sesuatu yang seharusnya tak ia lakukan.

“T-Tuan…?” suaranya bergetar.

Arelion melangkah satu langkah mendekat, tatapannya tajam namun penuh kekhawatiran.

“Apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini?” tanyanya pelan, namun jelas. “Dan… siapa Malwa?”

Angin malam kembali berembus, membuat air kolam beriak kecil—sementara kupu-kupu itu berputar sekali di udara, seakan menunggu sesuatu yang akan terjadi selanjutnya.

"Malwa… adalah temanku. Dan juga teman seseorang,” jawab Elora lirih, matanya kembali tertuju pada kupu-kupu yang kini bertengger di dahan lain di tepi kolam. Sayap keperakan itu berkilau pelan, seolah mendengarkan.

Arelion menegang.

Langkahnya maju setapak, suaranya merendah namun sarat penekanan.

“Apa kau lupa… kalau kau pernah tenggelam?”

Elora terdiam.

Kata tenggelam menghantam kesadarannya seperti riak air yang tiba-tiba membesar. Ingatan samar berkelebat air dingin, gelap, napas yang tercekik… dan sepasang lengan yang menariknya kembali ke permukaan.

Ia menggigit bibir. “Aku tidak lupa,” ucapnya pelan. “Aku hanya… ingin mencari angin segar saja."

Arelion menatapnya lekat, seolah mencoba membaca sesuatu yang lebih dalam dari kata-katanya.

“Menjauhlah dari tepi,” katanya tegas. “Sekarang.”

Elora menurut. Ia melangkah mundur satu langkah, lalu satu lagi. Namun sebelum benar-benar menjauh, kupu-kupu itu kembali mengepakkan sayapnya, terbang rendah di atas air.

“Elora,” Arelion memanggil namanya lagi, kali ini lebih lembut, “bagaimana tanganmu?”

Pertanyaan itu datang tiba-tiba, membuat Elora tersentak kecil.

Ia menunduk, lalu memegang salah satu jemarinya yang sedikit tergores pecahan gelas.

“Hanya luka kecil,” jawabnya pelan, seolah tak ingin membuatnya terdengar penting.

Arelion tidak langsung percaya. Ia mendekat setapak, tatapannya jatuh pada jari Elora yang masih memerah.

“Kau bilang kecil,” katanya rendah, “tapi itu tetap luka.”

Elora menoleh.

Untuk sesaat, tatapan mereka kembali bertaut,terlalu dekat, terlalu sunyi. Lampu taman memantulkan cahaya lembut di mata Arelion, sementara jantung Elora berdetak tak karuan.

“Aku baik-baik saja, Tuan,” ucapnya cepat, berusaha menarik tangannya.

Namun Arelion lebih sigap. Ia meraih pergelangan Elora dengan hati-hati, bukan menahan,melainkan memastikan.

Elora menarik tangannya kembali sepenuhnya, jemarinya mengepal di balik lipatan seragam.

“Lain kali ..Saya akan lebih berhati-hati.”ucapnya pelan.

Ia melangkah mundur setapak, memberi jarak yang terasa perlu..bukan karena takut, melainkan karena jantungnya terlalu ribut. Namun sebelum ia sempat berbalik, suara Arelion kembali menahannya.

“Kenapa kau selalu menjauh setiap kali aku mendekat?” tanyanya lirih, bukan sebagai tuduhan, lebih seperti kejujuran yang tak sengaja lolos.

Elora terdiam. Angin malam menyibakkan helai rambutnya, sementara kupu-kupu itu kini tak terlihat lagi.

“Aku hanya… tahu tempatku,” jawabnya akhirnya.

Kata-kata itu menghantam Arelion lebih keras dari yang ia duga. Dadanya berkecamuk, seolah ada sesuatu yang memberontak di dalam sana—amarah, rasa bersalah, dan dorongan kuat untuk menyangkal kalimat itu mentah-mentah.

Tempatmu? batinnya getir.

Sejak kapan dunia menempatkan Elora di posisi serendah itu?

“Permisi, Tuan,” pamit Elora pelan.

Ia berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya.

Arelion tetap berdiri di sana, menatap punggung gadis itu. Lampu taman membingkai siluetnya rapuh, namun teguh.

Elora terus melangkah pergi menyusuri jalan setapak taman. Ia meninggalkan Arelion seorang diri di tepi kolam.

Arelion menatap bayangan punggungnya yang menjauh. Tangannya mengepal perlahan.

Siapa sebenarnya kau, Elora… batinnya.

Dan kenapa hatiku selalu mengenalmu, bahkan sebelum pikiranku sempat mengingat?

Tak lama mata Arelion terfokus pada kupu-kupu yang sejak tadi menarik perhatian Elora. Sayapnya berkilau lembut di bawah cahaya lampu taman, bergerak pelan seolah memanggil.

Arelion melangkah mendekat.

Dan tanpa diduga, kupu-kupu itu hinggap di lengannya.

Detik itu juga, dunia seakan berhenti.

Arelion membeku ketika serpihan ingatan yang selama ini hanya muncul sebagai bayangan kabur, mendadak tersusun jelas. Sebuah taman terhampar di benaknya..indah, luas, dan asing. Bukan taman di kota ini. Cahaya lembut menyelimuti dedaunan, udara terasa ringan, dan di sekelilingnya beterbangan banyak kupu-kupu… sama persis.

Salah satunya berwarna keperakan.

Jantung Arelion berdegup kencang. Napasnya tertahan.

Bukan mimpi. Bukan khayalan.

Ia pernah berada di sana.

Dan di taman itu… ia tidak sendirian.

Nama yang sejak tadi diucapkan Elora kembali menggema di kepalanya, pelan namun tegas, seperti panggilan dari jauh.

Malwa…

1
Masitoh Masitoh
seruuuuu
Efi Irsyad
cerita mengaduk perasaan saya /Cry/
Masitoh Masitoh
Episode awal yang menarik..siap-siap maraton
Masitoh Masitoh
Mampir thor
restu s a
mampir thor
Azumi Senja: Makasih kak 🥰
total 1 replies
Azumi Senja
🥰🥰🥰
Ziya Bandung
Makin seruuu nih..pinter banget sih thor 😍
Ziya Bandung
Seruuuuu bangeeetttt 👍
Azumi Senja
Ashiapppp
Ziya Bandung
Lanjuuuut
Sybilla Naura
lanjuuuuttt 😍😍
Sybilla Naura
Semoga Arelion tak amnesia
Azumi Senja: Semoga 🤭🤭
total 1 replies
Sybilla Naura
lanjuuuuuttttt
Sybilla Naura
Tiap bab nya bikin pinisirin 👍
Ziya Bandung
Seruuuuu👍
Ziya Bandung
Suka bangett cerita fantasi kaya gini..🫰🏻🫰🏻
Ziya Bandung
seruuuu😍😍
Sybilla Naura
Sukaa banget cerita dua dunia kaya gini..😍😍
Sybilla Naura
Wahhh..karya baru nih Thor..lanjuuuuuuuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!