Gibran Tanuwijaya Gilbert, duda anak satu yang harus merelakan kepergian istrinya disaat lagi sayang-sayangnya, cinta Gibran sangat besar terhadap almarhum istrinya sehingga membuat Gibran menutup hatinya rapat-rapat untuk wanita manapun.
Kehadiran Livia yang merupakan guru sang anak mampu memporak-porandakan hatinya. Livia yang merupakan seorang janda tanpa anak itu sangat menyayangi anak Gibran begitu pun sebaliknya.
Akankah Gibran tetap menutup rapat hatinya atau akan menuruti keinginan anaknya yang sangat menginginkan seorang Ibu?
Supaya nyambung dan kalian tahu siapa Gibran, kalian baca dulu CINTA DOSEN GENIUS...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
💔
💔
💔
💔
💔
Gibran pun langsung melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Gilsya menuju kantor. Memang benar kata Oma Tasya kalau sebenarnya Gilsya membutuhkan sosok Ibu tapi Gibran belum ada pikiran untuk mencari istri baru pengganti Alsya karena menurut Gibran sampai kapan pun Alsya tidak akan tergantikan.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Gibran pun sampai di kantor. Gibran langsung disibukan dengan pekerjaan yang menumpuk, tapi itulah obat buat Gibran supaya dia sejenak melupakan sosok Alsya karena kalau Gibran tidak mempunyai pekerjaan sudah dipastikan Gibran bakalan menjadi orang gila yang terus-terusan memikirkan istrinya.
Sementara itu disebuah rumah mewah lainnya..
"Monica, hari ini kamu mulai bekerja lagi kan?" seru Papanya.
"Iya Pa."
"Nanti siang temani Papa menemui Tuan Gibran, karena salah satu perusahaan kita bekerjasama dengan perusahaannya."
"Baik Pa."
Sebenarnya Monica sudah pulang tiga hari yang lalu, tapi Monica tidak kemana-mana dia hanya diam saja di rumah. Tapi hari ini dia akan mulai masuk kantor lagi dan bekerja seperti dulu.
Berbeda dengan Gilsya, hari ini Gilsya terlihat cemberut tidak mau bicara sama sekali. Begitu pun dengan Demir yang sama-sama sedang tidak baik-baik saja.
"Selamat pagi anak-anak!" sapa Livia dengan senyumannya.
"Selamat pagi Bu."
Livia mulai bercakap-cakap, bernyanyi bersama, bercanda bersama, dan terakhir Livia memberikan pelajaran untuk anak-anak didiknya. Sebenarnya dari tadi Livia tahu kalau Gilsya dan Demir terlihat murung tapi Livia akan menanyakannya saat istirahat nanti.
Waktu istirahat pun tiba...
Semua anak-anak membuka bekal makanannya dan makan bersama, sedangkan Gilsya dan Demir hanya diam saja. Kemudian Livia pun menghampiri keduanya.
"Hallo Gilsya, hallo Demir, kalian kenapa? kok dari tadi Ibu lihat kalian murung dan tidak bersemangat?" tanya Livia.
"Demir benci sama Nenek Bu, Nenek selalu memarahi Demir."
"Kalau Nenek Demir memarahi Demir, itu artinya Demir nakal."
"Demir tidak pernah nakal Bu, tapi Nenek selalu saja memarahi Demir. Kata Nenek, Demir itu mirip dengan Mama dan Nenek selalu memarahi Demir karena Nenek benci sama Mama."
"Ya Alloh, kok bisa sih ada seorang Nenek setega itu melampiaskan amarahnya kepada anak sekecil Demir," batin Livia.
Livia pun mengusap kepala Demir dengan penuh kasih sayang. "Sudah jangan sedih lagi, kan disini masih ada Ibu yang akan selalu menyayangi Demir."
Demir langsung memeluk Livia dengan eratnya membuat Livia tersenyum. Pandangan Livia beralih kepada anak perempuan cantik yang saat ini hanya mengaduk-ngaduk kotak makannya.
"Sebentar ya, Ibu mau ke Gilsya dulu," seru Livia.
Demir pun melepaskan pelukannya dan menggeser duduknya mendekati Gilsya, diusapnya pucuk kepala Gilsya dengan lembutnya.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Gilsya benci sama Papi."
"Kenapa Gilsya benci sama Papi?"
"Papi itu melarang Gilsya memanggil Mami kepada Tante Nasya, padahal Gilsya itu ingin sekali punya Mami seperti teman-teman Gilsya yang lain yang selalu ditungguin di sekolah oleh Maminya."
Livia kembali tersenyum. "Sayang, mungkin Papi Gilsya tidak mau Gilsya memanggil Mami kepada sembarang orang karena Papi Gilsya hanya ingin Gilsya memanggil Mami kepada Mami Gilsya bukan kepada orang lain," sahut Livia dengan lembutnya.
"Gilsya ingin punya Mami, Bu," seru Gilsya dengan menundukan kepalanya bahkan saat ini Gilsya sudah meneteskan airmatanya.
Livia kembali memeluk Gilsya, Livia tahu apa yang dirasakan Gilsya karena dulu saat dirinya berusia seperti Gilsya, dia juga ingin merasakan punya seorang Ibu seperti yang lainnya.
"Bu, bolehkah Gilsya bertanya?"
"Boleh dong, Gilsya mau tanya apa?"
"Apa Ibu Livia sudah menikah?"
"Sudah."
Gilsya kembali menundukan kepalanya merasa sangat kecewa dengan jawaban Livia begitu pun dengan Demir yang terlihat kecewa juga.
"Tapi itu dulu...."
Gilsya langsung menatap wajah cantik Livia dengan mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti dengan ucapan gurunya itu.
"Maksud Ibu apa?"
"Ibu dulu sempat menikah tapi sekarang sudah bercerai dan itu sudah sangat lama."
Senyuman Gilsya kembali terbit mendengarnya. "Kalau begitu, maukah Ibu menikah dengan Papi Gilsya?"
"Apa?"
Livia sangat terkejut dengan permintaan muridnya itu.
"Tidak bisa, Ibu Livia hanya akan menikah dengan Papanya Demir, iya kan Bu?"
"Demir nakal, Ibu Livia itu akan menjadi Maminya Gilsya."
Gilsya bangkit dari duduknya dan mendorong Demir hingga terjatuh membuat Demir menangis.
"Astaga, sudah-sudah kok malah bertengkar sih," seru Livia.
"Pokoknya Ibu Livia hanya akan menjadi Mami Gilsya, Demir cari saja guru yang lain untuk menjadi Mama Demir," seru Gilsya dengan kesalnya.
"Tidak mau, Demir ingin Ibu Livia yang menjadi Mama Demir."
Gilsya sudah maju dan ingin mendorong Demir kembali tapi Livia segera menahannya.
"Sudah jangan bertengkar, Ibu Livia akan menjadi Mama Demir dan Mami Gilsya tapi hanya di sekolah saja," sahut Livia.
"Tapi Gilsya maunya Ibu Livia tinggal di rumah Gilsya bersama Papi."
"Iya Demir juga."
Livia menghembuskan napasnya secara kasar, dia bingung dengan tingkah kedua anak itu yang memperebutkan dirinya.
***
Dilain tempat, saat ini Gibran sedang berada disebuah restoran menunggu kedatangan Pak Anjas yang merupakan rekan bisnisnya dan sekaligus orang yang sudah bekerjasama dengan perusahaannya.
"Selamat siang Tuan Gibran, maaf saya terlambat."
"Ah, tidak apa-apa Pak Anjas silakan duduk."
"Terima kasih."
Berbeda dengan Monica yang masih berdiri mematung melihat Gibran, dia tidak menyangka kalau rekan bisnis Papanya itu masih muda dan sangat tampan.
"Monica, ayo duduk."
"Ah, iya Pa."
"Tuan Gibran, kenalkan ini puteri saya satu-satunya."
Monica pun dengan semangat mengulurkan tangannya dan Gibran pun membalas uluran tangan Monica.
"Monica."
"Gibran."
"Tuan Gibran, untuk kedepannya nanti puteri saya yang akan melanjutkannya jadi kalaunada apa-apa, Tuan bisa menghubungi Monica."
Gibran hanya diam saja sembari menyesap kopinya, berbeda dengan Monica yang dari tadi tidak bisa memalingkan pandangannya terhadap Gibran.
Setelah berbincang-bincang, akhirnya obrolan mereka pun selesai. Gibran pun pamit pergi duluan, tanpa menoleh kearah Monica sedikit pun.
"Pa, kok Papa ga bilang kalau Tuan Gibran itu masih muda? Monic kira, Tuan Gibran itu sudah tua sepantaran dengan Papa."
"Tuan Gibran itu duda anak satu, istrinya meninggal dua tahun yang lalu."
"Wah serius, aku punya kesempatan dong buat deketin dia dan aku yakin, kalau Tuan Gibran akan jatuh kepelukanku," batin Monica dengan senyumannya.
Gibran sampai di kantornya, direbahkannya tubuhnya diatas sofa yang ada diruangan kerjanya itu. Sesaat Gibran memejamkan matanya kemudian memijat sedikit pelepisnya.
"Sayang, apa yang harus aku lakukan sekarang? Gilsya pasti akan terus merengek kepadaku? aku tidak mau menikah lagi, karena yang ada dihatiku hanya dirimu dan tidak ada tempat lagi untuk wanita lain," gumam Gibran.
💔
💔
💔
💔
💔
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
Monica emang ga waras mau membunuh bapak angkat nya.
ga waras, Gila