NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:228
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Jawaban Dan Kehilangan.

Sesampainya di panti asuhan yang kutuju, aku langsung mencari pengurus senior yang bekerja di sana. Ia menyambutku dengan ramah dan menyajikan segelas teh hangat. Wajahnya tampak teduh dengan senyum yang menenangkan, membuatku yakin bahwa ia adalah orang yang baik.

Aku membuka tasku dan menyerahkan dokumen perjanjian pengasuhan yang kutemukan di kamar eomma. Sambil menyerahkannya, aku menceritakan kejadian yang sebenarnya serta alasan kedatanganku ke tempat ini.

Pengurus senior itu mengangguk mengerti. Ia memintaku menunggu sebentar sementara ia mencari dokumen penitipan yang dahulu ditulis oleh orang tua kandungku.

Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan sebuah map di tangannya. Setelah menemukan dokumen yang kucari, ia menyerahkannya kepadaku.

Tanganku sedikit gemetar saat membuka lembaran itu. Di sana tertulis alamat asli orang tua kandungku, nama lengkapku, tanggal lahirku, dan alasan mengapa mereka menitipkanku di panti asuhan ini.

Namun, tidak ada satu pun nomor telepon yang bisa kuhubungi.

Tapi tidak apa-apa.

Karena dibandingkan nomor telepon, alamat ini jauh lebih penting, bukan?

Aku bergegas menuju alamat itu dengan menaiki taksi.

Sepanjang perjalanan, aku hanya bisa melamun sambil memandangi kendaraan yang lalu-lalang di luar jendela. Berbagai pertanyaan terus berputar di kepalaku. Mengapa takdir hidupku harus serumit ini?

Namun, mungkin Tuhan memiliki alasan di balik semua ujian yang kuterima. Mungkin karena Tuhan tahu bahwa aku adalah wanita yang kuat.

Setidaknya, itulah yang terus kukatakan pada diriku sendiri untuk tetap bertahan. Aku tidak ingin menjadi hamba yang berburuk sangka kepada Tuhan.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, aku akhirnya tiba di alamat orang tua kandungku.

Begitu turun dari taksi, aku sedikit terkejut. Rumah itu sangat kecil, tampak usang, dan terlihat seperti sudah lama tidak dihuni. Saat melihatnya, aku mulai memahami alasan mengapa mereka menitipkanku ke panti asuhan.

Kehidupan mereka memang tidak mudah.

Aku melangkah mendekati rumah itu dan mengetuk pintu kayunya yang sudah tampak rapuh. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Namun, tidak ada jawaban.

Saat aku mulai kehilangan harapan, seorang nenek yang tinggal di sekitar sana menghampiriku. Usianya tidak terlalu tua, tetapi cukup untuk mengetahui banyak hal tentang lingkungan itu.

"Penghuni rumah ini sudah pindah sekitar sembilan tahun yang lalu," ujarnya.

Mendengar perkataannya, hatiku seketika terasa sesak.

Jadi, bahkan setelah sejauh ini aku mencari, jawabannya masih berada di luar jangkauanku?

Beginikah rasanya mencari kebenaran tentang hidupku sendiri?

Setelah itu, aku memutuskan untuk kembali ke bakery-ku. Entah bagaimana lagi caranya agar aku bisa mengetahui keberadaan orang tua kandungku. Karena hanya cara inilah yang aku tahu.

*Keesokan harinya*

Aku menepati janjiku untuk menemani Eun Dam menjalani terapi di rumah sakit.

Setelah sesi terapi selesai, Eun Dam mengajakku makan malam bersama di salah satu restoran Jepang kesukaannya.

Aku tahu harga makanan di restoran Jepang ini cukup mahal. Mengetahui keadaan Eun Dam yang masih belum bisa bertanding lagi, aku cukup prihatin. Jadi, aku memintanya agar aku saja yang membayar makan malam ini. Namun, Eun Dam menolaknya.

"Seolhwa, aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu. Tapi, perlu kamu tahu juga bahwa selain menjadi atlet, aku juga memiliki beberapa usaha penyewaan tempat sparring. Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan kondisi keuanganku lagi, ya?" ujarnya.

"I-iya, hehe. Maaf ya, aku bukan bermaksud merendahkanmu," jawabku.

"Iya, aku mengerti. Ayo makan." sahutnya sambil memberikanku sepasang sumpit untukku pegang.

Aku baru ingat ketika sedang makan bersama Eun Dam.

Kami berdua tahu bahwa kami sama-sama saling menyukai. Namun, sampai detik ini Eun Dam belum juga menyatakan perasaannya padaku. Aku segan jika harus menanyakan perihal itu padanya.

Jadi, aku hanya bisa diam dan memilih berpikir yang baik tentangnya.

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat aku pulang ke rumah. Seperti beberapa hari terakhir, Hwi Sol oppa pulang lebih larut dariku.

Rasanya ada sesuatu yang hilang dalam hidupku. Entah mengapa, aku juga sedikit merasa kesepian tanpa Hwi Sol oppa. Akhir-akhir ini ia sangat sibuk dengan pekerjaannya di kantor, sehingga kami hanya bisa bertemu dan berbincang singkat pada pagi hari saja.

Setelah selesai mandi,aku rebahkan tubuhku di kasur sambil saling membalas pesan dengan Eun Dam.

Beberapa menit setelah itu aku pun tertidur dengan ponsel yang masih ada di genggamanku.

Namun, tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang duduk di sebelahku dan memindahkan ponselku ke meja samping kasur.

Samar-samar, aku dapat merasakan kecupan hangat di dahiku. Aku tahu ini bukanlah mimpi. Pasti ini Hwi Sol oppa.

Namun, aku memilih untuk tidak membuka mata sampai akhirnya oppa pergi. Saat itulah aku memberanikan diri membuka mata, dan yang masih bisa kulihat hanyalah punggung Hwi Sol oppa yang semakin menjauh.

Namun, anehnya, mengapa jantungku berdegup cukup kencang saat ini?

Apa yang sedang kurasakan?

Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini saat bersama oppa sebelumnya. Tapi apa ini? Mengapa degup jantungku terasa sama seperti saat aku pertama kali menyadari bahwa aku jatuh cinta pada Eun Dam?

"Seolhwa! Apa yang sedang kamu pikirkan?!"

gumamku pada diri sendiri.

***

Keesokan harinya, ketika aku sedang mengecek bahan-bahan makanan, oppa meneleponku.

"Seolhwa, bisakah hari ini kamu pulang lebih cepat?" tanyanya.

"Bisa. Ada apa, oppa?" jawabku.

"Hari ini oppa ingin mengajakmu ke makam appa dan eomma, sayang."

Mendengar permintaan Hwi Sol oppa, aku pun langsung mengiyakannya. Kalau dipikir-pikir, sudah beberapa bulan kami tidak mengunjungi eomma dan appa.

Jam menunjukkan pukul tiga sore saat Hwi Sol oppa menjemputku. Namun, ada yang aneh dengan diriku. Sejak tadi pagi, aku merasa oppa jauh lebih tampan dari biasanya.

Rasanya seperti aku merindukannya setelah waktu yang sangat lama, padahal kami tinggal serumah dan bertemu setiap hari.

Aku segera menepis pikiran tidak masuk akal yang terus mengganggu pikiranku sejak tadi malam.

Sesampainya di makam eomma dan appa, kami saling bercerita tentang kehidupan kami di depan pusara mereka.

Aku sangat merindukan kebersamaan kami berempat. Aku masih ingat betul, meskipun mereka bukan orang tua kandungku, mereka selalu memperlakukanku dengan sangat baik semasa hidupnya.

Mereka benar-benar menyayangiku seperti anak kandung mereka sendiri.

Mengingat semua kebaikan mereka kembali membuatku menangis. Menangis karena merindukan kenangan indah di masa lalu, dan menangis karena memikirkan di mana keberadaan orang tua kandungku saat ini.

Bagaimanapun juga, aku tidak ingin menyalahkan mereka karena menitipkanku. Aku mengerti mengapa mereka melakukan hal itu.

***

Disisi lain sepasang suami istri paruh baya duduk di halaman depan rumah mereka yang tenang.

Sang istri terus menatap langit malam yang gelap, lalu akhirnya bertanya pada suaminya,

“Apakah anak perempuan kita baik-baik saja?”

Suaminya menghela napas pelan sebelum menjawab,

“Aku harap begitu. Kita sudah berusaha mencarinya, sayang… kita sudah berusaha semaksimal mungkin.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!