Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pil Kualitas Sempurna
Di balik meja nomor lima, ia merapikan jubah biru bergaris emasnya. Matanya menatap langsung ke arah panggung kayu di depan. Dua pria tua berjubah abu-abu berdiri tegak dengan tangan bersilang di dada.
"Semua peserta, harap tenang dan segera menempati tempat masing-masing," kata pria tua di sebelah kanan. Lencana perak berbentuk tungku dengan dua garis tersemat di dada kirinya. Pria itu adalah Tetua Gu.
Pria di sebelahnya, Tetua Mu Shan, mengetukkan tongkat kayu ke lantai dua kali. "Ujian kualifikasi alkemis tingkat satu dimulai. Aturan di tempat ini sederhana. Siapa pun yang curang akan langsung diusir."
Beberapa peserta di barisan depan mengangguk cepat. Tangan mereka memegang kuas di atas meja.
"Sebelum ujian dimulai, kita kedatangan tamu kehormatan," ujar Tetua Gu sambil membalikkan badan ke kanan panggung.
Seorang pria tua berambut putih berjalan masuk. Jubahnya berwarna biru tua dengan lencana emas berbentuk tungku tiga garis di dadanya.
"Tetua Ran!" ucap Tetua Mu Shan dan Tetua Gu serentak. Keduanya membungkuk sembilan puluh derajat.
Pria tua berambut putih itu hanya mengibaskan tangan kanan. "Lanjutkan saja ujiannya. Aku hanya sedang ingin melihat apakah ada bibit baru yang berpotensi di kota kecil ini."
Sebuah kursi kayu ditarik oleh pelayan. Tetua Ran duduk lalu memejamkan mata.
"Baik," kata Tetua Gu kembali menghadap peserta. "Ujian terbagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama adalah ujian tertulis. Tahap kedua adalah identifikasi herba secara langsung. Tahap ketiga adalah meracik pil tingkat satu. Kalian lulus jika mampu menghasilkan pil kualitas minimal sedang."
Dua orang pelayan membagikan gulungan kertas cokelat ke setiap meja. Satu gulungan diletakkan di meja nomor lima.
*"Tiga puluh pertanyaan tentang sifat herba dan interaksi energinya,"* pikir Luo Chen setelah membuka segel lilin merah pada gulungan. Matanya membaca tulisan hitam di kertas kasar itu.
"Waktu kalian satu jam. Mulai sekarang," teriak Tetua Mu Shan sambil membalikkan jam pasir di atas meja.
Suara gesekan kuas langsung memenuhi ruangan. Beberapa peserta mengerutkan dahi, sementara yang lain mengetukkan jari ke meja.
Di meja nomor lima, kuas hitam mulai bergerak konstan. Lembaran Kitab Maha Tahu di dalam lautan kesadarannya terbuka, menampilkan informasi herba.
*"Pertanyaan nomor lima belas: efek samping Rumput Qi Hijau dicampur Bunga Bara Api tanpa menetralkan racun dingin?"* Ia membaca tulisan di kertas. Tangannya menulis cepat: *"Energi api meledak di dalam dantian karena tidak ada zat pengikat. Solusinya, tambahkan setengah bagian Daun Perak di awal pemurnian."*
*"Pertanyaan nomor dua puluh: tiga jenis herba tingkat satu penyeimbang yin-yang?"* Ia kembali menulis tanpa jeda: *"Rumput Embun Pagi, Bunga Seribu Daun, dan Akar Kayu Manis Spiritual."*
Waktu berjalan lima belas menit ketika kuas diletakkan di meja nomor lima. Ia melipat gulungan kertasnya lalu mengangkat tangan kanan.
"Ada apa, peserta nomor lima?" tanya Tetua Gu.
"Saya sudah selesai," jawab Luo Chen dengan suara tenang.
Sebuah dengusan terdengar dari meja nomor tiga. Seorang peserta gemuk menatap Luo Chen dengan sinis. "Baru lima belas menit sudah selesai? Dia pasti mengisi asal-asalan."
"Diam dan fokus pada kertas ujianmu sendiri, Zhao Liang!" bentak Tetua Mu Shan. Ia berjalan mendekat ke meja nomor lima, mengambil gulungan kertas cokelat itu.
Gulungan dibawa ke meja juri. Tetua Gu dan Tetua Mu Shan membukanya di bawah lampu minyak. Tetua Ran membuka mata untuk melihat.
"Ini... tidak mungkin," bisik Tetua Gu setelah membaca tulisan di kertas.
"Semua jawaban tertulis rinci. Bahkan metode nomor tiga puluh menggunakan metode kuno yang efisien," kata Tetua Mu Shan dengan tangan gemetar.
Pria tua berambut putih di sudut panggung langsung berdiri. Langkah kakinya cepat mendekati meja juri. Ia merebut gulungan kertas itu dari genggaman Tetua Gu.
"Luar biasa," ucap Tetua Ran setelah memeriksa jawaban. Matanya beralih ke arah meja nomor lima. "Nilai seratus. Jawaban ini sempurna tanpa kesalahan."
Semua peserta menghentikan aktivitas menulis secara serentak. Tidak ada suara kuas terdengar.
"Tetua, ini tidak adil!" teriak Zhao Liang di meja nomor tiga sambil berdiri. "Dia pasti mencuri lembar jawaban sebelum ujian!"
"Benar, Tetua! Kami menuntut pemeriksaan ulang!" teriak peserta lain di barisan belakang.
"Tenang!" bentak Tetua Ran. Energi Qi keluar dari tubuhnya, membuat kertas-kertas di ruangan bergoyang. "Ujian dijaga formasi tingkat tinggi. Tidak ada kebocoran soal. Kita langsung masuk ke tahap kedua."
Asisten ujian segera mengumpulkan sisa gulungan kertas peserta lain.
"Ujian tahap kedua: identifikasi herba secara langsung," kata Tetua Gu memberi isyarat ke pelayan.
Sebuah meja kayu panjang diletakkan di tengah panggung. Di atasnya terdapat lima kotak kayu hitam tertutup rapat.
"Tebak nama, khasiat, dan tingkatan dari tiga herba di dalam kotak ini dengan benar untuk lolos," jelas Tetua Mu Shan. "Peserta nomor lima, maju ke depan."
Dengan langkah tenang, ia berjalan menaiki tangga panggung mendekati meja panjang. Empat pasang mata peserta menatap punggungnya.
"Buka kotak pertama," perintah Tetua Ran.
Tangan kanan Luo Chen membuka penutup kotak kayu hitam pertama. Di dalamnya terdapat tanaman kecil ungu gelap dengan duri halus di batangnya.
"Ini Rumput Jiwa Ungu. Herba tingkat satu kualitas menengah untuk menenangkan aliran darah fisik," ucapnya tenang.
"Benar," kata Tetua Gu mencatat di buku. "Kotak kedua."
Penutup kotak kedua dibuka olehnya. Di dalamnya ada bunga merah darah dengan kelopak berbentuk seperti cakar binatang.
"Bunga Cakar Iblis, tingkat dua untuk racun pelumpuh saraf," jawab dia cepat.
Peserta gemuk bernama Zhao Liang langsung mendengus dengan wajah memerah. "Herba tingkat dua? Tidak mungkin ada di ujian tingkat satu!"
"Tutup mulutmu!" bentak Tetua Ran. "Jawaban dia benar. Ini Bunga Cakar Iblis tingkat dua untuk menguji batas pengetahuan."
Suara bisik-bisik mulai terdengar di antara tiga peserta lainnya. Mereka menatap Luo Chen dengan cemas.
"Buka kotak ketiga," kata Tetua Ran.
Kotak ketiga dibuka olehnya. Di dalamnya terdapat potongan akar tanaman kering abu-abu kusam seperti kayu mati. Tidak ada energi Qi terpancar dari benda tersebut.
*"Kayu mati?"* pikir salah satu peserta di barisan belakang sambil menggelengkan kepala.
Di hadapan akar kering itu, ia terdiam tiga detik. Di dalam kesadarannya, Kitab Maha Tahu memproyeksikan data lengkap herba tersebut.
"Ini Akar Embun Surga yang kering lebih dari sepuluh tahun. Inti dalamnya masih menyimpan sisa sari pati herba tingkat tiga kualitas rendah," jawab Luo Chen sambil menunjuk ujung akar yang retak.
Pria tua berambut putih itu menepuk meja kayu dengan keras. "Luar biasa! Alkemis tingkat dua bahkan sering salah mengira ini kayu bakar biasa. Dia jenius sejati."
Dua pengawas berjubah abu-abu saling berpandangan. Wajah mereka menunjukkan rasa hormat kepada Luo Chen.
"Peserta nomor lima lolos ke tahap ketiga dengan hasil sempurna," umum Tetua Gu. "Untuk peserta lainnya, selesaikan ujian kalian."
Waktu berlalu cepat di bawah pengawasan ketiga juri. Hanya tiga orang berhasil lolos ke tahap ketiga, termasuk Zhao Liang yang menebak dengan susah payah.
"Ujian tahap ketiga: meracik pil," kata Tetua Mu Shan menunjuk tiga meja pemurnian di tengah ruangan. Di atas setiap meja terdapat tungku besi standar tingkat satu dan bahan Pil Kondensasi Qi.
"Kalian diberikan tiga set bahan. Jika gagal meracik pil kualitas minimal sedang dalam tiga kali percobaan, kalian gugur," jelas Tetua Gu.
Ketiga peserta segera menempati meja masing-masing. Zhao Liang berjalan ke meja nomor tiga, lalu melirik Luo Chen di meja nomor lima.
"Hei, anak miskin," bisik Zhao Liang mengejek. "Ujian teori bisa dihafal. Tapi meracik pil butuh energi Qi dan tungku yang bagus. Kau hanya akan membuat herba ini jadi abu."
Ia tidak membalas ucapan itu. Tangannya memeriksa bahan herba di atas meja: seikat Rumput Qi Hijau, dua kuntum Bunga Bara Api, dan akar penyeimbang lainnya.
*"Bahan-bahan ini standar. Jika diracik dengan tungku besi biasa ini, kualitasnya paling tinggi hanya menengah,"* pikir Luo Chen sambil menatap tungku hitam di hadapannya.
Tangan kanannya mendorong tungku besi standar itu hingga bergeser jauh ke sudut meja. Tindakan itu menarik perhatian seluruh orang di ruangan.
"Apa yang sedang dia lakukan?" tanya Tetua Gu heran. "Kenapa tungku disingkirkan?"
"Apakah dia menyerah sebelum mulai?" gumam Tetua Mu Shan.
Pria tua berjubah biru tua di sudut panggung diam. Matanya fokus mengamati gerakan tangan dia.
"Saya mulai sekarang," ucap Chen'er dengan suara lirih.
Tangan kanannya terangkat di atas meja kosong. Pusaran angin kecil keemasan terbentuk di tengah telapak tangannya. Suara desisan angin tajam terdengar di ruangan.
Di tengah pusaran angin keemasan, cahaya merah menyala terang. Semburan api merah kekuningan keluar dari telapak tangannya, membentuk bola api besar yang berputar cepat. Itu adalah Inti Api Serigala Taring Angin yang diserapnya tempo hari.
"Inti Api Binatang Buas!" teriak Tetua Ran berdiri dari kursi. Wajahnya dipenuhi rasa terkejut. "Bagaimana mungkin praktisi Pemurnian Tubuh memiliki Inti Api di dalam nadinya?"
Ia tidak memedulikan teriakan juri. Pikirannya terfokus pada metode pemurnian kuno di dalam Kitab Maha Tahu.
*"Seni Pemurnian Sembilan Tungku Kuno: Tahap Pertama, Tungku Pusaran Angin dan Api,"* rapal Chen'er di dalam hatinya.
Tangan kirinya bergerak membentuk segel tangan rumit. Aliran energi Qi emas mengalir keluar dari kulit tangannya, menyatu dengan bola api di tangan kanan.
Seketika itu juga, bola api membesar cepat, membentuk replika tungku transparan dari pusaran angin dan lidah api. Gelombang panas menyebar ke segala arah. Kertas-kertas di meja juri terbang ke lantai. Cangkir teh di panggung retak dan pecah.
"Panas sekali!" teriak Zhao Liang di meja sebelah. Kontrol api tungku besinya langsung kacau. Tungku besi meledak kecil dan mengeluarkan asap hitam pekat. "Sial! Apa yang dia lakukan?"
Dua pengawas berjubah abu-abu mundur ke belakang panggung. Mereka menahan tekanan gelombang panas yang mendadak menekan dada.
"Ini... pemurnian tanpa tungku fisik!" bisik Tetua Ran dengan tubuh gemetar. "Teknik kuno legendaris! Bagaimana bisa ada di tempat ini?"
Ia mengabaikan kekacauan dan asap hitam di sekelilingnya. Tangan kirinya mengambil Rumput Qi Hijau, melemparkannya langsung ke dalam pusaran tungku api transparan itu.
Dalam hitungan detik, herba mencair menjadi tetesan hijau murni tanpa ampas. Pusaran angin mengendalikan suhu api secara presisi, mempercepat pemurnian sepuluh kali lipat dibanding tungku biasa.
Satu per satu herba dimasukkan ke dalam pusaran tungku api transparan. Suara desisan keras terdengar, diiringi energi Qi emas yang membungkus cairan obat.
*"Sekarang, tahap penyatuan,"* pikir dia.
Kedua tangan ia merapat cepat di depan dada. Replika tungku api transparan menyusut drastis, menekan cairan herba ke satu titik pusat. Energi Qi emas berputar seperti naga kecil mengitari pusaran api merah.
Sebuah dentuman energi keras terdengar dari arah meja nomor lima. Gelombang energi Qi murni menyebar cepat, meniup abu pemurnian di meja peserta lain hingga berantakan. Tetua Gu dan Tetua Mu Shan mengalirkan Qi pelindung tubuh untuk menahan hempasan angin kencang.
Saat pusaran api padam dan menghilang kembali ke dalam telapak tangannya, sebuah benda bulat melayang di atas meja nomor lima.
Sebuah pil bulat berwarna hijau zamrud dengan pola garis awan emas tiga lapis di permukaannya mendarat di telapak tangan ia. Pil tersebut memancarkan cahaya hijau terang yang memantul di dinding ruangan.
Langkah kaki pria tua berambut putih terdengar cepat saat ia berlari menuruni panggung. Ia menyambar pil itu dengan tangan gemetar.
"Pola garis awan emas tiga lapis... tidak ada ampas... energi obat terkunci sepenuhnya..." gumam Tetua Ran menatap lekat-lekat pil itu.
"Bagaimana hasilnya, Tetua Ran?" tanya Tetua Gu mendekat bersama Tetua Mu Shan.
Pria tua itu mengangkat pil hijau zamrud tinggi-tinggi. "Pil Kondensasi Qi Tingkat Satu... Kualitas Sempurna! Aku sendiri bahkan tidak yakin bisa meracik kualitas sempurna ini dalam sekali percobaan!"
Peserta gemuk bernama Zhao Liang terduduk lemas di lantai semen dingin. Wajahnya pucat pasi menatap kosong ke arah pil itu.
"Ini tidak mungkin..." gumam Zhao Liang dengan suara bergetar ketakutan.
Pria tua berambut putih itu mengabaikan Zhao Liang. Ia berbalik badan dan membungkuk memberi hormat langsung ke arah Luo Chen. "Teman muda, siapa nama gurumu?"
Ia merapikan kembali lipatan jubahnya dengan gerakan tenang. "Saya belajar sendiri dari buku kuno."
Mendengar jawaban itu, Tetua Ran menarik napas dalam-dalam. Ia menggelengkan kepala lalu menatap Tetua Gu dan Tetua Mu Shan.
"Lencana Alkemis Perunggu Tingkat Satu?" kata Tetua Ran dengan nada suara tegas. "Itu penghinaan bagi kemampuannya. Dia meracik pil kualitas sempurna tanpa tungku fisik menggunakan teknik kuno. Kemampuan ini melampaui alkemis tingkat satu biasa."
Pengawas bernama Gu tertegun. "Tapi ujian kualifikasi hari ini hanya untuk tingkat satu, Tetua..."
"Aturan bisa disesuaikan untuk keajaiban seperti ini," potong Tetua Ran. Ia merogoh jubahnya sendiri lalu mengeluarkan sebuah lencana perak mengkilap berbentuk tungku dengan dua garis emas di permukaannya. "Berikan ini kepadanya."
Lencana perak itu diterima oleh Tetua Gu dengan tangan yang gemetar. Langkah kakinya bergerak maju mendekati meja nomor lima.
"Ini adalah Lencana Alkemis Perak Tingkat Dua untukmu, Luo Chen," kata Tetua Gu menyerahkan lencana tersebut.
Ia menerima lencana perak tersebut dengan tenang. dan berjalan kesamping dan duduk di kursi tersebut