NovelToon NovelToon
Pembalasan Senyap Sang Istri Sah

Pembalasan Senyap Sang Istri Sah

Status: tamat
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:58k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Selama ini Tania hidup dalam peran yang ia ciptakan sendiri: istri yang sempurna, pendamping yang setia, dan wanita yang selalu ada di belakang suaminya. Ia rela menepi dari sorot lampu demi kesuksesan Dika, mengubur mimpinya menjadi seorang desainer perhiasan terkenal, memilih hidup sederhana menemaninya dari nol hingga mencapai puncak kesuksesan.
Namun, kesuksesan Dika merenggut kesetiaannya. Dika memilih wanita lain dan menganggap Tania sebagai "relik" masa lalu. Dunia yang dibangun bersama selama lima tahun hancur dalam sekejap.
Dika meremehkan Tania, ia pikir Tania hanya tahu cara mencintai. Ia lupa bahwa wanita yang mampu membangun seorang pria dari nol, juga mampu membangun kembali dirinya sendiri menjadi lebih tangguh—dan lebih berbahaya.
Tania tidak menangis. Ia tidak marah. Sebaliknya, ia merencanakan pembalasan.

Ikuti kisah Tania yang kembali ke dunia lamanya, menggunakan kecerdasan dan bakat yang selama ini tersembunyi, untuk melancarkan "Balas Dendam yang Dingin."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Tiga hari telah berlalu sejak presentasi besar itu. Selama itu pula, Tania terus memberikan tekanan psikologis pada Farah di rumah, membuatnya hidup dalam ketakutan. Pagi ini, Tania tiba di lobi PT Hartadinata. Namun, ada yang berbeda di area parkir khusus direksi.

Sebuah mobil Mercedes-Benz Maybach berwarna hitam mengkilap terparkir di sana, memantulkan cahaya matahari dengan sangat elegan. Kehadiran mobil itu menarik perhatian hampir seluruh karyawan yang lewat.

Tania yang baru saja turun dari taksi online—karena ia sengaja ingin menunjukkan kemandiriannya—berhenti sejenak melihat kemewahan di depannya. Di samping mobil itu, Rendi sudah berdiri dengan setelan rapi dan senyum tipis.

"Selamat pagi, Bu Tania," sapa Rendi ramah. Ia melangkah mendekat dan menyodorkan sebuah kotak kecil berlapis beludru hitam.

Tania mengernyitkan dahi. "Pagi, Rendi. Apa ini?"

"Manajemen sangat puas dengan kesuksesan peluncuran desain perhiasan Anda tiga hari lalu. Dampaknya terhadap saham perusahaan luar biasa," ujar Rendi dengan suara yang cukup keras agar terdengar profesional bagi orang di sekitar.

"Ini adalah bonus fasilitas dari perusahaan untuk menunjang mobilitas Anda sebagai Chief Designer."

Tania membuka kotak itu dan menemukan sebuah kunci mobil dengan logo mewah. Ia menatap mobil di depannya, lalu menatap Rendi. Mobil ini jauh lebih mewah, jauh lebih mahal, dan jauh lebih berkelas daripada mobil yang dibanggakan Dika di rumah.

"Manajemen... atau Pak Rei?" tanya Tania dengan nada rendah, menyelidiki.

Rendi hanya tersenyum simpul, sebuah jawaban tanpa kata yang sudah Tania pahami. "Pak Rei ingin Anda merasa aman dan nyaman saat berangkat kerja, Bu. Tanpa perlu bergantung pada siapa pun."

Tania menyentuh kap mobil yang dingin dan mulus itu. Ada rasa hangat yang aneh menyelinap di hatinya. Di saat suaminya mencoba mengontrolnya dengan harta yang sebenarnya masih cicilan, Rei justru memberinya kebebasan dengan kemewahan yang nyata.

Tania membayangkan wajah Dika jika melihat mobil ini terparkir di depan rumah mereka nanti. Dika yang selalu merasa paling hebat dengan kesuksesan menengahnya, akan terlihat seperti butiran debu di hadapan fasilitas yang diberikan Rei ini.

"Sampaikan terima kasih saya pada 'manajemen', Rendi," ucap Tania dengan penekanan pada kata manajemen.

Tania masuk ke dalam mobil tersebut. Aroma kulit mewah dan teknologi canggih menyambutnya. Ia merasa kekuatannya kini lengkap. Ia memiliki kecerdasan, ia memiliki bukti kejahatan lawan, dan sekarang... ia memiliki kekuatan finansial yang bisa melumat Dika kapan saja.

...----------------...

Sore itu, Dika dan Farah sedang bersantai di teras depan. Dika baru saja selesai mencuci mobilnya—mobil yang selama ini ia bangga-banggakan dan ia anggap sebagai simbol kesuksesannya. Farah duduk di sampingnya sambil memberikan segelas jus, mencoba bermanja-manja untuk menghilangkan ketegangannya akibat ancaman Tania beberapa hari terakhir.

"Mas, mobil kamu ini keren banget ya. Aku nggak sabar nunggu saat kita bisa pakai mobil ini berdua tanpa perlu sembunyi-sembunyi lagi," ucap Farah, mencoba memancing pembicaraan soal masa depan mereka.

Dika tersenyum bangga, menepuk kap mobilnya. "Sabar, Sayang. Sebentar lagi semua ini akan jadi milik kita sepenuhnya."

Tiba-tiba, suara deru mesin yang sangat halus namun bertenaga terdengar mendekat ke gerbang rumah. Sebuah Mercedes-Benz Maybach hitam yang sangat mengkilap perlahan memasuki halaman. Ukurannya yang besar dan desainnya yang sangat mewah seketika membuat mobil Dika di sampingnya terlihat seperti mainan usang.

Dika berdiri dengan dahi berkerut. "Siapa itu? Salah alamat mungkin?"

Farah ikut berdiri, matanya membelalak melihat kemewahan kendaraan itu. Jantungnya berdegup kencang, firasatnya mulai tidak enak.

Pintu mobil terbuka secara otomatis. Tania keluar dari sana dengan sangat anggun. Ia mengenakan kacamata hitam dan tas kerja baru yang serasi dengan aura kemewahannya. Tania menutup pintu mobil dengan dentuman yang mantap dan berkelas.

Dika terpaku, mulutnya sedikit terbuka. "Tania? Ini... mobil siapa?"

Tania melepas kacamata hitamnya, menatap Dika dan Farah bergantian dengan tatapan datar.

"Mobilku, Mas. Bonus dari perusahaan karena peluncuran desainku sukses besar kemarin," jawab Tania santai, seolah sedang membicarakan cuaca.

Dika mendekat, menyentuh bodi mobil itu dengan ragu. "Bonus? Perusahaan macam apa yang kasih bonus semahal ini, Tania? Kamu jangan bercanda. Harganya miliaran!"

"Mungkin perusahaanmu tidak sanggup memberikan ini pada karyawannya, Mas. Tapi manajemen tempatku bekerja sangat menghargai otak dan kerja keras," sindir Tania halus, namun rasanya seperti tamparan keras di wajah Dika.

Farah hanya bisa terdiam, wajahnya pucat. Dia yang tadinya merasa menang karena memiliki Dika, kini merasa seperti debu. Kekayaan Dika yang selama ini ia puja ternyata tidak ada apa-apanya dibanding apa yang bisa didapatkan Tania dengan tangannya sendiri.

Tania melangkah masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan Dika yang masih berdiri mematung di samping mobil mewahnya, meninggalkan Dika dengan harga diri yang hancur berkeping-keping di depan selingkuhannya sendiri.

...----------------...

Malam itu, atmosfer di kamar utama terasa sangat mencekam. Tania duduk dengan tenang di depan meja rias, membersihkan wajahnya dengan gerakan yang anggun dan ritmis. Sementara itu, Dika terus mondar-mandir di belakangnya seperti singa yang terluka. Bayangan mobil Maybach di halaman terus menghantui kepalanya, membuat mobil yang ia miliki terasa seperti rongsokan tak berharga.

"Tan, jujur sama aku," Dika akhirnya berhenti melangkah, suaranya bergetar antara marah dan minder. "Bonus macam apa yang harganya miliaran? Aku ini sudah bertahun-tahun di dunia bisnis, tapi nggak ada perusahaan yang segila itu memberikan hadiah pada karyawan baru."

Tania hanya melirik Dika melalui pantulan cermin. "Mungkin karena kamu belum pernah mencapai level prestasi yang mereka inginkan, Mas. Di Hartadinata, nilai sebuah ide jauh lebih mahal daripada sekadar mesin."

Dika mengepalkan tangannya. Jawaban Tania barusan adalah tamparan keras bagi harga dirinya.

"Atau mungkin bukan idemu yang mereka beli, tapi dirimu?" tuduh Dika, emosinya mulai lepas kendali. "Siapa bos di kantor itu? Dia laki-laki, kan? Apa hubungan kamu dengan dia sampai dia rela menggelontorkan uang sebanyak itu untuk kamu?"

Tania meletakkan kapas pembersihnya dengan perlahan. Dia berbalik, menatap Dika dengan tatapan yang begitu datar hingga membuat Dika merasa tidak berarti.

"Tuduhan kamu itu menunjukkan seberapa rendah kualitas pikiran kamu, Mas," ucap Tania dingin.

"Kalau kamu merasa tersaingi oleh kesuksesanku, itu urusan kamu. Tapi jangan pernah bawa-bawa moralitas di depan aku... kecuali kalau kamu merasa diri kamu cukup suci untuk melakukannya."

Dika tersentak, teringat akan pengkhianatan nya sendiri. Ia ingin membantah, tapi lidahnya kelu di bawah tatapan tajam Tania.

Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Farah berdiri diam mendengarkan perdebatan itu. Ia memegang map rahasia Tania di tangannya, ingin sekali ia masuk dan melemparkan bukti itu ke wajah Dika untuk membuktikan bahwa Tania memang licik.

Namun, setiap kali ia ingin melangkah, bayangan video asusila dan ancaman Tania tentang hutang-hutangnya kembali muncul di benaknya. Tubuhnya gemetar. Ia terjepit antara ingin menghancurkan Tania dan menyelamatkan dirinya sendiri.

"Aku nggak bisa bilang sekarang..." bisik Farah pada dirinya sendiri dengan napas tersengal. "Kalau aku bicara, Tania akan menghancurkan aku sebelum aku sempat menikmati harta Dika."

Tania kembali berbalik ke cermin, mengabaikan Dika yang masih berdiri mematung. Dia tahu, tanpa hasutan Farah pun, ego Dika yang rapuh sudah mulai membusuk dari dalam.

"Selamat malam, Mas. Jangan lupa matikan lampunya. Aku butuh istirahat untuk mengendarai mobil baruku besok pagi," ucap Tania santai, lalu menarik selimutnya.

Dika hanya bisa menatap punggung istrinya dengan amarah yang tertahan. Di matanya kini bukan lagi cinta, melainkan kecurigaan yang membara—kecurigaan yang sengaja Tania pupuk agar Dika melakukan kesalahan fatal dalam langkah selanjutnya.

Bersambung...

1
Rina Arie
good book
Eve_Lyn: kak...nanti baca juga novel aku yang baru yaa..smntra ak banyakin babnya..seru kak...cameo nya Hartadinata sekeluarga hehehe...
total 1 replies
Irene Rambing
Luar biasa naluri i ai
Eve_Lyn: terimakasih kak...udah baca sampe tamat...nanti baca novelku yang baru ya kak...lagi otw beberapa bab...seru ada cameonya Keluarga Hartadinata alias Tania,dll...hehehehe
total 1 replies
Irene Rambing
Begitulah klu orang tersakiti apalagi dia pinter.
Irene Rambing
maklum kalau pelakor memang seperti itu tingkah nya. urat malu sudah putus.
Irene Rambing
bagus banyak pembelajaran hidup.
Eve_Lyn: terimakasih kak...
total 1 replies
Eve_Lyn
luar biasa!
Arin
/Heart/
Osie
Google.. aku mampir..ku suka wanita tangguh yg gak menye menye..smart apalagi kalau dibarengi jago bela diri..beeuuh paket komplit banget dah
Eve_Lyn: terimakasih...nnti aku bikin novel kek gtu yaa kak hehehe...kalo si Tania mainnya di otak dia kak.hehehe
total 1 replies
cinta semu
jgn gegabah ...main cantik aja ...kuras harta Dika ,,kalo miskin mana ada pelakor nempel 😂😂
Arin
Orang-orang begini mana pernah puas. Sebelum ambisinya tercapai. Biarpun dengan cara licik sekalipun
Eve_Lyn: 2 bab lagi kak...jangan bosen yaa
total 1 replies
Hasanah
🤣🤣 di kra dengan mereka mnyerang Tania dengan foto itu awal dari kbahagian mereka tau2 x itu adlah awal khancuran
Eve_Lyn: terimakasih kakak...stay terus yaa kak hehehe...kita masih punya 40 bab k depan lagi...di pertengahan ada bab refresh di akhir akan ada konflik lagi...stay tune kak hehehehe
total 1 replies
Hasanah
🤣🤣🤣 Farah kmu slah lawan dia lupa bahwa Tania punya semua bukti x
Hasanah
🤣🤣🤣 di kira mereka udah mnang
Hasanah
🤣🤣 trnyta kmu sdar juga Farah klau Tania lbih maju dri kmu yg tidak ad ap2x
Hasanah
kpan si terungkanya
Hasanah
minimal punya malu kmu Farah jngan trllu ngelunjak
Hasanah
🤣🤣🤣 nikmati aj Farah
Arin
Aku kira Rei seperti dulu. Saat masih terus memantau Dika. Ternyata gampang juga terpengaruh hanya dengan kata-kata beracun dari Bianca. Tanpa cek dulu kebenarannya
Eve_Lyn: hihihihi...gak baik kalo trllu sempurna kak..wkwkwk
total 1 replies
Arin
Bawa kabur 800 juta itu banyak lo..... Kemana uangnya? Jadi apa? Gak berwujud. Malah jebak suami orang untuk menutupi utang-utang.....
Arin
Niatnya gertak Tania. Malah terkejut sendiri kan Farah??? 😄 Ternyata Tania punya hal yang kalau diungkap bisa jadi "BOOM" dan bisa merugikan dirimu nantinya. Persiapan saja dirimu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!