NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29- Sebuah Restu

Next...

Waktu bergulir seperti aliran air yang tenang namun pasti. Sejak malam kepastian dengan Max, tidak ada lagi keraguan yang tersisa di antara Alena dan Bara.

Bayang-bayang masa lalu telah diletakkan di tempatnya, dan kini fokus mereka sepenuhnya tertuju pada masa depan. Hubungan mereka akan melangkah ke fase yang paling sakral yaitu merencanakan pernikahan.

Bagi Alena, pernikahan ideal bukanlah tentang seberapa megah gedung yang disewa atau seberapa mahal gaun yang dikenakan.

Setelah bertahun-tahun hidup dalam pelarian dan ketegangan di dunia mafia, kedamaian adalah kemewahan tertinggi baginya.

Ia hanya memimpikan sebuah janji suci yang diucapkan di sebuah kapel kecil atau halaman belakang toko bunga mereka, dihadiri oleh segelintir orang terdekat, hangat, dan sederhana.

Namun, takdir membawa Alena kepada Bara, seorang putra dari konglomerat terpandang, Bramantyo. Dan di dunia bisnis kelas atas, pernikahan seorang putra mahkota tidak pernah menjadi urusan yang sederhana.

###

Sore itu, Alena dan Bara kembali mendatangi kediaman utama keluarga Bramantyo. Mereka langsung diarahkan oleh pelayan menuju ruang kerja pribadi Bramantyo di lantai dua, ruangan luas yang didominasi kayu jati mahal, aroma cerutu premium, dan deretan buku-buku tebal.

Bramantyo sedang duduk di balik meja kerja besarnya. Begitu melihat kedatangan putra dan calon menantunya, ia meletakkan penanya dan menyandarkan tubuh sembari menatap keduanya dengan binar mata yang jarang terlihat hangat.

"Duduklah," ujar Bramantyo dengan suara beratnya yang berwibawa.

Bara menarikkan kursi untuk Alena sebelum ia sendiri duduk di sampingnya. Pria tegap itu berdehem sejenak, menegakkan punggungnya, lalu memulai pembicaraan dengan sangat serius.

"Ayah, kedatangan kami hari ini adalah untuk menyampaikan keputusan kami. Saya dan Alena sudah menentukan tanggal. Kami ingin meresmikan hubungan kami ke jenjang pernikahan satu bulan dari sekarang," ucap Bara.

Bramantyo terdiam sejenak. Matanya menatap Bara, lalu beralih pada Alena yang duduk dengan tenang dan anggun di samping putranya.

Perlahan, seulas senyum puas terukir di wajah tegas pria paruh baya itu.

"Satu bulan? Bagus. Lebih cepat lebih baik," sahut Bramantyo, yang terdengar puas.

Namun, sebelum Bara sempat menjabarkan draf konsep pernikahan yang sudah ia diskusikan bersama Alena, Bramantyo sudah lebih dulu memotong dengan melambaikan tangannya di udara.

"Kalian tidak perlu memusingkan apa pun lagi. Urusan konsep, pencarian wedding organizer internasional, gedung hotel bintang lima, hingga daftar undangan kolega bisnis dari dalam dan luar negeri, semuanya akan Ayah ambil alih," cetus Bramantyo, yang seolah sedang memberikan perintah.

"Pernikahan ini harus menjadi perayaan terbesar tahun ini. Ini adalah pernikahan putraku, dan seluruh relasi bisnisku harus melihat bagaimana keluarga kita menyambut menantu baru," lanjutnya.

Mendengar rentetan kalimat sang ayah, raut wajah Bara seketika berubah tegang dan rahangnya pun mengeras.

Ia tau betul betapa Alena tidak terlalu menyukai keramaian yang berlebihan dan sorotan kamera juga hal-hal yang bisa melewati batas privasinya.

Bara langsung membuka mulutnya dan bersiap membantah. "Tapi Ayah, kami sebenarnya—"

Belum sempat kata-kata penolakan lolos dari bibir Bara, telapak tangan Alena yang hangat sudah mendarat di atas lutut Bara di bawah meja.

Alena meremasnya pelan, sebuah kode rahasia yang langsung membuat Bara menahan kalimatnya dan menoleh ke arah kekasihnya dengan tatapan bingung sekaligus khawatir.

Alena lalu melemparkan senyuman manis nan menenangkan kepada Bara, seolah memberi isyarat agar pria itu tetap tenang. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kembali kepada Bramantyo dan memasang wajah seorang calon menantu yang penurut dan penuh hormat.

"Terima kasih banyak atas kebaikan dan perhatian yang luar biasa ini, Om," ucap Alena dengan nada suara yang sangat lembut, mengalir bagai air.

"Kami sangat menghargai keinginan Om untuk memberikan yang terbaik bagi pernikahan kami. Jika Om merasa hal itu yang paling baik untuk nama baik keluarga, kami akan mengikuti keputusan Om dengan senang hati," lanjutnya.

Bramantyo tampak sedikit terkejut, namun sedetik kemudian ia mengangguk-angguk dengan tawa kecil yang jarang terdengar. "ha ha... Bagus. Kamu gadis yang pengertian, Alena. Bara, contohlah calon istrimu ini, jangan selalu keras kepala."

____

______

Setelah pertemuan usai dan mereka berjalan beriringan menyusuri lorong panjang lantai satu menuju pintu keluar, Bara tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.

Ia menghentikan langkahnya di dekat pilar marmer yang sepi, lalu meraih kedua tangan Alena.

"Alena, kenapa kamu melarangku bicara tadi?" tanya Bara dengan gurat cemas di wajahnya. "Kita sudah sepakat untuk mengadakan acara yang sederhana saja di toko bunga. Aku tidak ingin kamu merasa tidak nyaman berada di tengah ratusan pasang mata dan kilatan lampu kamera. Itu bisa... bisa berbahaya untuk privasimu."

Alena menatap wajah cemas Bara, lalu terkekeh pelan. Ia lalu mengulurkan tangannya dan merapikan kerah jaket Bara dengan penuh kasih sayang.

"Bara, dengar aku... Ayahmu baru saja mulai menerima kehadiranku. Beliau ingin membanggakanmu di depan rekan-rekan bisnisnya melalui pernikahan ini. Jika tadi kamu langsung membantah dan meminta pernikahan sederhana di toko bunga, ayahmu akan berpikir bahwa aku yang memengaruhimu untuk menjauh dari standar keluarganya. Itu hanya akan memicu konflik baru."

Alena menjeda kalimatnya, senyum misterius yang sarat akan pengalaman hidup yang matang pun terukir di bibirnya.

"Lagipula, biarkan beliau sibuk dengan pesta megahnya. Bagiku, sebuah pesta besar hanyalah sebuah panggung sandiwara untuk dunia luar. Yang paling penting bagi kita bukan gedungnya, Bara... tapi saat janji suci itu terucap di depan penghulu atau pendeta. Selama aku menggenggam tanganmu di atas panggung itu, kemegahan di sekitar kita tidak akan bisa mengusik kedamaian kita."

Bara terpaku mendengarnya. Kedewasaan berpikir Alena dan cara wanitanya itu membaca situasi politik keluarga selalu berhasil membuatnya takjub.

Rasa kagum dan cintanya kepada Alena pun meroket berkali-kali lipat dalam sekejap.

Tanpa ragu, Bara langsung menarik Alena ke dalam pelukannya dan mendekap tubuh wanita itu dengan erat di bawah temaram lampu lorong.

"Bagaimana bisa aku mendapatkan wanita sepertimu, Alena?" bisik Bara ke telinganya.

Alena membalas pelukan itu dan menyandarkan dagunya di bahu kokoh Bara.

"Ini semua takdir, Bara."

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!