NovelToon NovelToon
Oh No! Calon Ibu Tiri Kami Ternyata Bu Guru

Oh No! Calon Ibu Tiri Kami Ternyata Bu Guru

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / CEO / Duda
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

Pak Bima yang duduk di kursi sofa samping Pak Zaky seketika mengerutkan kening. Ia menatap Zaky, lalu beralih menatap Arumi secara bergantian, menangkap ketegangan tak biasa yang mendadak menyelimuti ruangan.

"Wah, sepertinya Pak Zaky dan Bu Arumi sudah saling mengenal, ya?" ucap Pak Bima mencoba mencairkan suasana yang mendadak sedingin es.

Arumi tidak menjawab. Di balik saku seragam cokelatnya, jemari tangannya mengepal begitu kuat hingga memutih. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena syok yang luar biasa. Ia tak pernah menyangka takdir akan mempertemukannya kembali dengan masa lalu yang begitu pahit, pria yang telah menghancurkan kepercayaannya pada cinta sejati dan menyisakan trauma mendalam hingga saat ini.

Sementara itu, di seberang meja, perubahan drastis terjadi pada diri Zaky. Sorot matanya yang semula dipenuhi kilat amarah akibat aduan bohong dari putranya, tiba-tiba padam. Tatapan itu melunak, berganti menjadi sorot rindu yang teramat dalam dan menyakitkan. Memori kelam belasan tahun lalu mendadak berputar hebat di kepalanya.

“Andaikan malam terkutuk itu tidak terjadi... Andaikan mendiang Citra tidak menjebak ku dan merampas segalanya, mungkin saat ini aku sudah hidup bahagia bersamamu, Arumi,” ratap Zaky dalam hatinya. Penyesalan itu kembali mencuat, mengingatkannya pada hari di mana ia terpaksa melepaskan Arumi, cinta pertama sekaligus calon istrinya, tepat di ambang pernikahan mereka yang kandas di tengah jalan.

"Ayo, Bu Arumi, silakan duduk. Kebetulan sekali, Pak Zaky ini adalah ayah kandung dari Azzam dan Azzura," ujar Pak Bima mempersilakan.

Deg!

Mendengar penuturan Pak Bima, benturan kejut di dada Arumi terasa jauh lebih hebat. Ia terpaku, menatap Zaky dengan tatapan tak percaya. Azzam dan Azzura? Remaja kembar yang urakan dan penuh luka di kelasnya itu... ternyata adalah anak dari pria yang pernah teramat sangat ia cintai, sekaligus pria yang paling ia benci?

Dengan sisa ketegaran yang ia miliki, Arumi melangkah maju dan mendudukkan diri di kursi tunggal, tepat di sebelah sofa Zaky. Ia sengaja melemparkan tatapan dingin penuh rasa benci yang kentara ke arah mantan kekasihnya itu.

Namun, Zaky seolah tidak peduli pada kebencian itu. Sepasang matanya masih menatap Arumi dengan binar yang sama seperti satu dekade lalu, tatapan memuja yang tak pernah berubah. Andaikan tidak ada Pak Bima di antara mereka, Zaky ingin sekali menghambur, memeluk wanita itu erat-erat demi meluapkan seluruh rasa rindu yang telah ia pendam selama belasan tahun hidup dalam kesepian. Bagaimanapun, demi menjaga wibawanya sebagai seorang CEO, Zaky berusaha keras menekan gejolak itu dan kembali ke mode profesional. Namun dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa sangat bahagia. Tuhan ternyata masih berbaik hati memberikan kesempatan kedua untuknya bertemu dengan Arumi.

Bagi Arumi, tatapan rindu Zaky justru terasa seperti sembilu yang kembali merobek luka lama yang selama ini setengah mati ia obati. Namun, profesionalismenya sebagai seorang guru menuntutnya untuk tetap tegap. Ia tidak ingin mencampuradukkan urusan pribadi masa lalu dengan tugasnya di sekolah. Arumi menarik napas panjang, menstabilkan emosinya, dan kembali memasang wajah datar.

"Ya, saya dan Bu Guru Arumi memang saling kenal. Bukankah begitu, Bu Arumi?" tanya Zaky dengan nada suara yang diusahakan setenang mungkin, walau tatapannya seolah memohon agar Arumi tidak mengelak.

Arumi tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang terasa begitu berjarak. "Betul sekali, Pak Zaky. Dan kami hanya kenal sepintas saja di masa lalu, Pak Bima," jawab Arumi tegas, memotong harapan Zaky dalam satu kalimat. Ia kemudian langsung mengalihkan pandangannya penuh pada sang kepala sekolah. "Oh iya, kalau boleh saya tahu, ada hal mendesak apa sehingga saya dipanggil ke ruangan Pak Bima sekarang?"

Mendengar kalimat Arumi yang menyebut hubungan mereka hanya kenal sepintas saja, entah mengapa dada Zaky mendadak terasa dihantam godam besar. Nyeri dan sesak. Kata-kata itu menegaskan betapa dalamnya jurang pemisah yang kini telah Arumi bentangkan di antara mereka.

'Arumi... Apakah kau masih begitu membenciku sampai saat ini? Apakah tidak ada lagi sedikit saja tempat untukku di hatimu?' tanya Zaky pedih, hanya berani menyuarakannya di dalam jeritan hatinya yang sunyi.

Pak Bima berdehem pelan, berusaha mengurai ketegangan yang kian mencekik. Ia memperbaiki posisi duduknya sebelum mulai menjelaskan maksud kedatangan sang CEO.

"Begini, Bu Arumi... Pak Zaky datang ke sini sebenarnya ingin menginformasikan perihal kejadian kemarin. Tampaknya ada sedikit kesalahpahaman yang beredar," ucap Pak Bima tenang.

Ia kemudian menoleh ke arah Zaky. "Perlu Pak Zaky ketahui, kemarin siang sebelum pulang sekolah, Bu Arumi ini sebenarnya sudah menceritakan kronologi kejadian di kelas kepada saya. Saya memang selalu meminta Bu Arumi melapor, hanya untuk memastikan beliau baik-baik saja menghadapi dinamika kelas 7 C. Jujur, saya sempat syok berat saat mendengar kursi guru dilumuri lem perekat yang sangat kuat."

Arumi mengangguk pelan, lalu mengambil alih pembicaraan dengan nada suara yang lugas tanpa emosi. "Apa yang dikatakan Pak Bima benar, Pak Zaky. Kejadian yang menimpa putra Anda kemarin murni adalah buah dari tindakannya sendiri. Azzam dan teman-temannya berniat mengerjai saya dengan lem perekat. Namun, saya berhasil menggagalkan rencana tersebut dan memberikan alternatif hukuman berupa kuis. Pada akhirnya, Azzam sendiri yang dengan sukarela memilih duduk di kursi itu untuk melindungi teman-temannya."

Arumi menatap Zaky lurus-lurus, menyuntikkan ketegasan dalam setiap katanya. "Saya melakukan itu bukan karena dendam, melainkan semata-mata ingin mendidik dan mendisiplinkan anak-anak agar tidak melakukan hal berbahaya yang bisa merugikan diri mereka sendiri maupun orang lain."

Mendengar penjelasan yang sinkron antara kepala sekolah dan sang guru, Zaky menarik napasnya dalam-dalam. Dadanya bergemuruh, bukan lagi oleh amarah, melainkan oleh rasa malu yang teramat sangat. Ia merasa begitu bodoh dan kecolongan karena telah mempercayai mentah-mentah skenario palsu putranya yang sudah berani membohonginya. Di dalam benaknya, Zaky sudah menyusun daftar hukuman berat yang akan ia jatuhkan pada Azzam setibanya di rumah nanti.

Namun, belum sempat Zaky berucap, Arumi kembali bersuara. Kali ini kalimatnya begitu berani hingga membuat Pak Bima di sampingnya spontan membelalakkan mata dan menggelengkan kepala memberi kode isyarat aman.

"Setelah Anda tahu bagaimana kelakuan Azzam di sekolah, saya pikir sebaiknya Anda introspeksi diri, Pak Zaky," ujar Arumi tegas, tak gentar sedikit pun dengan status pria di depannya. "Apa yang menyebabkan Azzam dan Azzura bersikap urakan seperti ini? Mereka hanya anak-anak yang ingin mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya. Saya harap Anda bisa mengambil sikap yang bijak, bukannya sekadar menghukum. Azzam itu sebenarnya anak yang baik, hanya saja ia kekurangan kasih sayang dari orang yang paling ia sayangi di dunia ini!"

Pak Bima berkali-kali menelan ludahnya dengan susah payah. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia ketakutan setengah mati jika perkataan menohok dari Arumi akan membuat sang penguasa yayasan itu murka besar.

Namun di luar dugaan, Zaky justru terdiam. Kalimat Arumi laksana tamparan keras yang menyadarkannya dari keacuhannya selama ini. Ia menyadari betul bahwa dirinya ikut andil besar dalam membentuk karakter nakal putra-putrinya lantaran terlalu sibuk dengan dunia bisnis. Bukannya marah, Zaky justru menyunggingkan senyum tipis, senyuman yang sarat akan rasa kagum pada ketegasan wanita itu.

"Terima kasih atas sarannya, Bu Arumi," ucap Zaky tegas namun terdengar tulus.

Mendengar respons tak terduga dari Pak Zaky, Pak Bima seketika menghembuskan napas lega yang teramat sangat. Pundaknya yang tegang akhirnya bisa mengendur.

Arumi segera beranjak dari duduknya, enggan berlama-lama berada di ruang yang sama dengan masa lalunya. "Jika masalah ini sudah clear, apakah saya sudah bisa kembali ke kelas, Pak Bima? Saya masih harus melanjutkan materi pembelajaran yang tertunda."

"Oh, tentu, tentu silakan Bu Arumi," jawab Pak Bima cepat.

Zaky ikut berdiri, merapikan kancing jasnya. "Saya juga sudah selesai dengan urusan ini, Pak Bima. Saya permisi."

Arumi buru-buru berpamitan pada Pak Bima dan melangkah cepat keluar dari ruangan. Ia setengah berlari, ingin segera menjauh. Namun, Zaky tidak ingin kehilangan momentum berharga ini. Begitu kaki Arumi melewati pintu, Zaky langsung bergegas menyusulnya dari belakang dengan langkah lebar.

Di ruang tunggu, Asisten Arya yang melihat bosnya tiba-tiba setengah berlari mengejar sang guru baru langsung terperanjat dari sofanya.

"Wah... sepertinya dugaanku benar. Wanita itu adalah wanita yang sama dengan yang ada di foto dalam laci meja kerja Pak Zaky. Tak kusangka mereka akan bertemu di tempat seperti ini!" batin Arya takjub, buru-buru mengekor di belakang dengan jarak aman.

"Arumi, tunggu...!" panggil Zaky setengah berseru, mengabaikan tatapan beberapa staf yang mulai penasaran di koridor.

Arumi sama sekali tidak menghiraukan panggilan itu. Ia mempercepat langkah kakinya, berjalan setengah menunduk menuju ke arah kelas 7C dengan jantung yang bertalu-talu.

'Kumohon jangan mengejar ku, Zaky... Biarkan aku hidup dengan tenang dan melupakan semua luka itu!' jerit Arumi dalam hati, menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah di koridor sekolah.

Bersambung...

1
Ayunda
dasar emaknya Zaki tuh nenek lampir
Patrick Khan
zaky br sadar klo ada ayu😁😁😁..nyok tanya jawab ke ayu. siap2 ayu ngajak taworan ngegas jawabnya🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: tau aje 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
aristi
wow Brebes itu kampungku thor😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: wah, apa kabar warga Brebes 🤗
total 1 replies
Nar Sih
pilihan yg tepat zaky,buruan temuin ayu minta tolong pada nya dia pasti tau sebab mslh kamu knpa arumi berubah pada mu
Nar Sih
jgn menyerah zaky,cri tau sebab arumi berubah
mimief
hayooo Zaki
sekarang si tinggal terserah lu
masih mau ga berjuang
Arumi mah udah pasrah Ama takdir
toh...gw juga bisa kok selama ini tanpa lu
mimief: lanjut Thor 🤭
total 2 replies
Uba Muhammad Al-varo
Zaky........dari dulu sampai sekarang kenapa otakmu lemot dan kau nyonya Maya yang sombong yang membiarkan anaknya Zaky menjadi duda karatan dan tak tersentuh, hadeuh dasar si nyonya ogeb/Hammer//Hammer//Hammer//Hammer//Hammer/
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Oalah duda karatan 🤣🤣🤣
total 1 replies
mamayasna
syuuliitt dahh
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
neny
selidiki ath zaky. atas apa yg terjadi sm arumi,mengapa sikap nya berubah,,tanya sm ayu,,km kan pintar,masa gtu ajh mesti dikasih tau
neny: ya iya lah,,hanya bertanya tanya dlm hati doang mah gk akan ada jawaban nya🤣🤣
total 2 replies
Teh Euis Tea
Zaky, ibumu biang keroknya, ibumu jg yg nyekokin biar km ga nikah lg
dasar nenek lampir
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh, mak lampir 🤣🤣
total 1 replies
Teh Yen
yah Zaky engg tau dong ibunya udh ngelabrak Arumi yah
Teh Yen
duh yg CLBK (cinta lama bersemi kembali) brasa muda kembali sampe.engg sadar senyum" sendiri hihii 🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Nar Sih
zaky ..cri tau sja knpa sikap arumi berubah ,dan itu grgr ibu mu
Nar Sih
jatuh cinta berjuta rasa nya ,kebayang,,bila ngk jumpa 😂😂
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak 🤣🤣
total 1 replies
Teh Euis Tea
ya ampun Bu Maya bkn Arumi loh yg deketin putramu tp si Zaky sendiri yg msh ngejar Arumi
Arumi lawan jgn diam aj, cabein aj mulut kotor Bu Maya klu ga berani suruh othor yg maju duluan ntar aku bantuin doa dari jauh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: weh, aku di tumbalin 🤣🤣🤣/Cleaver//Cleaver//Cleaver/
total 1 replies
mimief
gas yu...yg model beginian mah jangan kasih kendor 🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh siap 🤣🤣
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
ayolah Ayu jaga Arumi dari kekejaman mulutnya nyonya Maya,kalau dia menyakiti Arumi lawan Ayu jangan diam aja udah terlalu banyak penderitaannya Arumi akibat nyonya Maya karena fitnahnya Citra
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😄
total 1 replies
neny
sabar ya rum,,nanti jg kebenaran akan terungkap,,cepat atau lambat,,semangat💪😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: semangat juga kak 😀
total 1 replies
Teh Euis Tea
baru di senyumin Arumi aj udah serasa dunia milik km sendiri Zaky 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nah itu dia, apalagi klo yg lain, bisa pingsan 🤣🤣
total 1 replies
neny
ter arumi arumi...🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh kak🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!