Aurora—seorang montir bar-bar dan hacker genius dunia bawah—tewas mengenaskan lalu bertransmigrasi ke raga Aletheia Elixir. Aletheia adalah istri figuran yang diabaikan dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri, Kaelen Azrael—Raja Mafia bermata merah, penguasa dunia, sekaligus pria tertampan yang dirumorkan impoten.
Enggan mati konyol, Aurora langsung menghapus riasan menor buruk rupanya, mengungkap kecantikan aslinya yang secantik Dewita malam, lalu menyodorkan surat gugatan cerai tepat di depan wajah sang tiran!
Namun, Aurora salah perhitungan. Sifat bar-barnya yang menolak tunduk justru menyulut ego sang tiran. Dan yang paling mengerikan... tepat saat mata merah Kaelen menatap pesona Aurora yang mencoba menolaknya, penyakit impoten sang tiran sembuh.
Gairah Kaelen yang telah mati bertahun-tahun meledak dengan begitu liar dan haus darah.
Bukannya bebas, Aurora justru ditarik paksa ke atas sofa. Surat cerai terhempas berantakan, digantikan kukungan penuh kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPUNGAN SANG RAJA MAFIA
Sorot lampu helikopter hitam Azrael Corps di atas langit malam menjalar bak pilar cahaya kematian, mengunci posisi sedan hitam milik Rae dan Cyra tepat di tengah kepungan hutan pinus. Suara baling-baling yang bergemuruh dahsyat menciptakan angin kencang yang menggoyang pepohonan di sekeliling mereka, menebarkan atmosfer intimidasi yang mencekam.
Di dalam kabin mobil, Cyra mencengkeram erat setir dengan tubuh gemetar hebat. "Rae... kita benar-benar buntu. Akses depan dan belakang dikunci total. Kita tidak akan bisa menerobos barikade kendaraan lapis baja mereka dengan sedan tua ini!"
Rae tidak langsung menjawab. Dia menekan kain putih di tengkuknya yang masih meremboskan darah segar akibat sayatan nekatnya tadi. Wajah cantiknya kian pucat, ditambah efek zat penawar otot militer yang membuat dadanya terasa sesak karena kelelahan fisik yang luar biasa. Namun, sepasang mata cokelat madunya tetap berkilat tajam, memancarkan ketangguhan seorang penguasa siber yang menolak untuk tunduk.
"Buka pintunya, Cyra," perintah Rae dengan nada bariton yang teramat tenang namun dingin.
"Apa?! Kau mau menyerahkan diri?!"
"Kaelen membawa armada militer, Cyra. Jika kita tetap di dalam mobil, mereka akan menghujani kita dengan peluru tanpa ragu. Biar aku yang menghadapi tiran gila itu. Begitu fokus mereka beralih padaku, kau harus mencari celah untuk mundur dan mengamankan server rahasia kita. Mengerti?" Rae menatap Cyra dengan tatapan absolut yang tidak menerima bantahan.
Sebelum Cyra sempat memprotes, raungan mesin SUV hitam yang mengepung mereka mendadak mati serentak. Suasana di sekitar jalanan hutan pinus itu mendadak hening, hanya menyisakan deru helikopter di atas langit.
Brak!
Pintu dari belasan mobil SUV mewah itu terbuka bersamaan. Puluhan pria berjas hitam dengan senjata laras panjang otomatis langsung keluar, membentuk barikade berlapis dan mengarahkan moncong senjata mereka tepat ke arah sedan hitam Rae. Aura membunuh yang menguar dari pasukan elit dunia bawah itu sanggup membuat nyali siapa pun menciut dalam sekejap.
Dari arah barisan paling depan, sebuah mobil limosin mewah berlapis baja hitam bergerak perlahan, membelah barikade pengawal sebelum akhirnya berhenti tepat beberapa meter di hadapan mobil Rae.
Pintu penumpang belakang limosin itu terbuka.
Sepasang sepatu pantofel kulit hitam yang mengkilap menapak di atas tanah berkerikil. Perlahan, sesosok tubuh tegap, tinggi, dan berotot besar keluar dari dalam mobil. Kaelen Azrael berdiri dengan keangkuhan mutlak seorang penguasa tiran. Jubah panjang hitamnya berkibar pelan tertiup angin helikopter. Wajah tampannya terlihat begitu kaku, sedingin es kutub utara, dengan rahang yang mengeras sempurna karena amarah yang membakar dadanya.
Namun, yang paling mengerikan adalah sepasang mata merah mautnya. Mata itu berkilat menyala bagaikan iblis yang siap mencabik-cabik siapa saja yang berani mengusik ketenangannya.
Rae menarik napas dalam-dalam, mengabaikan rasa perih di punggungnya, lalu mendorong pintu mobil dan melangkah keluar. Dia berdiri tegak di bawah siraman lampu sorot helikopter, jubah sutra hitamnya berkibar, memperlihatkan kontras kulit porselennya yang pucat. Tangan kirinya masih memegang kain berlumuran darah di tengkuknya.
Begitu mata merah Kaelen menangkap sosok Rae, tatapannya langsung terkunci mati. Sudut matanya menyipit tajam saat melihat kain putih bernoda darah di tangan istrinya, lalu beralih ke botol air mineral di dalam mobil yang berisi cip pelacak titanium yang sudah berlumuran darah.
"Kau... benar-benar nekat, Istriku," desis Kaelen. Suara bariton rendahnya yang teramat berat bergaung membelah keheningan hutan, sarat akan penekanan absolut yang mematikan hingga membuat para pengawalnya menundukkan kepala dalam-dalam karena ketakutan.
Kaelen melangkah maju dengan gerakan lambat namun pasti, persis seperti predator yang sedang mendekati mangsa yang sudah tidak memiliki jalan keluar. Setiap langkah kakinya terasa seperti detak jam kematian bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Memotong cip pelacak militer dengan pisau lipat taktis di dalam mobil yang melaju... Siapa yang mengajarimu cara bar-bar seperti itu, hm, Aletheia?" Kaelen berhenti tepat dua langkah di depan Rae. Aura tiraninya yang luar biasa pekat seketika mengepung tubuh lemas Rae, membuat pasokan oksigen di sekitar mereka terasa menipis.
Rae mendongak, menatap langsung ke dalam sepasang mata merah maut yang berjarak sangat dekat dengannya. Dia menyunggingkan senyuman miring tiraninya yang menantang, sama sekali tidak gentar dengan kepungan senjata di sekelilingnya.
"Aku sudah katakan semalam, Tuan Azrael. Aku tidak sudi hidup di dalam sangkar emasmu bagai tawanan," sahut Rae dengan suara serak namun terdengar sangat seksi dan tajam. "Kau memberiku izin keluar, jadi aku keluar dengan caraku sendiri."
"Izin keluar bukan berarti kau bisa menghilang dari radarku, Sayang," balas Kaelen, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya.
Tangan besar Kaelen yang dipenuhi urat-urat keras naik, jemari panjangnya yang kasar mencengkeram rahang murni Rae dengan sentuhan yang sangat posesif ekstrem, memaksa wanita itu untuk terus menatap matanya. Kaelen mendekatkan wajah tampannya, menghirup aroma manis leher Rae yang kini bercampur dengan bau amis darah segar dari tengkuknya.
Amarah di dalam dada Kaelen bergolak hebat melihat darah yang mengalir di leher istrinya—darah yang dikeluarkan oleh wanita itu sendiri demi bisa lari darinya. Sebagai pria posesif gila, dia menolak keras fakta bahwa Rae rela menyakiti diri sendiri hanya untuk menjauh dari dekapannya.
"Kau sudah melanggar aturan pertamaku di pagi hari pertama kita, Istriku," bisik Kaelen tepat di depan bibir bengkak Rae yang semalam dia lumati tanpa ampun. Kilat obsesi gila di mata merahnya semakin memikat dan mengerikan. "Hukumannya... aku bersumpah kau tidak akan pernah bisa melangkah keluar dari kamar tidur rahasia itu lagi dalam waktu yang sangat lama."
Sebelum Rae sempat memaki atau mengeluarkan jurus bela diri bar-barnya, Kaelen dengan gerakan kilat predator langsung menyusupkan lengan kekarnya di bawah lutut dan punggung Rae, mengangkat tubuh lemas wanita itu secara bar-bar ke dalam gendongan posesifnya (bridal style).
"Kaelen, lepaskan aku! Keparat, turunkan aku!" bentak Rae, mencoba meronta dengan memukul dada bidang Kaelen yang sekeras batu, namun tenaganya yang terkuras habis membuat pukulannya sama sekali tidak berarti bagi sang tiran.
Kaelen tidak memedulikan makian Rae. Dia mendekap tubuh bidadari istrinya dengan sangat erat, seolah tak akan membiarkan setitik pun ruang kebebasan bagi Rae untuk lepas lagi. Dia berbalik menuju limosin mewahnya dengan langkah lebar yang penuh kemenangan mutlak.
"Bawa mobil pengalih itu ke markas, dan obati wanita di dalam sana. Jangan ada yang berani menyentuhnya tanpa izinku," perintah Kaelen mutlak pada tangan kanannya sebelum menutup pintu limosin berlapis baja tersebut. "Dan untuk keluarga Elixir... percepat penghancuran mereka. Aku ingin melihat mereka merangkak di kakiku sebelum malam berakhir."