Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Sunya dan Karsa
Tiga hari tiga malam yang dinanti akhirnya genap terlewati. Sepanjang waktu itu, kepulan asap tebal dari cerobong bengkel Moses tidak pernah meredup sedetik pun, memuntahkan pendaran abu-abu keunguan yang menakjubkan ke langit Distrik Bawah. Namun pagi ini, cerobong tersebut akhirnya sunyi. Hanya menyisakan hawa hangat yang samar-samar keluar dari celah pintu kayu yang lapuk.
Askara melangkah mantap, mendorong pintu bengkel yang tidak lagi terkunci. Begitu ia masuk, hawa panas ekstrem yang biasanya menyengat kini telah mendingin. Di tengah ruangan, tepat di atas landasan tempa batu yang kokoh, berdiri sang maestro Moses. Tubuh kekar pria tua itu tampak sangat lelah, napasnya berat, dan wajahnya dipenuhi jelaga hitam. Namun, sepasang mata kelabunya memancarkan binar kepuasan paling luar biasa yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Di hadapan Moses, diletakkan sebuah kotak kayu hitam yang terbuka. Di dalamnya, terbaring sebilah pedang baru yang memancarkan aura magis yang sangat tenang namun pekat.
Askara berjalan mendekat, dan matanya seketika terpaku pada keindahan senjata tersebut. Ia begitu kagum dengan desain yang diciptakan oleh Moses. Pedang itu memiliki panjang medium dengan bilah bermata ganda yang lurus dan ramping. Alih-alih berkilau perak seperti besi biasa, bilah pedang tersebut berwarna abu-abu gelap kehitaman yang pekat—hasil peleburan sempurna antara Bijih Besi Meteorit Amfibi yang menyerap cahaya dengan serpihan baja perak ibu kota. Permukaan bilahnya memiliki tekstur halus bergelombang mirip riak air tenang, sementara bagian pelindung tangan (guard) dibuat minimalis dengan lekukan melingkar yang elegan.
Senjata itu tampak sederhana, tidak berlebihan, namun memancarkan wibawa dingin yang mutlak.
Sebelum Askara mengulurkan tangannya untuk menyentuh gagang pedang tersebut, Moses melangkah mundur satu langkah, menyilangkan kedua tangannya yang besar di depan dada.
"Jangan terburu-buru, Askara," ucap Moses dengan suara serak yang berat, menghentikan gerakan sang pemuda.
"Setiap pedang legendaris yang lahir dari tungku apiku bukanlah sepotong besi mati. Senjata ini telah ditempa dari jiwaku dan material yang menolak takdir dunia. Sebelum tanganmu menggenggamnya untuk pertama kali, katakan padaku... apakah kau sudah menyiapkan nama untuk pedang ini?"
Askara menatap bilah abu-abu gelap itu dengan pandangan yang dalam. Seulas senyuman tenang terukir di wajahnya yang kini bebas dari luka parah.
"Aku sudah menyiapkan nama yang sangat cocok untuknya, Tuan Moses," jawab Askara dengan nada suara yang mantap dan jernih. "Namanya adalah SUNYA. Sebuah nama yang berarti kehampaan, kekosongan, atau kesunyian.
Nama ini sangat mewakili identitas diriku yang terlahir sebagai seorang Nirmala yang memiliki wadah kosong di jiwanya.
Pedang ini adalah kehampaan itu sendiri—sebuah wadah dingin yang selalu siap untuk menelan dan mengalirkan energi sihir apa pun di dunia tanpa pernah hancur."
Mendengar penjelasan filosofis yang keluar dari mulut Askara, Moses tertegun sejenak. Ia meresapi kata demi kata tersebut, sebelum akhirnya sebuah senyuman lebar dan hangat terukir di wajah tuanya yang penuh kerutan. Pria tua itu terkekeh pelan sembari menggelengkan kepalanya kagum.
"Hahaha... Sunya, Kehampaan yang Menelan Dunia. Nama yang sangat mengerikan sekaligus indah untuk sebilah pedang," ucap Moses, matanya berkilat penuh rasa bangga.
"Jika kau menamainya dengan aspek kekuatan wadah jiwamu, maka aku juga memiliki sebuah nama panggilan khusus untuk mahakaryaku ini dari sudut pandang pembuatnya. Aku menamainya KARSA."
Moses melangkah mendekat, menunjuk ke arah gagang pedang yang dibalut kulit hitam berkualitas tinggi dengan rajutan benang perak. "Dalam bahasa kuno, Karsa berarti kehendak, niat, dan kekuatan tekad yang tak tergoyahkan. Aku menamainya demikian karena pedang ini tidak diciptakan untuk digerakkan oleh energi mana biasa, melainkan murni oleh kehendak dan kontrol disiplin besimu yang setipis rambut.
Tanpa Karsa atau tekad murnimu yang kau tunjukkan selama ujian kemarin, Sunya hanyalah sepotong besi hampa yang tidak akan pernah terbangun."
Moses perlahan mengambil pedang tersebut dari kotaknya, memegang bilahnya dengan kedua tangan dengan penuh rasa hormat, lalu menyodorkannya ke arah Askara.
"Genggamlah ia dengan seluruh kehendakmu, Askara. Biarkan Sunya dan Karsa menyatu di dalam tanganmu," ucap sang maestro dengan khidmat.
Askara mengulurkan tangan kanannya, melingkarkan jemari kasarnya pada gagang pedang dengan genggaman yang sangat pas dan kokoh.
DEG!
Tepat saat kulit tangan Askara menyentuh gagang tersebut, sebuah sensasi aneh yang luar biasa langsung menjalar cepat ke seluruh sirkulasi fisiknya. Kontak itu tidak terasa dingin menyiksa seperti saat ia menyentuh meteorit mentah, melainkan sebuah koneksi yang teramat hangat dan stabil. Wadah kosong di dalam dadanya mendadak bergetar pelan, seolah-olah sekat yang selama ini memisahkan energi serapannya dengan dunia fisik telah runtuh, digantikan oleh sebuah jembatan penyaluran energi yang sempurna.
Askara mengangkat pedang baru itu ke udara, memutar pergelangan tangannya untuk merasakan keseimbangan senjata yang sangat luar biasa presisi. Rasanya pedang ini bukan lagi sebuah benda asing, melainkan telah menjadi bagian dari otot dan tulang lengannya sendiri.
Dengan wajah yang tersenyum penuh kepuasan dan rasa syukur, Askara menatap Moses. "Pedang ini... benar-benar sempurna. Terima kasih, Tuan Moses. Kau telah memberikan sayap pada kehampaanku."
Moses mengangguk mantap, menepuk pundak tegap Askara dengan keras. "Gunakan pedang itu untuk membuka jalanmu sendiri, Bocah. Sekarang, persiapkan semua kebutuhanmu. Jalur menuju Hutan Sihir Kegelapan sudah menantimu di luar sana!"