NovelToon NovelToon
Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Pagi hari di kota ini terasa sedikit mendung, seolah alam tahu akan ada badai besar yang terjadi di dalam restoran Dapur Arka Absolute.

Arka berdiri di dalam dapur terbukanya sejak pukul tujuh pagi untuk memanaskan air.

Wushhh.

Api biru menyala memanaskan teko leher angsa berbahan tembaga yang terlihat sangat elegan.

Arka mengambil segenggam biji kopi magis yang ia petik semalam dari dimensi sistem.

Krek krek krek.

Suara mesin penggiling kopi manual berputar menghancurkan biji-biji kopi tersebut menjadi bubuk hitam yang sangat halus.

Begitu bubuk kopi itu tersiram oleh air panas, sebuah aroma pekat yang sangat mistis langsung memenuhi seluruh ruangan.

Wanginya bukan seperti kopi biasa, melainkan memiliki aroma yang membuat pikiran menjadi sangat kosong dan rileks.

Arka tersenyum tipis dan meletakkan dua cangkir porselen putih itu di atas nampan kayu.

Ia kemudian berjalan menuju ruang VIP yang kedap suara dan meletakkan ponselnya tepat di sela-sela pot tanaman hias.

Tit.

Arka menekan tombol siaran langsung di akun sosial media Dapur Arka Absolute yang kini sudah memiliki jutaan pengikut berkat Bagas Kusuma.

Lensa kamera ponsel itu tersembunyi dengan sempurna namun memiliki sudut pandang yang sangat jelas ke arah meja utama ruang VIP.

Hanya dalam waktu sepuluh menit, puluhan ribu penonton langsung bergabung ke dalam siaran langsung tersebut karena penasaran.

Mereka semua tahu bahwa restoran Arka sedang disegel hari ini, jadi siaran mendadak ini pasti membawa kabar besar yang ditunggu-tunggu.

Tepat pada pukul delapan pagi, suara deru mesin mobil mewah terdengar berhenti di halaman parkir restoran.

Brak.

Pintu utama restoran dibuka secara paksa dari luar, merobek garis segel polisi kuning hitam yang melintang di depannya.

Hendra Kusuma melangkah masuk dengan setelan jas mahalnya sambil mengisap cerutu Kuba yang asapnya mengepul tebal.

Di sebelahnya, Hakim Ketua berjalan dengan dada membusung seolah ia adalah penguasa mutlak atas hukum di provinsi ini.

Tap tap tap.

Langkah kaki angkuh mereka berdua menggema nyaring di dalam restoran besar yang kosong melompong itu.

"Di mana kau koki jalanan? Cepat keluar dan bawa dokumen resepmu itu!" Teriak Hendra dengan suara baritonnya yang menggema tak sabar.

Arka berjalan keluar dari ruang VIP dengan wajah yang dibuat setenang mungkin, menyembunyikan seringai iblis di dalam hatinya.

"Selamat pagi Tuan Hendra dan Bapak Hakim, silakan masuk ke ruang VIP, semuanya sudah saya siapkan di dalam." Sapa Arka sambil menundukkan kepalanya sedikit.

Hendra tertawa puas melihat sikap Arka yang terlihat sangat penurut dan pasrah menghadapi kekalahannya.

Mereka berdua berjalan masuk ke ruang VIP dan langsung duduk bersandar di sofa kulit yang sangat empuk dan nyaman.

Arka menyusul masuk dan meletakkan sebuah map cokelat palsu di atas meja kaca tepat di hadapan Hendra.

"Bagus sekali anak muda, kau memang sangat pintar membaca situasi kapan harus menyerah kepada yang lebih kuat." Ucap Hendra sambil mengambil map tersebut dengan arogan.

"Sebelum Anda memeriksa dokumen itu, silakan dinikmati dulu kopi hitam perpisahan buatan tangan saya sendiri sebagai tanda hormat." Arka menyodorkan dua cangkir kopi porselen itu ke hadapan tamunya.

Asap dari cangkir kopi itu mengepul membentuk siluet tipis yang menyerupai tengkorak sebelum akhirnya menghilang menyatu dengan udara.

Hakim Ketua menghirup aroma kopi itu dan matanya seketika berbinar terang karena wangi yang sangat menggugah selera.

"Wanginya luar biasa tajam, sepertinya kau memang punya bakat bagus di dapur anak muda." Puji hakim korup itu tanpa rasa curiga sedikit pun.

Tanpa banyak basa-basi lagi, kedua pria paruh baya itu mengangkat cangkir mereka dan meminum kopi tersebut secara bersamaan.

Slurpp.

Hanya butuh satu tegukan kecil untuk membuat keajaiban dari resep dewa sistem bekerja mematikan saraf kebohongan mereka berdua.

Mata Hendra dan Hakim Ketua seketika menjadi sedikit sayu dan pandangan mereka terlihat kosong seperti orang yang sedang dihipnotis.

Tubuh mereka langsung bersandar lemas di sofa dengan otot-otot yang benar-benar rileks tanpa ada pertahanan fisik maupun mental sama sekali.

Melihat reaksi ajaib itu, Arka tahu bahwa ini adalah saat yang paling tepat untuk mengeksekusi rencana penghancurannya.

Arka membusungkan dadanya dan mengaktifkan fitur pasif Aura Dominasi Sang Raja yang baru saja ia dapatkan semalam.

Wush!

Sebuah tekanan energi yang tidak kasat mata meledak dari tubuh Arka, membuat suhu di dalam ruang VIP itu terasa turun drastis menembus tulang.

Hendra dan Hakim Ketua sedikit gemetar, mereka merasa seolah sedang duduk di hadapan seorang kaisar tiran yang bisa mencabut nyawa mereka kapan saja.

"Tuan Hendra, mari kita luruskan beberapa hal hari ini." Suara Arka terdengar sangat berat, dingin, dan menggema langsung memukul gendang telinga mereka.

Hendra menganggukkan kepalanya perlahan, mulutnya terbuka sedikit seolah ia tidak punya kendali atas tubuh dan lidahnya sendiri.

Arka melirik sekilas ke arah pot tanaman hias untuk memastikan siaran langsungnya berjalan lancar tanpa hambatan jaringan.

Jumlah penonton di layar ponselnya kini sudah menembus angka lima ratus ribu orang yang sedang menonton dengan tegang dan penuh tanda tanya.

"Berapa banyak uang yang kau bayarkan pada Hakim Ketua ini untuk merekayasa status cagar budaya restoranku?" Tanya Arka tanpa basa-basi langsung menusuk ke inti.

Urat di dahi Hendra sedikit menonjol, ia berusaha keras untuk menutup mulutnya rapat-rapat demi menjaga rahasianya.

Ia tahu pertanyaan itu adalah jebakan maut, otaknya memerintahkan untuk berbohong, namun saraf lidahnya sudah lumpuh total oleh Kopi Kejujuran Mutlak.

"Dua miliar rupiah." Jawab Hendra dengan suara datar yang meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa bisa ia hentikan.

Hakim Ketua di sebelahnya juga ikut mengangguk pelan dengan wajah pasrah seperti robot yang diprogram paksa.

"Itu benar, Tuan Hendra mentransfer uang itu ke rekening istri siri saya di luar negeri semalam agar tidak terlacak pihak berwenang." Tambah Hakim Ketua itu membongkar rahasianya sendiri dengan sangat lancar.

Komentar di siaran langsung ponsel Arka langsung meledak bagaikan lautan api yang menyala-nyala karena amarah netizen.

Para penonton mengutuk keras kelakuan hakim korup dan pengusaha licik itu yang terekam sangat jelas dengan resolusi tinggi.

"Luar biasa, jadi keadilan di provinsi ini harganya cuma dua miliar rupiah ya." Sindir Arka dengan tawa yang sangat dingin dan meremehkan.

"Tuan Hendra, apakah kau juga yang menyuruh pembunuh bayaran bertopi fedora untuk meracuni meja pelangganku kemarin siang?" Arka kembali melontarkan pertanyaan mautnya yang kedua.

Keringat dingin mulai membasahi kemeja mahal Hendra, ia ingin sekali berdiri dan menampar wajah Arka namun tubuhnya terpaku kuat di sofa.

Aura Dominasi Sang Raja membuat insting bertahan hidup Hendra tidak berani melakukan perlawanan fisik sedikit pun terhadap pemuda di depannya.

"Iya, aku menyewa pembunuh bayaran dari jaringan pasar gelap seharga lima ratus juta rupiah tunai." Jawab Hendra dengan mulut yang bergetar menahan tangis penyesalan.

"Aku menyuruhnya mengoleskan racun saraf kontak agar pelangganmu mati kejang dan restoranmu ditutup selamanya karena kasus pembunuhan massal." Lanjut Hendra menceritakan rencana kejinya secara sangat detail.

1
Ponny Sagita
serius thor? restoran mahal pake kursi plastik?
Ponny Sagita
kok masih pinggir jalan? othor niiih yaaa
Nissa Safira: mungkin iyaa outdoor kak, soalnya si Arka lagi proses membangun restoran mewahnya sendiri kak🤣
total 1 replies
Ponny Sagita
masak nasinya kan baru pagi pagi, kok bisa didinginkan semalaman?
Nissa Safira: hahaha dari semalem nasi nya belum habis kak gara2 malem nya di datengi preman🤣
total 1 replies
Wega Luna
keterlaluan udah hutang bunga tempat dagang dirusak ,itu bisa dilaporkan, loh
Nissa Safira: hahahaa namanya juga utang sama rentenir sadis kak😅
total 1 replies
Mohd Harmizi
berhasil jual 3 ribu kok poin kepuasan hanya 500?
Nissa Safira: iyaa juga iyaa.. kelupaan kak🤣
total 1 replies
m_reynaldi
mantapp.. update bab yg banyak thorr 😍
Fariq Banafsaj
lanjut🤩
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp.. lanjut...💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!