NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29: Oliver Menyadari Ada yang Tidak Beres

Sisa-sisa badai emosional dari panggilan telepon Rani Lin menguap sepenuhnya seiring berlalunya malam.

Di dalam mansion mewah Distrik Utara, keheningan yang damai kembali bertahta.

Namun, bagi seorang pria dengan ketajaman insting seperti Oliver, ketenangan yang terlalu sempurna sering kali justru menjadi pertanda bahwa ada sesuatu yang sedang bergeser di bawah permukaan.

Sebagai pemimpin tertinggi Oliver Group yang terbiasa membaca gerak-gerik lawan bisnis maupun sekutu, Oliver memiliki kepekaan sensorik yang luar biasa.

Dan akhir-akhir ini, fokus radar analitisnya tidak lagi diarahkan pada grafik saham atau laporan akuisisi, melainkan sepenuhnya terpusat pada satu-satunya wanita yang telah menjadi jantung dari rumahnya: Viona.

Hari Jumat pagi dimulai dengan rutinitas yang tampak biasa.

Sinar matahari musim panas menyelinap malu-malu melalui celah tirai sutra di ruang makan keluarga.

 Yoyo duduk di kursi tingginya, dengan riang menyendok sereal madu kesukaannya sambil sesekali mengobrol dengan Goldie yang duduk siaga di bawah meja.

Viona berdiri di dekat konter dapur, menuangkan jus jeruk segar ke dalam gelas kaca.

Ia mengenakan terusan rajut kasual berwarna salem yang lembut, membuat kulitnya yang putih tampak merona hangat di bawah siraman cahaya pagi.

Semuanya tampak sempurna, sampai Oliver melangkah masuk ke ruangan tersebut.

Oliver, yang sudah mengenakan kemeja putih bersih dengan jas hitam yang tersampir di lengan kirinya, menghentikan langkahnya sejenak.

 Sepasang mata elangnya langsung mengunci sosok Viona.

Ada detail kecil yang tertangkap oleh penglihatannya.

Ketika Viona mengangkat teko kaca berisi jus, jemarinya tampak bergetar halus—sangat tipis, hampir tidak terlihat jika bukan Oliver yang memperhatikannya.

Selain itu, ada gurat kelelahan yang samar di sudut matanya yang jernih, seolah wanita itu tidak mendapatkan tidur yang cukup berkualitas semalam, meskipun ia tidur di sampingnya dalam dekapan yang hangat.

"Selamat pagi, Ayah!"

sapa Yoyo riang, membuyarkan analisis instan di kepala Oliver.

Oliver melembutkan ekspresi wajahnya seketika.

 Ia berjalan mendekat, mengecup puncak kepala Yoyo, lalu beralih mendekati Viona.

Pria itu melingkarkan satu lengannya di pinggang ramping Viona, menariknya mendekat untuk memberikan kecupan hangat di keningnya—sebuah kebiasaan baru yang kini menjadi rutinitas wajib pagi mereka.

"Selamat pagi,"

bisik Oliver, suaranya yang berat terdengar sangat intim di dekat telinga Viona.

"Selamat pagi, Oliver,"

 balas Viona dengan senyuman manis yang selalu berhasil menghangatkan dada pria itu.

Namun, saat Viona bersandar sejenak di dada bidangnya, Oliver merasakan tubuh wanita itu sedikit lebih hangat dari biasanya, dan ada helaan napas yang terdengar agak berat.

"Kau kurang tidur semalam?"

tanya Oliver, matanya menyelidik dengan intensitas yang protektif.

Viona sedikit tersentak, namun dengan cepat menguasai dirinya.

Ia memberikan segelas jus jeruk kepada Oliver sambil menggeleng pelan.

"Tidak, aku tidur sangat nyenyak. Mungkin hanya karena cuaca belakangan ini agak tidak menentu, jadi tubuhku sedikit menyesuaikan diri. Kau tidak perlu khawatir."

Meskipun Viona menjawab dengan nada yang sangat meyakinkan, intuisi Oliver menolak untuk mempercayainya begitu saja.

Ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh wanita itu, dan Oliver tidak suka jika wanitanya menanggung sesuatu sendirian—terutama setelah semua badai yang baru saja mereka lalui bersama.

Kecurigaan Oliver semakin menguat sepanjang hari itu berjalan.

Sore harinya, setelah menyelesaikan rapat darurat di kantor pusat, Oliver memutuskan untuk pulang lebih cepat tanpa memberi tahu Viona terlebih dahulu.

Ia ingin memberikan kejutan, sekaligus memastikan sendiri kondisi wanita itu.

Ketika Rolls-Royce hitamnya memasuki gerbang mansion, suasana tampak sepi.

Oliver melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki yang sengaja diredam. Ia tidak menemukan Yoyo maupun Viona di ruang tengah.

Hanya ada Goldie yang menyambutnya dengan kibasan ekor pelan di dekat tangga.

Oliver melangkah naik ke lantai dua.

 Saat melewati koridor menuju kamar tidur utama, ia mendengar suara sayup-sayup dari arah kamar mandi dalam.

Pintu kamar mandi itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah kecil.

Oliver mendekat perlahan, dan apa yang ia dengar berikutnya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

Suara orang yang sedang berusaha menahan mual, diikuti oleh desah napas pendek yang terengah-engah dan gemercik air wastafel yang dinyalakan untuk menyamarkan suara.

Oliver mendorong pintu kamar mandi itu dengan perlahan namun pasti.

Di dalam, Viona sedang bertumpu pada pinggiran wastafel marmer putih.

 Wajahnya yang biasa merona kini tampak sangat pucat, dengan beberapa bulir keringat dingin membasahi pelipisnya.

Ia baru saja selesai membasuh mulutnya dengan air dingin.

Napasnya masih memburu halus, dan tubuh rampingnya tampak sedikit gemetar menahan lemas.

"Viona."

Suara bariton Oliver yang rendah dan sarat akan kecemasan seketika memecah keheningan kamar mandi.

Viona tersentak hebat.

Ia menoleh dengan cepat, matanya membelalak terkejut melihat sosok tegap Oliver yang sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata elang yang dipenuhi kekhawatiran mutlak.

"O-Oliver? Kau... kau sudah pulang?"

 tanya Viona terbata-bata, berusaha menegakkan tubuhnya dan menyembunyikan kondisinya yang rapuh di balik senyuman yang dipaksakan.

"Kenapa cepat sekali? Aku belum sempat menyiapkan makan malam—"

Tanpa membiarkan Viona menyelesaikan kalimat defensifnya, Oliver melangkah lebar memotong jarak di antara mereka.

Ia langsung menangkup kedua bahu Viona, menatap dalam-dalam ke dalam manik mata jernih yang kini tampak sayu dan berkabut itu.

"Sejak kapan kau seperti ini?"

tanya Oliver, suaranya sangat rendah, berat, dan membawa vibrasi otoritas yang tidak menerima bantahan.

"Jemari yang gemetar tadi pagi, tubuhmu yang hangat, dan sekarang kau mual-mual di kamar mandi. Apa yang sedang kau sembunyikan dariku, Viona?"

Viona menggigit bibir bawahnya, pandangannya beralih ke bawah, menghindari tatapan mengintimidasi namun penuh kasih sayang dari Oliver.

"Ini... ini hanya masuk angin biasa, Oliver. Benar. Mungkin karena aku terlalu lelah setelah beberapa hari ini emosiku terkuras karena masalah keluarga Lin. Aku hanya butuh istirahat."

Oliver tidak melepaskan cengkeramannya pada bahu Viona.

 Sebaliknya, ia menggeser tangannya untuk menangkup wajah pucat wanita itu, memaksa Viona untuk kembali menatapnya.

"Viona, dengarkan aku,"

ucap Oliver dengan kelembutan yang teramat intens.

"Kau bukan lagi wanita yang harus menahan rasa sakitnya sendirian demi menyenangkan orang lain seperti saat kau berada di rumah keluarga Lin. Kau adalah milikku. Sakitmu adalah sakitku. Mengapa kau harus menyembunyikan hal seperti ini dariku? Apakah kau masih belum sepenuhnya mempercayaiku untuk menjagamu?"

Mendengar pertanyaan Oliver yang sarat akan luka emosional yang tulus, pertahanan Viona runtuh.

Matanya berkaca-kaca, dan setitik air mata murni jatuh ke pipinya yang pucat.

"Bukan begitu, Oliver..."

bisik Viona dengan suara yang serak dan bergetar.

"Aku... aku hanya takut."

"Takut akan apa, Sayang?"

tanya Oliver, ibu jarinya menghapus air mata itu dengan kelembutan seorang pelindung sejati.

Viona menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang sempat terkikis oleh trauma masa lalunya.

 "Tuduhan dari Adrian dan keluarganya... kata-kata bahwa aku adalah wanita mandul... itu terus membayangi pikiranku. Selama seminggu terakhir ini, tubuhku terasa sangat aneh. Aku sering merasa mual di pagi dan sore hari, kepalaku pusing, dan... dan siklus bulanku terlambat."

Viona meremas kemeja Oliver dengan erat, menyandarkan keningnya di dada bidang pria itu untuk menyembunyikan ketakutannya yang mendalam.

"Aku takut untuk berharap, Oliver. Aku takut jika aku memeriksakan diri ke dokter, hasilnya hanya akan mengonfirmasi kata-kata kejam mereka bahwa aku memang tidak bisa memberikan keturunan... Aku takut mengecewakanmu yang sudah memberikan seluruh perlindungan dan cintamu padaku..."

Mendengar pengakuan yang teramat jujur dan memilukan dari lubuk hati Viona, kemarahan Oliver atas keras kepala wanita itu seketika mencair, digantikan oleh rasa hangat dan cinta yang membuncah hebat di dalam dadanya.

Pria tirani itu mendekap erat tubuh ramping Viona, membenamkan wajahnya di rambut harum wanita itu, menyalurkan seluruh kekuatan dan keyakinan yang ia miliki melalui pelukannya.

"Kau wanita bodoh yang teramat kucintai," bisik Oliver dengan suara yang bergetar oleh emosi yang mendalam.

 "Berapa kali aku harus mengatakannya padamu? Nilaimu di mataku tidak pernah diukur dari hal itu. Aku mencintaimu karena kau adalah Viona, wanita yang mengembalikan tawa putriku dan menghidupkan kembali jiwaku yang kaku."

Oliver melonggarkan pelukannya sedikit, menatap lurus ke dalam mata jernih Viona yang kini basah oleh air mata.

"Tapi jika tubuhmu mengalami perubahan ini, kita harus mengetahuinya. Bukan untuk membuktikan apa pun kepada keluarga Lin yang tidak berharga itu, melainkan untuk kesehatanmu sendiri. Apapun hasilnya nanti, tidak akan ada yang berubah di antara kita. Kau tetaplah Nyonya Oliver, pemilik sah dari hatiku dan rumah ini."

Oliver mengulurkan tangan kanannya ke saku celananya, mengambil ponsel pribadinya, lalu menekan sebuah nomor panggilan cepat.

"Sekretaris, batalkan seluruh jadwalku untuk besok pagi. Dan hubungi Dr. Elena serta spesialis kandungan terbaik di rumah sakit pusat Oliver Group. Aku ingin janji temu privat pertama besok jam sembilan pagi."

Setelah mematikan telepon, Oliver kembali menatap Viona dengan senyuman hangat yang menenangkan.

Ia mengangkat tubuh ramping Viona dengan mudah ke dalam gendongan bridal-nya, membawa wanita itu keluar dari kamar mandi dan membarikannya dengan sangat lembut di atas ranjang king-size mereka.

Oliver menyelimuti Viona hingga sebatas dada, lalu ikut berbaring di sampingnya, menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya yang protektif.

"Sekarang, istirahatlah,"

 bisik Oliver, mengecup kening Viona dengan kelembutan yang tak terhingga.

"Besok, kita akan menghadapi kebenaran ini bersama-sama. Kau tidak akan pernah sendirian lagi, Viona."

Di bawah kehangatan pelukan Oliver dan suara detak jantung pria itu yang stabil di dekat telinganya, ketakutan di dalam dada Viona perlahan-lahan sirna, digantikan oleh rasa aman yang mutlak.

Oliver menyadari ada yang tidak beres dengan tubuhnya, namun alih-alih menjadi badai baru, kesadaran sang tirani dingin itu justru menjadi jangkar terkuat yang siap membimbing mereka menuju babak baru kehidupan mereka yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!