NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Melihat tubuh istrinya terbujur bersimbah darah, nalar Ki Japat runtuh seketika. Rasa takut yang sedari tadi menjeratnya kini menguap, digantikan oleh amarah yang membakar dada. Matanya merah menyala, menatap nanar pada sosok bertopeng di hadapannya.

"Bajingan! Kau membunuh istriku!!!" raung Ki Japat, suaranya parau penuh dendam.

Pria bertopeng itu hanya mendengus dingin, tak secuil pun riak penyesalan tampak dari sorot matanya. "Bukan salahku. Istrimu yang menyerang tiba-tiba," jawabnya datar, seolah nyawa manusia tak lebih dari helaian daun kering. "Sekarang, kumpulkan hartamu. Cepat. Kesabaranku ada batasnya."

"Bangsaaattt..!!!!!"

Wussss!

Dengan sisa tenaga dan tangan yang bercucuran darah, Ki Japat mencabut keris pusaka di pinggangnya. Ia melesat maju, menerjang kalap tanpa memedulikan keselamatan dirinya lagi. Sebagai seorang sodagar di tanah pesisir yang keras, Ki Japat memang membekali diri dengan sedikit ilmu silat. Namun, gerakan yang didasari amarah buta itu jelas bukan tandingan bagi sang jagal bertopeng.

"Keras kepala," desis si perampok.

Si perampok bahkan tidak perlu bersusah payah menangkis. Dengan ketenangan seorang pembunuh berdarah dingin, ia hanya menggeser kaki kirinya ke samping, membiarkan ujung keris Ki Japat menikam angin kosong di lambungnya.

Bersamaan dengan gerak hindar itu, lengan kekar si perampok berayun kuat. Golok besarnya melesat horizontal, membelah udara malam yang pekat, mengincar leher Ki Japat yang terbuka lebar tanpa pertahanan.

Crattttt!

Kecepatan golok itu mutlak. Keris di tangan Ki Japat masih terhunus di posisi bawah, namun di bagian atas, mata baja yang dingin telah lebih dulu menyelesaikan tugasnya.

Srettttt!

"Heghhhhhh..."

Suara parau itu menjadi helaan napas terakhir sang sodagar. Sesaat, tubuh Ki Japat masih berdiri kaku, sebelum akhirnya limbung dan ambruk ke lantai. Seperti nasib para penjaga setianya di luar, malam ini riwayat Ki Japat pun berakhir tragis dengan kepala yang terpisah sempurna dari raga. Darah segar menyembur riuh, menggenangi lantai kamar yang kini menjelma menjadi ruang pembantaian.

Semua kengerian itu—detik demi detik, kilatan baja, hingga suara tebasan yang memuakkan—terjadi tepat di depan mata sang anak.

Bocah lelaki berusia delapan tahun itu terpaku, memeluk tubuh ibunya yang kian mendingin. Air matanya berhenti mengalir bukan karena rasa sedihnya sirna, melainkan karena jiwanya mendadak mati rasa akibat syok yang teramat sangat. Di usianya yang masih begitu belia, ia dipaksa menyaksikan kedua orang tuanya disembelih bagai binatang di hadapan matanya sendiri.

Keheningan malam kembali mencekam, hanya menyisakan suara deru napas si perampok dan detak jantung bocah itu yang berpacu liar. Di atas genangan darah yang kian meluas, sang pembunuh perlahan memutar tubuhnya, mengarahkan tatapan dingin dari balik topeng hitamnya tepat ke arah anak lelaki yang kini menggigil ketakutan.

"K-kau jahat... Kau jahaaat...!" Suara bocah itu melengking di sela tangisnya yang pecah, bergetar hebat di antara jasad kedua orang tuanya yang terbujur kaku.

Namun, raungan pilu itu sama sekali tak menyentuh hati sang perampok. Baginya, nyawa dan air mata di rumah ini tak lebih dari sekadar angin lalu. Dengan dingin, ia berbalik memunggungi bocah itu, melangkah menuju lemari kayu jati berukir di sudut kamar. Menggunakan ujung goloknya, ia merusak paksa selot kunci lemari hingga jebol, lalu mulai meraup kepalan demi kepalan keping emas, perak, dan perhiasan pusaka milik Ki Japat, memasukkannya dengan rakus ke dalam karung goni.

Melihat harta benda ayahnya dijarah oleh tangan yang baru saja menumpahkan darah keluarganya, amarah sang bocah mengatasi rasa takutnya. Ia merangkak di antara genangan darah, menatap punggung sang pembunuh dengan mata memerah.

"Kenapa kau jahat pada ayah dan ibuku?! Kau iblissss!!!"

Dikatai iblis oleh seorang bocah ingusan, gerakan tangan si perampok mendadak terhenti. Udara di dalam kamar mendadak terasa lebih berat. Sang perampok mengeram rendah, suara yang keluar dari tenggorokannya mirip harimau yang terusik.

Ia berbalik, melangkah lambat namun pasti ke arah bocah itu. Tanpa peringatan, tangan kekarnya mencengkeram kuat rambut sang bocah, menjambaknya ke atas hingga tubuh ringkih itu terangkat dari lantai.

"Arggghhh! Sakit! Turunkan aku!" jerit bocah itu kesakitan, namun matanya tetap menatap tajam. "Bajingan kau! Pembunuh! Iblis laknattt!"

"Hmmmmm... Bocah," desis si perampok, mendekatkan wajah bertopengnya hingga hanya berjarak beberapa senti dari muka sang bocah. "Aku tidak biasa membunuh anak kecil. Tapi kalau kau terus-terusan berteriak... terpaksa aku harus membuatmu bungkam selamanya. Paham?!"

Ancaman maut yang biasanya membuat anak seusianya terkencing-kencing, justru membakar sesuatu yang berbeda di dalam dada bocah ini. Darah pesisir selatan yang keras mengalir murni di tubuhnya.

"Bunuh aku, Iblis! Bunuh aku! Aku tidak takut padamu..!!!" teriak bocah itu lantang. Kedua kaki kecilnya bergerak liar, menendang-nendang dada dan perut berlapis kain hitam sang perampok dengan sisa seluruh tenaganya.

Sang perampok tertegun sesaat. Ia tidak melihat binar ketakutan di mata bocah ini, yang ada hanyalah kobaran dendam yang murni dan pekat. "Hmmm... Nyalimu boleh juga, bocah. Kau benar-benar tidak takut mati?"

Cuihhh!

Sebuah ludah bercampur darah mendarat telak di kain penutup wajah sang perampok, tepat di bagian pipinya.

Suasana sempat hening satu detik, sebelum akhirnya...

"Hahahahahaha! Kau sungguh berani, bocah!" Tawa si perampok pecah, menggema mengerikan di dalam kamar penuh mayat itu.

Bugh!

Si perampok melemparkan tubuh bocah itu ke atas ranjang. Belum sempat sang bocah bangkit, si perampok mencengkeram kerah bajunya dan merobeknya hingga hancur. Dengan kasar, tangan besarnya meraba dan menekan sepanjang jalur tulang belakang sang bocah, memeriksa dari tengkuk hingga pinggang. Mata di balik topeng itu seketika berbinar jalang. Struktur tulang belakang bocah ini sangat sempurna—kokoh, lurus, dan memiliki kelenturan alami yang langka. Bakat alami seorang pendekar besar.

"Nyalimu kuat... Struktur tulangmu pun luar biasa," ucap si perampok, suaranya kini berubah menjadi ketertarikan yang gila. "Bagaimana bila kita buat perjanjian, bocah? Kau mau?"

"Cuihh! Aku tak sudi!" sergah bocah itu memalingkan muka.

"Hahahha... Bocah, bocah. Kau sangat ingin aku mati, kan?" tanya si perampok memancing.

"Tentu saja! Aku ingin menebas lehermu! Memotong-motong tubuhmu!" raung sang bocah dengan gigi mengertak.

"Baik. Tapi dengan tubuh ringkihmu yang sekarang, bergerak pun kau masih lamban. Kau harus belajar dulu denganku. Nanti, setelah kau pintar silat, setelah kau kuat... baru kau bisa mencoba membunuhku. Gimana? Adil, bukan?"

"Cuihhh! Aku tidak sudi berguru pada iblis!"

Bocah itu kembali menerjang, mencoba menendang wajah si perampok dengan sisa tenaga terakhirnya. Namun, kali ini si perampok hanya tertawa renyah. Dengan satu gerakan kilat yang hampir tak terlihat, dua jari si perampok mematuk urat di leher dan bahu sang bocah.

Takk! Takk!

Seketika itu juga, tubuh si bocah menegang. Suaranya tercekat di tenggorokan, dan kesadarannya runtuh dalam sekejap. Ia ambruk, pingsan tak sadarkan diri karena totokan saraf.

Si perampok memungut karung goni berisi harta rampokan dengan tangan kiri, lalu dengan tangan kanannya, ia menyambar tubuh pingsan sang bocah dan memanggulnya di atas bahu. Di tengah kegelapan malam Desa Klawitan, bayangan hitam itu melesat keluar jendela, meninggalkan kepulan asap obor dan bau anyir darah yang menguap dari kediaman Ki Japat yang kini telah musnah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!