Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
di ujung keputusasaan
Dokter masuk lebih dulu, duduk di kursi belakang meja kerjanya yang luas dan rapi. Aku ikut duduk di hadapannya, terpisah jarak yang terasa jauh dan dingin.
"Maaf, hubunganmu dengan pasien?" tanyanya lembut namun tegas, mencatat sesuatu di berkas.
"Kakaknya," jawabku pelan, suaraku lemah nyaris tak terdengar, seolah berat sekadar mengucapkan dua kata itu.
Dokter mengangguk perlahan, menatapku penuh pertimbangan dan simpati yang tak bisa disembunyikan. "Begini, kamu beruntung. Meski sempat pendarahan deras, adikmu selamat dan kondisinya perlahan membaik. Tapi operasi segera harus dilakukan. Benturan keras di kepala mengganggu fungsi otak, dia kehilangan banyak darah. Keadaannya sangat berbahaya; terlambat sedikit saja, nyawanya terancam sewaktu-waktu."
Mataku terbelalak tak percaya, napas tertahan di kerongkongan. "Berapa… berapa kira-kira biayanya, Dok?"
"Enam ratus juta rupiah."
Seketika dunia seolah berhenti berputar. Langit runtuh di atas kepalaku. Aku terpaku diam, detak jantung berpacu kencang hingga dada sesak nyeri, rasanya akan pecah berkeping-keping. Enam ratus juta… angka yang tak pernah kubayangkan ada dalam satu kalimat — angka yang tak mungkin kumiliki dalam seumur hidup, apalagi dalam beberapa hari.
Melihatku terguncang hebat, wajahku pucat tanpa darah, dokter segera menenangkan. "Saya paham beban ini sangat berat untuk kamu tanggung sendirian. Ambil waktu sebentar, tenangkan dirimu dulu."
Aku bangkit perlahan, melangkah keluar dan menutup pintu pelan dari luar. Kaki terasa berat seolah terikat timah, nyaris terhuyung menuju ruang perawatan Aslan. Hati diremas perih, namun aku cepat menyeka air mata yang mulai menetes, menarik napas dalam-dalam menguatkan hati yang gemetar, lalu melangkah masuk seolah tak ada beban berat yang baru saja kudengar.
Ruangan terang namun dingin, bau obat menyengat lembut dan menusuk hidung. Di tengah ruangan, Aslan terbaring diam di ranjang, terpisah tirai biru tipis dari pasien lain. Tubuhnya terlihat begitu kecil di balik selimut putih yang bersih namun dingin.
Tiba-tiba kepalanya bergerak pelan di atas bantal. Matanya yang sayu dan berat berusaha terbuka, menatap ke arahku dengan pandangan kabur namun lembut.
"Kak… kita di mana? Kenapa seluruh tubuhku sakit sekali… suhu tubuhku terasa naik turun…" suaranya lemah, nyaris berbisik, seolah setiap kata menyakitkan.
Aku mendekat ke tepi ranjang, menahan suara agar tak bergetar, agar tak terdengar sehancur yang kurasakan. "Di rumah sakit, Dik. Bagian mana yang paling sakit? Katakan pada Kakak."
Dia mencoba tersenyum lemah — senyum yang nyaris tak terlihat, namun tetap ada, tetap tulus. "Tidak apa-apa, Kak… sudah agak berkurang. Tapi Kakak… Kakak tidak apa-apa? Tidak terluka? Di mana Ayah dan Ibu?"
Aku hanya mengangguk cepat berkali-kali, takut jika bicara air mata akan tumpah membanjiri wajahku. Tak lama aku keluar sebentar, menutup pintu sangat pelan agar dia bisa beristirahat tenang, tak tahu bahwa di luar pintu itu kakaknya hancur berkeping-keping.
Aku duduk bersandar di depan pintu, menatap lantai keramik licin yang memantulkan bayanganku yang rapuh dan kecil. Pikiran berputar kacau tak menentu. Bagaimana dapat uang sebanyak itu? Enam ratus juta… dari mana mencarinya dalam waktu singkat? gumam hati penuh putus asa yang mulai merayap perlahan ke setiap sudut jiwa.
Semakin kusut dan bingung, akhirnya aku bangkit perlahan, berjalan tanpa arah, mata melirik ke sana kemari tanpa sadar sampai kaki membawaku ke pintu keluar rumah sakit.
Malam kota terang benderang. Lampu jalan berderet rapi, gedung tinggi berkilauan cahaya, orang lalu lalang sibuk urusan masing-masing — tak satu pun tahu bahwa di antara mereka ada dua anak yang kehilangan segalanya, nyaris tak punya tempat berpijak. Aku meremas ujung bajuku yang kotor, berdebu, lusuh — pakaian yang dulu bersih, dulu milik gadis kecil yang bahagia di lembah tersembunyi. Lalu kuatkan hati sekuat tenaga — demi nyawa Aslan, apa pun akan kulakukan. Tak ada yang takkan kucoba.
Aku memberanikan diri menghadang orang lewat, suaraku gemetar namun penuh ketulusan. "Maaf mengganggu… mohon bantuannya. Adikku butuh operasi segera, enam ratus juta. Saya janji akan membayar kembali sekuat tenaga nanti… saya akan bekerja, apa saja…"
Orang itu menatap angkuh penuh jijik, lalu membentak keras tajam seolah aku adalah sampah di kakinya. "Hei anak tak tahu diri! Pengemis kotor bau! Berani menipu orang! Pergi sana, gila!"
Hati terasa ditusuk berkali-kali oleh pisau tajam, namun aku coba lagi pada orang berikutnya. Hasilnya selalu sama: ditolak mentah-mentah, dimaki menyakitkan, didorong kasar, dianggap penipu mencari untung. Tak jauh dari situ, seorang anak menunjuk ke arahku sambil berbicara pada ibunya dengan suara yang sengaja diperkeras.
"Ibu, lihat! Dia terus memaksa minta uang pada semua orang yang lewat! Dia pasti penipu!"
Ibunya melirik sekilas penuh jijik dan meremehkan, lalu menarik tangan anaknya menjauh cepat seolah takut tertular penyakit. "Sudah jangan dilihat, Nak. Dia penipu saja. Lihat bajunya kotor, pasti baunya buruk. Ayo jalan cepat, nanti dia mendekat."
Aku berdiri kaku diam di trotoar yang ramai, menahan isak tangis yang hampir meledak dari tenggorokan. Setiap kata mereka menancap di dada seperti anak panah beracun. Setiap tatapan mereka seperti api yang membakar kulitku.
Setetes demi setetes air mata jatuh membasahi pipi yang sudah kering oleh angin malam. Rasanya ingin menyerah pada kenyataan kejam ini, ingin jatuh dan tak bangkit lagi — tapi belum. Tekad selamatkan Aslan belum padam sedikit pun. Aku pandangi tubuh dan pakaianku: penuh debu, lumpur, sisa darah kering yang tak terhapus. Wajar jika mereka tak percaya. Wajar jika mereka menjauh.
Kaki membawaku kembali masuk rumah sakit, ke kamar mandi umum di sudut lorong yang sepi. Di cermin bersih yang terang, kulihat wajahku kusam dan berantakan — mata bengkak, pipi cekung, rambut kusut. Aku nyalakan keran, membasuh wajah dan tangan dengan air dingin yang menusuk tulang — sejuk, menyakitkan, membangunkan kesadaran yang kabur. Aku menyeka debu dan noda di bajuku sekuat tenaga, merapikan rambut hanya dengan jari — belum rapi sempurna, tapi tak seberantakan tadi. Setidaknya… tak terlihat seperti orang yang baru lari dari neraka.
Kembali ke halaman depan, sekali lagi aku hadang siapa saja yang lewat, mohon bantuan sekuat hati meski rasa malu membakar dadaku. Tak peduli lagi rasa malu, ini demi nyawa adikku. Namun lama-kelamaan jalan makin sepi, tak ada orang lewat. Akhirnya aku duduk sendirian di bangku beton depan pintu, dan pertahanan hatiku runtuh sepenuhnya.
"Ibu… Ayah… di mana kalian? Apa yang harus kulakukan sendirian? Aku kakak tak berguna, hanya bisa menangis tak berdaya…"
Namun perlahan aku angkat kepala yang lemas, menyeka air mata dengan punggung tangan yang gemetar. "Selama aku masih bernapas dan bertenaga, takkan biarkan hal buruk menimpa Aslan. Apa pun akan kulakukan. Apa pun."
Aku bangkit kembali, menatap gedung tinggi berkilauan di kejauhan — jendela-jendelanya bercahaya hangat, tempat di mana orang-orang makan, tertawa, hidup tanpa tahu bahwa di bawah sana ada dua anak yang berjuang sekadar untuk tetap hidup. Langkah kaki menyusuri jalan makin dingin, sampai berhenti di depan gedung besar dinding kaca bening — restoran termewah yang pernah kulihat. Dari luar terlihat orang duduk tenang menikmati hidangan, berbicara lembut, tertawa pelan. Ragu sejenak, tapi aku berani melangkah mendekat — belum sempat bicara, dua penjaga menghadang kasar.
"Pergi sekarang! Bukan tempat pengemis sepertimu!"
Belum sempat jelaskan maksud, mereka mendorongku menjauh kasar hingga hampir terjatuh. Ke gedung sebelah, hal yang sama: diusir tanpa tanya. Di tempat mewah lain yang tak kukenal, aku bicara cepat sebelum diusir, suaraku bergetar penuh harap:
"Mohon dengarkan sebentar! Saya bukan minta sedekah, mau melamar kerja! Apa saja sanggup kerjakan! Cuci piring, bersihkan lantai, apa saja!"
Tak ada yang mau mendengar. Penjaga tetap mengusir kasar, tak sopan, seolah keberadaanku sendiri adalah pelanggaran.
Aku mundur perlahan, menatap gedung megah itu dengan hati penuh putus asa, lalu berjalan pergi tanpa tujuan. Toko-toko mulai tutup, lampu-lampu mati satu per satu, hatiku makin sedih dan sepi. Terus berjalan jauh tanpa arah, sampai sadar aku sudah jauh dari rumah sakit — sangat jauh. Di sana hanya lorong panjang yang gelap, sepi, tak ada rumah atau bangunan sekitar. Hanya tembok tinggi dan bayang-bayang yang memanjang di tanah. Aku menoleh kiri kanan dengan takut, mencari jalan kembali. Tapi tepat saat berbalik, napasku tercekat di tenggorokan.
Tiga pria dewasa berdiri diam di belakangku. Tak tahu sejak kapan mereka ada di sana — tak bersuara, tak bergerak, namun kini mereka menghalangi jalan pulangku sepenuhnya. Mata mereka menatapku tajam, penuh niat yang tak bisa disembunyikan. Langkah mundur tertutup tembok tinggi. Langkah depan tertutup ketiga sosok itu.