WARNING...!! SIAPKAN KOMENTAR TERPEDAS KALIAN YA😁
Novel ini di angkat dari kisah nyata mungkin pada awalnya si pihak perempuan bisa di bilang bodoh, kalau penasaran yuk lanjut baca kalau gak skip aja ya😁
"Tidak, bukan aku yang memulai. Kau yang lebih dulu mengkhianati ku. Lalu kenapa sekarang kau merasa paling tersakiti?" Winda menatap wajah suaminya dengan sesak di dadanya.
"Maafkan aku, aku khilaf. Tapi, kenapa kau malah berselingkuh dari ku?"
Lelaki yang tidak memiliki perasaan ini dengan entengnya melontarkan pertanyaan yang membuat Winda tertawa geli.
Bukan kesalahan Winda berselingkuh, sejak mereka menjalin hubungan di saat kuliah, Tama lah yang sudah mengkhianatinya terlebih dahulu.
Memaafkan berulang kali, begitu seterusnya hingga mereka menikah. Hati Winda benar-benar patah, wanita ini membalas pengkhianat suaminya. Mempertahankan rumah tangga demi nama baik masing-masing dari keluarga mereka. Linda dan Tama, hidup dalam kemunafikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 09
Sejak Winda hamil, semakin hari sikap Tama berubah menjadi lebih lembut lagi. Memberikan banyak perhatian dan jauh lebih sabar lagi menghadapi sikap Winda yang semakin dingin padanya.
Tama sebenarnya sudah melarang Winda untuk bekerja, namun wanita ini kekeh dengan keputusannya.
"Sebaiknya kau resign saja agar kau lebih fokus dengan kehamilan anak kita." Sekali lagi Tama mengajak istri bicara.
"Kata orangtua mu, jika aku ingin terbebas dari mu setidaknya aku bisa mengembalikan semua uang yang papah mu bantu untuk papah ku!" ketus Winda langsung membuat Tama terdiam.
"Kau sepertinya sangat ingin lepas dari ku. Tapi kenapa ada anak di antara kita?''
Sungguh, pertanyaan Tama ini membuat Winda tertawa lucu mendengarnya.
"Jangan bodoh apa lagi munafik Tama. Bukankah setiap kali kau ingin kau selalu memaksa ku untuk melakukannya? dengan mengatasnamakan kewajiban seorang istri dan dosa!"
"Winwin, cobalah membuka hati mu kembali. Aku benar-benar telah berubah. Aku minta maaf atas kesalahan ku beberapa waktu yang lalu."
"Sudahlah mas, kau pasti tahu kan dengan pribahasa gelas retak?" tanya Winda, "begitu lah hati ku, meskipun kembali terekat tapi dia tidak akan sama."
Meninggalkan meja makan, Winda muak dengan pembicaraan seperti ini. Menurut Winda, Tama begitu egois. Melukai sesuka hati lalu memaksa seseorang untuk berbaik hati menerima kenyataan yang Tama perbuat.
Di kantor, Ferdi sama sekali tidak peduli jika Winda sudah menikah dan hamil. Pria ini terus mendekati Winda, membuat Winda merasa nyaman saat dekat dengan Ferdi.
Entahlah, bagaimana perasaan Winda ini. Meskipun Tama sudah bersikap baik dengan segala perhatiannya namun rasa itu tak lagi sama terasa. Winda lebih nyaman berada di samping Ferdi sekarang.
Hubungan mereka, sudah terjalin sangat dekat padahal Winda dan Ferdi sendiri baru kenal selama dua bulan. Di mata Winda, selain Tama ternyata masih ada pria yang bisa membuatnya bahagia.
"Kenapa tidak di makan?" tanya Ferdi heran.
"Aku tidak berselera!" jawab Winda dengan wajah lesu.
"Kau sedang hamil Win, biar bagaimana pun itu anak mu. Kau harus memberinya nutrisi yang cukup. Dia tidak bersalah."
"Bukan masalah seperti itu, aku tahu ini anak ku. Kau tahu sendiri jika hormon ibu hamil itu berubah-ubah."
"Sekarang kau ingin makan apa?" tanya Ferdi, "kita masih ada waktu setengah jam. Siapa tahu aku bisa mencari makanan yang kau inginkan!"
"Aku hanya ingin makan rujak. Bisakah kau membelinya untuk ku?" pinta Winda.
Ferdi tersenyum, pria ini meletakan kedua sendoknya lalu beranjak dari tempat duduk.
"Baiklah, aku akan membelinya. Kau tunggu di sini ya sebentar," ujar Ferdi yang rela meninggalkan makan siangnya hanya demi Winda.
Entah kenapa hati Winda terasa tenang dan damai. Ferdi selalu menuruti apa saja yang di minta Winda. Tak butuh waktu lama, Ferdi kembali ke cafe dengan membawa rujak pesanan Winda.
"Wah, terimakasih Fer...!" ucap Winda senang.
"Eits,...makan nasi dulu. Nanti kamu sakit perut!"
"Iya deh, kalau begini kan aku kembali berselera untuk makan."
Ferdi tersenyum, pria tampan ini senang bisa melakukan apa saja yang Winda mau.
Mereka makan siang bersama, meskipun sudah dingin tapi tidak masalah bagi keduanya. Selesai makan siang, Winda dan Ferdi langsung kembali ke kantor. Sepanjang perjalanan, Winda sangat menikmati rujak yang di beli Ferdi tadi.
"Stop Fer,....!" pinta Winda mendadak.
Ciiiit,.....
Ferdi yang terkejut langsung menghentikan laju mobilnya.
"Ada apa Win?" tanya Ferdi bingung.
"Kau tunggu di sini sebentar!" ujar Winda bergegas keluar.
Ferdi hendak menyusul keluar, tetapi ia langsung mengurungkan niatnya saat melihat suami Winda.
Winda berjalan sekitar dua puluh meter ke depan untuk menghampiri suaminya.
"Wuah,...hebat sekali ya!" ujar Winda sambil bertepuk tangan, "berpelukan mesra di pinggir jalan seperti ini. Sungguh hebat!$
Winda tertawa sinis saat menangkap basah Tama dengan seorang wanita yang beberapa waktu lalu pernah ia temui sedang mengusap bibir Tama.
Tama yang kaget langsung melepaskan pelukan dari temannya itu.
"Win, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku hanya memenangkannya saja. Dia bertengkar dengan suaminya." Tama mencoba menjelaskan, sedangkan perempuan tersebut hanya sibuk dengan tangisnya.
"Ah, sudahlah. Sudah dua kali aku melihat kali seperti ini, jadi aku biasa saja. Aku turun dari mobil hanya ingin memastikan apakah yang ku lihat ini benar suami ku?"
"Winwin, kau salah paham. Dia hanya klien ku, dia akan bercerai dengan suaminya. Suaminya memukul dia tadi."
"Terserah!" seru Winda kembali berjalan menuju mobil Ferdi.
Tama berusaha mengejar Winda tapi Winda acuh dan tidak peduli dengan Tama. Sedangkan perempuan yang bersama Tama tersebut sedikit banyak tersenyum dalam hatinya melihat Tama bertengkar dengan Winda.
Sesaat Winda masuk kedalam mobil, Ferdi langsung melajukan mobilnya dan tidak peduli dengan Tama yang berusaha mengejar.
"Win, are you okey?" tanya Ferdi khawatir.
"I'am okey Fer,...!" jawab Winda dengan memaksakan senyumnya.
"Siapa perempuan itu?" tanya Ferdi penasaran.
"Aku tidak tahu, tapi aku sudah dua kali menangkap basah mereka seperti ini. Ah, sudahlah jangan di bahas. Aku sudah biasa di perlakukan seperti ini," ujar Winda yang hatinya telah mantap hancur atas sikap Tama.
Sedangkan Tama, pria ini bergegas mengantarkan teman wanita yang bernama Tania itu pulang.
"Tan, bantu aku menjelaskan masalah ini pada istri ku. Aku tidak ingin dia salah paham tentang kita."
Tania menggaruk kepalanya tak gatal, "Tam, aku sendiri saja pusing dengan masalah rumah tangga ku. Masa iya aku harus nyemplung ke rumah tangga mu."
"Ayo lah Tan, istri ku pasti salah paham."
"Nanti lah setelah pikiran ku tenang!" ujar Tania yang sama sekali tidak berniat untuk membatu Tama.
Siapa juga yang tidak mau dengan Tama, pria tampan anak pengusaha terpandang di kota mereka.
Setelah mengantar Tania pulang, Tama langsung menyusul Winda ke tempat kerjanya. Tapi sayang, Winda tidak ada di sana dan hanya bertemu dengan Sinta.
"Winda sudah pulang!" ujar Sinta memberitahu.
Bergegas Tama pulang kerumah.
Saat Tama pergi, Ferdi menghampiri Sinta.
"Bakal perang dunia kelima tuh!" celetuk Ferdi membuat Sinta bingung.
"Heh,memangnya kenapa?" tanya Sinta penasaran.
"Pulang dari makan siang, Winda memergoki suaminya berpelukan dengan seorang perempuan di pinggir jalan. Mesra sekali...!"
"Astaga, wah. Bahaya ini, aku yakin Winda bakal marah besar. Tapi, apa gosip mu ini benar?" tanya Sinta tidak percaya.
"Menurut mu, kenapa Winda pulang secepat ini?" Ferdi bertanya balik.
"Ah, terserah lah. Rumah tangga orang, terserah mereka mau apa. Dan kau, jangan macam-macam sama Winda...!"
hajar terus win 🤣🤣🤣
niat hati baca novel untuk melepas penat , eh yang ada malah bertambah bahkan max level lagi