Menceritakan kisah Maya yang menikah dengan Albiru karena perjodohan, selama ini Maya sudah berjuang untuk cintanya, kala cinta itu sudah bersemi kerikil kerikil kecil kerap kali menghampiri, berbeda dengan Maya yang selalu mencoba menjadi dewasa dalam setiap menyikapi masalah tapi berbeda dengan Albiru yang memilih untuk menikah lagi demi mendapatkan selingan di luar rumah. Akankah Maya menyerah diakhir cerita karena mendapati suaminya telah membagi cinta yang seharusnya utuh hanya untuk dirinya?
Aku mencintaimu dengan penuh kesabaran, tapi kamu membalas cintaku dengan luka, Mas! [Maya]
Maafkan aku karena telah mencintai kamu dan dia, sekarang kalian sudah berada di hatiku. Aku hanya meminta kalian untuk mengerti! [Albiru]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendadak Manja
Selesai dengan beberapa pekerjaannya, Biru pun menyusul Maya di kamarnya, di sana, Maya baru saja keluar dari kamar mandi.
"Bagaimana? Kamu cocok enggak sama perawat ibu?" tanya Biru yang baru saja masuk.
"Oh... itu dari kamu, Mas? Aku kira dari mamah," jawab Maya seraya mendekat ke arah suaminya, Biru pun memeluk Maya membawanya duduk bersantai di sofa panjang menonton televisi, sementara itu Ifraz sudah tertidur.
Maya merasa terhibur dengan acara lawak yang sedang ditontonnya itu, berbeda dengan Biru yang pikirannya entah kemana.
Yang pasti, Biru masih memikirkan setiap ucapan dari Maya.
Malam telah berlalu, sekarang pagi sudah menjemput, Maya membangunkan suaminya untuk bersiap bekerja.
"Mas... bangun!" lirih Maya seraya menggoyangkan lengan Biru tetapi Biru yang masih memejamkan mata itu menarik tangan Maya membuat Maya jatuh ke pelukannya.
Maya pun menggelitiki pinggang Biru dan pelukan itu terlepas, Maya segera bangun dari sana dan merapikan dressnya yang sedikit berantakan.
"Mana Ifraz?" tanya Biru yang tak melihat keberadaan anaknya.
"Itu," tunjuk Maya ke belakang Biru.
"Astaga, maafin papah ya boy, hampir aja kamu ketindihan!" ucap Biru seraya mengusap kaki Ifraz.
"Udah berapa bulan sih dia, May?" tanya Biru seraya melihat Maya yang sedang menyiapkan pakaiannya kerja untuknya.
"Tiga puluh delapan hari," jawab Maya, wanita anggun itu tersenyum pada suaminya dan selama Biru mandi, Maya pun turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan suaminya.
Dan saat Maya sedang mengoleskan selai kacang dan coklat, Biru memeluknya dari belakang.
"Ayo duduk," kata Maya dan Biru membawa Maya untuk duduk di pangkuannya.
"Kenapa jadi manja sekali?" batin Maya yang merasakan perubahan pada suaminya.
Melihat itu, Ifraz seolah tidak terima, pria kecil itu menangis membuat Maya harus bangun dari pangkuan Biru dan segera menggendongnya.
"Astaga, Boy. Kenapa kamu pelit sekali sama papah," protes Biru pada anaknya yang seolah tak mengizinkan Biru bermesraan.
"Mungkin dia lapar, aku buatkan susu dulu buat dia," kata Maya, "aku kebelakang dulu," lanjut Maya yang tidak menemani Biru sarapan.
"Besok-besok siapkan susu sebelum dia menangis di meja makan, aku juga mau kamu temani, May!" kata Biru saat Maya baru kembali ke kursinya.
"Iya," jawab Maya yang baru duduk.
Selesai sarapan, Biru tidak melupakan untuk mencium anak dan istrinya.
"Hati-hati, Mas!" ucap Maya pada Biru yang keluar membawa tas kerjanya.
Biru menganggukkan kepala.
"Maafkan aku, Maya!" ucap Biru dalam hati, "aku akan segera menyelesaikan ini!" lanjut Biru.
****
Di rumah Hafizah, gadis itu sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Bambang.
"Ini yah, nasi gorengnya!" kata Hafizah seraya menyajikan di meja ruang tengah.
"Nak, kenapa suamimu tidak pulang-pulang? Apa dia punya tempat lain?" tanya Bambang menatap nanar anaknya.
"Dia kan orang kaya, yah. Enggak bisa tinggal di rumah sempit seperti ini," jawab Hafizah tanpa melihat ayahnya. Hafizah sengaja mengatakan itu agar Bambang tidak lagi menanyakan Biru.
"Kalau begitu kenapa tidak kamu saja yang ikut dia, Ayah tidak apa-apa tinggal di sini, asal kamu tidak lagi digosipkan oleh para tetangga!" kata Bambang masih dengan menatap anaknya yang tak mau melihat ke arahnya.
"Iya, nanti Afi temui dia di tempat kerjanya," jawab Hafizah seraya memasukkan sesuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Bagaimana Afi akan tinggal di sana, ayah. Dia sudah punya istri, Afi ini hanya cadangannya saja!" batin Hafizah. Gadis itu tidak ingin menitikkan air mata di depan Bambang.
Selesai dengan makan segera Hafizah membereskan itu dan saat itu juga ponselnya bergetar, ternyata Hafizah mendapat pesan dari lelaki yang baru saja dibicarakan.
Hafizah tersenyum saat membaca isi pesan itu karena Biru mengajaknya untuk bertemu. Pria itu mengatakan untuk bertemu jam tujuh malam.
"Aku belum selesai bekerja, jam kerjaku sampai jam 10 malam," balas Hafizah.
"Jangan membantah, aku tidak suka dibantah!" ucap Biru membuat Hafizah merasa kalau dirinya istri yang dianggap oleh Albiru.
"Aku serba salah, satu sisi suamiku, satu sisi pekerjaan ku, aku baru ambil libur kemarin!" balas Hafizah dan setelah itu Biru tidak membalas lagi pesan Hafizah.
Sedangkan Hafizah terus menunggu balasan dari Biru. "Apa dia marah karena aku tidak menurutinya?" gumam Hafizah seraya menggigit ponselnya.
"Lagi pula aku hanya cadangannya saja, kalau aku di pecat dan dibuang setelah tidak dipakai, bagaimana dengan nasibku?" batin Hafizah.
"Sudahlah, lebih baik aku bersiap untuk bekerja," ucapnya seraya bangun dari duduknya.
"Lagi pula, kalau dia membutuhkan ku, aku yakin dia akan menjemputku seperti semalam," kata Hafizah dalam hati, kembali mengingat kejadian semalam membuat Hafizah sangat membenci pengamen gendut itu dan menyumpahinya agar di akhirat nanti tangan si gendut itu terpotong karena sudah berbuat buruk padanya.
****
Di kantor, Biru yang sedang meeting itu tidak fokus mendengarkan presentasi dari karyawannya yang akan meluncurkan produk baru yaitu makanan bayi tanpa pengawet dan pemanis buatan sehingga aman dikonsumsi bayi dan balita.
Biru hanya mengangguk-anggukkan kepala, setelah itu menyudahi meeting tersebut dan berulang kali Biru melihat jam di tangannya ternyata hari sudah sore.
Ponsel Biru pun bergetar, Biru mendapatkan pesan dari Maya yang mengirim foto dirinya sedang berada di salon kecantikan.
Maya mengenakan dress berwarna krem, bibir merah semerah ceri.
Biru pun merutuki dirinya sendiri yang sudah menjadi bodoh karena nafsu.
"Istri seperti jangan kamu sia-siakan Biru!" ucap Biru dalam hati.
Lalu Biru membalas pesan Maya, "Istriku selalu cantik, maafkan aku tidak bisa menemanimu."
"Tidak apa, aku pergi bersama dengan teman-temanku," balas Maya.
"Aku janji, Maya. Akan menyelesaikan ini!" batin Biru penuh semangat.
****
Di salon, Maya sedang bersama dengan dua temanya dari masa sekolah dulu.
"Eh, kalian udah tau belum, kalau acara nikahan Dena pindah lokasi?" tanya Ayana pada Maya dan Dilan.
"Pindah? Aku nggak tau," jawab Maya seraya mengedikkan bahu.
"Kamu mentang-mentang udah punya suami, May. Sampai lupa buka grup dari sekolah kita dulu, kan Dena udah share lokasi di grup itu," protes Ayana.
"Bukan sibuk sama suami aja sih, tapi aku juga sibuk sama bayi aku," jawab Maya membela diri.
"Kok bayi kamu nggak di ajak, May?" tanya Dilan.
"Enggak lah, masih bayi dia, belum bisa diajak jalan jauh," jawabnya.
"Iya udah kita berangkat yuk, belum lagi entar kena macet pasti lama di jalan kan!" usul Ayana.
Setelah itu, Maya membayar semua tagihannya.
Ayana dan Dilan pun menjadi senang karena Maya traktir.
Benar saja, jalanan Ibu Kota sangat macet di sore hari, sehingga membutuhkan waktu satu jam untuk perjalanan, Setelah itu, Maya memarkirkan mobilnya di hotel yang Ayana maksudkan.
Mereka turun dan segera mencari teman mereka yang akan melangsungkan pernikahan hari ini.
****
Sementara itu, Biru sudah menunggu Hafizah di kamar hotel, tanpa Biru tau sebenarnya Maya berada di hotel yang sama.
Apakah Maya akan bertemu Biru?