Sebuah kecelakaan besar membuat hidup Ajeng berubah total. Karena sebuah balas budi dan intrik dari keluarga Demian dan Mahesa dia harus menikah dengan Raka, laki-laki yang diselamatkannya dengan seorang anak kecil.
Ajeng harus terjebak dalam konflik keluarga kaya. Kehadiran Ajeng membuatnya harus menjadi seorang mama untuk anak kecil yang dia selamatkan.
Apakah Ajeng bisa menemukan kebahagiaan dengan menjadi Mama anak itu. Atau dia justru terperangkap masalah dan konflik keluarga kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van Theglang Town, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buah Simalakama
Ajeng sudah membereskan semua baju dan kebutuhannya selama tinggal di rumah Raka ke dalam sebuah koper besar. Setelah semuanya dirasa cukup, Ajeng kemudian menyusul Gea yang sudah terlelap tidur di kasur. Ajeng sedikit menyesuaikan posisi tidurnya. Dia ingin sambil memeluk tubuh kecil Gea, namun posisinya cukup tidak nyaman, karena tempat tidurnya hanya berukuran untuk satu orang saja di kamarnya yang juga tidak terlalu besar. Rumahnya memang hanya punya tiga kamar yang hanya berukuran masing masing 4 x 3 meter saja. Pantas saja Ibu Rika menyuruhnya untuk tinggal di rumahnya, mungkin rumah yang sempit ini memang tidak layak untuk merawat Gea. Malam ini mungkin malam terakhir dia tidur di kamar ini. Karena besok dia akan tinggal di rumah Bu Rika menjadi mama pengganti Gea. Ajeng teringat perkataan Bu Rika beberapa waktu lalu setelah mereka melamar Ajeng. Sebuah perbincangan yang sedikit membuat dia terganggu.
<<<<<<<<< Flash Back On....
"Tetaplah menjadi mamanya Gea, kalau bisa Gea melupakan wajah ibu aslinya!" Permintaan Bu Rika sedikit mengejutkan Ajeng. Saat itu Bu Rika meminta berbincang empat mata di kamar Ajeng.
"Tapi bu, bukankah seharusnya Gea dapat sembuh dan mengingat mamanya," jawab Ajeng merasa keberatan. Mana mungkin dia melakukan itu. Kalau sampai Gea menganggap dirinya ibu kandungnya. Mungkin arwah ibu kandungnya tidak akan tenang.
"Sudahlah, kamu sekarang sudah menjadi calon menantu saya, jadi tolong lakukan permintaan saya ini," kata Bu Rika sambil memegang kedua tangan Ajeng.
"Karena usia Gea masih kecil, mungkin lebih baik jika dia mengganggap kedua orang tuanya masih ada. Tapi kalau dia sudah besar. Dia harus tahu bu,"
Tapi Ibu Rika tidak merespon ucapan Ajeng. Dia hanya seperti orang yang sedang diliputi
"Bagaimana dengan ayahnya, apa dia masih hidup?" tanya Ajeng. Dia memang belum tahu banyak siapa kedua orang tua Gea. Yang dia tahu kalau mamanya Gea baru meninggal dan papanya hilang entah kemana.
"Papa nya masih ada. Dia tiba-tiba menghilang dan tidak bisa dihubungi," jawab Bu Rika terlihat sedih.
" Kok bisa, sudah lapor polisi?" tanya Ajeng kembali.
" Kalau dia diculik mungkin bisa saja lapor polisi, tapi dia menghilang karena dia sengaja. Untuk itulah kami sangat kehilangan dia,dan tentu saja Gea ini adalah jalan kami untuk bisa menemukannya."
" Kenapa dia pergi menghilang Bu?" tanya Ajeng penasaran.
" Itu karena ada masalah keluarga saja," jawab Bu Rika penuh misteri.
>>>>>>> Flash Back Off...
Ajeng tidak habis pikir kenapa ayahnya Gea tega meninggalkan anak selucu ini karena hanya masalah keluarga yang mungkin masih bisa diselesaikan dengan baik-baik. Apakah sesulit itu keluarga orang kaya dalam mengatasi permasalahan keluarganya.
Ajeng mengusap rambut Gea yang tertidur lelap di sampingnya.
"Kasihan sekali kau Nak," lirih Ajeng.
"Tenang saja, Mama Ajeng bakal bikin kamu bahagia meski nggak ada papa kamu. Nanti kan ada papa Ra-- ."
Ajeng tersenyum lalu bergumam, "Papa Raka, ahhh ko jadi ingat dia sih!" Ajeng mendengus mengingat kejadian tadi. Apa harus dia genit sama dokter cantik di depan calon istrinya.
Ajeng tahu dan sadar kalau dia juga belum begitu mengenal Raka. Sifat dan karakternya seperti apa. Ajeng belum mengenalnya banyak. Bahkan kalah dengan Amel dan Marko yang tahu dia seorang sutradara film dan dia juga tidak tahu filmya yang mana. Mungkinkah pernikahan ini hanya semata mata untuk balas budi karena dia sudah membantu menyelamatkannya dari kecelakaan itu. Atau karena simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan dua belah pihak. Apalagi ditambah dengan adanya kondisi Gea yang amnesia. Ajeng harus menikah karena situasi Bang Arya dan Bu Rika mencari menantu sekaligus mama pengganti Gea.
Ajeng menarik napas dan membuangnya dengan keras. Dia merasa makan buah simalakama saat ini. Menikah dan tidak menikah dengan Raka tetap saja dia terikat dan merasa bertanggung jawab atas keadaaan Gea. Kalau dia tidak menikah, mungkin Bang Raka tidak mau menikahi Mbak Merry. Karena dia berisikeras dia tidak akan menikah kalau Ajeng menikah. Tentu saja Mbak Merry yang menjadi korban. Mbak Merry kan tidak punya tempat tinggal karena di usir oleh ibu tirinya. Kepada siapa lagi dia meminta pertolongan. Dan jalan satu satunya adalah segera menikah dengan Bang Arya. Dan Bang Arya mau menikah kalau Ajeng benar benar akan menikah dengan Raka. Dan Ajeng pun mau tidak mau mengikuti alur nasib yang dibuat untuknya.
Menikahi seorang yang bernama Raka Mahesa. Mungkin bisa menjadi nasib baik. Karena strata sosialnya akan naik dengan menikahi anak seorang konglomerat Bu Rika dan sekaligus seorang sutradara film terkenal di Amerika. Dengan begitu dia akan menjadi seorang Nyonya.
"Aahhh, jadi seorang Nyonya yang punya banyak uang pun belum tentu bahagia dan hidup tentram, buktinya selalu saja ada konflik keluarga. Bukankah kakaknya Raka itu pun kabur dari rumah gara-gara ada masalah keluarga".
"Pasti tidak seindah dan tidak seenak yang dibayangkan banyak orang."
"Aku harus siap siap dan tahan mental kalau jadi menantu di keluarga itu."
Berkali kali Ajeng bolak balik pindah posisi tidur. Entah karena tempat tidurnya yang sempit atau hati dan pikirannya yang gundah gulana memikirkan dirinya yang akan menikah dengan Raka. Kadang miring ke kanan kadang ke kiri. Sangat gelisah sekali. Sampai dia lelah dengan segala pemikirannnya dia pun tertidur dan bermimpi.
Ajeng masuk ke dalam sebuah kamar yang luas. Dia melihat seseorang dengan posisi membelakanginya. Seorang laki laki yang tinggi kekar memakai kaos oblong dan celana boxer. Kakinya panjang dan sedikit berbulu. Dari belakang nampak gagah. Ajeng melangkah berjinjit agar laki-laki itu tidak mendengar suara langkah kakinya. Namun ternyata itu gagal. Laki-laki itu berbalik dan memergokinya. Raka.
Dia tersenyum menggoda. Tapi sebentar, dia sudah bisa berdiri. Dan sekarang dia berjalan ke arahnya. Matanya menatap dengan penuh goda. Ajeng terpaku melihat ketampanan Raka. Perlahan Raka mendekatinya. Ajeng gugup melihat Raka mendekatinya seperti itu. Tangan Raka pun perlahan menjangkau puncak kepala Ajeng membelai rambutnya yang terurai sampai bahu. Ajeng menciutkan badannya sedikit karena baru kali ini dia disentuh seperti ini.
Raka semakin tersenyum menggodanya yang sedikit gugup. Lantas dia mengusap bibir Ajeng dengan jempolnya. Ajeng sedikit memundurkan langkahnya ke belakang. Namun tangan Raka yang satunya lagi menjangkau pinggangnya Ajeng dan menariknya sehingga tubuh mereka saling mendekat. Mata Ajeng mengerjap ketika dia bisa merasakan napas Raka yang sedikit panas ke arah wajahnya. Raka pun dengan cepat cepat menyingkirkan jempolnya yang masih mengusap bibir Ajeng dan mendaratkan kecupannya di bibirnya. Ajeng terkejut merasakan bibirnya disentuh dengan bibir Raka. Hangat terasa. Perlahan Ajeng membuka sedikit bibirnya dan membiarkan Raka mengecupnya dengan leluasa. Sementara Ajeng berasa kakinya lemas tak bisa menopang tubuhnya yang sekarang terasa seperti jely. Raka dengan sigap menahan tubuh Ajeng dengan tangan menyentuh punggung Ajeng dan lebih mencondongkan badan Ajeng ke badannya. Sehingga badan mereka pun menempel seperti perangko. Ajeng pun merasakan hawa tubuh panas dari Raka menjalar ke tubuhnya. Raka tidak mau menghentikannya. Ajeng mulai dikuasai Raka. Dan...
G U B R A A A A K.....
Ajeng merasa tubuhnya melayang dan jatuh sekaligus, kepalanya terbentur sesuatu. Saat dia tersadar. Ternyata dia terjatuh dari atas tempat tidurnya.
Ahh... mimpi itu seperti nyata.
Ajeng menampar pipinya sendiri. Dia merasa malu kenapa dia sampai bermimpi semacam itu dengan Raka.
"Ajeng...!"
Terdengar suara bundanya memanggil di balik pintu kamar nya.
"Iya Bun,"jawab Ajeng.
"Itu tadi suara apaa gedubrak, apa ada yang jatuh?" tanya bunda masih berteriak di luar kamar.
"Iya bu, suara selimut jatuh bu," jawab Ajeng berbohong. Mana mungkin dia jawab dia yang jatuh dari tempat tidurnya. Apalagi gara gara mimpi ....
"Kok suaranya kayak orang yang jatuh ?" tanya bunda masih kurang yakin.
"Hehehe, iya bun, selimut sama orangnya."
Ajeng mengusap jidatnya yang tadi sempat kejedot lantai. Kenapa juga Bunda bertanya kalau sudah tahu itu suara dirinya yang jatuh.
"Cepat siap-siap ya sayang!" perintah bundanya membuat Ajeng langsung terbangun dari lantai. Dan berjalan keluar kamar. Sejenak dia melihat Gea masih tertidur pulas. Dia akan membangunkannya setelah mandi nanti.
Ajeng pun segera pergi ke kamar mandi untuk mandi dan segera membantu Bunda membuat sarapan. Hari ini dia harus segera siap siap pergi dari rumah ini.
~ ~ ~ ~
Ajeng dan Gea tiba di depan sebuah rumah yang mewah dan luas yang terletak di kawasan Pondok Indah. Rata-rata di kawasan elite ini dihuni oleh para tokoh berduit dan konglomerat seperti Bu Rika. Pak Amin kemudian mempersilahkan Ajeng untuk masuk ke dalam rumah karena Raka dan Bu Rika sudah menunggu di dalam.
Ajeng pun menurut. Dia menuntun Gea perlahan berjalan menuju sebuah pintu yang sangat lebar dan megah. Ajeng melihatnya itu seperti sebagai sebuah gerbang kasino. Tempat dimana dia akan bertaruh mempertaruhkan masa mudanya dan juga kehidupannya sebagai mahasiswa yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri dan menantu dari keluarga kaya dan berbeda status sosialnya dengan dirinya. Menang dan kalah dalam pertaruhan ini mungkin hanya soal waktu saja.
Sampai di dalam Ajeng langsung disuguhi dengan pemandangan yang menakjubkan. Begitu mewah dan berkelasnya perabotan dalam rumah itu. Ajeng yakin pasti harga harga perabotan itu sama dengan harga biaya dia kuliah.
Ajeng disambut ramah oleh Bu Rika. Dia memeluk Ajeng dan Gea bergantian. Ajeng melihat Raka memakai kruk perlahan menghampiri Ajeng dan Gea. Sekarang Raka sudah dapat memakai kruk. Dia tidak menggunakan kursi roda lagi. Raka pun menatap wajah Ajeng yang melihatnya memakai alat bantu berjalan itu. Ajeng yang tiba tiba ingat mimpi nya semalam berpura pura mengalihkan pandangannya ke arah selain wajah Raka. Dia takut dan malu.
"Kenapa jidat kamu, kok biru begitu?" Tanya Raka menyadari kalau jidatnya yang seluas halaman parkir itu memar gara-gara tragedi jatuh dari tempat tidur nya.
Ajeng hanya bisa meringis dan tersenyum miris saat Raka bertanya .
"Please jangan tanya aku kenapa, mengapa, dan bagaimana!"gumam Ajeng dalam hati.
Raka terlihat gemas saat Ajeng menjawab hanya dengan ekspresi meringis itu.
Bersambung
mungkin dengan raka jujur di awal ajeng akan mengerti tidak salah paham begini