Memet dan Bety telah menikah. Dan mereka menikmati kehebohan menjalani bahtera rumah tangga karena menikah muda.
Keduanya kerab kali cek-cok mempermasahkan hobi Memet yang suka main game online.
Sementara Bety, ia sangat kesal diabaikan oleh suaminya itu.
Suatu ketika Bety membuat rencana, memberi obat pada minuman Memet, sehingga lelaki itu mabuk tak sadarkan diri.
Bety memutuskan untuk pergi meninggalkan Memet setelah malam pertama mereka.
Tak ada angin tak ada hujan, di saat Memet pusing memikirkan istrinya, sembilan bulan kemudian tiba-tiba saja orang mengantarkan bayi laki-laki kepadanya. Orang itu mengatakan kalau Bety telah meninggal setelah melahirkan anaknya.
Lima tahun kemudian Bety kembali dari luar negeri. Ia menyamar dengan dua anak kecil berumur lima tahun.
Ia melakukan itu untuk menghindari Memet, ia yakin kalau Memet masih marah kepadanya karena telah berani membohonginya.
Tetapi penyamarannya terbongkar, ia ketahuan oleh Memet, hingga membuat lelaki itu murka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kulid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
benda kenyal apa itu?
Ketika Memet di kamar mandi, Bety memutuskan untuk turun ke bawah, ia ingin melihat bibi May lagi masak di dapur.
“Bibi May?” kata Bety mendekati bibi May.
“Eh Bety. Ngapain ke dapur? Memet sudah bangun ya? Biar bibi buatkan kalian makanan,” kata bibi May, tetapi dibalas gelengan kepala oleh Bety.
“Nggak bi. Aku mau lihat bibi masak saja,”
“Bibi masak apa? Sini Bety bantuin masaknya,” kata Bety dengan senang hati.
“Tidak usah Bety, ini semua sudah mau siap.”
“Tapi Bety ingin belajar masak makanan kesukaan Memet, bi. Boleh yah,” pinta Bety memohon.
“Baiklah, sini Bety bantu bibi motong-motong sayur,” kata bibi May memberikan beragam sayur-mayur beserta tempatnya.
Bibi May mempersiapkan semua bahan-bahan makanan yang diperlukan, dan Bety mulai sibuk membantu memotong-motong sayuran. Setelah bahan-bahan selesai disiapkan, Bety menghidupkan kompor dan mulai memasak.
Tak terasa setengah jam telah berlalu. Memet turun dari kamarnya, dan menghampiri Bety yang sibuk dengan bibi May di dapur. Ia tidak menyangka akan melihat pemandangan indah di matanya. Gadis pujaan hatinya tengah bercanda tawa sambil memasak dengan bibi May. Melihat wajah Bety yang tertawa cekikikan memegang sendok penggoreng, membuatnya terpesona dengan pemandangan itu.
“Apakah aku sedang bermimpi? Kenapa my sweety Bety cantik sekali saat ini,” kata Memet terpesona.
Ia tersenyum simpul melihat Bety. Dalam hatinya, ia merasakan kesenangan yang luar biasa hari ini. Melihat tawa di wajah gadis itu saja sudah membuatnya sesenang ini, apalagi jika mereka pergi kencan ke tempat romantis dan indah. Mungkin pipi Memet akan melebar seperti bakpau karena sering tersenyum melihat wajah Bety.
Bibi May melihat anak majikannya itu sedang menatap lekat gadis di sebelahnya. Ia tahu kalau saat ini Memet sedang terpesona dengan Bety, maklum ia juga pernah merasakan masa muda yang bahagia.
“Bety. Tuh lihat ke belakang,” kata bibi May memberi kode siku.
“Kenapa bi?” tanya Bety heran.
Saat ia berbalik dan melihat ke belakang. Di sana sudah berdiri Memet dengan senyuman cerianya. Ia berjalan mendekat ke tempat Bety berdiri.
“Hai sayang. Katanya mau pergi, kok masak di sini?” kata Memet sambil mengisi minum di gelas.
“Kamu kelamaan sih. Padahal aku sudah nungguin dari pagi, tahu.”
“Du-duh. Sini peyuk babang Memet dong…. Maaf aku ketiduran yah,” kata Memet dengan suara imut.
“Malu ah. Kamu pura-pura yah, apa emang dilupain,” kata Bety merajuk.
“Nggak dong. Ya sudah, aku siapin motor dulu yah,” kata Memet melangkah pergi.
Bety kembali melanjutkan masakannya, ia berharap masakannya disukai oleh Memet. Setelah semuanya masak, bibi May membantu menata makanan itu di meja dan membersihkan kembali peralatan masak.
Bety pergi memanggil Memet keluar. Ia ingin lelaki itu mencicipi masakan yang telah dibuatnya. Dilihatnya, Memet sedang membersihkan motornya.
“Memet, ayo makan dulu. Aku sudah masak loh buat kamu,” kata Bety sambil menarik tangan Memet masuk.
“Enak nggak? Aku takut nanti aku sakit perut setelah makan masakan kamu,” kata Memet menggoda Bety.
“Sudah aku kasih obat pencahar!” kata Bety sebal, ia merasa kesal dengan lelaki itu karena tidak menghargai usahanya.
Bety menghentak-hentakkan kakinya berjalan mendahului Memet. Tetapi lelaki itu malah berlari lebih cepat darinya. Mereka seperti anak kecil marebutkan mainan.
“Aku duluan!” kata Memet tertawa cekikikan yang sudah duduk di kursi makan.
“Kamu curang. Aku kan enggak ajak lari,” kata Bety tidak mau kalah.
Bety mengambil sepiring makanan buat Memet. Ia mengambil lauk-pauk, sayuran, ditambah sambal mentah. Ia sengaja mengerjai lelaki itu dengan banyak sambal, supaya lidahnya kepanasan. Sambil tersenyum ia meletakkan piring itu di hadapan Memet.
“Ini khusus aku buatin untuk kamu loh. Silahkan dinikmati,” kata Bety dengan senyuman cerianya.
“Suapin aku.”
“Hah! Suapin. Jadi orang jangan manja,” kata Bety dengan wajah garang.
“Ayo dong sayang, suapin aku.”
“Yau sudah. Sini aku suapin,” Bety mengambil piring itu dan menyuapi sesendok untuk Memet.
“Aaaaa,”
Memet menerima suapan pertama itu dengan perasaan gembira. Ia merasa manja sekali karena telah disuapi oleh gadis pujaan hatinya itu. Tetapi kegembiraan itu pudar setelah lidahya terbakar kepedasan.
“Blaaakh,” Memet melepehkan keluar makanan itu dari mulutnya, ia berlari ke washtafel untuk mencuci mulutnya.
“Betyyyyyy! Kamu sengaja ngerjain aku ya! Pedas banget sumpah,” kata Memet dengan wajah jengkel.
Bety tertawa terbahak-bahak melihat Memet yang kepanasan karena sambal. Ia telah berhasil mengerjai lelaki itu dengan masakan super enaknya. Entah kenapa ide itu muncul begitu saja setelah ia kelelahan menunggu Memet menjemputnya dari pagi.
“Awas yah kamu,” kata Memet berjalan mendekati Bety dan mencium bibirnya dengan cepat, membuat Bety tersendak kaget.
“Nah, gimana? Enak kan, ngerjain aku.”
“Memet! Kamu pencuri banget sih!” kata Bety marah.
Memet tertawa senang melihat wajah imut Bety saat marah. Gadis itu sangat menggemaskan sekali dengan gelembung di pipinya. Memet mendekat ke telinga Bety, dan membisikkan sesuatu.
“Kalau masih lama, aku tinggal,” kata Memet berjalan meninggalkan Bety yang masih mematung di meja makan itu.
“Memeeet! Awas kamu ya.”
Setelah itu mereka mengendarai motor. Di jalan Bety merasa gelisah di tempat duduknya. Ia terus bergerak maju mundur, membuat Memet terganggu mengendarai motornya.
“Kenapa sih, Bety?” tanya Memet sambil melihat ke kaca spion.
“Ini tempat duduknya kok licin banget sih, Memet. Aku susah duduknya, mundur-mundur terus dari tadi,” kata Bety sambil menahan tubuhnya agar tidak maju.
“Masa, sih. Perasaan biasa-biasa saja,” kata Memet sambil menahan senyumnya.
Sebelum berangkat tadi, Memet sengaja mengolesi tempat duduk motornya dengan pengkilap motor. Itu bisa membuat tempat duduknya jadi licin. Tujuannya adalah, agar Bety semakin menempel kepadanya saat duduk berboncengan.
“Ya sudah, kamu peluk aja aku biar nggak gerak-gerak lagi.”
“Kamu sengaja ya melicinkan tempat duduknya, supaya aku bisa nempel sama kamu!” teriak Bety kesal.
“Hehehe… ketahuan deh,” kata Memet cengengesan.
Bety jadi sebal, ia tidak punya pilihan lain selain memeluk lelaki itu. Kalau berpegangan ke belakang, ia akan semakin maju. Setelah mempertimbangkan, akhirnya ia menuruti kemauan lelaki itu memeluknya dari belakang. Tetapi Bety punya cara jitu untuk mengalihkan fokus lelaki itu.
Bety semakin memeluk erat Memet dengan merapatkan dadanya ke punggung Memet. Ia yakin Memet akan terintak merasakan benda kenyal itu. Dan benar saja….. Memet tiba-tiba mengerem mendadak motornya.
“Baty, turun.”
“Hah! Turun? Ngapain,” kata Bety dengan muka tanpa dosa.
“Turun aku bilang!” suara Memet sudah berubah menekankan.
Bety turun. Ia yakin Memet gelisah merasakan dadanya tadi. Siapa suruh lelaki itu memulainya, ia hanya melanjutkan permainan itu dengan kemauan Memet yang sebenarnya.
Sepersekian detik, Memet tiba-tiba memeluk tubuh Bety erat. Lelaki itu tidak mengatakan apapun, ia hanya membenamkan kepalanya di ceruk leher Bety, membuat gadis itu menggeliat kegelian.
“Ngapain sih Memet. Malu dilihat orang, ini di jalan!” kata Bety dengan suara menahan malu karena mereka berpelukan di tengah jalan.
“Diam! Tanggung jawab telah membangunkan si bonbon,” kata Memet sambil menggesekkan bagian bawahnya yang menegang ke paha Bety, membuat gadis itu membulatkan matanya karena terkejut.
kasih like dan komen yah 😊
ayo promo thor, jangan biarkan karya anda terbengkalai