Menceritakan dua kisah, antara Gibran anak broken home yang bertemu dengan Caramel. Dari pertemuan yang tak terduga, membuat Gibran merubah sikapnya secara perlahan demi mempertahankan hubungannya. Disisi lain dirinya juga harus mengalami penderitaan selama berada di rumahnya.
Selamat membaca:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Nasi Goreng
...Selamat Membaca📖...
...🎨🎨🎨...
Bel istirahat pertama berbunyi, kelas Xll MIPA 2 keluar paling akhir. Karna ada jam pelajaran tambahan sekitar lima belas menit untuk penjelasan materi, tanggung kata pak Malik, guru fisika.
Jihan dan Putri pergi ke kanting untuk membeli makanan ringan. Sedangkan Caramel dan Naura memilih untuk tetap di kelas dan titip makanan kepada kedua sahabatnya yang pergi ke kantin. Karna mereka tahu jika kantin pasti sudah di penuhi siswa dari kelas lain dan mungkin mereka sudah tak mendapatkan kursi untuk duduk.
Gibran, Bram dan Asep sedang berdiri di lapangan upacara. Mereka ketahuan bolos pada saat jam pelajaran sebelum istirahat, pak Ardi yang mulai menceramahi ketiga murid di depannya. Sedangkan ketiga murid tersebut menunduk kebawah, bukan karna takut melainkan malas mendengarkan ocehan-ocehan yang keluar dari mulut guru Bk ini.
"Sudah bapak bilangin bukan? jangan pernah bolos pada saat jam pelajaran!" pak Ardi memainkan tongkat berwarna hitam di tangannya.
"Pasti kamu ya dalangnya?" pak Ardi menatap Gibran sengit.
Gibran membalas tatapan guru Bk di hadapannya tajam.
"Iya," jawab Gibran lantang.
Sebenarnya disini bukan Gibran lah dalangnya, Bram yang sudah mengajak mereka untuk bolos saat pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi Gibran sebagai ketua geng Antraxs, selalu menjaga dan melindungi anggotanya. Walau taruhannya dirinya sendiri.
"Tapi--" Bram menggantungkan kalimatnya, saat Gibran menatapnya tajam.
"Apa? mau belain dia. Sekarang kalian keliling lapangan sambil jongkok sepuluh kali, buat kamu Gibran bonus lima kali putaran. Jadinya lima belas kali putaran."
Pak Ardi membalikkan badanya kembali, "Jangan coba-coba buat kabur!"
Naura dan Caramel menyaksikan tiga murid yang sedang dihukum, dari atas.
"Nggak ada kapok-kapoknya ya mereka?" Naura menoleh ke Caramel, yang masih memperhatikan kebawah.
"Namanya juga anak bandel, mana mungkin mereka punya kapok." jawab Naura
"Hay, kok di luar?" tanya Jihan, yang datang bersama Putri.
Mereka berdua membeli mie lidi dan minuman dingin. Kemudian duduk di depan kelas.
Bram dan Asep sudah selesai dengan hukumannya, tinggal Gibran lima putaran lagi. Ia tak sengaja melihat keatas, matanya tertuju pada Caramel yang juga sedang memperhatikannya juga.
Caramel tersenyum tipis sambil memakan mie lidi ditangannya menatap Gibran, Gibran membalas senyuman Caramel. Kemudian Gibran melanjutkan langkahnya, menyelesaikan hukumannya.
...🎨🎨🎨...
"Gue pulang sama Revan ya, Na." Jihan menatap ke Naura.
Naura yang mengangguk, kemudian memasukkan bukunya kedalam tas. "Teterah lo aja deh, gue ma cuma jadi tebengan lo dong." Naura memutarkan bola matanya malas.
"Yah, jangan gitu dong Na."
"Udah biarin aja lah, dia kan lagi bahagia."
keempat sahabat itu berjalan keluar dan menuruni tangga. Mereka berhenti di depan parkiran motor, Jihan menghampiri Revan yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Gue duluan ya, bay." Jihan melambaikan tangannya, kemudian motor Revan melaju keluar gerbang sekolah.
"Hati-hati ya." ucap Putri
"Kita kedepan yuk." ajak Naura
Caramel dan Putri mengangguk, baru tiga langkah mereka berjalan. Seseorang memanggil Naura dari arah samping.
Naura menoleh ke sumber suara, melihat Gibran yang berjalan melangkah kearahnya.
"Ini gue titip buat nyokap gue," Gibran memberikan peper bag berwarna coklat kepada Naura.
Naura mengambilnya dengan ragu. "Buat apa?"
"Nanti lo ke rumah nyokap gue kan? gue titip ini, kasih ke nyokap gue."
Naura hendak berbicara, mulutnya sudah menganga. Namun Gibran dengan sergap menjawan pertanyaan Naura, sepertinya Gibran tau apa yang akan Naura bicarakan.
"Gue nggak bisa kesana, ada urusan. Ucapin juga selamat ya buat nyokap gue."
Naura mengangguk. "Iya."
Caramel dan Putri menatap punggung Gibran yang mulai menjauh.
"Kenapa nggak dia aja yang ngasih?" tanya Putri
"Nggak tau," ketus Naura
Jemputan Naura sudah sampai, kini tinggal Putri dan Caramel yang masih menunggu jemputannya masing-masing.
Tak lama taxi yang Putri pesan sampai bersamaan dengan mobil Satria.
...🎨🎨🎨...
Caramel sampai di rumahnya, namun rumahnya terasa sepi. Kemana bunda? biasanya Alana akan menyambut anaknya di depan pintu.
"Bunda," teriak Caramel
Caramel masuk disusul oleh Satria di belakangnya.
"Bunda sedang pergi sama ayah."
"Kata siapa?"
"Tadi bunda Wa kakak."
"Ouh," Caramel masuk ke kamarnya, meninggalkan Satria yang masih dibawah.
Setelah ganti baju, Caramel turun untuk mencari makan di dapur. Di dapur sudah ada Satria yang sedang memasak mie.
"Bunda nggak masak?" tanya Caramel
"Nggak, kamu mau kakak buatin mie juga?"
"Boleh," Caramel duduk di kursi meja makan. "Tumben baik,"
"Maksud kamu, selama ini kakak jahat gitu?" Satria mencubit hidung Caramel, "Dasar."
"Nggak gitu maksut Kara,"
Gini ni enaknya punya kakak laki-laki lebih sering dimanja, walau kadang berantem dengan masalah yang sepele.
Setelah makan Caramel kembali ke kamarnya, Ia membaca novel romanca yang Ia pinjam di perpustakaan dua hari yang lalu dan belum selesai di baca.
...🎨🎨🎨...
^^^Caramel^^^
^^^Bunda pulang jam berapa?^^^
^^^18:35^^^
Bunda❤️
Mungkin nanti malam sayang, kenapa kamu laper ya?
Nyuruh kak Satria aja buat beli makanan onlaine, nanti uangnya bunda ganti.
Soalnya ini masih di rumah temen ayah.
18:36
Caramel membaca pesan dari Alana, bibirnya manyun kedepan.
^^^Caramel^^^
^^^Ya udah deh Bun.^^^
^^^18:36^^^
Tok! tok! tok!
"Caramel,"
"Iya,"
Caramel meletakkan handphonenya di atas kasur, kemudian membuka pintu kamarnya.
"Ada apa kak?"
"Mau kakak pesenin makanan apa?"
"Hemm," Caramel mikir sejenak. "Terserah aja deh."
"Ya udah samain aja ya sama kakak."
Caramel mengangguk. Tapi setelah Ia pikir lagi, lebih baik Caramel mencari makan sendiri aja diluar. Dan makan di tempat, kayaknya lebih enak, apalagi udah lama Ia tidak makan di luar.
"KAK SATRIA-" teriak Caramel, membuat Satria menoleh.
"Apa lagi?"
"Aku makan diluar aja deh, maaf ya." Caramel tersenyum manis.
"Ya elah, kakak udah pesenin makanan juga."
"Ya maaf, boleh ya."
"Ya udah, tapi jangan malem-malem pulangnya!"
"Siap, kakak ku yang paling ganteng."
...🎨🎨🎨...
Caramel memilih makan, nasi goreng di pinggir jalan. Tepatnya di taman dekat danau.
Ia duduk di kursi bawah lampu taman, sembari menunggu nasi goreng yang sudah Ia pesan.
Tak sengaja Ia melihat cowok yang memakai jaket hoodie polos berwarna hitam berjalan entah ingin kemana.
Awalnya Caramel ingin memanggilnya, namun Ia takut jika harus berurusan dengan gengnya, apalagi geng Vogas.
Caramel memalingkan wajahnya ke layar handphone.
"Ra," sapa Gibran, yang sudah berdiri di samping kursi.
"Hah?" Caramel sedikit syok melihat Gibran sudah berada di sampingnya.
"Lo ngapain disini?"
"Gue lagi-"
"Maaf neng, ini nasi gorengnya." ucap penjual nasi goreng.
"Makasih bang," Caramel menerima satu piring nasi goreng, kemudian penjual itu pergi kembali ke grobaknya. "Ini gue mau makan, lo ngapain disini?"
"Gue nyari udara seger aja, gue boleh duduk disini?"
Caramel mengangguk, "Bo-boleh."
Bersambung....
salam my Kids My Hero
kisah Aluna
Aq msh setia..
aq msh setia lh nungguin....
semangat terus berkarya ya thor.. ceritamu bagus.. aku suka 👍👍