Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Adrian berdiri, langkahnya mendekati Kayna. Kini mereka berdiri berhadapan, jarak di antara mereka hanya beberapa jengkal. Kayna bisa mencium aroma kayu cedar dan besi dari pakaian pria itu.
"Dengarkan aku, Kayla," ucap Adrian pelan, suaranya nyaris seperti bisikan. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Aku tidak tahu kenapa kau tiba-tiba berubah dari wanita angkuh yang biasa kukenal menjadi... ini. Tapi aku bersumpah, aku tidak akan membiarkanmu mati di tanganku. Bukan karena aku peduli padamu, tapi karena aku tidak akan membiarkan namaku tercoreng sebagai pria yang membunuh tunangannya sendiri."
Kayna menatap mata Adrian lekat-lekat. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu di balik tatapan dingin pria itu. Bukan kebencian. Bukan kemarahan. Tapi... ketakutan?
"Kau takut," bisik Kayna. "Kau takut kalau aku mati, kau akan merasa bersalah."
"Aku tidak takut," bantah Adrian cepat, tapi suaranya sedikit bergetar. "Aku hanya tidak mau reputasiku hancur."
"Bohong."
Adrian terdiam. Rahangnya mengeras.
"Kau takut," ulang Kayna, kali ini lebih lembut. "Kau takut karena kau tidak mengerti kenapa aku ingin mati. Dan itu membuatmu merasa... tidak berdaya."
Adrian menatap Kayna, matanya membelalak seolah wanita di hadapannya baru saja membaca pikirannya. Ia mundur selangkah, lalu memalingkan wajah.
"Tidur di dipanmu," perintahnya kaku. "Aku akan tidur di sini. Dan jangan mencoba hal bodoh apapun, atau aku akan mengikatmu ke tempat tidur."
Kayna tersenyum tipis. Bukan senyum kemenangan, tapi senyum sedih. "Baiklah, Tuan Duke. Tapi kalau kau berubah pikiran dan ingin mengikatku, tolong gunakan tali yang lembut. Aku tidak mau meninggalkan bekas di kulitku untuk kehidupan selanjutnya."
Adrian tidak menjawab. Ia hanya berbaring di tempat tidurnya, membelakangi Kayna, menarik selimut hingga ke dagu.
Kayna berbaring di dipan kecilnya, menatap langit-langit batu pualam yang dingin. Kamar ini memang tidak punya celah. Tidak ada benda tajam, tidak ada jendela yang bisa dibuka, tidak ada bantal yang cukup lembut untuk suffokasi.
Tapi Kayna tahu satu hal bahwa setiap orang punya celah. Bahkan Duke Adrian yang dingin dan tak tergoyahkan.
Dan celah Adrian, tampaknya, adalah rasa bersalah.
"Selamat tidur, Tuan Duke," bisik Kayna pelan.
Adrian tidak menjawab. Tapi Kayna melihat bahunya yang tegang sedikit mengendur.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Kayna tidak bermimpi tentang ayahnya. Ia bermimpi tentang sebuah ruangan batu pualam, dan seorang pria berambut perak yang tidur dengan punggung membelakanginya, seolah sedang berusaha melindungi sesuatu yang tidak ingin ia akui.
***
Pagi hari di kamar batu pualam Duke Adrian terasa lebih dingin daripada es kutub.
Kayna membuka matanya, menatap langit-langit yang tidak memiliki ornamen apa pun. Punggungnya sakit karena kasur dipan yang sekeras batu. Ia menoleh ke samping. Duke Adrian masih tertidur di tempat tidur besarnya. Pria itu tidur dengan posisi miring, satu tangannya terulur keluar dari selimut, seolah secara tidak sadar sedang bersiaga untuk menangkap Kayna jika ia mencoba kabur.
Pria ini bahkan dalam tidurnya selalu waspada.. Merepotkan...
Kayna duduk, meregangkan tubuhnya. Tidak ada benda tajam. Tidak ada tali. Tidak ada jendela yang bisa dibuka. Ia sudah melakukan inspeksi ulang semalam. Kamar ini benar-benar steril dari alat bunuh diri.
Tapi Kayna adalah seorang yang pantang menyerah. Jika lingkungan tidak menyediakan alat, maka tubuhnyalah yang akan menjadi alatnya.
Pintu kamar berderit terbuka. Rosa masuk dengan nampan berisi sarapan, diikuti oleh Adrian yang kini sudah bangun dan duduk di tepi kasur, merapikan rambut peraknya yang sedikit berantakan. Mata Adrian ada kantung hitam tipis di bawahnya, tanda bahwa ia tidak tidur nyenyak karena harus mengawasi tunangannya yang "sakit mental".
"Selamat pagi, Tuan Duke. Nona Kayla," ucap Rosa dengan suara bergetar, meletakkan nampan di atas meja bundar di tengah ruangan. Ia langsung mundur tiga langkah, bersiap untuk berlari jika Kayna tiba-tiba mencoba menyuap dirinya sendiri dengan garpu (meski garpu itu sudah diganti dengan sendok kayu tumpul).
"Keluar, Rosa. Aku akan menyuapinya sendiri," perintah Adrian datar.
Rosa tampak lega setengah mati. "T-tentu, Tuan Duke!" Ia segera keluar, menutup pintu dengan cepat.
Adrian menarik kursi untuk Kayna, lalu menunjuknya. "Duduk. Makan."
Kayna dengan patuh duduk di kursi. Di atas piringnya ada sepotong daging panggang, beberapa lembar selada, dan dua potong roti panggang yang terlihat sangat kering. Adrian menuangkan teh ke dalam cangkir, lalu mendorongnya ke arah Kayna.
"Makan rotimu. Kau kurus," ucap Adrian, matanya menyapu tubuh Kayna.
Kayna menatap roti panggang itu. Roti yang sangat kering. Roti yang jika ditelan tanpa dikunyah dengan sempurna, bisa tersangkut di tenggorokan.
Ide brilian, Kematian akibat tersedak makanan. Itu akan tercatat sebagai kecelakaan tragis. Tidak ada hukuman gantung, tidak ada skandal pembunuhan. Dewa reinkarnasi pasti akan memberiku nilai plus untuk kematian yang tidak menyulitkan siapa pun.
..gagal terus🤣