Ini adalah cerita tentang seorang pria yang kembali ke masa lalunya.
Petualangannya terus dimulai. Ia kini harus menghadapi pendekar kuat yang datang dari alam lain. Seorang pendekar yang bahkan tidak ia temui di kehidupan pertamanya.
Jalan takdir telah berbeda akibat dirinya yang telah banyak membuat perubahan sejarah.
Apakah kali ini ia akan mampu bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasihat dari Raja Dunia
Boqin Changing melihat sekitarnya dan mengangguk kecil.
"Sepertinya reputasi sekte kita semakin baik."
"Tentu saja!" Wang Zhou menjawab dengan bangga. "Sekte Dua Pedang Petir sekarang bukan lagi sekte kecil yang bisa dipandang sebelah mata."
Di sisi lain, kedatangan Boqin Changing telah menarik perhatian seluruh lapangan. Para calon murid yang sebelumnya kecewa karena tidak melihat sosok Dewa Kematian kini menatap panggung tanpa berkedip.
"Siapa pemuda itu?"
"Bodoh! Kau tidak mengenalnya? Dia adalah Tetua Keempat Sekte Dua Pedang Petir!"
"Apa?! Tetua Keempat yang bergelar Dewa Kematian itu?"
"Benar! Tetua Boqin Changing!"
Begitu nama tersebut disebutkan, kerumunan langsung dipenuhi bisikan yang semakin ramai.
Sebagian calon murid telah mendengar kisah tentang Boqin Changing sebelum datang ke sekte. Mereka mengetahui bahwa pemuda itu bukan sekadar tetua biasa, melainkan sosok luar biasa yang namanya telah mengguncang dunia persilatan.
Ia dikenal sebagai Dewa Kematian, seorang pendekar yang memiliki kekuatan mengerikan. Bahkan, kedudukannya telah diakui sebagai salah satu dari lima pendekar terkuat dan paling berpengaruh di alam ini, Lima Raja Dunia!
Gelar tersebut bukan sesuatu yang bisa diperoleh sembarang orang. Mereka yang menyandangnya merupakan sosok yang berdiri di puncak dunia persilatan, memiliki kekuatan dan pengaruh yang mampu mengubah keseimbangan berbagai kekuatan besar.
Kini, salah satu dari lima sosok tersebut berdiri tepat di hadapan mereka.
"Dia benar-benar masih muda!"
"Mustahil! Bagaimana seseorang seusianya bisa menjadi salah satu dari lima pendekar terkuat di dunia?"
"Aku mendengar bahwa dia memiliki kemampuan yang tidak masuk akal. Bahkan para pendekar senior pun harus menghormatinya!"
Sejumlah calon murid menatap Boqin Changing dengan mata berbinar. Mereka tidak pernah menyangka akan melihat sosok yang selama ini hanya mereka dengar melalui cerita orang lain. Beberapa anak bahkan tanpa sadar melangkah maju, berusaha melihatnya dengan lebih jelas.
Seorang anak laki-laki yang berdiri di antara kerumunan menarik lengan rekan di sampingnya.
"Apakah dia benar-benar Dewa Kematian, Boqin Changing?"
Orang di sampingnya segera mengangguk.
"Benar. Ingat baik-baik wajahnya. Jika kau berhasil diterima di sekte ini, mungkin suatu hari nanti kau akan mendapat kesempatan untuk melihatnya lagi."
“Bahkan akan sangat baik jika kau bisa menjadi muridnya.”
Mata anak itu semakin berbinar.
"Aku ingin menjadi pendekar yang kuat seperti dia!"
Ucapan tersebut terdengar sederhana, tetapi dengan cepat menular kepada anak-anak lain di sekitarnya.
Mereka yang sebelumnya hanya berharap dapat diterima sebagai murid biasa kini memiliki tujuan yang lebih besar. Jika Boqin Changing benar-benar berada di sekte ini, mereka ingin suatu hari nanti memperoleh pengakuannya.
Sementara itu, beberapa calon murid yang berasal dari keluarga berpengaruh menunjukkan ekspresi berbeda. Mereka telah mendengar banyak cerita tentang Boqin Changing, tetapi melihatnya secara langsung tetap memberikan kesan yang jauh lebih kuat daripada sekadar mendengar namanya.
Boqin Changing menyadari bahwa hampir semua mata tertuju kepadanya. Ia menghela napas kecil.
“Sepertinya aku kembali pada waktu yang cukup ramai.”
Wang Zhou tampaknya memahami hal itu. Ia kemudian menunjuk ke arah kursi yang berada tidak jauh darinya.
"Tetua Keempat, silakan duduk bersama kami. Ujian penerimaan murid baru akan segera dimulai."
Boqin Changing menggelengkan kepalanya pelan.
“Sebentar, Patriak Zhou. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepada mereka terlebih dahulu.”
Wang Zhou sedikit terkejut, tetapi ia tidak menolak. Ia mengangguk dan memberi ruang kepada Boqin Changing untuk melakukan apa yang diinginkannya.
Boqin Changing kemudian melangkah maju. Tubuhnya perlahan terangkat hingga melayang di udara. Ia berhenti beberapa meter di atas tanah, lalu mengarahkan pandangannya ke depan.
Di hadapannya terbentang lapangan luas yang dipenuhi belasan ribu calon murid. Semua orang mengangkat kepala, ingin mengetahui apa yang hendak dilakukan sosok legendaris tersebut.
Boqin Changing menyapu mereka dengan pandangan tenang. Tatapannya tidak tajam, apalagi menunjukkan kemarahan. Ia hanya memandang mereka seperti seseorang yang sedang menilai sekelompok anak muda.
Namun, entah mengapa, hampir semua calon murid merasakan tekanan yang sulit dijelaskan. Beberapa anak spontan menelan ludah. Ada pula yang tanpa sadar merapatkan kedua kaki, berusaha berdiri tegak meskipun jantung mereka mulai berdebar lebih cepat.
Mereka tahu siapa pria yang sedang melayang di hadapan mereka. Boqin Changing bukan pendekar biasa. Ia mempunyai julukan Dewa Kematian dan salah satu dari Lima Raja Dunia. Sosok yang namanya telah dikenal di berbagai wilayah, bahkan membuat banyak pendekar senior harus memperlakukannya dengan penuh hormat. Bagi anak-anak yang bahkan belum resmi menjadi murid sekte, berdiri di hadapannya saja sudah merupakan pengalaman yang luar biasa.
Boqin Changing akhirnya membuka mulut.
“Kalian semua datang ke Sekte Dua Pedang Petir dengan harapan menjadi pendekar yang kuat. Sebagian dari kalian mungkin ingin mengubah nasib keluarga, sebagian lainnya ingin memperoleh kedudukan atau kekayaan. Ada pula yang sekadar ingin membuktikan bahwa dirinya lebih hebat daripada orang lain.”
Suaranya tidak keras, tetapi terdengar jelas hingga ke bagian belakang lapangan.
“Apa pun tujuan kalian, ingatlah satu hal. Menjadi pendekar bukan hanya soal memiliki bakat yang baik atau memperoleh teknik kultivasi yang hebat.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam pikiran mereka.
“Kalian membutuhkan mental baja, daya tahan yang kuat, serta sikap yang pantas. Dalam perjalanan kultivasi, kalian akan menghadapi kesulitan, rasa sakit, kekalahan, bahkan penghinaan. Jika baru menghadapi sedikit kesulitan saja kalian sudah menyerah, lebih baik jangan bermimpi menjadi pendekar hebat.”
Sejumlah calon murid langsung menundukkan kepala. Mereka menyadari bahwa jalan yang hendak ditempuh tidak akan semudah yang dibayangkan.
Boqin Changing melanjutkan dengan nada yang tetap datar.
“Selain itu, aku tidak peduli seberapa hebat latar belakang keluarga kalian. Anak seorang bangsawan, putra seorang penguasa kota, atau keturunan keluarga pendekar ternama, semuanya sama di hadapanku selama kalian masih menjadi murid sekte ini.”
Tatapannya sedikit mengeras.
“Jika kalian diterima, patuhi aturan sekte dan hormati para tetua serta sesama murid. Jangan menggunakan nama keluarga kalian untuk menindas orang lain. Jangan pula merasa bisa bertindak semaunya hanya karena memiliki bakat yang lebih baik.”
Ia mengangkat satu tangan, lalu menunjuk ringan ke arah kerumunan.
“Siapa pun yang tidak mampu menjaga sikapnya, cepat atau lambat akan berurusan denganku.”
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan tenang. Akan tetapi, justru ketenangan itulah yang membuat ucapan tersebut terdengar seperti ancaman.
Beberapa anak saling melirik. Mereka belum menjadi murid, tetapi sudah bisa membayangkan betapa mengerikannya jika benar-benar harus berhadapan dengan Dewa Kematian.
Pada saat yang sama, aura Boqin Changing mulai menyebar dari tubuhnya. Tidak ada cahaya mencolok atau ledakan energi yang mengiringinya. Hanya tekanan tak kasatmata yang perlahan menyelimuti lapangan.
Itu adalah Aura Raja. Aura yang hanya dimiliki oleh para pendekar yang telah mencapai kedudukan luar biasa dalam dunia persilatan. Bukan sekadar pancaran kekuatan biasa, aura tersebut mengandung tekanan yang mampu merusak lingkungan di sekitarnya apabila dilepaskan tanpa kendali.
Boqin Changing tentu memahami betapa berbahayanya kekuatan itu. Oleh karena itu, ia hanya melepaskan sebagian yang sangat kecil. Jika ia mengeluarkan Aura Raja dalam kadar maksimal, jangan berharap anak-anak di hadapannya mampu bertahan. Bahkan bangunan dan tanah di sekitar lapangan pun bisa mengalami kerusakan akibat tekanannya.
Meskipun begitu, sedikit aura yang dilepaskannya sudah cukup untuk membuat suasana berubah drastis.
“Ah!”
Seorang anak laki-laki tiba-tiba mengerang sambil memegangi dadanya. Tubuhnya terasa seolah-olah dilempar batu besar. Ia berusaha menarik napas, tetapi tekanan yang menyelimuti tubuhnya membuat setiap tarikan napas terasa berat.
Anak-anak lain mengalami hal serupa. Rasa sakit menjalar ke sekujur tubuh mereka. Lutut beberapa calon murid mulai bergetar, sementara keringat dingin membasahi dahi mereka.
Mereka tidak memahami apa yang sedang terjadi. Tidak ada seorang pun yang menyerang mereka, tetapi tubuh mereka seakan dipaksa menanggung beban yang jauh melampaui kemampuan mereka. Beberapa anak akhirnya tidak sanggup bertahan dan berlutut di tanah.
Bahkan sejumlah calon murid yang berasal dari keluarga pendekar pun kesulitan mempertahankan posisi berdiri. Mereka telah menjalani latihan sejak kecil, tetapi di hadapan tekanan tersebut, latihan mereka terasa tidak berarti.
Di atas udara, Boqin Changing mengamati semuanya dengan tenang. Ia tidak berniat melukai mereka. Tekanan itu hanyalah peringatan agar mereka memahami bahwa dunia persilatan bukan tempat bagi orang yang hanya mengandalkan keberanian tanpa mengetahui batas kemampuannya.
Beberapa saat kemudian, ia menarik kembali auranya tersebut. Tekanan yang menyelimuti lapangan langsung menghilang.
Anak-anak yang sebelumnya kesulitan bernapas mulai menarik napas panjang. Mereka yang berlutut segera mengangkat kepala, sementara yang masih berdiri berusaha menenangkan tubuh mereka yang gemetar.
Boqin Changing menatap mereka sekali lagi.
“Ingat baik-baik apa yang kusampaikan tadi. Aku tidak ingin mengulanginya untuk kedua kalinya.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia berbalik dan perlahan turun dari udara.
Wang Zhou yang sejak tadi menyaksikan semuanya hanya bisa tersenyum tipis. Ia sudah mengenal watak Tetua Keempatnya, sehingga tidak terlalu terkejut dengan cara Boqin Changing memberikan nasihat kepada para calon murid.
Nasihat itu memang terdengar seperti ancaman. Namun, bagi orang-orang yang memahami dunia persilatan, perkataan tersebut bukanlah sesuatu yang berlebihan.
Wang Zhou segera menunjuk kursi yang telah disediakan di sampingnya.
“Silakan duduk, Tetua Keempat.”
Boqin Changing mengangguk kecil, lalu berjalan menuju tempat duduk tersebut. Ia duduk dengan santai seolah tidak baru saja membuat belasan ribu orang merasakan tekanan yang mengerikan.
Di bawah panggung, suasana masih belum sepenuhnya pulih. Wajah banyak calon murid tampak pucat. Pakaian beberapa anak bahkan telah dibasahi keringat dingin. Mereka saling memandang, seakan masih sulit mempercayai apa yang baru saja mereka alami.
Namun, di balik rasa takut tersebut, ada perasaan lain yang perlahan tumbuh di hati mereka, Kekaguman. Mereka akhirnya memahami sedikit alasan mengapa Boqin Changing bisa berdiri di puncak dunia persilatan pada usia yang begitu muda.
Hanya dengan melepaskan sebagian kecil auranya, ia sudah mampu membuat ribuan orang kehilangan kemampuan untuk berdiri dengan tenang. Mereka bahkan tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya kekuatan yang sesungguhnya dimiliki pria itu.
Anak laki-laki yang sebelumnya mengatakan ingin menjadi pendekar sekuat Boqin Changing kembali mengepalkan kedua tangannya.
Meski wajahnya masih pucat, matanya justru semakin berbinar.
“Aku pasti akan menjadi kuat!”
Ucapan itu terdengar oleh anak-anak di sekitarnya. Beberapa mengangguk setuju, sementara yang lain mengepalkan tangan dengan tekad serupa.
“Aku akan menjadi sekuat Tetua Boqin Changing!”
Mereka memang baru saja merasakan betapa besarnya jarak antara diri mereka dan seorang pendekar sejati. Akan tetapi, alih-alih membuat mereka menyerah, pengalaman itu justru menumbuhkan keinginan untuk menjadi lebih kuat.
Bagi mereka, Boqin Changing bukan lagi sekadar sosok legendaris yang hanya bisa didengar melalui cerita. Hari ini, mereka telah melihat kekuatannya dengan mata kepala sendiri. Mereka ingin suatu hari nanti mencapai ketinggian yang sama.