NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

🔥CRAZY UP🔥

Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.

Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.

Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Sabtu, 24 Oktober, Kopi Sore sudah buka sebelum meja jendela terisi. Kafe Mei di lantai dasar rumah toko di Jalan Kemang Raya hanya punya delapan meja. Lampunya hangat. Espresso-nya lebih baik daripada kursinya. Dapur sempit, dan dari pintu dapur terdengar Mei memarahi tutup gula yang macet tanpa menjadikan itu tragedi.

Alina datang lebih dulu, pena di saku, dua lembar kertas kosong yang tidak bermaterai. Ia memilih meja pojok dekat pintu dapur, tidak di jendela yang menghadap jalan. Cukup tersembunyi untuk tidak menjadi pertunjukan, cukup terbuka untuk tidak terlihat seperti pertemuan yang disangkal. Mei meletakkan kopi di depannya dan tidak bertanya dengan suara pelanggan.

“Makan dulu,” katanya. “Roti sudah di panggangan. Aturan yang ditulis lapar biasanya menghukum salah satu pihak.”

“Saya tidak lapar.”

“Itu bukan alasan yang saya terima.” Mei mendorong piring kecil ke sisi meja. “Dia datang sendiri atau diantar mobil perusahaan? Kalau ada supir yang menunggu di depan, suruh pergi. Kafe ini tidak menambah saksi yang tidak minum.”

“Sendiri,” kata Alina. “Saya yang minta begitu.”

Adrian tiba sepuluh menit kemudian. Bukan jas rapat. Kemeja tanpa dasi, jam tangan Darmawan tetap di pergelangan. Ia berhenti di pintu seperti orang yang menghitung meja, lalu berjalan ke pojok ketika Alina mengangkat pena, bukan tangan. Di kasir ia memesan dengan kalimat yang terlalu lengkap untuk sebuah kopi. Mei memotong.

“Americano. Kursinya memang jelek. Tidak perlu Anda nilai tempatnya. Duduk saja.”

Adrian duduk di seberang Alina. Lutut mereka tidak bersentuhan di bawah meja yang sempit. Ia membuka buku catatan kulit, halaman kosong, dan tidak menulis lebih dulu.

“Aturan,” katanya.

“Saya yang tulis.” Alina menarik kertas kafe yang agak kasar. “Supaya jelas siapa yang menyusun. Anda baca. Kalau ada yang tidak bisa Anda pegang, coret sekarang. Jangan nanti.”

Mei tidak ikut duduk di meja mereka. Ia mengambil meja samping, lap di bahu, posisi yang bisa mendengar tanpa menjadi pihak ketiga yang manis. Seorang pelanggan memesan di depan. Mei melayaninya dulu, lalu kembali. “Lanjut. Saya tidak hilang.”

Alina menulis baris pertama tanpa menunggu pembuka.

Satu. Tidak ada ciuman dalam kondisi apa pun selama sandiwara.

Adrian membaca. “Dalam kondisi apa pun. Termasuk kalau ada orang yang menganggap kita kaku.”

“Terutama kalau ada orang yang menganggap kita kaku,” kata Alina. “Kekakuan bisa dijelaskan. Mulut tidak bisa ditarik kembali. Kalau Anda butuh yang lebih dari itu, cari orang lain.”

“Tidak perlu orang lain. Tulis.”

Dua. Tidak ada pernyataan “pacar” atau “kekasih” ke media tanpa kesepakatan kalimat tertulis terlebih dahulu.

“Yusuf sudah mengirim kalimatnya,” kata Adrian. Ia tidak membuka surel di meja. Ia mengulang dari ingatan. “Hubungan pribadi, tidak relevan dengan transaksi. Itu yang boleh. Tidak ada kata akses. Tidak ada kata data room.”

Alina menambah di bawah nomor dua: kalimat standar hanya itu, dan tidak boleh diperpanjang di tempat. Adrian mengangguk.

Tiga. Sentuhan maksimal di siku atau punggung tangan, dan hanya jika kamera atau saksi publik ada.

“Tidak di mobil,” kata Alina. “Tidak di lift. Tidak untuk latihan.”

“Saya tidak berniat latihan.” Adrian menatap aturan itu lebih lama daripada yang lain. “Kalau saya salah jarak, Anda yang bilang. Jangan disimpan jadi catatan diam.”

“Saya akan bilang di tempat.”

Empat. Alina tetap diperkenalkan sebagai konsultan eksternal dalam konteks bisnis. Status pribadi hanya dijawab dengan kalimat standar yang sudah disepakati.

“Di Menara, badge tetap badge,” katanya. “Kalau ada rapat, saya bukan pasangan yang mendampingi. Saya orang yang bekerja, atau saya tidak masuk.”

“Setuju.”

Adrian hampir menambah satu baris tentang foto yang boleh diunggah perusahaan. Alina mengetuk meja sekali, pelan.

“Jangan ditambah di sini,” katanya. “Foto, kalau ada, ikut kalimat Yusuf. Tidak ikut selera kamera. Dan tidak ditulis seolah saya setuju lebih dari yang ada di kertas ini.”

“Tidak saya tambah.”

Lima. Sandiwara berakhir otomatis jika salah satu pihak meminta secara tertulis, atau setelah closing Pesisir Garuda, atau setelah rumor utama reda — mana yang lebih dulu.

Adrian meminta satu tambahan yang tidak memperpanjang masa. “Permintaan tertulis itu tidak perlu alasan yang disetujui pihak lain. Cukup diterima.”

Alina menulisnya di ujung nomor lima. “Cukup diterima. Bukan dinegosiasi.”

Enam. Tidak ada kunjungan ke rumah atau apartemen masing-masing.

“Termasuk Tebet,” kata Alina. “Termasuk Senopati. Kalau perlu bicara di luar kantor, tempatnya umum. Kafe ini boleh. Lobi boleh. Rumah tidak.”

Adrian tidak menawarkan kunci, alamat, atau alasan keamanan. “Tidak ada kunjungan.”

Tujuh. Mei Lestari dan Dimas Wiratama sebagai saksi aturan ini.

“Dimas tidak ada di sini,” kata Mei dari meja samping. “Jangan tulis seolah saya mewakili dia. Dia bisa menandatangani salinan kantor. Saya hanya menandatangani yang saya lihat.”

“Nama dia tetap,” jawab Alina. “Sebagai saksi yang akan membaca rangkapnya. Tanda tangan hari ini cukup Anda. Kalau dia menolak jadi saksi, aturan ini dibahas ulang sebelum ada kamera.”

Adrian mengirim pesan satu baris ke Dimas, tanpa isi aturan: besok ada salinan yang perlu ditandatangani sebagai saksi, bukan sebagai penulis. Balasan Dimas datang cepat. “Kirim. Saya tanda tangan. Saya tidak menambah klausul.”

Mei membaca daftar itu dari samping dan tertawa pelan. “Kalian seperti sedang menyusun kontrak perceraian sebelum menikah. Bagus. Lebih baik jelas daripada nanti salah satu merasa dipakai dan marah diam-diam.”

Adrian tidak tersinggung. Alina juga tidak. Tidak ada yang tersenyum cukup lama untuk dijadikan foto.

Mereka menyalin daftar yang sama ke lembar kedua. Adrian juga memindahkan ketujuh nomor itu ke buku catatannya, hurufnya lebih kecil, tanpa tambahan. Dua salinan kertas kafe tetap yang ditandatangani. Alina menandatangani keduanya lebih dulu, nama lengkap, tanggal 24 Oktober. Adrian menandatangani di bawahnya. Tinta pena Alina sempat membekas tipis di jari telunjuknya. Ia mengelap di tisu, bukan di baju.

Mei menandatangani sebagai saksi di kedua lembar. Di pinggir salinan Alina ia menambah coretan kecil, hurufnya miring, tidak rapi seperti klausul yang lain.

“Saya tidak bertanggung jawab kalau kalian saling benci lebih parah dari sebelumnya.”

“Itu bukan klausul,” kata Adrian.

“Itu peringatan pemilik meja,” jawab Mei. “Kertas ini boleh kalian bawa. Jangan kalian jadikan kafe saya ruang ganti peran. Kalau datang lagi, pesan minum. Bayar. Dan jangan pegang siku siapa pun di depan mesin kopi. Pelanggan saya tidak ikut kontrak.”

Alina membaca ketujuh baris sekali lagi, pelan, cukup untuk dua orang di meja itu. Tidak ada yang minta kata “benci” di coretan Mei dihapus. Ia lalu melipat salinannya sekali. “Tidak ada siku hari ini. Tidak ada kamera.”

“Bagus.” Mei mengambil piring yang hanya separuh kosong. “Sekarang pergi sebelum saya mulai sayang pada aturan kalian dan merasa harus ikut campur. Saya tidak ikut campur. Saya cuma tidak mau teman saya pulang tanpa salinan.”

Siang itu mereka tidak pulang bersama. Adrian membayar kopinya sendiri. Alina membayar rotinya sendiri walaupun Mei mencoba menolak. Di depan kafe mereka berhenti satu langkah lebih jauh dari jarak bicara biasa, hanya karena trotoarnya sempit, lalu saling mengangguk.

“Salinan Dimas saya kirim lewat Sari, Senin,” kata Adrian. “Bukan lewat chat. Kalimatnya tidak perlu hidup di ponsel orang banyak.”

“Foto, kalau harus ada, setelah Dimas tanda tangan,” jawab Alina. “Dan setelah saya baca ulang di rumah. Kalau ada yang terasa lain di kertas daripada yang tadi diucapkan, saya batalkan sebelum minggu.”

“Bacalah.”

Ia pergi lebih dulu ke arah halte. Adrian menunggu sampai Alina tidak terlihat, bukan karena menjaga, karena ia tidak mau berjalan sejajar dan menciptakan gambar yang aturannya sendiri belum izinkan.

Sore itu Alina sampai di Tebet dengan salinan di tas. Lampu tangga mati di tanjakan kedua. Di studio ia menempelkan kertas itu di bagian dalam lemari, dekat meja lipat, di samping coretan angka 12,4 dan 18,9 serta daftar batas akses dari Sari. Coretan Mei di pinggir tidak ia tutupi. Bukan romansa. Hanya batas yang ditulis agar tidak dilanggar, dan agar nanti tidak ada yang bisa bilang “saya tidak tahu”.

Adrian menyimpan salinannya di laci meja kerja apartemen, bukan di map kontrak resmi yang masih terkunci di Menara. Laci itu biasanya berisi nota dan pena cadangan. Hari ini ada kertas kafe yang tepinya kasar. Malam itu ia membaca ulang aturan nomor tiga dan nomor tujuh, lalu menutup buku catatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!