NovelToon NovelToon
Indahnya Jatuh Cinta

Indahnya Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:23.6k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu Harus Sadar Diri!

Disisi lain, di pabrik sepatu tempat Ayara bekerja, kehidupan berjalan seperti biasa. Deru mesin jahit beradu riuh dengan langkah kaki para buruh yang bergegas menyelesaikan target produksi mingguan.

​Ayara berdiri di posisinya, jemarinya cekatan merapikan lembaran bahan kulit sintetis. Namun, fokusnya beberapa kali buyar, karena pikirannya melayang pada ucapan Althaf semalam.

​"Ra! Kesambet apa kamu dari tadi senyam-senyum sendiri terus jahitannya hampir melenceng gitu?" tegur Mbak Intan, berdiri di meja seberang dan menyadarkan Ayara dari lamunannya.

​Ayara tersentak kecil, lalu buru-buru menggeleng. "Eh, nggak apa-apa kok, Mbak. Lagi mikirin pesanan sepatu yang numpuk aja."

​"Hati-hati, jangan kebanyakan melamun. Nanti dimarahin pengawas tahu rasa kamu!" timpal Mbak Intan ketus sebelum kembali fokus pada mesinnya.

​Ayara menghela napas panjang, mencoba membuang jauh-jauh bayangan wajah Althaf dari kepalanya dan kembali berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya.

Sore harinya, Ayara pulang seperti biasanya. Namun, entah apa yang terjadi hari ini, ada rasa gugup pada diri Ayara. Saat Ayara sampai rumah, ia segera membersihkan tubuhnya dan menyiapkan beberapa makanan.

"Kamu masak banyak gini buat siapa, Ra?" tanya Ibu Yati, yang baru saja pulang setelah membersihkan rumah salah satu tetangga.

"Bukan buat siapa-siapa, Bu. Ini buat kita makan aja," jawab Ayara.

"Apa nggak kebanyakan?" tanya Ibu Yati.

"Nggak kok, Bu." jawab Ayara.

"Oh ya, kemarin martabak sama oleh-olehnya Ibu kasih ke tetangga, Nggak apa-apa kan, Mbak?" tanya Ibu Yati.

"Nggak apa-apa, Bu. Lagipula sebanyak itu juga kita nggak akan habis," jawab Ayara.

"Tadi Arlan juga bawa buat teman-temannya di bengkel," ucap Ibu Yati.

"Iya, Ibu kasih aja," balas Ayara.

​Waktu terus merayap naik, jarum jam dinding di ruang tamu rumah Ayara kini telah menunjuk pukul delapan malam. Suasana di dalam rumah itu perlahan menjadi senyap, hanya terdengar suara dengung kipas angin tua dan suara jangkrik dari luar jendela.

​Ibu Yati sudah masuk ke kamarnya untuk beristirahat setelah seharian lelah bekerja, sementara Arlan berada di belakang dan sibuk membersihkan pakaian kerjanya yang bernoda oli.

​Ayara duduk seorang diri di kursi kayu teras depan, matanya sesekali melirik ke arah ujung gang sempit yang tampak sepi dan temaram. Ada perasaan aneh yang bergolak di dalam dadanya, campuran antara rasa lega yang mendalam dan secercah rasa penasaran yang sulit ia akui.

Perkataan Althaf kemarin, terngiang-ngiang jelas di kepala Ayara. Namun kenyataannya, hingga malam semakin larut dan jalanan gang kian sepi, pria itu belum juga datang.

​Ayara mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum kecil menertawakan kebodohannya sendiri. 'Kenapa juga kamu harus menunggu dia, Ayara? Kamu jangan berharap lebih, Ayara. Kamu harus sadar diri! Lagipula mana mungkin dia datang sih, kemarin dia datang karena dia nganterin kamu,' batin Ayara merutuki harapannya yang sempat melambung.

​Ayara berdiri, merapikan piring bekas makan malam yang masih ada di atas meja kecil, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Dengan perasaan hampa yang disembunyikan di balik senyum tipis, Ayara menutup pintu depan dan menguncinya rapat-rapat, lalu bersiap untuk tidur.

​Jauh dari rumah Ayara tinggal, di sebuah ruang kerja berarsitektur modern dengan lampu gantung kristal yang mewah, Althaf masih tampak duduk di balik meja kerjanya yang luas.

​Pukul delapan malam bagi kebanyakan orang mungkin waktunya untuk bersantai atau beristirahat di rumah. Namun bagi Althaf, malam hari sering kali menjadi babak baru dari hari yang melelahkan.

​Tumpukan berkas perkara sengketa lahan milik kliennya berserakan di atas meja. Kacamata baca tipis bertengger di batang hidungnya, sementara jemarinya dengan cepat mengetik beberapa catatan penting di layar laptop. Di hadapannya, Rendy sang asisten berdiri dengan sikap siap siaga.

​"Jadi, Pak Althaf, saksi kunci dari pihak penggugat ternyata mangkir dari panggilan sidang mediasi karena alasan kesehatan. Tim kita menduga mereka sengaja mengulur waktu," ucap Rendy dengan nada serius.

​Althaf menghentikan ketikannya. Ia melepaskan kacamata bacanya, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kerja kulit yang empuk, sorot matanya tajam menerawang ke depan.

​"Mangkir? Cari tahu di rumah sakit mana dia dirawat sekarang, pastikan tim medis independen kita yang memeriksa kondisinya besok pagi. Saya tidak mau persidangan minggu depan tertunda hanya karena alasan seperti itu," perintah Althaf dengan suara baritonnya yang tegas dan berwibawa.

​"Baik, Pak," sahut Rendy mengangguk cepat.

​"Satu lagi, batalkan semua jadwal rapat eksternal saya untuk hari Senin minggu depan. Saya ada keperluan pribadi yang tidak bisa ditunda," lanjut Althaf tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

​Rendy sempat tertegun sejenak. Selama ia bekerja mendampingi Althaf, ia dikenal sebagai sosok gila kerja yang hampir tidak pernah mengambil cuti atau membatalkan rapat penting demi urusan pribadi, namun Rendy cukup profesional untuk tidak banyak bertanya.

"Baik, Pak Althaf. Akan saya sesuaikan jadwalnya," jawab Rendy.

​Setelah Rendy membungkuk hormat dan keluar dari ruangan, Althaf kembali memijat pelipisnya yang terasa sedikit pening. Pria itu menatap jam di pojok kanan bawah layar laptopnya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat sepuluh menit.

"Maaf, aku tidak menepati perkataanku yang ingin datang ke rumah kamu. Setelah masalah ini selesai, kasus yang aku tangani berkurang, dan aku akan datang menemuimu," gumam Althaf.

.

Keesokan harinya, ​Seperti biasa, pukul lima pagi Ayara sudah bangun, membantu Ibu Yati menyiapkan sarapan pagi sebelum ia bergegas berangkat ke pabrik.

​Sesampainya di pabrik, rutinitas melelahkan kembali menyita seluruh perhatian Ayara. Deru mesin jahit, bau lem sintetis dan teguran dari pengawas pabrik menjadi menu sehari-hari yang harus ia hadapi dengan senyum tegar.

​Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama ketika jam istirahat siang tiba. ​Saat Ayara sedang duduk di kantin untuk istirahat tiba-tiba Arlan meneleponnya, dan Ayara pun segera mengangkat telepon tersebut.

^^^[Ada apa, Lan?] - Ayara^^^

[Mbak, Arlan di kantor polisi] - Arlan

Mendengar perkataan Arlan, jantung Ayara seolah berhenti berdetak, ia tidak tahu harus bagaimana dalam situasi ini.

^^^[Kok bisa?] - Ayara^^^

[Ayara dituduh mencuri, Mbak. Tapi, sumpah Mbak, Arlan nggak mencuri... Mbak bisa kesini, Arlan disuruh panggil wali untuk mengurus masalah ini] - Arlan

^^^[Mbak izin dulu ya] - Ayara^^^

[Iya, Mbak. Maafin Arlan, Arlan bingung harus gimana lagi. Arlan nggak mungkin telepon Ibu] - Arlan

^^^[Kamu sudah benar, kalau ada apa-apa telepon Mbak aja. Jangan sampai Ibu tahu] - Ayara^^^

[Iya, Mbak] - Arlan

Setelah itu, Ayara kembali memasukkan bekalnya kedalam tas, dan segera meminta izin setengah hari. Untung saja, Ayara diperbolehkan izin sehingga tidak perlu drama berlebihan.

.

.

.

Bersambung.....

1
lia juliati
shalat Istikharah neng ara🙏
Aidil Kenzie Zie
nyumbang 1vote tor
Felycia Fernandez
kan waktu di resto juga udah ketemu Lngsung, walaupun cuma sebentar 🤔
Felycia Fernandez
naaah sepemikiran kita Ay...
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita
Nani Haryatiyati
Senin....voteeee
Lala_Syalala
keren Thor,, ditunggu buat kelanjutan ceritanya 💪🏻💪🏻🥰🥰🥰
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Indra Reza Zulkifli
jujur li,,,yg beginian cuma ada d dunia novel 🤭
Felycia Fernandez: bener bnget...
dimana mana sekarang orang2 pasti pilih pasangan yang setara,paling tidak setara dalam pekerjaan
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si Papa pasrah saja sama pilihan anaknya 👍🏻👍🏻👍🏻
lia juliati
semangat althaf 💪
Rizky Manik
apa alasan papa gksukak sama ayara? apa cuman karena beda kasta?
Kaylaa
maksude piye to pak....katane krg suka....apa terpaksa...🤔
Felycia Fernandez: ya terpaksa kk karena takut anaknya marah,gak tulus kan 😆😆😆
total 1 replies
Felycia Fernandez
gak melarang,tapi kamu gak menerima Ayara jadi menantu sama aja boong pak...menantu mana yang mau tiap ketemu mertua tapi mertua nya jutek ke dia😠
Felycia Fernandez
ya gimana nggak minder,bapaknya aja kasar gtu ngomongnya.blom lagi ntar di pernikahan Ayara pasti bakalan sering ketemu mertua nya,pasti dia merasakan takut gak diterima
Felycia Fernandez
kasar ngomongnya,terang terangan mengusir 😠
Aidil Kenzie Zie
terima aja Yara🥰🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Ayara nyerah duluan sebelum berperang 😓😓😓😓 lagian yang mau nikah kan kalian wong Althaf baik banget lagi dimana coba mau cari cowok spek Althaf gitu😓😓😓
Nani Haryatiyati
yaaahhhhh bersambung pemirsa,besok lagiiii
lia juliati
wow..... selamat berjuang althaf
Nurminah
nggak mudah nikah beda kasta harus punya mental sekuat baja dan laki-laki pendamping kita harus jadi garda terdepan untuk membela karena kalo berdiri sendiri habis mental kita
Felycia Fernandez: bener banget KK, apalagi pernikahan bukan hanya tentang suami istri tapi ada mertua juga.sebahagia apapun kalau mertua tidak suka sama aja gak merestui hubungan kita.pasti gak akan tenang pernikahan nya.gak mungkin kan tiap ada acara kita suami istri gak hadir
total 2 replies
Valen Angelina
smuaa orang pasti akan berkcil hati..... nmnya juga kita orang miskin tiba2 ada ornag kaya melamar kita... klo dunia nyata lbih baik nikah sama orang setara sama kita....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!