**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu dari Keluarga Menak
Raka bangkit dengan gugup, meletakkan alat tes kehamilan itu di atas meja dengan hati-hati, lalu berjalan keluar ke teras sambil menekan tombol hijau di layar ponselnya.
Aina tidak mengikutinya. Ia hanya berdiri di balik jendela ruang tamu yang tirainya setengah terbuka. Dari sana, suara Raka terdengar cukup jelas.
"Iya, Dinda."
Hening sebentar. Aina tidak bisa mendengar suara di seberang, tetapi ia bisa melihat punggung Raka menegang.
"Tidak, Abang tidak apa-apa. Tadi tiba-tiba ada telepon dari mandor, ada masalah di proyek. Makanya Abang suruh kamu pulang, biar Abang bisa langsung berangkat."
Aina memejamkan mata, Begitu lancar. Begitu tenang. Tidak ada jeda, tidak ada gagap. Kebohongan itu meluncur seperti air yang sudah bertahun-tahun mengalir di jalur yang sama.
"Ibu Aina?" Raka tertawa kecil, tawa yang dibuat-buat. "Ah, Abang pernah urus berkas proyek di kantor camat. Mungkin pernah ketemu sekali dua kali. Kenapa?"
Jeda yang lebih panjang.
"Pucat? Mungkin dia memang sedang sakit, Dinda. Sudahlah, jangan dipikirkan."
Aina menekan telapak tangannya ke dada, Jadi Sekar memperhatikan. Perempuan itu menyadari ada yang tidak beres di loket tadi.
"Abang di mana? Di… di rumah teman, di Sengkol. Mau ambil berkas." Raka melirik ke arah jendela, dan untuk sesaat matanya bertemu mata Aina. Ia buru-buru membuang pandangan. "Iya. Nanti malam Abang pulang. Peluk Arsya buat Abang, ya."
Sambungan terputus.
Raka masuk kembali dengan langkah berat. Ia tidak berani menatap Aina.
"Rumah teman," ulang Aina pelan. "Jadi itu aku sekarang, Mas? Kemarin orang rumah. Hari ini rumah teman."
"Na, Mas harus bilang begitu. Kalau tidak…"
"Kalau tidak, apa?"
Raka mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Kalau Sekar tahu, keluarganya tidak akan tinggal diam. Mamik-nya orang terpandang di Kuta. Ini soal adat Na, Soal nama baik dua keluarga. Mas bisa diusir. Arsya bisa…"
"Lalu bagaimana dengan aku?" potong Aina. "Nama baikku? Pekerjaanku? Kamu tahu aku bisa diberhentikan dari PNS karena jadi istri kedua? Kamu pernah memikirkan itu waktu kamu memalsukan statusmu di KUA?"
Raka terdiam. Dari wajahnya, jelas ia tidak pernah memikirkannya.
Aina menarik napas panjang. Ia lelah. Lelah menangis, lelah marah, lelah mendengar alasan.
"Pulanglah, Mas."
"Na…"
"Pulang ke Dusun bunut. Ke rumahmu yang sebenarnya." Suaranya tenang tetapi tegas. "Kalau kamu ingin anak ini mengenal ayahnya suatu hari nanti, mulai hari ini berhenti berbohong. Kepada siapa pun. Termasuk kepada Sekar."
Raka menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya. Penyesalan, atau mungkin ketakutan. Aina tidak bisa lagi membedakannya.
Akhirnya lelaki itu mengambil kunci motornya. Di ambang pintu, ia kemudian berhenti dan menoleh.
"Mas sayang kamu Na, Itu tidak pernah bohong."
Aina tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung suaminya menjauh, lalu mendengar suara motor bebek tua itu menghilang di ujung gang.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Aina menelepon ibunya di Praya sambil menangis.
Ia tidak menceritakan apa-apa. Ia tidak sanggup. Ia hanya terisak di telepon, dan ibunya, perempuan tua yang sudah membesarkan lima anak dengan tangannya sendiri, tidak bertanya.
"Pulanglah besok, Nak," kata Ibu-nya lembut. "Apa pun itu, pulanglah dulu ke rumah. Ibu masakkan pelecing kangkung kesukaanmu."
Aina menutup telepon dengan perasaan sedikit lebih ringan. Ia mengemasi beberapa helai pakaian ke dalam tas, menyelipkan buku nikah dan fotokopi kartu keluarga palsu itu ke dalam map, seperti saran Rini. Bukti, katanya. Semuanya harus dikumpulkan.
Ia tertidur menjelang subuh, dengan tangan melingkar di perutnya.
Pagi harinya, Aina baru selesai mengunci jendela ketika suara mesin mobil berhenti di depan rumah.
Ia mengintip dari balik tirai. Sebuah mobil sedan hitam terparkir di depan pagar. Pintu belakangnya dibuka oleh seorang sopir berseragam, Dari dalam mobil itu turun seorang perempuan paruh baya berkebaya hijau tua, dengan selendang songket tersampir anggun di bahunya.
Aina mengenal perempuan itu. Ia sudah memeluknya setiap Lebaran selama sepuluh tahun.
Lale Rukmini. Ibu mertuanya.
Tangannya mendadak dingin. Ia sempat berpikir untuk tidak membukakan pintu, tetapi ketukan sudah terdengar. Tiga kali, pelan namun tegas, seperti ketukan seseorang yang tidak terbiasa menunggu.
Aina membuka pintu.
"Assalamualaikum, Aina."
"Waalaikumsalam, Ibu."
Lale Rukmini masuk tanpa dipersilakan. Ia duduk di kursi rotan yang kemarin diduduki anaknya, merapikan kebayanya, lalu menatap Aina dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapan itu tidak lagi penuh iba seperti dulu. Kali ini dingin dan menilai.
"Duduklah," katanya, seolah dialah tuan rumah.
Aina duduk di seberangnya. Jantungnya berdebar keras.
"Raka sudah cerita semuanya padaku tadi malam," kata Lale Rukmini tanpa basa-basi. "Termasuk soal kehamilanmu."
Aina diam.
"Aku tidak akan berpura-pura Aina. Ya, aku tahu dari awal. Aku yang mengizinkan Raka menikahimu." Perempuan itu mengangkat dagunya sedikit. "Waktu itu Sekar belum juga hamil. Keluarga kami butuh keturunan. Darah menak tidak boleh putus."
Kata-kata itu jatuh satu per satu, seperti batu yang dilempar ke dalam sumur.
"Jadi aku… hanya cadangan?" bisik Aina.
Lale Rukmini tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya melanjutkan, seolah sedang membicarakan urusan dagang.
"Lalu Sekar hamil. Arsya lahir. Lalu kami pikir semuanya sudah selesai. Kau tidak hamil, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Raka bisa terus datang ke sini sesekali, dan tidak ada yang terluka."
"Tidak ada yang terluka?" Suara Aina bergetar. "Ibu, sepuluh tahun aku…"
"Tapi sekarang kau hamil," potong Lale Rukmini. "Itu mengubah segalanya."
Ia membuka tas tangannya yang terbuat dari kulit, lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal. Ia meletakkannya di meja, tepat di samping kotak kue yang masih terbuka dari kemarin.
"Ini untukmu. Cukup untuk memulai hidup baru di tempat lain. Pindah tugas ke Sumbawa, atau ke mana pun kau mau. Aku punya kenalan di kabupaten yang bisa membantu urusan mutasi."
Aina menatap amplop itu tanpa menyentuhnya.
"Lalu bagaiamana dengan anak ini?" tanyanya pelan.
Lale Rukmini menatap perut Aina. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang melunak di wajahnya. Tetapi bukan untuk Aina.
"Anak itu darah Raka. Darah menak. Dia berhak mendapat nama dan tempat yang layak di keluarga kami." Perempuan itu menegakkan punggungnya. "Setelah lahir, biar kami yang membesarkannya. Sekar akan menerimanya sebagai anak angkat. Tidak akan ada yang tahu dari mana asalnya."
Ruangan itu tiba-tiba terasa sangat sunyi. Aina bisa mendengar detak jam dinding, suara ayam tetangga, dan degup jantungnya sendiri yang menghantam rusuk.
"Ibu ingin mengambil anakku?"
"Bukan mengambil. Menyelamatkan." Lale Rukmini berdiri dan merapikan selendangnya. "Kau PNS Aina, Kalau ini terbongkar, kau kehilangan pekerjaanmu. Kau akan membesarkan anak tanpa ayah yang tercatat, tanpa nama keluarga, menanggung gunjingan seumur hidup. Apa itu yang kau mau untuknya?"
Aina tidak bisa menjawab. Lidahnya kelu.
Lale Rukmini berjalan ke pintu, lalu berhenti dan menoleh. Tatapannya tenang, nyaris lembut, dan justru karena itu terasa paling kejam.
"Pikirkan baik-baik. Aku beri kau waktu seminggu."
Ia melangkah keluar. Tetapi sebelum pintu tertutup, ia mengucapkan satu kalimat terakhir yang membuat dunia Aina runtuh untuk kesekian kalinya.
"Oh, satu lagi. Raka sudah setuju."