Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5 Nasib Derita Istri pekerja kuli bangunan
Hujan deras mengguyur atap seng kontrakan mereka sejak subuh, menciptakan gemuruh bising yang tak kunjung reda hingga menjelang siang.
Di balik pintu kayu yang sedikit renggang, Burhan menyandarkan tubuhnya yang lelah. Jaket parasit kusam yang mengenakan noda lumpur masih basah kuyup, meneteskan air ke lantai semen dingin.
Penghasilan Burhan yang bergantung pada cuaca dan panggilan mandor sering kali tak cukup untuk makan sehari-hari.
Jika hujan turun seharian seperti ini, proyek pengerjaan selokan di jalan utama otomatis dihentikan, dan itu artinya tak ada sepeser pun uang harian yang dibawa pulang.
Anisa keluar dari dapur sempit membawa segelas teh hangat yang asapnya masih mengepul. Ia meletakkan gelas itu di atas meja kayu berkaki tiga yang agak miring.
"Minum dulu, Bang. Mumpung masih hangat," ujar Anisa lembut, merapatkan kain sarung di bahunya untuk mengusir dingin.
Burhan menoleh, menatap gelas teh itu lalu beralih memandangi wajah istrinya. Ada rasa bersalah yang amat sangat terpancar dari matanya.
"Maafkan Abang, Nis," bisik Burhan parau. Tangannya yang dingin dan kebas meremas jemarinya sendiri. "Hari ini mandor meliburkan semua tukang. Hujan deras begini, galian tanahnya longsor terus. Abang... Abang cuma bawa uang sisa ongkos lima ribu perak."
Anisa tersenyum tipis, meski hatinya teriris. Ia duduk berlutut di samping tempat duduk Burhan, menyentuh lutut suaminya dengan penuh kehangatan.
"Tidak apa-apa, Bang. Kan bukan kemauan Abang hujannya turun seharian begini," hibur Anisa.
"Tapi untuk makan malam nanti bagaimana?" suara Burhan bergetar. "Kemarin beras kita sudah habis. Abang janji mau beli beras pulang kerja hari ini, tapi ternyata..."
"Abang jangan bingung," potong Anisa cepat, berusaha memotong rasa putus asa yang mulai menggerogoti suaminya. "Tadi siang, sewaktu Abang masih di lokasi proyek, Mbak Nur pemilik warung sebelah minta tolong sama Anisa."
Burhan mengerutkan dahi. "Minta tolong apa, Nis?"
"Mbak Nur minta dibantu mengupas bawang dan merapikan dagangannya untuk pasokan besok subuh. Katanya matanya sudah tidak kuat kalau mengupas bawang banyak-banyak," jelas Anisa seraya tersenyum manis. "Sebagai gantinya, Mbak Nur memberi Anisa satu liter beras sama dua butir telur. Masih ada sisa sarden kaleng kemarin juga di lemari."
Burhan tertegun. Matanya membelalak tak percaya menatap istrinya. "Kamu... kamu bantu Mbak Nur?"
"Iya, Bang. Cuma mengupas bawang semangkuk besar, tidak sampai satu jam sudah selesai," jawab Anisa jujur.
"Nis..." Burhan menundukkan kepala, mengusap mukanya yang basah oleh sisa air hujan dan air mata yang ditahannya.
"Harusnya Abang yang mencukupi makanmu. Harusnya Abang yang memberi kamu kehidupan yang layak, bukan malah membiarkan kamu menumpang iba dari tetangga."
"Abang, dengarkan Anisa," panggil Anisa tegas namun tetap lembut. Tangannya meraih kedua pipi Burhan, memaksa suaminya menatap matanya.
"Siapa yang menumpang iba? Anisa kerja, Bang! Anisa bantu tetangga dan dapat bayaran yang halal. Kita ini suami istri, jalan kita masih panjang di kota ini. Kalau Abang terus berkecil hati setiap kali rezeki kita tersendat, bagaimana kita bisa bertahan?"
Burhan menghembuskan napas panjang, menatap lekat-lekat pancaran tekad di mata Anisa. Kehangatan menyeruak di dadanya, menggantikan rasa dingin yang menyiksa sejak pagi.
"Kamu tidak malu, Nis? Menikah dengan laki-laki yang bahkan tidak bisa memastikan ada nasi di meja esok hari?" tanya Burhan lirih.
"Untuk apa malu?" Anisa menggeleng pelan. "Aku tahu Abang tidak malas. Abang bangun sebelum subuh, menembus hujan, mencari kerjaan apa saja sampai malam. Tuhan belum kasih rezeki banyak hari ini, tapi Tuhan kasih kita jalan lewat cara lain. Kenapa kita harus malu?"
Burhan tersenyum pahit, lalu menarik Anisa ke dalam pelukannya. Bau tanah basah dan rasa hangat menyatu di tengah suara gemuruh hujan di luar kontrakan.
"Terima kasih ya, Nis. Kamu selalu jadi penguat Abang," bisik Burhan di samping telinga istrinya.
"Sama-sama, Bang," sahut Anisa pelan dari balik dada Burhan. "Nanti kalau hujannya agak reda, Abang mandi ya. Anisa mau masak nasi hangat dan menumis sardennya. Kita makan malam sama-sama."
"Iya, Nis. Besok Abang bakal jalan lebih pagi ke pasar. Kata Pak Mandor, kalau besok terang, galiannya mau dikejar sampai malam dan bayarannya ditambah dua kali lipat."
"Alhamdulillah... Nah, kan? Selalu ada jalan," senyum Anisa terkembang luas.
Malam itu, di dalam kamar petakan yang sempit dan dingin, kehangatan tidak datang dari mewah materi, melainkan dari kepulan asap nasi hangat dan keteguhan dua hati yang saling menguatkan di tengah kerasnya badai ekonomi kota.