NovelToon NovelToon
Benalu Di Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Di Dalam Rumah Tanggaku

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:28.3k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.

Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.

Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.

Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.

Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Mia berdiri cukup lama di depan wastafel dengan tatapan tak percaya. Piring, gelas, sendok, dan beberapa mangkuk kotor menumpuk begitu saja. Sisa makanan bahkan masih menempel di beberapa piring, membuat aroma kurang sedap mulai memenuhi dapur.

Padahal baru beberapa jam yang lalu Mia membersihkan seluruh dapur hingga mengilap. Namun, sejak Lukman dan Sonya tinggal di rumah itu, pekerjaan rumah seolah tidak pernah ada habisnya.

Mia menarik napas panjang. Selama ini dia berusaha menahan diri. Dia tidak ingin memperbesar masalah hanya karena urusan piring. Namun, jika terus dibiarkan, semuanya akan menjadi kebiasaan.

Akhirnya, Mia memberanikan diri menegur Sonya yang sedang duduk di ruang tengah sambil bermain dengan Janu, putranya.

"Sonya," panggil Mia.

Sonya menoleh sekilas. "Iya, Kak?"

Mia berusaha berbicara selembut mungkin.

"Sonya, tolong, sehabis kalian makan piringnya langsung dicuci. Jangan dibiarkan menumpuk seperti itu. Aku tadi sudah membersihkan dapur, sekarang kotor lagi."

Sonya melirik ke arah dapur sebentar. Wajahnya sama sekali tidak terlihat merasa bersalah. "Maaf, Kak. Janu rewel. Nggak mau ditinggal," jawab Sonya santai.

Setelah mengatakan itu, Sonya malah bangkit dan berjalan pergi membawa Janu menuju kamar, seolah percakapan mereka sudah selesai.

Mia terdiam. Matanya mengikuti kepergian Sonya hingga sosok adik iparnya menghilang di balik pintu kamar.

Tangannya perlahan mengepal. Bukan karena dia tidak mau mencuci piring. Pekerjaan itu sebenarnya bukan masalah besar baginya. Yang membuat hatinya kesal adalah sikap Sonya yang selalu memiliki alasan setiap kali diminta melakukan sesuatu. Padahal Mia juga memiliki kesibukannya sendiri.

Mia menggigit bibir, berusaha menahan emosi yang mulai naik."Kalau memang harus menjaga anak, setidaknya bisa bilang nanti akan dicuci," gumamnya lirih.

Dia menatap tumpukan piring di hadapannya. Beberapa detik Mia hanya berdiri sambil menghela napas. Dia berharap ada yang datang dan membantunya. Namun rumah itu begitu sunyi. Tidak ada seorang pun yang peduli dengan pekerjaan yang menumpuk di dapur.

Akhirnya, Mia membuka keran air.

Byurrr...

Air mengalir membasahi tangannya. Dia mengambil satu per satu piring kotor dan mulai mencucinya.

Tangannya bergerak cepat, tetapi wajahnya terlihat muram. Dalam hati, Mia mulai bertanya-tanya sampai kapan dia harus seperti ini.

Sejak Lukman dan Sonya datang tinggal di rumahnya, Mia merasa rumah yang dulu nyaman perlahan berubah menjadi tempat yang membuatnya lelah. Hampir setiap hari ada saja pekerjaan tambahan yang harus dia kerjakan.

Mereka makan, menggunakan kamar, memakai fasilitas rumah. Tetapi ketika ada pekerjaan yang harus dilakukan, Mia pula yang akhirnya turun tangan. Bahkan untuk sekadar mencuci piring sendiri pun seolah terlalu berat bagi Sonya dan Lukman.

Mia membilas sebuah piring lalu meletakkannya di rak."Kapan mereka sadar kalau aku juga bukan pembantu di rumah ini?" bisiknya.

Tanpa disadari, matanya mulai memanas. Namun Mia segera mengusap sudut matanya dengan punggung tangan. Dia tidak ingin menangis hanya karena persoalan seperti ini.

Dia sudah terlalu sering mengalah, terlalu sering diam, terlalu sering mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa semua ini hanya sementara. Namun semakin hari, kesabarannya justru semakin terkikis.

Setelah semua piring selesai dicuci, Mia mematikan keran dan mengeringkan tangannya. Dia menatap dapur yang akhirnya kembali bersih.

Akan tetapi, kali ini tidak ada rasa puas di dalam hatinya. Yang ada hanya lelah dan kecewa

Mia kemudian berjalan menuju ruang tengah. Baru beberapa langkah, dia mendengar suara tawa Sonya dari dalam kamar.

Mia berhenti. Dia menatap pintu kamar tersebut dengan tatapan kosong. Untuk sesaat, ada keinginan kuat dalam dirinya untuk masuk dan kembali menegur Sonya. Namun Mia mengurungkan niatnya.

"Sudahlah..." Dia menarik napas dalam-dalam.

Tetapi sebelum melangkah pergi, Mia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan terus membiarkan keadaan seperti ini.

Jika mereka memilih tinggal di rumahnya, maka mereka juga harus belajar menghargai aturan dan orang yang sudah menampung mereka.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Belum juga masalah antara Mia, Sonya, dan Lukman menemukan jalan keluar, persoalan baru kembali muncul.

Malam itu, suasana rumah yang sebelumnya cukup tenang mendadak berubah ketika suara kendaraan berhenti tepat di depan halaman.

Mia yang sedang merapikan mainan putrinya, langsung menoleh ke arah jendela. Dari balik tirai, dia melihat seorang perempuan paruh baya turun dari kendaraan sambil membawa beberapa tas besar. Perempuan itu tidak lain adalah Rukmini, ibu mertuanya.

Mia mengernyitkan kening. "Ibu?" gumamnya pelan. Dia segera berjalan menuju pintu.

Belum sempat Mia membukanya, terdengar suara ketukan dari luar.

Tok! Tok! Tok!

Mia membuka pintu.

"Bu?"

Rukmini langsung masuk tanpa banyak basa-basi. Beberapa tas besar dibawanya masuk, sementara wajahnya terlihat begitu yakin seolah rumah tersebut juga merupakan miliknya.

Mia terpaksa menyingkir dan membiarkan mertuanya masuk.

"Taruh barang-barang Ibu di kamar kosong," perintah Rukmini.

Mia terdiam."Kamar kosong?" ulangnya.

"Iya. Mulai hari ini Ibu akan tinggal di sini."

Mia langsung menoleh kepada Rian yang baru saja keluar dari kamar. Wajah Rian seketika berubah.

"Ibu?"

Rukmini menatap putranya. "Kenapa? Memangnya tidak boleh?"

Rian tampak gugup. Dia berjalan mendekat sambil mengusap tengkuknya. "Bukan begitu, Bu. Tapi kenapa tiba-tiba Ibu mau tinggal di sini?"

Rukmini mendengus."Sudah sebulan kamu tidak mengirim uang ke Ibu."

Kalimat itu membuat Rian terdiam. Mia hanya menatap suaminya dengan lelah. Lagi-lagi masalah uang.

Sejak Lukman dan Sonya datang, hampir seluruh penghasilan Rian habis untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk kebutuhan keluarga kecil Rian. Sekarang ibunya pun datang menuntut hal yang sama.

Mia memperhatikan wajah suaminya. Rian terlihat seperti seseorang yang tidak pernah memiliki keberanian untuk mengatakan tidak kepada keluarganya sendiri.

"Bu, bukan aku tidak mau mengirim uang," ujar Rian pelan. "Tapi uangku sudah habis untuk biaya hidup Lukman di sini."

Mata Rukmini langsung menyipit.

"Oh...Jadi kamu tidak ikhlas menolong adikmu sendiri?" Nada suaranya terdengar dingin.

Rian langsung ciut. "Bukan begitu, Bu."

"Lalu bagaimana?"

"Aku hanya sedang banyak pengeluaran."

"Pengeluaran?" Rukmini menunjuk ke arah ruang tengah. "Adikmu tinggal di sini, makan di sini, dan kamu merasa itu beban?"

Rian menunduk.

Mia menghela napas panjang. Dia sebenarnya ingin mengatakan bahwa bukan hanya biaya hidup Lukman yang menjadi masalah. Selama tinggal di rumah mereka, Lukman dan Sonya juga menggunakan berbagai kebutuhan rumah tangga. Belum lagi kebutuhan Janu, anak mereka.

Namun Mia memilih diam. Dia tahu, jika ikut bicara, justru dirinya yang akan disalahkan.

Rukmini kembali menatap Rian. "Sejak ayahmu tidak ada, siapa yang membesarkan kamu?"

Rian terdiam.

"Ibu."

"Siapa yang menyekolahkan kamu?"

"Ibu."

"Siapa yang selalu berusaha memenuhi kebutuhanmu?"

"Ibu, tapi..."

"Tapi apa?"

Rian tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Rukmini menghela napas seolah dirinya adalah pihak yang paling terluka. "Ibu tidak meminta banyak. Ibu hanya ingin anak sulung Ibu ingat pada keluarganya."

Mia mengepalkan tangannya.

Kalimat itu kembali membuat Rian merasa bersalah. Padahal yang diminta Rukmini bukan sekadar perhatian. Dia juga ingin uang.Dan Rian selalu menjadi sasaran utama setiap kali keluarganya membutuhkan sesuatu.

Mia menatap suaminya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Dia tahu Rian sebenarnya bukan orang jahat. Masalahnya, Rian terlalu mudah merasa bersalah. Keluarganya tahu kelemahan itu.Mereka tahu satu kata tentang pengorbanan akan membuat Rian mengalah.

"Kalau begitu, mulai hari ini Ibu tinggal di sini saja," kata Rukmini akhirnya.

Rian mendongak. "Bu..."

"Ibu sudah bilang. Ibu tidak mau lagi hidup sendirian sambil menunggu uang dari anak yang bahkan sekarang tidak peduli."

"Aku peduli, Bu."

"Kalau peduli, kenapa uangnya tidak dikirim?"

Rian kembali terdiam.

Mia akhirnya tidak tahan. "Ibu, kalau Ibu mau tinggal di sini, kami tidak melarang. Tapi sebelumnya sebaiknya dibicarakan dulu dengan Rian."

Rukmini langsung menoleh kepada Mia. "Kenapa? Kamu tidak suka Ibu tinggal di sini?"

Mia terdiam sesaat. "Saya tidak bilang begitu, Bu."

"Tapi dari wajahmu kelihatan." ucap Rukmini.

Mia menarik napas dalam-dalam."Saya hanya ingin semuanya dibicarakan baik-baik." ucap Mia hati-hati.

Rukmini mendengus. "Ini rumah anak saya. Ibu rasa tidak perlu meminta izin kepada siapa pun."

Mia mengetatkan rahangnya keras. Rumah yang mereka tinggali adalah rumahnya, milik Mia pribadi, yang di beli sebelum dia menikah dengan Rian. Tapi mengapa tiba-tiba keluarga suaminya merasa memiliki?

Rian yang mendengar perkataan ibunya hanya diam.

Mia menoleh kepadanya. Untuk sesaat, dia berharap Rian membela dirinya. Namun yang keluar dari mulut Rian justru kalimat yang membuat dadanya semakin sesak.

"Sudahlah, Mi. Biarkan Ibu tinggal di sini."

Mia menatap suaminya tidak percaya.

"Rian..."

"Untuk sementara saja," lanjut Rian pelan.

Mia tertawa hambar. "Untuk sementara?" Mia mengedarkan pandangan ke seluruh rumah.

Lukman dan Sonya sudah tinggal di rumahnya. Sekarang mertuanya juga akan tinggal bersama mereka.

Rumah yang dulu menjadi tempat Mia dan Rian membangun kehidupan bersama kini perlahan dipenuhi orang-orang yang datang membawa masalah masing-masing.

Dan yang paling menyakitkan, suaminya sendiri tidak pernah benar-benar berdiri di sisinya.

Mia menunduk, menyembunyikan kekecewaan di matanya. "Baik," katanya akhirnya. Mia berjalan menuju dapur tanpa mengatakan apa-apa lagi.

1
Sayekti 0519
jangan terlalu lengah dan pengertian,aman kan surat rumah.klw mereka g mau pergi jual saja
sunaryati jarum
Kirain Lukman , Rukmini ,dan Sonya, sadar ,taubat dan bekerja ternyata lebih parah.Untuk Mia akhirnya mendapat kebahagiaan
Oma Gavin
akhirnya happy ending untuk rian dan mia dan keluarga neraka' buat lukman dan sonya orang malas kerja pengen hidup enak dunia mimpi pun ngga ada 🤣
Putri Wulandari
lakol cuman gitu ceritanya
sunaryati jarum
Semoga mertua sadar jadi endingnya bahagia
Agus Tina
Bagus ceritanya
gesya garneta
othor jgn bikin rian berubah lah, jgn bikin cerita kyk di novel2 lain, endingnya pisah gara2 keluarga suami, justru bikin keluarga suami jadi baik sama mia
Agus Tina: Iya, betul ... bikin yg agak beda
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga Rian tidak goyah, apapun yang terjadi pada ibunya dan keluarganya.Kamu walau dihujat tetap berbakti dan mengirimkan uang.Seharusnya Bu Rukmini sadar,selama ini yang menopang hidupnya Rian padahal sudah punya keluarga,dan Mia istrinya tidak melarang ,ee malah dibenci.Sedangkan Lukman dan Sonya juga memiliki keluarga tapi hidupnya bergantung pada dirinya,malah disayang dan dimanjakan, renungkan Bu Rukmini apa perilaku pada kedua putra dan menantumu sudah benar dan adil
🎃
kok dera?
sunaryati jarum
Nah setelah kalian merasakan pahitnya hidup tanpa banyak uang dari Rian dan Mikha,jadi kebingungan sendiri.Itulah akibat memanjakan anak tapi membebani anak yang lain.Sonya terbiasa bergantung ini diminta cari nafkah.Semoga kalian sadar jika Mia dan Rian sangat berjasa pada hidup kalian.Sekarang Sonya harus belajar bisa menghidupi diri dan Janu.
dyah EkaPratiwi
enak dikota tapi numpang heyyy usaha makanya jangan suka ongkang2
Agus Tina
Apa Sonya tidak punya orang tua? Kan bisa sementara dia tinggal sama orang tuanya. Dan untuk Mia dan Rian memang lebih baik tinggal bersama orang tua dari Mia, agar para benalu itu tidak kembali lagi merongrong kehidupan mereka.
Jade Meamoure
bagus lah yg penting jangan ada drama kluarga lagi
Jade Meamoure
tk apa sih kalo rujuk hanya saja jauhkan dari keluarga toxic n harus bisa bertindak tegas sebagai kepala keluarga
gesya garneta
thor, jangan bikin rian berubah ya, biarkan mereka hidup bahagia🙏
Agus Tina
Sekoga Rian tidak berubah ...
sunaryati jarum
Semoga sumpah kamu kamu jalankan dan tidak goyah serta Bu Rukmini sadar akan semua kesalahannya pada Mia.Dan Sonya mau bekerja
falea sezi
🤣 Mia oon bego
falea sezi
perempuan oon 🤣 gbs nyari batangan kayak. punya Riyan kayaknya makanya batal cerai🤣🤣 bloooooooon
falea sezi
banyak omong visum lapor kekerasan bego🤣🤣 MC nya oon sih thor menye menye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!