Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEMBURU KECIL MAYA
Nadira melangkah pelan meninggalkan tempat duduk di bawah naungan pohon peneduh, membawa kembali tempat makan plastiknya yang sudah dibungkus rapi dengan kain kotak-kotak biru. Gadis itu berjalan dengan bahu yang lebih tegap dan senyum lega yang memancar murni dari wajah cantiknya. Enzo memperhatikan punggung Nadira yang perlahan menghilang di balik tikungan lorong pertokoan, merasa bersyukur karena saran jujurnya beberapa waktu lalu sanggup memberikan dampak positif bagi kehidupan gadis tersebut.
Enzo menghembuskan napas panjang, merapikan duduknya di atas bangku kayu panjang. Angin siang bertiup pelan, menggoyangkan dedaunan rimbun yang menepis teriknya sinar matahari. Pemuda itu hendak mengambil botol minumannya kembali saat sepasang langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menapak di atas trotoar semen.
Enzo menoleh. Di persimpangan jalan kecil tak jauh dari tempatnya duduk, berdiri Maya.
Gadis berambut panjang yang diikat ekor kuda itu mengenakan kemeja kasual yang digulung hingga ke siku dipadu celana kain hitam, membawa sebuah tas kanvas penuh berisi buku-buku kuliah. Maya tampaknya baru saja menyelesaikan jadwal kuliah paginya dan berniat menuju kafe tempatnya bekerja paruh waktu.
Namun, langkah kaki Maya mendadak terhenti kaku.
Sepasang mata bulatnya menatap lurus ke arah tempat makan plastik berbalut kain kotak-kotak biru yang baru saja diserahkan kembali oleh Enzo kepada Nadira beberapa saat lalu. Maya menangkap dengan jelas bagaimana Nadira tersenyum sangat manis, merona merah, lalu melangkah pergi dengan binar kebahagiaan yang amat terang di wajahnya.
Ada riak dingin yang mendadak menyengat dada Maya. Awalnya, gadis itu mengira perasaan ganjil tersebut hanyalah rasa heran biasa. Namun saat ia melihat Enzo tersenyum tenang menatap kepergian Nadira, rasa hangat yang beberapa hari lalu ia rasakan—saat Enzo menolong motor mogoknya dan memboncengnya menembus hujan—mendadak terhimpit oleh rasa cemburu yang amat pekat.
Duri pertahanan diri dan gengsi tebal yang selama ini membungkus hati Maya langsung tegak kembali seketika.
Gadis itu menghentakkan tumit sepatunya pelan di atas trotoar, berpura-pura tidak melihat Enzo. Ia memalingkan wajahnya tinggi-tinggi ke arah deretan toko di seberang jalan, mempercepat langkah kakinya seolah-olah sedang terburu-buru mengejar waktu.
Enzo memicingkan matanya tipis. Ia melihat dengan jelas bagaimana raut wajah Maya yang tadinya cerah mendadak mendung dan kaku. Mengingat perkembangan sikapnya yang makin proaktif dan peka terhadap orang-orang di sekitarnya, Enzo tahu betul bahwa mengabaikan sikap aneh Maya hanya akan membiarkan kesalahpahaman bertumpuk.
"May!" panggil Enzo dengan suara rendah yang mantap.
Langkah kaki Maya terhenti seketika di atas trotoar. Gadis itu menahan napasnya sejenak, meremas tali tas kanvasnya dengan kencang. Ia memutar badannya pelan, bersedekap dada, lalu menatap Enzo dengan raut wajah acuh tak acuh yang dibuat-buat secara sangat berlebihan.
"Apaan?" cetus Maya ketus seraya memiringkan kepalanya sedikit.
"Baru balik dari kampus, May?" tanya Enzo tenang seraya berdiri dari bangku kayu dan melangkah mendekatinya.
Maya mendengus pelan, memalingkan pandangannya ke pohon peneduh di belakang Enzo.
"Kelihatan kan gue bawa tas buku?" sahut Maya dingin tanpa memandang mata Enzo.
"Gue mau berangkat kerja paruh waktu. Nggak usah ganggu," sambung Maya seraya memutarkan badannya hendak melanjutkan langkah.
Enzo menyunggingkan senyum tipis yang membumi. Ia melangkah dua tapak lebih cepat, berdiri tepat di jalur trotoar yang hendak dilalui Maya, menghalangi langkah gadis itu dengan santai.
"Mukamu kenapa mendadak ditekuk begitu?" tegur Enzo jujur tanpa ada nada memojokkan.
"Siapa yang ditekuk?!" sembur Maya cepat, matanya melotot menatap Enzo.
"Muka gue biasa aja dari tadi. Lu aja yang geer!" lanjut Maya seraya mengibaskan tangannya di udara.
"Biasa dari mana?" balas Enzo datar seraya melipat kedua tangannya di dada.
"Pas lu jalan dari persimpangan tadi, mukamu lempeng. Begitu lihat Nadira jalan bawa bungkusan bekal, alis kamu langsung lipat dua," lanjut Enzo lugas tanpa jeda.
Pipi Maya mendadak memerah padam. Kesadaran bahwa Enzo memperhatikan setiap detail gerak-geriknya sejak awal membuat gengsi tinggi gadis itu makin terdesak. Maya menghentakkan kakinya pelan, menatap Enzo dengan binar mata yang campur aduk antara malu, sebal, dan gengsi yang bertahan mati-matian.
"Oh... cewek manis yang tadi itu namanya Nadira?" sindir Maya dengan nada suara yang ditinggikan, mengandung sarkasme yang begitu kentara.
"Enak banget ya jadi lu, Nzo. Jam istirahat kerja ada yang bawain rantangan bekal hangat, disuapin perhatian," sambung Maya seraya menyunggingkan senyum miring yang dibuat-buat.
"Pantas aja lu kelihatan segar banget siang ini," cerocos Maya tanpa henti.
Enzo menatap gadis di hadapannya itu dengan pandangan mata yang sangat jernih dan tenang. Sindiran tajam dan sikap acuh tak acuh yang dipasang Maya tidak membuat Enzo marah atau merasa risih. Sebaliknya, pemuda itu justru bisa membaca dengan jelas bahwa reaksi tajam Maya adalah cermin murni dari rasa cemburu kecil yang tak sanggup ia sembunyikan.
"Nadira cuma mengantarkan bekal makan siang sebagai ucapan terima kasih," jawab Enzo jujur dan polos.
"Terima kasih buat apa?" potong Maya cepat, alisnya terangkat tinggi.
"Minggu lalu dia minta masukan soal masalah keluarganya, dan gue cuma kasih masukan riil. Sebagai balasannya, hari ini dia masak lebih buat gue," jelas Enzo tenang tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Maya tertegun sejenak mendengarkan penjelasan Enzo yang begitu jujur dan terbuka. Namun, rasa gengsinya yang terlanjur membumbung tinggi membuat gadis itu enggan mengakui bahwa ia merasa lega mendengarnya.
"Gue nggak nanya detailnya juga kali!" potong Maya cepat seraya memalingkan wajahnya yang makin merona merah.
"Mau dia bawain lu bekal tiap hari, mau dia masak satu kuali buat lu, itu bukan urusan gue!" cerosok Maya seraya mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya di atas tanah.
"Gue nggak peduli sama sekali, Nzo. Nggak ada urusannya sama gue!" paksanya seraya bersedekap dada lebih ketat.
Enzo melangkah satu tapak lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka. Pemuda berkaus polos kusam itu menatap lurus ke dalam sepasang mata Maya yang sedang bergerak liar berusaha menghindari tatapannya.
"Masa nggak peduli?" tanya Enzo lembut namun sangat mantap.
"Kalau emang nggak peduli, kenapa nada bicaramu mendadak pedas begitu?" sambung Enzo jujur.
"Nzo! Lu... lu beneran ngeselin ya!" seru Maya kaget, matanya membelalak menatap Enzo.
"Gue dibilang biasa aja ya biasa aja! Lu jangan sok tahu deh!" omel Maya seraya mendorong bahu Enzo pelan dengan ujung jari tangannya yang gemetar canggung.
"Gue cuma mau lewat buat kerja! Awas nggak?!" gertak Maya berusaha mempertahankan sisa-sisa gengsinya.
Enzo tidak bergeming sedikit pun dari posisinya, namun ia menyunggingkan senyum tipis yang hangat dan membumi. Sikap tegas dan keterbukaan Enzo terbukti berhasil meruntuhkan pertahanan gengsi Maya tanpa perlu perdebatan yang menguras emosi.
"Iya, iya, boleh lewat," sahut Enzo ramah seraya memberi jalan satu langkah ke samping.
"Semangat kerjanya ya, May. Jangan tekuk mukamu lagi di depan pembeli kafe," pesan Enzo santai seraya mengacak pelan ujung rambut di atas kepala Maya.
Sentuhan singkat dan perhatian tulus dari tangan Enzo itu bagaikan aliran listrik hangat yang menyengat seluruh tubuh Maya. Gadis itu membeku di tempatnya berdiri selama beberapa detik. Jantungnya berdegup kencang yang tak terkendali di dalam rongga dadanya.
Maya menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, memalingkan wajahnya yang sudah memerah hingga ke ujung telinga.
"Bawel lu!" bisik Maya lirih tanpa ada lagi nada galak di suaranya.
Gadis itu mempercepat langkah kakinya, melangkahi trotoar menyusuri jalan menuju kafe tempatnya bekerja. Namun, dari cara berjalan dan bahunya yang tidak lagi kaku, terlihat jelas bahwa badai cemburu kecil di dalam dadanya telah reda sepenuhnya, berganti menjadi kehangatan murni yang tak sanggup ia pungkiri lagi.
Enzo berdiri memperhatikan punggung Maya yang melangkah menjauh di bawah pendar sinar matahari siang.
Tepat saat sosok Maya menghilang di balik tikungan jalan, ponsel tua di saku celana jins Enzo bergetar halus dua kali secara berurutan. Enzo merogoh benda itu, membuka pendar layar retaknya yang menyala keemasan di bawah naungan pohon peneduh.
[Pembaruan Data Target: Maya (21 Tahun)]
[Analisis Tindakan: Kejujuran Penjelasan & Sikap Tenang Mengurai Cemburu.]
[Evaluasi Psikologis Target: Reaksi cemburu Target membuktikan bahwa keterikatan emosional Target telah tumbuh sangat kuat. Sikap terbuka dan perhatian tulus Anda berhasil meruntuhkan tembok pertahanan gengsi Target.]
[Keterikatan Maya Meningkat: 22% -> 32%]
[Catatan Sistem: Perasaan Target kini makin terikat secara mendalam pada Anda.]
Enzo mengantongi kembali ponsel tuanya seraya menyunggingkan senyum tipis yang penuh kedewasaan. Pemuda itu mengusap pakaian kerjanya yang berdebu, lalu melangkah mantap kembali menuju tempat kerjanya untuk menyongsong sisa hari.