Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Ilusi
"Raya! Ya Tuhan, benar itu kamu, Nak!"
Suara itu bergema dahsyat, menusuk indra pendengaran Aris bagaikan kilatan petir yang menyambar di siang bolong.
Seluruh persendian Aris seketika terkunci kaku. Darah dalam tubuhnya seolah berhenti mengalir, berubah menjadi cairan es yang dingin dan membekukan seluruh saraf motoriknya.
Jantungnya berdentum begitu keras di dalam rongga dada, memukul dinding iganya dengan ritme liar yang tak terkendali.
"B-Bapak... Aris Prakasa?!" seru pria paruh baya itu dengan napas tersengal-sengal, menatap Aris dan Raya secara bergantian. "P-Direktur Aris?! Kenapa Anda... bersama Nona Raya, istri dari almarhum Ardiansyah?!"
Ardiansyah... Istri dari almarhum Ardiansyah...
Kata-kata itu menghantam kesadaran Aris bagaikan pukulan godam raksasa. Pandangannya mendadak mengabur, pinggiran pandangannya menghitam, dan udara di sekitarnya terasa lenyap seketika.
Aris berdiri membeku, tangannya yang menggenggam jemari Raya gemetar hebat. Ia ingin bergerak, ingin mendorong Raya ke belakang tubuhnya, ingin menyumpal mulut pria di hadapannya sebelum kebenaran berdarah itu sampai ke telinga Raya, namun tubuhnya lumpuh total oleh rasa panik yang melumpuhkan.
"Aris...?" suara lembut Raya memanggilnya, terdengar begitu jauh dan bergema dari dalam lorong panjang di kepalanya. "Ada apa? Kenapa kamu diam saja? Siapa bapak itu...?"
Aris berusaha menoleh, namun lehernya terasa seberat beton. Ia memejamkan matanya erat-erat, dan bersiap menghadapi kehancuran total dari seluruh istana kebohongan yang telah ia bangun dengan darah dan air mata.
Satu detik... dua detik... tiga detik...
Keheningan yang mencekam menyelimuti udara sore. Tidak ada bentakan, tidak ada tangisan histeris Raya, dan tidak ada tuduhan lanjutan dari pria bernama Pak Hartono itu.
Aris perlahan membelalakkan matanya, dan menghembuskan napas yang tertahan di tenggorokannya dengan sangat payah.
Di hadapannya, beberapa meter di seberang kolam buatan... Pak Hartono, pria paruh baya berjas kasual itu sedang berjalan santai sambil menerima panggilan telepon di ponselnya.
Pria itu terus melangkah melewati kerumunan pengunjung taman, dan sama sekali tidak menoleh ke arah Aris maupun Raya.
Pria itu bahkan tidak pernah memanggil nama siapa pun, tidak pernah menyadari keberadaan mereka, dan terus berjalan menjauh hingga sosoknya tenggelam di antara lalu lalang orang-orang di taman kota.
Suara itu... panggilan itu... tuduhan itu...
Semuanya hanya ada di dalam kepala Aris. Sebuah ilusi visual dan auditori yang diciptakan oleh paranoid akut dan ketakutan luar biasa yang bersarang di dalam otaknya.
Aris terhuyung satu langkah ke belakang. Lututnya mendadak terasa lemas bagaikan terbuat dari jelly. Keringat dingin menyembur keluar dari seluruh pori-pori kulitnya hingga membahasi dahi, leher, dan punggung kemeja mewahnya.
"Aris!" Raya dengan sigap menahan lengan Aris, dan menatap pria itu dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan mendalam. "Kamu kenapa?! Wajahmu pucat sekali! Tanganmu dingin sekali, Aris!"
Aris menelan ludahnya yang terasa sesak dan pahit. Ia mengerjap beberapa kali, dan memandangi wajah Raya yang berdiri begitu dekat dengannya.
Binar mata Raya tetap polos, hangat, dan penuh kasih sayang. Wanita itu sama sekali tidak mendengar nama "Ardiansyah". Wanita itu sama sekali tidak tahu bahaya mengerikan yang baru saja mengamuk di dalam pikiran Aris.
"Aku... aku tidak apa-apa, Raya," suara Aris terdengar begitu parau, serak, dan bergetar parah. Ia menyapu keringat dingin di dahinya dengan tangan yang masih belum bisa berhenti gemetar.
"Tidak apa-apa bagaimana? Kamu hampir jatuh!" cecar Raya, seraya mengusap pipi Aris yang terasa dingin seperti es. Sementara Cyla yang berada di dalam gendongannya menatap sang "Papa" dengan mata bulatnya yang polos, lalu mengulurkan tangan mungilnya seolah ingin ikut mengusap wajah Aris.
"Aku... hanya mendadak merasa sangat pusing," bohong Aris, sembari memaksakan sebuah senyuman tipis yang tampak begitu getir dan menyedihkan. "Mungkin... angin sore di taman ini terlalu kencang untukku."
Raya menggelengkan kepala dengan tegas. Rasa khawatir terpancar jelas dari raut wajah cantiknya. "Kalau begitu kita pulang sekarang. Tidak ada jalan-jalan lagi. Kita pulang ke rumah detik ini juga!"
Tanpa menunggu balasan dari Aris, Raya merangkul lengan pria itu erat-erat, dan menuntun langkah Aris yang terhuyung-huyung kembali menuju area parkir mobil.
Sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil sports hitamnya, Aris tidak mengucap sepatah kata pun. Tangannya mencengkeram erat roda kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
Matanya menatap lurus ke jalanan aspal di depannya, namun pikirannya terus-menerus memutar ulang adegan ilusi tadi.
Peristiwa di taman kota itu menjadi peringatan mengerikan bagi jiwanya, bahwa meskipun ia telah membungkam Surya Darma dan memusnahkan seluruh bukti fisik, dunia luar adalah ladang ranjau yang sangat berbahaya.
Setiap wajah asing di jalanan, setiap sapaan tak sengaja, dan setiap langkah kaki di tempat umum adalah ancaman mematikan yang siap meledakkan rahasianya kapan saja.
**
Sejak sore kelam di taman kota itu, sikap Aris mengalami perubahan yang sangat drastis dan mengkhawatirkan.
Rasa takut yang menggerogoti jiwanya berkembang menjadi paranoia tingkat tinggi. Aris mulai mengurung dirinya dan keluarganya di dalam mansion.
Ia secara tegas melarang Raya dan Cyla untuk melangkah keluar dari area gerbang besi mansion, bahkan hanya untuk sekadar berjalan-jalan sore di area perumahan elit tersebut.
"Raya, di luar sana cuacanya sedang tidak bagus. Banyak virus dan debu yang tidak baik untuk memulihkan fisikmu dan kesehatan Cyla," dalih Aris suatu pagi saat Raya mengutarakan keinginannya untuk mengajak Cyla membeli es krim di supermarket depan kompleks.
"Tapi Aris, aku sudah sangat sehat. Cyla juga bosan kalau hanya berputar-putar di taman belakang terus," bujuk Raya lembut.
"Tidak, Raya. Tolong dengarkan aku kali ini," pangkas Aris dengan nada yang begitu tegas, dingin, dan penuh kehati-hatian yang berlebihan, hingga membuat Raya tertegun dan tidak berani membantah lagi.
Bukan hanya melarang mereka keluar, Aris juga memperketat sistem keamanan mansion secara gila-gilaan. Ia menambah jumlah penjaga berseragam hitam di sekeliling pagar, mengganti seluruh kamera CCTV dengan teknologi tercanggih, dan menginstruksikan Hendra agar semua kebutuhan rumah tangga,mulai dari bahan makanan, pakaian, hingga mainan Cyla, dikirimkan langsung oleh kurir internal kepercayaan perusahaan.
Setiap kali ada mobil asing yang melintas perlahan di depan gerbang mansion, Aris akan berdiri di balik gorden ruang kerjanya di lantai dua, dan menatap mobil itu dengan mata merah kurang tidur dan rahang yang mengeras tegang.
Setiap kali ada bel pintu berbunyi, jantungnya berdegup kencang bak ditimpa musibah.
Raya memperhatikan semua perubahan itu dengan rasa prihatin yang makin membuncah.
Di mata Raya yang tidak mengetahui kebenaran pahit di balik sikap Aris, pria itu sedang mengalami tekanan kerja luar biasa dari perusahaannya.
Raya melihat bagaimana Aris makin jarang tersenyum, bagaimana pria itu sering membaca berkas hingga larut malam di ruang kerja, dan bagaimana porsi makan Aris makin menyusut setiap harinya.
"Aris, kamu harus makan sedikit lagi," bisik Raya pada suatu malam di meja makan, sambil mendorong mangkuk sup ayam hangat ke dekat tangan Aris.
Aris yang sedang menatap hampa ke arah dinding dapur, tersentak pelan. Ia menoleh dan menatap Raya. Garis-garis kelelahan terlihat makin dalam di bawah matanya, wajah tegasnya tampak makin tirus, dan matanya memancarkan redup penderitaan yang amat sangat.
"Aku tidak lapar, Raya," sahut Aris, lalu menyapu jemari Raya dengan usapan lembut yang terasa dingin.
"Kamu makin kurus, Aris. Kamu tidak pernah tidur nyenyak. Setiap malam aku mendengar langkah kakimu bolak-balik di koridor luar," kata Raya dengan suara berkaca-kaca. "Kalau ada masalah di kantor... tolong bagilah denganku. Jangan menanggung semuanya sendirian."
Aris menatap mata bening Raya. Ketulusan dan rasa cinta yang memancar dari mata wanita itu justru terasa seperti minyak panas yang disiramkan ke atas luka jiwanya.
"Bagaimana bisa aku membagi masalahku padamu, Raya...? Masalah terbesarku adalah dosa besar yang aku perbuat padamu," jerit Aris di dalam hatinya yang hancur.
"Ini hanya masalah proyek baru, Raya," bohong Aris seraya mengukir senyuman tipis yang sangat dipaksakan. "Semuanya akan segera selesai. Kamu tidak usah khawatir, ya?"
Bersambung...