NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Pagi menyentuh kontrakan lewat celah tirai yang tidak pernah menutup rapat. Elang membuka mata karena sebuah suara kecil, seperti ketukan jari pada kaca.

Cahaya biru sudah menggantung di atas dadanya.

[Kuota permintaan: 5/5.]

[Misi baru: Pergi ke mall utama Wijaya Group, lalu selamatkan seorang pria tua.]

[Hadiah: Satu Hak Permintaan Benda.]

Elang membaca baris itu dengan kedua tangan terlipat di belakang kepala. Pegas kasur berderit setiap kali ia bergeser. Senyumnya naik pelan, tanpa terburu-buru.

"Pria tua di mall milik Wijaya," katanya pada langit-langit. "Sistem ini bahkan tahu ke mana aku harus melangkah."

Ia bangun, mencuci muka dengan air yang terlalu dingin, lalu merapikan kerah kemeja di depan cermin retak. Kemeja itu bekas pesta semalam, sudah ia setrika dengan telapak tangan. Ia tidak tampak seperti orang yang kemarin kehilangan sembilan puluh persen warisannya. Ia tampak seperti orang yang sedang berangkat menagih sesuatu.

...-----...

Mal Wijaya berdiri di tengah kota seperti kapal pesiar yang kandas di daratan. Kaca setinggi lima lantai, air mancur di halaman depan, dan lobi yang lebarnya cukup untuk memarkir dua bus.

Elang berhenti di ambang pintu putar. Udara dingin dari pendingin ruangan menyapu wajahnya, bercampur bau roti dan kopi.

Di tengah lobi, puluhan meja panjang ditata rapi. Ratusan orang antre membawa kotak nasi dan kantong sembako. Sebuah spanduk besar membentang di atas panggung kecil.

Doa Bersama untuk Kesembuhan Putri Kami.

Elang membaca tulisan itu dua kali, lalu menyapu pandangannya ke sekeliling. Seorang ibu menggendong bayi sambil menutup mata, bibirnya bergerak tanpa suara. Seorang bapak berseragam ojek daring menunduk dengan kopiah di tangan. Anak kecil menarik ujung baju ibunya, bertanya sesuatu yang tak terdengar.

Mereka tidak sedang berpura-pura. Elang tahu itu dari cara mereka menahan napas.

Di panggung, seorang pria berusia enam puluhan membagikan kotak nasi dengan tangannya sendiri. Rambut peraknya disisir ke belakang, jasnya sederhana, dan setiap orang yang menerima kotak itu ia genggam tangannya sebentar sebelum melepaskan.

Pak Wijaya.

Elang menghitung langkahnya ke panggung. Tiga puluh meter. Para pengawal berjas gelap berdiri di sisi kanan dan kiri, jumlahnya enam, tidak ada yang melihat ke pintu.

'Pria tua yang harus kuselamatkan.' Ia mengetuk jari di saku. 'Kalau itu bukan dia, aku harus belajar membaca ulang.'

Ia memilih tiang marmer di dekat air mancur kecil, bersandar di sana dengan satu kaki menekuk, dan menunggu. Ia tidak tahu bahaya macam apa yang akan datang. Ia hanya tahu sistem itu tidak pernah salah soal tempat.

Lima menit. Sepuluh.

Lalu getaran halus merambat dari lantai ke telapak sepatunya.

Elang menegakkan punggung. Getaran itu semakin berat, semakin cepat, seperti derap sesuatu yang besar dan terburu-buru. Di luar kaca, di jalan yang membelah halaman parkir, sorot lampu putih menggelinding makin dekat.

Sebuah truk kontainer.

Ia menyipitkan mata. Di balik kaca depan truk, kursi pengemudi kosong. Setir berputar sendiri sedikit ke kiri, sedikit ke kanan, seperti tangan hantu yang sedang membidik.

Kaca pintu lobi pecah lebih dulu sebelum teriakan pertama keluar. Bunyinya rapat dan tajam, hujan serpihan yang memantulkan lampu.

Orang-orang menjerit. Kotak-kotak nasi terlempar ke udara. Para pengawal baru berbalik, terlambat setengah detik, dan di antara mereka Pak Wijaya masih berdiri di panggung dengan satu kotak nasi di tangan.

Ia tidak sempat lari. Ia bahkan tidak sempat menurunkan tangannya.

Elang melepas tiang itu.

Satu langkah. Dua. Sepatunya menghantam marmer dan lantai berdesir di bawahnya. Ingatan tubuh yang bukan miliknya menariknya lebih rendah, melebarkan kaki, menjatuhkan berat ke pinggul. Kuda-kuda. Tangan kirinya terangkat di depan dada, tangan kanan menarik ke belakang seperti busur.

Truk itu tinggal lima meter, tiga, dua.

Elang melepaskan pukulan.

Bunyinya bukan dentuman. Lebih seperti pintu baja yang dihantam palu dari dalam, rendah dan berat, hingga kaca-kaca di sekelilingnya bergetar sekali lagi. Kontainer di belakang kabin terangkat dari lantai, lalu jatuh dengan suara gemuruh. Ban depan menggilas serpihan kaca, berputar sebentar di tempat, dan berhenti.

Tidak ada yang bergerak.

Bagian depan truk itu melesak ke dalam, tepat sebesar kepalan tangan, dan asap tipis keluar dari lubangnya. Satu setengah meter di belakang kabin, tangan Elang masih terulur, kemejanya sama sekali tidak kusut.

Telapak tangannya hangat. Tidak sakit.

'Ternyata ilmu bela diri bisa sekuat ini.' Pikirannya jernih, hampir geli. 'Aku sempat mengira aku perlu tiga puluh pukulan.'

Ia menarik tangannya dan menepuk kemeja. Orang-orang di sekitarnya membuka mulut tanpa suara. Seorang anak kecil di pelukan ibunya menunjuk kabin truk yang menganga, lalu menunjuk Elang.

Elang berbalik dan berjalan ke panggung, melangkahi kotak nasi yang berserakan. Para pengawal membuka jalan tanpa disuruh.

Pak Wijaya masih berdiri di tempatnya. Kotak nasi di tangannya remuk karena genggaman, dan beras menetes di sepatunya.

"Pak." Elang berhenti satu langkah di depannya. "Kau baik-baik saja?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!