NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:18.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_

Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11.Di Balik Meja Direksi

Atmosfer di lantai teratas Gedung Manajemen Utama Rumah Sakit Internasional Nugraha Perkasa terasa begitu mencekam, seolah-olah pendingin ruangan berteknologi tinggi di sana telah mengubah udara menjadi lapisan es tipis.

Profesor Baskoro, Direktur Utama rumah sakit paling bergengsi di negeri ini, berdiri dengan punggung tegak sempurna. Di balik setelan jas dokternya yang premium, keringat dingin mulai membasahi bagian belakang kerah kemejanya.

Di hadapannya, duduk seorang pria berusia tiga puluh lima tahun yang memancarkan aura agung dan menuntut kepatuhan mutlak tanpa bantahan.

Sean Eagle Nugraha. Pria itu duduk dengan posisi santai namun tegap di atas kursi kulit pimpinan. Jari-jarinya yang kokoh menyesap cangkir kopi hitam tanpa gula perlahan-lahan.

Di atas meja kaca antipeluru di depannya, tergelar selembar map dokumen kedokteran milik Lentera.

"Perekrutan jalur mandiri darurat, Tuan?" Profesor Baskoro mengulangi instruksi yang baru saja didengarnya dengan nada ragu yang tertahan. "Tapi, Tuan Sean, jika saya boleh melaporkan, kuota untuk posisi dokter umum di rumah sakit kita sebenarnya sudah penuh untuk hal ini, semua posisi sudah diisi oleh para lulusan terbaik dari universitas luar negeri di Inggris dan Amerika, serta beberapa anak dari kolega dewan komisaris utama."

Sean meletakkan cangkir kopinya ke atas tatakan keramik dengan dentingan halus. Anehnya, suara ketukan kecil itu terdengar seperti jatuhnya vonis mati di telinga Profesor Baskoro.

Sepasang manik mata gelap Sean yang tajam bak elang menatap langsung ke arah sang Direktur Utama.

"Apakah saya menanyakan tentang kuota atau latar belakang anak-anak komisaris itu kepada Anda, Profesor?" tanya Sean dengan suara rendah, berat, dan sarat akan penekanan yang mengintimidasi.

"B-bukan begitu, Tuan Sean. Maksud saya, kami hanya ingin memastikan bahwa semua prosedur administrasi tetap berjalan sesuai dengan regulasi yang telah disepakati oleh dewan direksi"

Profesor Baskoro cepat-cepat menyeka keningnya dengan saputangan sutra, suaranya mengecil di bawah tekanan tatapan Sean.

"Rumah Sakit Internasional Nugraha Perkasa adalah milik keluarga Nugraha, bukan milik dewan komisaris," potong Sean dingin.

"Jika saya katakan rumah sakit ini sedang kekurangan tenaga medis darurat dan membutuhkan rekrutmen terbuka siang ini juga, maka rumah sakit ini sedang kekurangan. Apakah penjelasan saya kurang jelas di telinga Anda?"

"Sangat jelas, Tuan Sean! Sangat jelas!" Profesor Baskoro mengangguk dengan cepat, tidak berani mendebat lebih jauh.

"Kami akan segera membuka sistem pendaftaran daring darurat dalam waktu satu jam dari sekarang. Pengumuman akan disebarkan secara instan melalui portal medis nasional."

Sean bersandar pada kursi kulitnya, mengetukkan jemarinya yang kokoh di atas meja dengan irama teratur.

"Pastikan nama Lentera masuk ke dalam daftar prioritas utama untuk dipanggil wawancara siang ini juga. Gunakan alasan bahwa sistem algoritma kecerdasan buatan rumah sakit menyaring data ijazah cum laude miliknya secara otomatis dari database Ikatan Dokter di dunia. Jangan ada satu pun staf, perawat, atau bahkan gadis itu sendiri yang tahu bahwa saya terlibat di balik proses ini. Jika dia sampai mencium ada bau nepotisme atau campur tangan dari saya, Anda tahu persis apa konsekuensinya bagi karier Anda."

"Baik, Tuan Sean. Semuanya akan diatur dengan sangat bersih oleh tim IT dan SDM. Gadis itu akan mengira bahwa ini murni karena keberuntungan dan kecerdasannya sendiri yang luar biasa," janji Profesor Baskoro dengan patuh sebelum membungkuk hormat dan mundur tergesa-gesa keluar dari ruangan.

Setelah pintu jati besar itu tertutup, Sean memutar kursinya menghadap jendela kaca besar yang langsung menyajikan pemandangan pelataran parkir luas rumah sakit.

Dari ketinggian lantai dua puluh, dia bisa melihat sosok mungil Lentera yang baru saja melangkah keluar dari lobi rawat jalan setelah dinyatakan sehat pasca-pingsannya semalam.

Gadis itu berjalan dengan langkah cepat, memakai flat shoes usang dan mendekap tas jinjing kainnya dengan kepala terangkat tegak di bawah langit kota yang terik.

Sean menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang sangat samar, nyaris tak terlihat.

"Kita lihat saja, Dokter Tera. Seberapa keras kamu akan mencoba menolak takdir yang sudah aku bentangkan di depan kakimu."

Sementara itu, di dalam sebuah angkutan umum yang bergerak lambat membelah kemacetan kota yang gila, Tera sedang menatap layar ponselnya yang retak di sudut kanan bawah.

Pikirannya melayang kembali pada kejadian semalam. Pria misterius bernama Sean itu, serta kemewahan rumah sakit yang sempat merawatnya tanpa menagih biaya sepeser pun, terasa seperti mimpi di siang bolong.

Namun, kenyataan pahit langsung menyentaknya kembali ketika dia mengingat bahwa hari ini dia harus kembali berburu lowongan kerja.

Dia tidak boleh membiarkan uang hasil kerja keras ayahnya di pasar induk terbuang sia-sia hanya untuk membayar sewa kontrakan yang akan jatuh tempo minggu depan.

Tepat pada pukul sebelas siang, ponsel di genggaman Tera bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal dengan kode area kantor pusat kota terpampang di layar.

Tera menggeser tombol hijau dengan bingung, mendekatkan ponsel itu ke telinganya di tengah bisingnya suara mesin angkot.

"Halo, selamat siang. Apakah benar ini dengan Dokter Lentera?" suara seorang wanita di seberang telepon terdengar sangat profesional, anggun, dan tertata rapi.

"Iya, benar. Saya sendiri. Maaf, ini dari siapa, ya?" jawab Tera dengan nada bertanya-tanya.

"Saya sekretaris divisi Sumber Daya Manusia dari Rumah Sakit Internasional Nugraha Perkasa, Dokter. Kami ingin mengabarkan bahwa sistem pemindaian berkas otomatis kami telah menyaring data ijazah dan prestasi Anda dari portal Ikatan Dokter. Berdasarkan kualifikasi cum laude Anda yang sangat luar biasa, komite medis kami sangat tertarik. Hari ini kami sedang mengadakan perekrutan tenaga medis darurat untuk posisi dokter umum. Apakah Anda bersedia hadir untuk wawancara langsung pada pukul satu siang ini?"

Tera tertegun sejenak. Jantungnya berdegup kencang bagai ditabuh bertubi-tubi di dalam dadanya. Rumah Sakit Internasional Nugraha Perkasa? Rumah sakit milik konglomerat terkaya itu? Yang semalam merawatku? Bagaimana bisa mereka mencari ku lewat sistem otomatis?

"Halo? Dokter Lentera? Apakah Anda masih di sana?" suara di seberang telepon memastikan.

"Ah, iya! Iya, Mbak! Saya masih di sini! Saya bersedia! Saya sangat bersedia untuk hadir!" jawab Tera setengah berteriak, mengabaikan tatapan heran dan terganggu dari beberapa penumpang angkot yang duduk di sebelahnya.

"Baik, Dokter Lentera. Mohon hadir tepat waktu di Gedung B lantai tiga ruangan wawancara eksekutif sebelum pukul tiga sore. Semoga beruntung."

Sambungan telepon terputus. Tera menatap layar ponselnya dengan mata membelalak, lalu mencubit pipinya sendiri dengan keras menggunakan jari telunjuk dan jempolnya.

"Aduh! Sakit! Ini bukan mimpi!" Tera bergumam sendiri dengan wajah memerah.

"Tuhan, apakah ini jalan yang Engkau tunjukkan setelah semua penghinaan kejam di Rumah Sakit Medika Utama kemarin?"

Tanpa membuang waktu, Tera langsung berteriak panik kepada sopir angkot yang sedang mengunyah permen karet.

"Kiri, Pak! Kiri depan gang itu! Saya mau turun sekarang juga, Pak! Buru-buru!"

Yuk mana nih komennya, jangan luka like dan hadiahnya.

1
Siti Aisah
tera terenyuh oleh ketulusan sean, jadi tera kamu bukan alat untuk menyempurnakan kekuatan sean...tpi sudah takdir ya thor🤗
Siti Aisah
ci muka retak jgan menyakiti tera.. sean akan murka 🤭
Siti Aisah
tera tenang sean sedang memantau keadaan..
Siti Aisah
tenang sera sean ikut dalam rombongan jdi pasti di lindungi ..
Kaa
semoga sampai ke jenjang pernikahan tera sean lanjut thor👍
Kaa
kekuatan Sean mungkin campuran kekutan mominya ya driyana
Kaa
apa ada kekuatan lain dari tera selain aliran penenang tuan Sean lawan Sera gunakan kekuatan mu lanjut thor
Nurul Ambar
semoga hidup bahagia
Nurul Ambar
akhirx....
Nurul Ambar
sean datang
Nurul Ambar
deg deg an smga baik2 saja
Mety Haula
kayanya nanti muksnya buksn retak lahi malah berbalik kebelskang tenang tera tuan sean psdti datang apa yg nyusup ke rs dr klan hitam blm ketahusn ya
Mety Haula
alhamdullilah akhirnya yera luluh juga hatinya semoga kedepannya berjalan mulus langsung tancap mks
Novita Sari
Alhamdulillah tera menerima sean.....
Endang Hidayanti
so sweet bgt Sean, 😍
Novita Sari
si muka retak salah pilih lawan
Novita Sari
tenang tera kekuatan sean udah sempurna..
Novita Sari
si muka retak gak kapok kapok muka udah jelek masih sok sokan
Tri Hastuti
baru bab awal udh tegang
sean anaknya siapa ini?
Rita Susanti
sedikit banget sih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!