"Kamu menghancurkan mimpiku demi ambisimu, dr. Naya. Sekarang, giliran aku yang akan menghancurkan segalanya darimu."
Tujuh tahun lalu, Aksa Dirgantara dibuang secara tak hormat dari fakultas kedokteran akibat sebuah skandal kelam. Ia kehilangan masa depan, harga diri, dan wanita yang paling dicintainya, Naya—yang ia yakini telah memfitnahnya demi merebut satu-satunya kuota beasiswa spesialis bedah ke luar negeri.
Kini, Aksa kembali. Bukan lagi sebagai pria yang bermimpi memakai jas putih, melainkan sebagai CEO miliarder dingin dan tak kenal ampun yang baru saja mengakuisisi rumah sakit tempat Naya bekerja. Niat Aksa hanya satu: menghancurkan karir gemilang Naya yang kini telah sukses menjabat sebagai Kepala Bedah, dan memaksanya berlutut di bawah kakinya.
Siksaan demi siksaan diberikan. Aksa mencekiknya dengan jadwal operasi yang mustahil, tekanan dari para direksi, dan hinaan yang menggores harga diri. Namun, betapapun kerasnya Aksa menyiksa, Naya tetap berdiri tegak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.Pahlawan Berdarah
"Awas, Naya!" teriak Aksa dengan suara parau yang membelah gemuruh badai.
Tubuh besar Aksa menabrak Naya dengan tenaga penuh tepat ketika moncong mobil sedan perak itu menyambar bibir teras klinik. Naya terpental keras ke arah petak rumput di samping bangunan, berguling beberapa kali di atas tanah berlumpur yang dingin.
Brakkk!
Suara hantaman logam beradu dengan beton terdengar sangat memekakkan telinga. Sedan yang dikemudikan Bima kehilangan kendali setelah gagal menabrak Naya. Ban mobil itu selip parah di atas genangan air hujan, melintir tak terkendali, lalu menabrak tiang listrik beton di pinggir jalan dengan kecepatan tinggi.
Kaca depan mobil pecah berhamburan ke segala arah. Asap putih tebal langsung mengepul dari kap mesin yang ringsek parah. Klakson mobil menyala terus-menerus karena tubuh Bima menghantam setir, menciptakan suara bising yang menyayat pekatnya malam.
Naya terbatuk keras, memuntahkan air hujan bercampur lumpur yang masuk ke mulutnya. Kepalanya pusing bukan main, seluruh tubuhnya terasa remuk. Namun, kesadarannya langsung pulih seketika saat telinganya menangkap suara erangan tertahan dari arah trotoar.
"Aksa..." bisik Naya bergetar. Hatinya mencelos jatuh ke dasar perut.
Dengan susah payah, Naya mengangkat kepalanya. Matanya langsung membelalak horor melihat pemandangan di depannya. Aksa tergeletak tak berdaya di atas trotoar beton yang kasar. Pria itu tadi tidak sepenuhnya berhasil menghindar. Tubuhnya sempat terserempet bodi samping mobil hingga terlempar dan menghantam trotoar dengan sangat keras.
Darah segar mengalir deras dari pelipis dan kepala Aksa, bercampur dengan aliran air hujan, menciptakan genangan merah pekat yang mengerikan di sekeliling tubuh besar itu.
"Tidak... Aksa, jangan bercanda! Bangun!" jerit Naya histeris.
Naya mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia menyeret dirinya sendiri, merangkak tertatih-tatih menembus lumpur dan hujan deras mendekati pria itu. Tangan kanannya yang terbalut gips terasa berdenyut nyeri akibat benturan saat jatuh tadi, tapi Naya hanya peduli pada sosok Aksa yang terkapar tak bergerak.
Sementara itu, suara tabrakan keras barusan memancing warga sekitar keluar dari rumah-rumah petak mereka. Puluhan bapak-bapak dan pemuda kampung berlari-lari menembus hujan sambil membawa senter, jas hujan seadanya, dan balok kayu.
"Ada tabrakan di klinik Dokter Naya!" teriak seorang warga panik.
"Itu sopirnya masih hidup! Dia sengaja mau menabrak klinik! Tangkap orang gila itu!" seru warga lain dengan penuh amarah saat melihat Bima mencoba menendang pintu mobil yang penyok.
Massa yang marah langsung mengepung mobil ringsek itu. Beberapa pria berbadan besar menarik paksa pintu mobil hingga lepas, lalu menyeret Bima keluar tanpa ampun. Bima meronta-ronta dengan wajah berlumuran darah dari luka benturan, tapi warga langsung mengunci pergerakannya, menekan punggung tubuh gemuk itu ke aspal yang basah.
"Lepaskan aku! Aku harus memastikan perempuan cacat itu mati!" teriak Bima gila, tawanya melengking sumbang seperti orang kesurupan yang haus darah.
"Ikat tangannya pakai tali! Orang ini benar-benar gila! Panggil polisi sekarang juga!" komando ketua RT setempat sambil menahan tengkuk Bima agar tidak bisa bergerak lagi.
Naya sama sekali tidak memedulikan kekacauan dan teriakan beringas warga di belakangnya. Fokusnya hanya satu. Ia akhirnya berhasil merangkak sampai ke sisi Aksa. Napas Naya terengah-engah, air matanya tumpah deras menyatu dengan guyuran hujan badai.
"Aksa... Aksa, buka matamu. Kumohon, buka matamu," isak Naya panik. Tangan kirinya yang gemetar hebat meraba leher Aksa, mencari denyut nadi sang CEO. Denyutnya ada, tapi sangat lemah dan lambat.
Pria yang selalu tampil angkuh dengan jas mahal tanpa cela itu kini hancur lebur. Kemejanya robek berlumuran lumpur dan darah. Wajahnya pucat pasi seperti mayat. Luka robek di kepalanya terus mengeluarkan darah segar yang tidak mau berhenti mengalir.
Insting dokter bedah Naya berteriak panik memperingatkan. Trauma kepala berat, kemungkinan pendarahan internal di rongga dada, dan hipotermia. Kondisi Aksa sangat kritis. Waktu pria ini hanya tersisa hitungan menit kalau tidak segera mendapat pertolongan medis tingkat lanjut.
"Tolong! Siapa saja tolong panggil ambulans! Cepat panggil ambulans!" teriak Naya sekencang-kencangnya ke arah kerumunan warga, suaranya pecah dan serak.
Naya kembali menunduk, menggunakan telapak tangan kirinya untuk menekan luka terbuka di kepala Aksa, berusaha menghentikan pendarahan sekuat tenaga. "Bertahanlah, Aksa. Kamu tidak boleh mati di sini. Kamu dengar aku? Jangan berani-berani mati meninggalkanku!"
Hawa dingin semakin menusuk tulang. Jari-jari Naya sudah kebas, tapi ia terus menekan luka itu sambil menangis tersedu-sedu. Naya rela menukar apa saja, bahkan sisa hidupnya, asalkan pria arogan yang menyebalkan ini tetap bernapas.
Tiba-tiba, dada Aksa bergerak pelan. Pria itu terbatuk kecil, memuntahkan sedikit cairan merah dari sudut bibirnya. Kelopak matanya yang berat perlahan terbuka, menampakkan sepasang mata kelam yang kini terlihat sangat sayu dan kehilangan fokus.
Pandangan Aksa berputar-putar hebat, tapi ia bisa melihat dengan jelas wajah Naya yang basah oleh air mata tepat di atasnya. Wanita itu sedang menangisinya dengan raut ketakutan yang luar biasa.
Aksa memaksakan diri untuk menarik napas, meski rasa sakit luar biasa merobek dadanya. Tulang rusuknya pasti patah menghantam beton. Tapi rasa sakit fisik yang menyiksa itu sama sekali tidak sebanding dengan kelegaan luar biasa yang membanjiri hatinya saat melihat Naya selamat tanpa luka sedikit pun.
Dengan sisa tenaga terakhir yang entah dari mana asalnya, Aksa perlahan mengangkat tangan kanannya dari genangan air. Jari-jari pria itu gemetar parah. Ujung jarinya yang sedingin es menyentuh pipi Naya yang basah, mengusap air mata wanita itu dengan gerakan yang sangat lemah.
Aksa menatap mata Naya lekat-lekat. Bibir pucat pria itu perlahan melengkung, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat tulus.
"Sekarang... kita impas, Dokter Naya," bisik Aksa dengan napas tersengal-sengal di sela rintik hujan badai, tepat sebelum kelopak matanya kembali tertutup rapat dan tangannya jatuh terkulai lemas di atas tanah berdarah.
si bima jgn sampe kluar lagi dr penjara ,, biarin bocah tantrum tu duduk manis di penjara selama-lamanya 😏
koq gx ngundang2🤔
pijat aja semua...obatin aja...kalo perlu operasi jg sendiri...dokter lain mah cm remahan peyek...serah lu dah...gw yg cm baca tapi pengen nyakar lu Aksa 😤
mau liat Naya cepat sembuh gx ,, cemburu ny simpan dlu di kantong celana pak bos ,,
..yg bikin kek gini sapa cobak??? trus skrg butuh tenaga fisioterapi msh jg dicemburuin??? mau kau apa Bambang???😤😤😤
cerita ny seruuu ,,
semoga Naya bisa sembuh lgi tangan ny ,,
lanjuuut kak