Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32. Sarapan
Elden hanya memandangi Dea yang sedang memegang perutnya.
Gerakan itu begitu singkat, karena tangan itu telah turun kembali. Namun, cukup membuat pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.
'Apakah Dea sedang lapar sepertiku?'
'Atau ... yang Bapak tadi bilang ... Tidak.'
Ia tidak berani meneruskan apa yang ada di pikirannya.
Selama ini, ia bahkan tidak tahu bagaimana kehidupan Dea setelah mereka berpisah. Ia tidak tahu apa yang perempuan itu alami, bagaimana ia bertahan, ataupun siapa yang menemaninya melewati masa-masa sulit.
Yang ia tahu, Dea begitu ketakutan setiap kali berada dihadapannya.
Elden ingin bertanya, tetapi rasa mual yang kembali menyerang membuatnya buru-buru memalingkan wajah.
"Maaf, Pak. Saya harus ke toilet lagi."
Pria paruh baya itu tertawa kecil sambil menepuk bahunya.
"Kalau benar istrimu sedang hamil, makanya kamu.jangan hanya membuatnya kesal terus. Kamu harus menjaganya istri dan calon bayi kalian dengan baik."
Elden tak menjawab. Ia segera kembali ke toilet, meninggalkan Dea yang masih berdiri kaku di dekat brankar tadi.
Begitu suara langkah mereka menjauh, Dea mengembuskan napas perlahan.
Ia tidak tahu mengapa pertanyaan sederhana tadi membuat perasaannya menjadi aneh. Tangannya kembali menyentuh perutnya, karena memang ada anak pria itu di dalam rahimnya.
'Tidak'.
'Biarlah ini menjadi rahasia, hingga waktu yang tak bisa ditentukan.'
Dea mengalihkan perhatian pada flashdisk di tangannya. Benda kecil itu kini terasa jauh lebih penting daripada segala pertanyaan mengenai Elden.
Ia harus mengetahui apa yang tersimpan di dalamnya.
.
.
Beberapa waktu kemudian, Dea akhirnya mendapatkan kesempatan untuk memeriksa rekaman tersebut. Ia menyiapkan buku catatan, lalu membuka berkas video pertama.
Rekaman itu memperlihatkan lorong menuju area persiapan obat pada hari kematian Linjaryani.
Seorang perempuan memasuki ruangan sambil membawa kotak berukuran sedang.
Stella.
Dea menghentikan video dan memutarnya kembali.
Perempuan itu terlihat menoleh ke kanan dan kiri sebelum masuk. Beberapa menit kemudian, ia keluar sambil membawa kotak yang sama.
Pada salah satu bagian rekaman, label di sebuah kemasan terlihat sekilas.
Digoksin.
Dea terdiam.
Ia teringat catatan inventaris obat yang pernah diperiksanya. Saat itu, terdapat ketidaksesuaian antara jumlah persediaan yang tercatat dan jumlah fisik yang ditemukan.
Kini, Stella terlihat berada di area persiapan obat pada hari yang sama.
Ia melanjutkan video.
Pada rekaman berikutnya, Stella terlihat menyerahkan sebuah kemasan kepada seseorang yang wajahnya tidak tertangkap kamera dengan jelas. Setelah itu, ia menggerakkan tangan ke arah ruang penanganan pasien.
Dea mencatat waktu kejadian.
Video selanjutnya memperlihatkan dirinya sendiri menerima sebuah wadah obat dari seorang petugas, lalu membawanya menuju area penanganan Linjaryani.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia masih mengingat kesibukan di ruang gawat darurat hari itu, tetapi tidak semua detail kejadian tersimpan jelas dalam ingatannya.
Apakah wadah yang dibawanya berkaitan dengan kemasan yang diserahkan Stella?
Ia belum bisa memastikan.
Dea kemudian membuka rekaman dari ruang pemantauan CCTV.
Stella terlihat memasuki ruangan ketika tidak ada orang lain di sana. Ia duduk di depan monitor, mengamati beberapa tampilan kamera, kemudian menggerakkan tangannya pada konsol pemantauan.
Tidak lama setelah Stella meninggalkan ruangan, rekaman dari area gawat darurat diketahui menghilang dari arsip yang tersedia.
Dea menyandarkan tubuhnya.
Semakin banyak petunjuk yang ditemukan, semakin besar pula pertanyaan yang harus dijawabnya.
Mengapa Stella membawa kemasan obat? Siapa yang menerimanya? Dan apa yang sebenarnya dilakukan perempuan itu di ruang pemantauan CCTV?
Dea mencatat seluruh temuan tersebut tanpa menarik kesimpulan yang belum didukung bukti.
Ia harus mencocokkannya dengan catatan penyerahan obat, daftar petugas yang bertugas, dan keterangan saksi.
Kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun menentukan kesalahannya hanya berdasarkan potongan kejadian.
.
.
Sementara itu, Elden akhirnya keluar dari toilet dengan wajah pucat.
Perutnya terasa sedikit lebih baik, meskipun rasa tidak nyaman itu belum reda sepenuhnya.
Ia menoleh ke arah tempat Dea berdiri sebelumnya. Perempuan itu sudah pergi.
Elden menatap brankar yang kini kosong, lalu menghela napas. Setidaknya, Dea telah mengambil flashdisk tersebut.
.
.
Dalam perjalanan pulang, Elden mendadak berbelok di sebuah toko sarapan.
Beberapa menit kemudian, Elden kembali dengan sejumlah kotak makanan dan minuman. Ia juga membeli bubur hangat, roti, serta beberapa camilan yang menurutnya cocok untuk orang yang sedang tidak enak badan.
"Sepertinya, dia belum sempat sarapan pagi. Entah kenapa rasanya pengen makan ini, disuapi oleh dia."
Tiba-tiba, Elden tersadar tatapan ketakutan Dea saat melihatnya. "Bagaimana ini? Apa dia mau menyuapiku?"
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella