Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
Part 32
Seperti biasa, Amanda menatap ke arah sekelilingnya, berharap ada Cio di antara para mahasiswa yang berlalu lalang. Namun hasilnya tetap sama, lelaki yang selalu mengganggunya itu tidak ada di antara mereka, membuat Amanda tertunduk lesu, merasa kecewa karena Cio tidak masuk kuliah lagi.
Sudah beberapa hari ini Amanda sangat berharap Cio datang ke kampus dan mengganggunya lagi, namun kenyataannya justru tidak seperti pada keinginannya. Amanda bahkan sempat menemui Alex dan menanyakan bagaimana kabarnya Cio saat ini, setidaknya Amanda harus tahu supaya ia tak terlalu memikirkannya. Namun sayangnya Alex sendiri juga tidak tahu, meskipun katanya mereka adalah teman dekat sejak kecil.
Amanda sendiri juga tidak mungkin menyalahkan Alex atas ketidak tahuan lelaki itu. Karena yang Alex tahu, papanya Cio adalah pria arogan yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan sesuai keinginannya. Termasuk putranya sendiri. Sebenarnya Amanda tidak tahu apa maksudnya, namun Amanda pikir mungkin itu bukan lah sesuatu yang bagus.
Di tengah acara termenungnya, Amanda sampai tidak menyadari ada sosok lelaki yang berjalan ke arahnya sembari melambaikan tangan. Lelaki yang dulu sempat dirindukannya dan diharapkan bisa dekat kembali, meski semua itu hanya sebatas pertemanan.
"Amanda," panggilnya dari kejauhan.
"Eh Farel. Ada apa?" Amanda bertanya sedikit tak percaya, bila Farel benar-benar menyapanya dan bersikap baik lagi padanya setelah permintaan maafnya kemarin.
"Kamu membawakan aku makan siang tidak?" Farel menyunggingkan senyum hangatnya, dan tentu saja pertanyaannya itu cukup membuat Amanda terkejut. Karena untuk pertama kalinya, Farel menanyakan bekal makanan yang dulu sering ditolaknya.
"Memangnya kamu memintanya ya?" Amanda bertanya bersalah, karena memang ia tak membawa bekal makanan untuk lelaki itu. Andai Farel memintanya kemarin, Amanda pasti akan membawakannya.
"Tidak sih. Aku pikir, karena kita sudah berteman lagi, kamu akan membawakan aku bekal makanan seperti dulu." Farel masih mempertahankan senyum hangatnya, senyum yang selalu bisa membuat Amanda bersemangat. Namun entah kenapa sekarang Amanda justru merasa hambar, seolah gejolak perasaannya sudah menghilang di telan masa lalu.
"Maaf, aku tidak tahu dan aku juga tidak membuatnya. Tapi kamu bisa memakan bekal makananku, itupun kalau kamu mau," ujar Amanda sembari menjulurkan bekal makanannya ke arah Farel sembari tersenyum tulus ke arah teman baiknya itu.
"Tapi kamu bagaimana?"
"Aku bisa makan makanan kantin. Kamu tidak perlu khawatir! Yang penting, kamu harus menjaga kondisi kesehatanmu. Aku tidak mau nanti kamu sakit lagi." Sebagai teman, Amanda melontarkan kalimat kepeduliannya. Bukan karena ia masih menyukai Farel, tapi karena sebagai temannya lagi, Amanda juga harus memperdulikan kesehatan Farel lebih teliti lagi.
"Terima kasih ya. Kamu selalu baik denganku." Farel menjawab tulus setelah menerima kotak bekal makanan itu. Sedangkan Amanda hanya terdiam lalu mengangguk mengerti.
"Bagaimana kalau kita makan bersama di kantin? Aku yang akan mentraktir kamu makan."
"Tidak usah, Rel. Nanti Vanessa tahu dan marah sama kamu." Amanda menolak halus permintaan Farel, karena menurutnya sungguh tidak pantas makan bersama dengan lelaki yang bahkan masih memiliki hubungan dekat dengan orang lain. Amanda hanya tidak mau ada yang salah paham lagi, terlebih lagi Vanessa yang begitu membencinya.
"Vanessa? Aku dengan dia sudah putus." Farel menjawab seadanya sembari tersenyum miris, mengingat masalah yang terjadi dengan mantan kekasihnya itu justru membuat Farel merasa malu.
"Putus? Tapi kenapa?" Amanda bertanya tak percaya, merasa terkejut dengan kabar yang baru didengarnya.
"Eh? Kalau kamu tidak mau mengatakannya, aku tidak apa-apa kok." Amanda melanjutkan ucapannya, merasa cukup tahu diri bila dirinya bukanlah orang yang pantas untuk tahu semua masalah Farel.
"Selama ini aku sudah salah menilai Vanessa. Ternyata dia bukan gadis baik-baik." Farel menjawab sendu meski bibirnya terus tersenyum miris.
"Oh begitu?" Amanda bergumam lirih, merasa tidak perlu lagi meminta penjelasan yang lebih detail, sangking tahu dirinya ia dalam masalah ini.
"Iya. Kamu pasti juga tidak akan menyangka, kalau ternyata Vanessa itu simpanan Om-om, dan bahkan akan menikah." Farel menjawab dengan nada yang sama dan ucapannya itu lagi-lagi berhasil membuat Amanda terkejut mendengarnya.
"Astaga. Aku tidak tahu. Maaf, kalau aku sudah menyinggung nama Vanessa ...." Amanda berujar lirih, merasa sangat bersalah dalam hal ini.
"Aku tidak apa-apa kok. Aku bahkan merasa lebih baik sekarang. Setidaknya aku tahu dari awal kan? Dari pada aku tahu nanti, hatiku pasti akan lebih sakit menerima kenyataannya." Farel lagi-lagi menyunggingkan senyum hangatnya seolah ingin mengatakan bila ia sedang baik-baik saja sekarang.
"Iya ... eh bagaimana kalau kita makan siang saja di kantin? Aku sangat lapar." Amanda mencoba mengalihkan topik, berharap Farel tidak terlalu sedih memikirkan kisah cintanya.
"Iya. Kita ke kantin sekarang." Farel menjawab seadanya dengan senyum yang sama, yang hanya dianggukki kaku oleh Amanda. Keduanya berjalan bersama-sama ke arah kantin, dan banyak dari para mahasiswa yang melihatnya. Mungkin pemandangan itu tidak akan aneh untuk mereka lihat, andai Farel dan Amanda tidak pernah membuat kekacauan di kantin. Tepatnya saat Farel yang begitu tidak menyukai Amanda, membuang bekal makanan yang diberikan untuknya. Namun tatapan para mahasiswa itu tak lagi Amanda maupun Farel pedulikan, karena mereka memilih untuk melupakan masa kelam itu.