Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11: Bunga untuk Dua Perempuan
____🌺
Nayara melangkah masuk ke dalam kamar utama dengan langkah pelan. Buket mawar merah dengan bungkus hitam itu masih berada dalam dekapannya. Aroma bunganya menguar memenuhi udara kamar, tapi baginya wangi itu terasa sangat menyesakkan.
Di depan lemari pakaian, Adrian sedang melepaskan kancing kemejanya, satu per satu. Pria itu menoleh saat mendengar suara pintu ditutup.
"Bunganya ditaruh di vas saja dulu, Nay. Biar tidak cepat layu," kata Adrian santai.
Ia melemparkan kemeja kotornya, ke keranjang cucian. "Kamu mau makan di mana malam ini? Restoran Jepang di pusat kota? Atau kamu lagi ingin makan steak yang waktu itu?"
Istrinya meletakkan buket bunga itu di atas meja rias, menjauhkannya dari tubuhnya. "Di mana saja, Mas. Aku ikut kamu."
Adrian menghentikan gerakannya. Ia memutar tubuh, menatap istrinya dengan dahi sedikit berkerut.
"Loh, kok lemas gitu jawabnya? Kamu masih marah, ya, soal kejadian dua hari ini?"
"Tidak, Mas."
Adrian berjalan mendekat. Ia menyentuh kedua bahu Nayara, menatap mata istrinya.
"Nay, aku tahu beberapa hari ini aku sangat menyebalkan. Aku sering pulang larut malam, sibuk sendiri, marah-marah tidak jelas pagi tadi, sampai lupa hari penting kita."
Nayara hanya diam mendengarkan, menatap lurus ke wajah pria di depannya.
"Aku membatalkan semua jadwalku sore ini dan membelikan bunga itu, karena aku ingin menebus kesalahanku," lanjut Adrian, suaranya terdengar sangat meyakinkan.
"Aku sadar, aku salah karena sudah mengabaikan kamu. Kita mulai dari awal lagi, ya? Malam ini kita habiskan waktu berdua."
"Menebus kesalahan?" ulang Nayara pelan.
"Iya, aku mau menebusnya. Aku mau kamu tahu kalau kamu prioritas utamaku di rumah ini."
Adrian tersenyum manis. Pria itu mengusap lengan Nayara dengan lembut. "Sekarang kamu ganti baju yang bagus, berdandan yang cantik. Aku mandi sebentar, habis itu kita langsung jalan."
Adrian melepaskan tangannya dari bahu Nayara, lalu berbalik menuju kamar mandi.
"Mas," panggil Nayara.
Langkah Adrian terhenti. Pria itu menoleh ke belakang. "Kenapa, Nay? Ada yang mau kamu sampaikan sebelum kita pergi?"
Nayara menarik napas panjang, menekan gemuruh di dadanya.
"Ada satu hal yang mau aku tanyakan sama kamu. Dan aku minta kamu tolong jawab dengan jujur."
Raut wajah Adrian sedikit berubah, tapi ia segera menutupinya dengan tawa kecil yang terdengar canggung. "Tanya apa? Serius sekali kelihatannya."
Nayara menatap tajam kedua mata suaminya. "Apa kamu ... mencintai Selena lagi, Mas?"
Senyum di bibir Adrian lenyap seketika. Tubuhnya mendadak kaku. Tangannya yang baru saja meraih gagang pintu kamar mandi perlahan turun ke sisi tubuhnya.
"Kamu bicara apa sih, Nay?" balas Adrian cepat. Nada suaranya langsung berubah dingin.
"Aku cuma tanya, Mas. Jawab saja pertanyaanku. Sejak Selena kembali dan menjadi rekan kerjamu, apa kamu punya perasaan lagi sama dia? Apa kamu mencintai dia lagi?"
"Kenapa kamu malah membahas perempuan itu lagi?" Adrian berbalik badan sepenuhnya, menatap Nayara dengan tatapan tidak suka.
"Aku baru saja pulang, bawa bunga, minta maaf, dan mengajak kamu makan malam di luar. Kenapa kamu malah merusak suasana dengan pertanyaan konyol seperti itu?"
"Pertanyaanku tidak konyol, Mas. Aku istrimu, dan aku berhak tahu," jawabnya tegas.
"Aku sudah bilang berkali-kali, Selena itu cuma masa lalu dan sekarang dia cuma rekan kerja! Kenapa kamu susah banget untuk ngerti, sih?" Adrian mulai menaikkan nada bicaranya.
"Kalau dia memang cuma masa lalu dan rekan kerja, kenapa susah sekali buat kamu menjawab tidak?" pancing Nayara.
"Aku tidak menyuruh kamu menjelaskan pekerjaanmu. Aku cuma minta satu kata. Iya, atau tidak?"
"Karena pertanyaan kamu itu tidak masuk akal, Nayara!" bentak Adrian.
Wajah pria itu mulai memerah. "Kamu sengaja mencari-cari celah untuk bertengkar denganku! Kamu sengaja memancing emosiku!"
"Aku tidak memancing emosi kamu, Mas. Aku butuh kejujuran kamu," balas Nayara.
Ia melangkah satu tindak mendekati suaminya. "Kalau kamu memang tidak mencintainya, kamu tinggal bilang 'tidak, aku tidak mencintai Selena'. Selesai. Tapi kenapa kamu malah marah dan menghindar?"
Adrian mendengus kasar. Pria itu memijat pelipisnya dengan tangan kanan.
"Aku marah karena kamu tidak pernah menghargai usahaku! Aku pulang cepat hari ini demi kamu! Aku belikan bunga mahal itu demi kamu! Tapi apa balasan kamu? Kamu malah menuduhku mencintai perempuan lain!"
"Bunga ini memang untukku, Mas? Atau jangan-jangan kamu cuma membeli bunga yang biasa kamu berikan untuk orang lain, lalu kamu berikan kepadaku supaya aku diam?" tanya Nayara pelan, namun kata-katanya setajam pisau.
Adrian terbelalak. "Maksud kamu apa bicara begitu?"
"Kamu membelikan bunga mawar merah bersampul hitam dengan pita emas. Pilihan yang sangat sama, Mas," ucap Nayara, matanya terus mengunci tatapan Adrian yang kini mulai terlihat gelisah. "Apa Selena menyukai bunga yang sama persis dengan yang ada di atas meja rias itu?"
"Kamu ini, dikasih hati malah minta jantung!" Adrian menunjuk wajah Nayara, berusaha menutupi kepanikannya dengan amarah yang meledak-ledak.
"Kamu selalu menghubung-hubungkan semua hal dengan Selena! Otakmu isinya cuma cemburu, curiga, dan nuduh aku yang tidak-tidak! Kamu gila, Nay!"
"Jawab pertanyaanku, Mas. Apa kamu mencintai Selena lagi?" ulang Nayara untuk yang ketiga kalinya. Suaranya ditekan.
"Aku tidak mau menjawab!" teriak Adrian keras. Pria itu memukul pintu kamar mandi dengan kepalan tangannya. "Aku tidak mau meladeni pertanyaan dari orang yang pikirannya sudah keracunan prasangka buruk!"
"Kenapa tidak mau menjawab? Apa karena jawabannya iya? Apa karena selama ini kamu berbohong soal lembur dan rapat di luar kota, padahal kamu pergi bersama dia?" Nayara terus mendesak, melepaskan sebagian rasa sesak di dadanya.
"Cukup, Nayara! Cukup!" Adrian mengacak rambutnya dengan kasar. Napasnya memburu cepat.
"Kalau kamu mau terus-terusan bertingkah seperti ini, lebih baik kita tidak usah pergi makan malam! Terserah kamu mau pikir apa tentang aku dan Selena! Aku benar-benar muak menghadapi sikap kamu yang selalu cari ribut!"
"Kamu yang membuat keributan ini, Mas, bukan aku. Kamu yang menghindar."
"Terserah!" potong Adrian tajam. "Kamu renungkan saja sendiri kesalahanmu! Pikirkan bagaimana caramu memperlakukan suami yang baru pulang kerja!"
Adrian memutar tubuhnya dengan cepat, membuka pintu kamar mandi dengan kasar, lalu membantingnya sangat kuat dari dalam hingga bingkai pintu itu bergetar.
BRUK!!!
Suara kunci pintu yang diputar dari dalam terdengar dua detik kemudian. Disusul oleh suara gemericik air pancuran, seolah Adrian sengaja menyalakan air keras-keras agar tidak perlu mendengar suara Nayara dari luar.
Kamar utama itu mendadak hening, hanya menyisakan suara deru air dari balik pintu kayu yang terkunci.
Nayara berdiri di tengah ruangan. Kakinya terasa dingin dan lemas. Ia menarik napas dalam-dalam, menahan agar air matanya tidak jatuh lagi. Pertengkaran barusan menguras semua sisa tenaganya, tetapi di sisi lain, ia mendapatkan apa yang ia cari.
Reaksi Adrian yang meledak-ledak, penolakannya untuk menjawab satu pertanyaan sederhana, dan caranya lari ke dalam kamar mandi adalah jawaban yang sangat jelas. Adrian tidak berani menatap matanya dan berkata bahwa ia tidak mencintai Selena.
Nayara berjalan gontai menuju tepi tempat tidur, lalu duduk di sana. Ia melirik buket mawar merah di atas meja rias dengan tatapan muak.
Adrian berpikir ia bisa menutupi perselingkuhan dan rasa bersalahnya hanya dengan seikat bunga murahan dari toko yang sama.
Saat Nayara hendak membaringkan tubuhnya untuk menenangkan pikiran, matanya tak sengaja tertuju pada layar ponsel Adrian yang tergeletak di atas meja di sebelahnya.
Pria itu terburu-buru masuk ke kamar mandi tanpa membawa ponselnya.
Satu detik kemudian, layar ponsel itu menyala terang.
Ponsel itu bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul, membelah layar kunci dengan tulisan hitam yang sangat jelas.
Nayara menahan napas. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya ke arah ponsel suaminya tanpa perlu menyentuhnya.
Nama pengirim itu muncul lagi.
Selena
Dan tepat di bawah nama tersebut, kalimat pesan yang dikirimkan perempuan itu terbaca dengan sangat gamblang.
Terima kasih untuk malam tadi. Aku masih bisa merasakan pelukanmu.
Darah di tubuh Nayara seakan membeku. Jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik sebelum kembali berpacu dengan liar.
Malam tadi?
Adrian beralasan menemuinya hanya sebagai rekan kerja. Tapi pesan ini ... pesan ini tidak dikirim untuk rekan kerja. Selena berterima kasih untuk semalam. Dan pelukan?
Nayara menoleh ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat, mendengarkan suara air pancuran yang terus mengalir deras.
Suaminya yang baru saja memarahinya dan menuduhnya gila karena cemburu, saat ini sedang di dalam sana, sementara pesan dari selingkuhannya baru saja masuk ke dalam ponselnya.
Nayara mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menusuk kulit telapak tangannya sendiri. Ia tidak akan diam lagi. Bukti kuitansi hotel sudah ia pegang. Foto dari Maya sudah ia simpan. Dan kini, pesan ini menyempurnakan semuanya.
Pernikahan yang ia pertahankan dengan kesabaran kini berubah menjadi tempat paling kotor dan menyakitkan baginya. Dan Adrian akan segera mengetahui bahwa istrinya tidak sebodoh yang ia pikirkan.
emang lu doang yang bisa 🤣🤣