Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 - Sakit Perut
Sam terus menyendokkan nasi prasmanan ke dalam mulutnya dengan kecepatan tinggi. Dua potong rendang raksasa sudah ludes tanpa sisa, disambung dengan empat tusuk sate ayam yang dagingnya gempal-gempal, serta sepiring kecil es buah sebagai pencuci mulut. Orang-orang di sekitar meja prasmanan, terutama Tante Mirna dan Bu Heni, hanya bisa menonton dengan tatapan takjub. Di mata mereka, cara makan Sam yang begitu lahap bukanlah tanda tidak tahu krama, melainkan cerminan pria sejati yang perkasa dan tidak jaim.
Namun, kejayaan perut Sam tidak bertahan lama.
Hanya dalam waktu sepuluh menit setelah es buah dingin bercampur santan gulai, cabe rendang pedas, dan bumbu sate kacang menyatu di dalam lambungnya yang sejak pagi kosong, sebuah bencana biologis skala besar mendadak pecah. Perut Sam mulai bergejolak hebat.
Suara keroncongan di dalam perut Sam terdengar meliuk-liuk bagaikan raungan buaya muara yang kelaparan di tengah rawa. Sam mendadak membatu di atas kursi kayu ukir Tante Lies. Cengkeraman tangannya pada sendok emas melonggar seketika. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes dari dahi dan pelipis tampannya.
'Aduh... musibah...' batin Sam panik bukan main.
Asam lambungnya berontak hebat. Perutnya mendadak terasa melilit bagaikan dililit ular sanca seberat seratus kilogram. Ditambah lagi, gas bertekanan tinggi mulai menumpuk di usus besarnya, mencari jalan keluar secepat mungkin.
Sam berusaha setengah mati menahan desakan alami tubuhnya. Kedua kakinya dirapatkan kencang-kencang, otot bokongnya ditegangkan seratus persen melebihi ketegangan saat ia mencengkeram rahang buaya. Matanya yang tajam kini membelalak menatap langit-langit rumah Tante Lies, menahan gejolak mules luar biasa yang siap meledak kapan saja.
Di sudut ruangan, Aris si Branch Manager yang masih cemberut mendadak menunjuk ke arah Sam dengan senyum sinis. "Lho, Mas Sam kenapa itu? Kok mukanya mendadak pucat begitu? Kena angin duduk atau mabuk makanan katering?"
"Bukan... Ini... saya sedang meresapi kelezatan bumbu rendang Tante Lies," alibi Sam dengan suara yang agak bergetar, berusaha tetap tersenyum meski bibirnya sudah gemetaran menahan laju gas mematikan.
Tia yang menyadari perubahan raut wajah Sam yang drastis langsung menghampirinya dengan rasa curiga. Tia berbisik pelan tepat di samping telinga Sam.
"Mas Sam, kamu kenapa?! Jangan bikin malu di depan keluarga besar! Muka kamu kenapa berubah hijau begitu?!" bisik Tia tegang.
Sam melirik Tia dengan mata yang berkaca-kaca menahan penderitaan duniawi. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Tia, berbisik sangat pelan dengan nada memelas yang teramat dalam.
"Mbak Tia... tolong aku..." bisik Sam pasrah.
"Kenapa?! Kamu keracunan?!"
"Bukan... Aku sakit perut parah... Aku mau buang air besar... tapi yang paling gawat sekarang... Aku kebelet kentut banget, Mbak! Gasnya sudah di ujung tanduk!" ungkap Sam polos tanpa sisa-sisa gengsi.
Tia melotot hebat, hampir saja memekik histeris. "Hah?! Kamu mau kentut di sini?!"
"Aku sudah tahan pakai seluruh otot tubuh saya, Mbak! Tapi kalau lima detik lagi kita tidak keluar dari ruangan ini, aku jamin rumah Tante Lies bakal butuh evakuasi darurat!" ancam Sam setengah menangis.
Tia sadar betul jika calon suami kreditnya sampai melontarkan gas beracun campuran rendang dan santan di tengah-tengah acara arisan, reputasi yang baru saja ia bangun susah payah akan hancur lebur menjadi abu. Tia langsung menyambar lengan kekar Sam.
"Ayo! Kita ke luar sekarang! Bilang saja mau menghirup udara segar!" cetus Tia panik, berusaha menarik Sam berdiri.
Namun, baru saja Sam berhasil bangkit dari kursi dengan posisi jalan agak mengangkang dan kaku bagaikan robot kekurangan oli, Bu Heni mendadak memotong jalan mereka. Ibunda Tia itu tersenyum lebar sambil membawakan segelas teh hangat manis.
"Duh, Sam, mau ke mana nak? Ini Ibu buatkan teh hangat manis khusus buat calon menantu kesayangan Ibu!" cegah Bu Heni ramah, menghalangi langkah mereka tepat di tengah ruangan.
"E-eh... terima kasih banyak, Ibu..." sahut Sam bersusah payah, menerima gelas itu dengan tangan yang gemetaran hebat.
"Aduh, Ibu, nanti saja tehnya! Sam mau..." Tia berusaha menyela, tetapi Bu Heni memotong cepat.
"Tunggu sebentar dong, Tia! Ibu kan belum sempat ngobrol banyak sama Sam!" Bu Heni menepuk-nepuk lengan atas Sam yang tebal. "Sam, Ibu bangga banget sama kamu. Walaupun kamu pawang buaya, kamu itu sopan, ganteng, dan makannya lahap. Beda banget sama si Aris itu yang dari tadi cuma melirik iri!"
Sanjungan Bu Heni yang berapi-api itu membuat Sam makin panik. Setiap kali Bu Heni menepuk lengannya, otot perut Sam refleks terguncang!
Glegug!
"Aduh... Ibu... jangann ditepuk-tepuk bahu saya..." pangkas Sam meringis, keringat dinginnya makin deras mengucur hingga membasahi kerah kemeja putih mewahnya.
"Lho, kenapa nak? Kamu kedinginan ya?" Bu Heni malah makin mendekat dan merangkul bahu Sam dengan penuh kasih sayang seorang ibu.
Guncangan dari rangkulan hangat Bu Heni menjadi pukulan terakhir bagi pertahanan otot bawah Sam yang sudah di ambang batas kemampuan manusia biasa. Pertahanan itu bobol seketika!
Tuuuuut... pszzzzz!
Sebuah suara nyaring bercampur desisan panjang yang sangat tidak bersahabat bergema halus namun jelas dari arah celana bahan Sam.
Suasana riuh di ruang tamu Tante Lies mendadak hening seketika. Semua pasang mata, Tante Lies, Tante Mirna, Nia, Aris, hingga para sepupu, langsung tertuju pada titik pusat suara di dekat Sam.
Bu Heni membatu di tempat, matanya berkedip kaku. "Suara... suara apa itu tadi?"
Tia memejamkan mata erat-erat, rasanya ingin menghilang menembus ubin rumah Tante Lies detik itu juga.
Namun, Samsudin sang pawang buaya kawakan tidak kehilangan akal sehatnya. Dalam hitungan milidetik, dengan ekspresi paling tenang, karismatik, dan tanpa rasa dosa sedikit pun, Sam menunjuk ke arah Aris si Branch Manager yang duduk di sofa dekat mereka.
"Mas Aris... kalau mau kentut bilang-bilang dong. Tidak usah sungkan begitu, kan kita sudah dianggap keluarga," ujar Sam dengan suara berat berwibawa, menatap Aris penuh simpati yang dibuat-buat.
"Hah?! APA-APAAN?! BUKAN AKU!" jerit Aris histeris, melompat berdiri dari sofanya dengan wajah merah padam. "Dih, nuduh! Orang suaranya jelas-jelas dari arahmu!"
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu
udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran