NovelToon NovelToon
Bisu, Tapi Membisu

Bisu, Tapi Membisu

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Hamil di luar nikah / CEO
Popularitas:83k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.

Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.

Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.

Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.

Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.

Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19.Kabar yang Mengubah Segalanya

Waktu berlalu sebelum akhirnya seorang dokter keluar dari UGD.

Arvid dan Bu Rina serentak berdiri.

“Dok, gimana keadaan Zinnia?” tanya Bu Rina.

Dokter itu melihat keduanya bergantian. “Sebelumnya, boleh saya tahu siapa keluarga pasien?”

Bu Rina menggeleng pelan. “Saya supervisornya dari restoran, Dok. Saya gak tau apakah dia punya keluarga di kota ini.”

Dokter mengangguk. “Apakah ada nomor keluarga yang bisa dihubungi?”

“Kami memiliki nomor telepon yang dia cantumkan saat melamar, tapi saya belum tau apakah itu nomor keluarganya.”

“Baik. Jika memungkinkan, tolong bantu kami menghubunginya.”

Arvid yang sejak tadi diam akhirnya bertanya, “Gimana kondisinya, Dok?”

“Pasien mengalami nyeri perut setelah jatuh. Kami sudah melakukan pemeriksaan awal dan sedang memantau kondisinya.”

Dokter berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Ada satu hal yang perlu kami sampaikan. Pasien sedang hamil.”

Arvid membeku. Hamil?

Kata itu berputar di kepalanya, menyeret ingatannya kembali pada percakapan dengan Pak Herry di Aurelle. Mual, kehamilan simpatik, kekhawatirannya sendiri yang selama ini ia coba tepis sebagai kebetulan.

Ia menatap dokter itu, seolah tidak yakin telah mendengar dengan benar. "Kehamilannya masih bisa dipertahankan?" tanyanya, suaranya terdengar lebih tegang daripada yang ia maksudkan.

“Berdasarkan pemeriksaan awal, tanda-tanda yang kami periksa menunjukkan janinnya masih dalam kondisi baik. Namun, karena pasien mengalami nyeri setelah jatuh, kami gak akan menganggap masalah ini selesai begitu saja. Kondisinya perlu dipantau dan kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan sesuai kebutuhan.”

Bu Rina mengembuskan napas lega. “Syukurlah.”

Dokter menambahkan, “Pasien juga perlu beristirahat. Setelah kondisinya stabil, dokter yang menangani akan menjelaskan berapa lama ia perlu membatasi aktivitas dan apa saja yang harus dihindari.”

Arvid masih terdiam. Zinnia hamil. Entah mengapa, dua kata itu terasa menghantamnya lebih keras daripada yang seharusnya.

Ia tidak tahu siapa ayah anak itu. Ia bahkan baru mengetahui nama lengkap perempuan tersebut beberapa menit lalu.

Namun, ketika membayangkan Zinnia terbaring sendirian di balik pintu UGD, rasa khawatir yang sejak tadi mengganggunya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berat.

“Dok,” katanya akhirnya, “untuk biaya perawatannya, biar saya yang tanggung.”

Bu Rina menoleh kepadanya. “Pak, Anda gak perlu—”

“Nggak apa-apa.” Arvid sendiri tidak tahu mengapa ia menawarkan diri.

Ia bisa saja menyerahkan semuanya kepada pihak restoran. Ia juga tidak punya kewajiban untuk membayar biaya pengobatan seorang pegawai yang bahkan tidak dikenalnya.

Namun, ia teringat pada tangan Zinnia yang terulur sebelum pintu UGD tertutup. Pada jemarinya yang sempat menggenggam tangan Arvid seolah memohon agar pria itu tidak pergi.

“Apa karena dia terasa familier?” gumamnya nyaris tanpa suara.

Pandangan Arvid kembali jatuh pada ponsel di tangannya. Di dalamnya, foto gelang dengan bandul huruf Z masih tersimpan. Ia mengangkat wajah, menatap pintu UGD yang tertutup rapat.

Jika Zinnia memang perempuan yang selama ini ia cari, mungkin pertemuan ini bukan sekadar kebetulan.

Namun, ada satu pertanyaan yang kini jauh lebih mendesak daripada identitas perempuan itu.

Siapa ayah dari anak yang sedang dikandung Zinnia?

Arvid mengatupkan rahang. Ia belum memiliki jawaban. Dan ia tidak berhak mengarangnya hanya berdasarkan kecurigaan.

Untuk saat ini, ia hanya bisa menunggu sampai Zinnia cukup sehat untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Ponsel Arvid bergetar di tangannya. Nama Juki muncul di layar. Arvid segera mengangkat panggilan itu.

“Bos, Anda di mana?” Suara Juki terdengar tergesa-gesa. “Sebentar lagi rapat dimulai. Klien sudah dalam perjalanan ke kantor, kok Anda belum balik juga?”

Arvid terdiam. Rapat.

Ia melirik jam tangannya. Baru saat itu ia menyadari bahwa hampir satu jam telah berlalu sejak meninggalkan restoran.

“Siapkan ruang rapat. Aku segera kembali.”

“Baik, Bos. Tapi Anda lagi di mana? Dari tadi saya tunggu—”

“Ada urusan mendadak," potong Arvid. "Nanti kujelaskan.”

Arvid memutus panggilan sebelum Juki sempat melontarkan pertanyaan lain. Tatapannya kembali tertuju pada pintu UGD.

Ia belum tahu bagaimana kondisi Zinnia sekarang. Ia juga belum mengetahui apakah perempuan itu memiliki keluarga yang bisa segera datang menemaninya.

Namun, ia tidak bisa terus berada di rumah sakit. Rapat penting sudah menunggunya, dan ia tidak mungkin membiarkan semua orang menunggu tanpa kejelasan.

Arvid mengembuskan napas panjang, kemudian menghampiri seorang perawat yang kebetulan melintas.

“Permisi. Saya ingin memastikan biaya perawatan pasien bernama Zinnia Arunika. Saya bersedia menanggungnya.”

Perawat itu berhenti. “Baik, Pak. Untuk pembayaran, nanti bagian administrasi yang akan membantu. Akan saya sampaikan informasi ini pada petugas terkait.”

“Silakan," ucap Arvid. "Tolong pastikan mereka mencatat nama saya sebagai penanggung biaya sementara. Jika ada dokumen yang perlu saya lengkapi, Anda bisa menghubungi nomor saya.”

“Baik, Pak," jawab perawat.

Arvid mengangguk, menyerahkan kartu namanya. Ia lalu menoleh sekali lagi ke arah pintu UGD.

Entah mengapa, ia masih teringat pada tangan Zinnia yang terulur ke arahnya sebelum pintu itu tertutup. Ada sesuatu dalam tatapan perempuan tersebut yang membuatnya merasa seolah-olah ia sedang memohon agar tidak ditinggalkan.

Padahal, mereka bahkan belum saling mengenal.

Arvid mengusap wajahnya, berusaha menyingkirkan pikiran yang terus mengganggu.

“Aku akan kembali kalo urusanku kelar,” gumamnya, meskipun ia tidak yakin apakah Zinnia bisa mendengarnya.

Setelah itu, ia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Langkahnya tetap cepat, tetapi pikirannya masih tertinggal di balik pintu UGD.

 

Bu Rina kembali dari bagian administrasi beberapa menit kemudian. Setelah memastikan beberapa urusan awal selesai, ia bergegas menuju tempatnya terakhir kali berbicara dengan Arvid. Namun, pria itu sudah tidak ada.

Bu Rina menoleh ke sekeliling, berharap melihatnya di antara orang-orang yang berlalu-lalang. Ketika tidak menemukannya, ia menghampiri seorang perawat yang sedang memeriksa berkas pasien.

“Permisi, Sus. Pria yang tadi bersama saya masih di sini?”

“Pria yang mengantar pasien Zinnia?” tanya perawat.

“Iya.”

“Sudah pergi, Bu. Sebelum pergi, beliau berpesan agar biaya perawatan pasien Zinnia Arunika dicatat atas tanggungan beliau. Bagian administrasi sedang menindaklanjutinya," jelas perawat.

Bu Rina tampak terkejut. “Beliau benar-benar akan membayar semuanya?”

“Begitu yang beliau sampaikan," jawab perawat. "Untuk rinciannya, nanti bisa dikonfirmasi langsung kepada bagian administrasi.”

Bu Rina mengangguk pelan. “Baik. Terima kasih.”

Ia sempat memandangi arah pintu keluar. Ia bahkan belum sempat menanyakan nama lengkap pria itu atau perusahaan tempatnya bekerja.

Namun, setidaknya ada satu hal yang membuatnya sedikit lega: Zinnia tidak harus menghadapi seluruh urusan rumah sakit sendirian.

Bu Rina kemudian mengambil ponselnya dan membuka berkas kepegawaian Zinnia. Di sana tercantum nomor kontak keluarga yang diberikan saat melamar pekerjaan.

 

...🔸🔸🔸...

...“Ada perbuatan yang mungkin hanya berlangsung sesaat, tetapi akibatnya dapat mengubah kehidupan seseorang untuk waktu yang lama. Karena itu, keberanian yang sesungguhnya bukan sekadar berani bertindak, melainkan juga berani menghadapi konsekuensinya.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Cicih Sophiana
mulai lah belajar saling memahami dan menghargai pendapat pasangan...
Cicih Sophiana
cinta akan datang jika mereka saling menghormati dan saling pengertian..
Anitha
Sabar ya Ar butuh waktu bagi Zinnia untuk kamu sentuh🤭tapi Zin ga apa² kalo Arvid mau cium kamu Arvid akan tambah cinta dan sayang sama kamu..

duh itu Merry nyewa detektif semoga saja tercium oleh Arvid gimana reaksi Arvid jika tau mamanya nyelidiki Zinnia?
Cicih Sophiana
ngidam nya Arvid seharus nya klo dekat Zinnia sembuh kak Nana... biar Arvid mau nya deket terus dgn Zinnia 🫢😄
Cicih Sophiana
aq yakin percaya klo Arvid orang baik yg bertanggung jawab...bukan cuma omdo
Cicih Sophiana
kebanyakan atau hampir semua ibu pasti seperti ibu Riri...
Cicih Sophiana
semoga walau mungkin dgn perjuangan yg alot orang tua Arvid akhir nya menyetujui pernikahan mereka...
Cicih Sophiana
semoga orang tua nya Arvid mau menerima Zinnia apa ada nya...
kak Nana kasih keajaiban untuk Zinni dong... dia bisa bicara setelah nikah 🫢
Cicih Sophiana
semoga pernikahan ini akan membawa kebahagiaan untuk kedua belah pihak...
abimasta
yang sabar ya arvid
Cicih Sophiana
VOTE untuk kak Nana... semangat dan sehat slalu
Cicih Sophiana
klo Arvid gak mau tanggung jawab gak mungkin mecari dan menyelidiki nya...
Cicih Sophiana
harus terima dong bu... klo gak di terima kasihan Zinni dan anak nya... takut nya nanti klo sekolah di bully teman nya...
Cicih Sophiana
Arvid niat nya baik Zinni percaya aja... jangan di larang dia kan udah janji mau bertanggung jawab
Siti Jumiati
up
Cicih Sophiana
ayo ah Zinnia buang dulu prasangka buruk nya... mungkin kalian jodoh nya dgn cara begitu... yakinlah Arvid akan melindungi mu dan anak mu dari siapa pun yg akan menyakiti mu..
Cicih Sophiana
Zinnia kasian anak mu klo kamu masih menyangkal... anak jg butuh kasih sayang seorang ayah Zinnia... jujur aja sekarang jgn menyangkal lg
Cicih Sophiana
pantau aja terus Nita... kamu nanti jg akan tau klo Zinnia sedang mengandung anak nya Arvid 😄
Cicih Sophiana
semoga cepat terungkap knp Zinnia menghindar setelah bertemu Arvid..
Cicih Sophiana
Zinnia dulu kamu mencari tp setelah bertemu malah bungkam... hamil itu lama kelamaan membesar emang nya mau kecil terus bisa di umpetin... jgn terlalu berburuk sangka dulu sama orang Zinnia kan kamu blm tau sifat Arvid...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!