Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.
(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Sepuluh tahun berlalu.
Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.
Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".
Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.
Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 (KASUS 1) KETEGANGAN DI RUANG RAPAT
Tepat pukul 10 pagi.
Pendingin udara berdaya besar di ruang rapat utama lantai dua gedung Satreskrim Polres berhembus konstan, menyemburkan hawa dingin yang menusuk hingga ke balik serat pakaian. Meja oval berbahan kayu jati berpelitur gelap yang mendominasi tengah ruangan tampak mengilat di bawah paparan lampu neon putih.
Di ujung meja sebelah kanan, Ipda Harumi duduk tegap. Kedua tangannya tertata rapi di atas stopmap merah tebal bertuliskan BUKTI UTAMA KASUS JONATHAN NASUTION.
Di sebelah kirinya, dr. Haruma duduk dengan ketenangan yang teramat anggun. Dokter forensik itu mengenakan jas laboratorium putih Dokpol yang kaku, memangku amplop cokelat berstempel basah serta beberapa lembar foto makro cetakan beresolusi tinggi.
Aipda Rudi berdiri siaga di dekat pintu kaca ruang rapat, sementara Kombes Supriyadi dan Kasat Reskrim duduk di kursi pimpinan meja, menatap pintu dengan raut wajah tegang.
Klek... sreeet...
Pintu kayu tebal ruang rapat didorong terbuka dari luar.
Langkah kaki pertama yang menapak lantai keramik diiringi oleh ketukan sepatu kulit mahal berkilat. Budiarto—kuasa hukum PT. Cipta Buana Investco—melangkah masuk dengan gaya borjuisnya yang sangat mencolok.
Pria paruh baya itu mengenakan setelan jas wool buatan penjahit ternama berwarna hitam pekat, kacamata berbingkai emas, dan jam tangan berlapis platina yang memantulkan cahaya lampu. Wajahnya yang klimis dipenuhi oleh senyuman dingin, memancarkan keangkuhan seorang pengacara papan atas yang terbiasa mendikte persidangan.
"Selamat pagi, Kombes Supriyadi, Kasat Reskrim, dan... Bu Inspektur Harumi," sapa Budiarto dengan nada suara yang terkesan ramah namun kental akan nada meremehkan.
Di belakang Budiarto, melangkah masuk tiga orang perwakilan jajaran Direksi PT. Cipta Buana Investco.
Pria di barisan depan adalah sang Direktur Utama, seorang pria bertubuh tambun berusia 50-an dengan setelan jas biru gelap yang terus menyapu keringat di dahi keningnya.
Namun...
Perhatian mata tajam Ipda Harumi seketika terkunci pada sosok wanita muda yang berjalan paling belakang di barisan direksi tersebut.
Wanita muda itu bernama Frida Valery, berumur 27 tahun, yang menjabat sebagai sekretaris pribadi almarhum Jonathan Nasution.
Frida mengenakan blazer formal berwarna abu-abu gelap dan rok span bernuansa senada. Parasnya jelita dengan riasan tipis, rambut hitamnya disanggul rapi di belakang leher.
Namun, berbeda dengan ketenangan buatan Budiarto atau keangkuhan sang Direktur Utama, Frida melangkah dengan tubuh yang tampak amat kaku. Jemari tangannya yang kurus terus-menerus meremas tali tas kulitnya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Silakan duduk, Saudara Budiarto, para jajaran direksi, dan Saudari Frida," ujar Kombes Supriyadi memberi isyarat tangan dengan intonasi berat dan netral.
Budiarto menarik kursi kayu berlapis busa di seberang Harumi, menyilangkan kakinya yang berbalut celana kain mahal dengan gerakan perlahan. Sang Direktur Utama dan dua direksi lain duduk di sampingnya, sementara Frida Valery mengambil posisi duduk paling ujung, agak menarik kursinya sedikit ke belakang seolah ingin bersembunyi dari pandangan orang-orang di dalam ruangan.
Budiarto meletakkan tas kerja kulitnya di atas meja, lalu membetulkan letak kacamata bingkai emasnya.
"Kombes Supriyadi yang saya hormati," Budiarto membuka pembicaraan tanpa menunggu isyarat, suaranya lantang dan berbobot. "Saya hadir di sini bersama klien-klien saya memenuhi panggilan darurat yang dilayangkan oleh Ipda Harumi. Namun jujur saja, kami sangat keberatan dengan cara-cara penanganan dari Unit Jatanras ini."
Budiarto memutar kepalanya, menatap Harumi dengan pandangan dingin yang menekan.
"Gara-gara panggilan mendadak dan penahanan jasad Pak Jonathan yang berlarut-larut tanpa alasan hukum yang jelas, pagi ini harga saham anak perusahaan kami kembali merosot hingga 34%!" lanjut Budiarto dengan intonasi yang kian meninggi. "Jika Inspektur Harumi tidak memiliki bukti materiil yang sah dan hanya bersandar pada asumsi liar, saya tidak akan ragu untuk melaporkan tindakan intimidasi bisnis ini ke Polda Metro Jaya dan Kompolnas hari ini juga!"
Sang Direktur Utama di samping Budiarto ikut menyahut dengan wajah merah padam. "Betul itu! Jonathan itu tewas karena kelelahan kerja dan gagal jantung alami! Kenapa kepolisian malah menciptakan kegaduhan yang merugikan investasi bernilai triliunan rupiah?!"
Suasana di dalam ruang rapat seketika memanas.
Tekanan dari pihak pengacara borjuis dan direksi perusahaan itu seolah ingin menguasai penuh jalannya pertemuan.
Kasat Reskrim tampak agak gelisah di kursinya, melirik ke arah Kombes Supriyadi.
Namun, di tengah gempuran ketegangan tersebut, dr. Haruma tetap duduk tegap dengan ketenangan yang teramat luar biasa. Wajah anggun dokter forensik itu sama sekali tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.
Haruma menggeser amplop cokelat di pangkuannya ke tengah meja, lalu membukanya secara perlahan.
"Pak Budiarto dan Pak Direktur yang terhormat," panggil Haruma. Suaranya tidak keras, namun intonasinya begitu jernih, profesional, dan dipenuhi oleh wibawa akademis kedokteran yang sangat tajam hingga membuat bentakan para direksi seketika terhenti.
Haruma menjangkau lembaran kertas foto cetakan makro berukuran besar mengenai cap luka bakar geometris di belakang tulang tengkorak Jonathan—lalu meletakkannya di tengah meja rapat, tepat di hadapan Budiarto dan Kombes Supriyadi.
Plak!
"Sebagai saksi ahli forensik kepolisian yang memimpin langsung pembedahan otopsi pada jasad Saudara Jonathan Nasution, saya ingin menyampaikan hasil temuan medis otentik Visum et Repertum Nomor 104," ucap Haruma tegas.
Budiarto memicingkan matanya menatap foto jaringan daging merah yang terukir pola luka bakar hitam geometris tersebut. Dahi Budiarto berkerut halus, meski ia berusaha keras mempertahankan raut wajah tenang di hadapan kliennya.
"Foto apa ini, Dokter?!" tanya Budiarto bernada sengit. "Hanya foto sayatan daging yang tidak membuktikan apa-apa!"
Haruma menatap Budiarto lurus-lurus tanpa berkedip. "Foto ini adalah rekaman makro dari jaringan fasia subkutan tepat di atas tulang tengkorak belakang almarhum Jonathan Nasution."
Haruma memajukan sedikit posisinya, menjelaskan dengan kalimat medis yang sangat jernih dan mudah dipahami seluruh orang di dalam ruangan.
"Pada pemeriksaan fisik luar, permukaan kulit kepala korban memang tampak bersih mulus tanpa cacat," papar Haruma teratur. "Namun saat saya melakukan penyatan eksplorasi pada lapisan jaringan dalam, ditemukan adanya trauma termal terpusat berupa cap luka bakar geometris berbentuk pecahan pola lingkaran dan kisi segitiga simetris. Pola luka bakar ini terbentuk akibat paparan panas intensitas tinggi yang merusak jaringan dalam tanpa membakar lapisan kulit luar (epidermis)."
Kombes Supriyadi membungkuk mendekati foto tersebut, matanya membelalak kaget. "Luka bakar di bawah kulit kepala, Dokter Haruma?!"
"Tepat sekali, Komandan," jawab Haruma mantap. "Dan tidak hanya itu. Pada pembedahan dalam rongga dada, ditemukan anomali destruksi seluler ekstrem pada organ jantung dan paru-paru korban. Kedua organ vital tersebut mengalami atrofi atau pengkerutan masif hingga ukurannya menyusut lebih dari separuh, dengan konsistensi jaringan kaku dan mengering—kondisi patologis yang setara dengan kerusakan organ lansia usia di atas 80 tahun."
Haruma menyandarkan tangannya di atas meja, menatap jajaran direksi satu per satu.
"Secara ilmu patologi forensik dan hukum kedokteran, TIDAK ADA satu pun jenis penyakit jantung bawaan, kelelahan kerja, atau reaksi alergi alami di dunia ini yang sanggup mengubah organ dalam pemuda sehat berusia 32 tahun menjadi organ lansia, dan mencapkan stempel luka bakar di tulang tengkoraknya hanya dalam hitungan jam!" tegas Haruma dengan pembuktian ilmiah yang teramat sangat menusuk. "Kematian Jonathan Nasution secara mutlak adalah akibat dari tindakan pembunuhan berencana menggunakan trauma non-mekanis eksternal!"
Deg!!!
Kata-kata dr. Haruma bagaikan pukulan palu hakim yang menghantam meja.
Budiarto bungkam seketika. Mulutnya sedikit terbuka, tatapannya terpaku kaku pada foto makro cap geometris di tengah meja.
Sang Direktur Utama yang tadinya menggebu-gebu seketika terdiam dengan wajah memucat, menyapu peluh di lehernya yang makin deras.
Melihat pertahanan awal Budiarto mulai goyah oleh bukti medis forensik dari kakaknya, Ipda Harumi langsung melancarkan serangan hukum gelombang kedua.
Harumi membuka stopmap merah di tangannya dengan gerakan mantap. Ia menarik beberapa lembar kertas cetakan resmi dari bank sentral serta salinan draf email rahasia milik Jonathan.
"Terima kasih atas penjelasan medisnya, dr. Haruma," ucap Harumi dengan intonasi suara dingin dan tak terbantahkan. "Kini giliran saya menyampaikan bukti tindak pidana finansial yang menjadi motif utama pembunuhan ini."
Harumi menyodorkan lembaran rekening koran dan salinan email tersebut ke tengah meja.
"Pak Budiarto... dua hari sebelum kematian Jonathan, tepatnya hari Selasa sore, terjadi pemindahbukuan dana sebesar 50 miliar rupiah dari rekening operasional PT. Cipta Buana Investco menuju rekening penampung milik PT. Samudra Nusantara Kirana—sebuah perusahaan cangkang fiktif di daerah pelabuhan," pangkas Harumi tajam.
Budiarto mencoba menguasai kembali ketenangannya. "Pemindahan dana perusahaan adalah urusan internal bisnis kami, Inspektur! Itu tidak ada hubungannya dengan tuduhan pembunuhan!"
"Sangat berhubungan, Pak Budiarto!" potong Harumi cepat dengan tatapan mata berkilat-kilat. "Sebab pada Selasa malam jam 8, Jonathan Nasution secara resmi menyusun draf email penolakan tertulis untuk menandatangani dan memverifikasi pengalihan dana 50 miliar rupiah tersebut!"
Harumi membaca paragraf kunci dari cetakan email di tangannya dengan suara nyaring yang bergema di seluruh ruangan rapat:
...........
...'...Saya menyatakan MENOLAK keras untuk menandatangani dan memverifikasi lembar persetujuan transfer dana sebesar 50 miliar rupiah ke rekening PT. Samudra Nusantara Kirana. Transaksi ini tidak memiliki landasan audit akuntansi yang sah dan dialokasikan untuk kegiatan non-operasional...'...
...........
Harumi menggebrak meja secara perlahan namun amat mengintimidasi, menatap Direktur Utama dan Budiarto bergantian.
"Dan dalam balasan pesan terenkripsi malam itu juga, pihak manajemen melontarkan ancaman bahwa jika Jonathan tidak menandatangani pengalihan dana tersebut hingga Rabu sore, posisi dan keselamatannya yang akan jadi taruhannya!" tegas Harumi. "Jonathan menolak menjadi bagian dari pencucian uang haram kalian pada Rabu sore, dan pada jam 3 lewat 13 menit dini hari, nyawanya dirampas secara keji!"
Suasana di dalam ruang rapat seketika membeku total!
Kombes Supriyadi menatap jajaran direksi dengan pandangan mata yang sangat murka. "Budiarto! Apakah berita draf penolakan dan ancaman ini benar?!"
"I-itu... itu tidak benar, Komandan!" jawab Budiarto terbata-bata, kacamata emasnya agak melenceng. Wajah borjuisnya yang semula percaya diri kini tampak panik luar biasa. "E-email itu cuma draf sepihak! Jonathan sedang mengalami gangguan tekanan emosional dan paranoia kerja!"
"Jangan berbohong di hadapan hukum, Budiarto!" tukas Harumi dingin.
Harumi tidak lagi membuang-buang energinya untuk berdebat dengan Budiarto yang panik.
Pandangan mata tajam sang polwan Jatanras kini beralih sepenuhnya, mengunci sosok saksi kunci yang sejak tadi duduk terdiam di ujung meja: FRIDA VALERY.
"Saudari Frida Valery..." panggil Harumi dengan suara rendah yang sangat dalam dan berbobot.
Frida tersentak kaget.
Tubuh wanita muda berumur 27 tahun itu berguncang tipis saat nama lengkapnya dipanggil oleh Ipda Harumi. Frida mendongakkan kepalanya, matanya yang berkaca-kaca menatap Harumi dengan kepanikan yang teramat sangat.
"S-saya... Bu Inspektur...?" bisik Frida dengan suara parau bergetar.
Di detik saat mata Harumi bertatapan langsung dengan iris mata Frida Valery...
Ipda Harumi mengaktifkan kekuatan "Mata Batin Murni" miliknya.
Dan...
Wussshhh...
Pandangan dimensi kasat mata di dalam ruang rapat seketika terkelupas di mata batin Harumi.
Di sekeliling tubuh Frida Valery, Harumi melihat pendaran aura yang teramat sangat keruh!
Gumpalan aura berwarna hitam pekat bercampur merah darah membara membungkus rapat dada, leher, dan kepala Frida.
Pendaran aura keruh itu bergetar hebat—sebuah sinyal ghaib tak terbantahkan yang memancarkan rasa ketakutan ekstrem, rasa bersalah yang membakar jiwa, serta kebohongan besar yang sedang ditutupi di bawah ancaman mematikan!
Bukan hanya itu...
"Mata batin" Harumi bahkan menangkap benang-benang aura hitam tipis yang terikat dari pergelangan tangan Frida menuju ke arah tas kerja Budiarto dan kemeja sang Direktur Utama—tanda bahwa Frida berada di bawah cengkeraman intimidasi dan doktrin pembungkaman dari para petinggi perusahaan tersebut!
Harumi menopang kedua tangannya di atas meja, membungkukkan sedikit tubuhnya menghadap Frida.
"Frida Valery, usia 27 tahun, sekretaris pribadi almarhum Jonathan Nasution," ujar Harumi dengan analisis yang teramat presisi. "Anda adalah orang terakhir yang bertemu dan berinteraksi langsung dengan Jonathan di ruang kerjanya pada hari Rabu jam 3 sore sebelum beliau ditemukan tewas di penthouse."
Frida menelan ludah dengan susah payah, jemarinya semakin kencang meremas tali tas kulitnya. "S-saya... saya cuma mengantarkan berkas harian biasa, Bu..."
"Jangan berbohong, Frida!" potong Harumi dengan intonasi suara yang begitu tegas, menembus langsung ke dalam sanubari saksi kunci tersebut. "Mata batin dan fakta hukum saya melihat aura ketakutan yang teramat luar biasa di dalam diri Anda!"
Harumi memajukan posisinya, menunjuk lembaran berkas transaksi 50 miliar rupiah di meja.
"Rabu jam 3 sore, Anda melangkah masuk ke ruang kerja Jonathan membawa map berisi lembar persetujuan pengalihan dana 50 miliar rupiah tersebut untuk ditandatangani oleh Jonathan, betul?!" cecar Harumi dengan tatapan mata yang seolah menelanjangi seluruh rahasia di dalam dada Frida.
Tubuh Frida bergetar semakin hebat. Keringat dingin bercucuran membasahi pelipis dan lehernya di balik blazer abu-abu. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Dan saat Jonathan membaca lembaran itu..." lanjut Harumi melancarkan tekanan psikologis tingkat tinggi, "...Jonathan marah besar! Beliau membanting pena di atas meja, menolak membubuhkan tanda tangannya, dan mengancam akan membongkar seluruh transaksi gelap ini ke pihak kepolisian! Apakah ucapan saya benar, Frida?!"
"CUKUP!" seru Budiarto berdiri dari kursinya sambil menggebrak meja rapat dengan sangat keras.
Wajah Budiarto memerah padam oleh kepanikan. "Inspektur Harumi! Anda telah melakukan intimidasi berlebihan pada saksi saya! Saudari Frida memiliki hak hukum untuk tidak menjawab pertanyaan bernada gertakan dan tuduhan tanpa bukti ini! Frida, jangan katakan sepatah kata pun!"
"Duduk kembali di kursi Anda, Budiarto!" tegur Kombes Supriyadi dengan suara berat menggelegar dari kursi pimpinan, menunjuk pengacara borjuis itu. "Ini adalah pemeriksaan resmi kepolisian! Jika Anda menyela lagi, saya perintah petugas untuk mengeluarkan Anda dari ruangan ini sekarang juga!"
Budiarto tertegun, terpaksa menjatuhkan dirinya kembali ke kursi dengan napas memburu dan raut wajah yang amat gusar.
Harumi berdiri dari kursi kerjanya.
Langkah kakinya yang tegap mengitari sudut meja rapat.
Harumi berjalan perlahan hingga berdiri tepat di samping kursi Frida Valery.
Harumi membungkukkan tubuhnya, menatap wajah Frida dari jarak dekat dengan perpaduan antara ketegasan hukum dan kelembutan seorang sesama wanita.
"Frida... dengarkan saya baik-baik," bisik Harumi dengan suara yang begitu tenang namun merogoh jiwa. "Saya tahu Anda sangat ketakutan. Saya tahu Anda berada di bawah ancaman orang-orang berjas mahal di ruangan ini."
Frida menundukkan kepalanya dalam-dalam, air matanya menetes membasahi memangkuan rok span-nya. Bahunya berguncang oleh isak tangis yang tertahan.
"Jonathan Nasution tewas karena dia berani mempertahankan kejujurannya," tutur Harumi lembut namun sarat akan ketegasan. "Sihir pencuri usia yang membunuh Jonathan tidak akan berhenti pada dirinya. Jika Anda terus bungkam dan melindungi transaksi 50 miliar ini, cepat atau lambat... Anda yang akan dijadikan tumbal dan saksi berikutnya yang dibungkam oleh mereka!"
Deg!!!
Kata 'tumbal' dan 'dibungkam' seketika menghantam kesadaran Frida bagaikan sambaran petir di siang bolong!
Frida mendongakkan kepalanya yang basah oleh air mata, menatap mata Ipda Harumi dengan ekspresi ketakutan yang teramat sangat.
Di dalam mata batin Harumi, aura kebohongan dan ketakutan hitam keruh di sekeliling tubuh Frida seketika retak total, runtuh oleh kesadaran akan keselamatan nyawanya sendiri.
"T-tolong saya... Bu Polisi..." rintih Frida dengan suara pecah yang terisak-isak, tak mampu lagi menahan beban rahasia keji yang menghimpit jiwanya. "Tolong lindungi saya... Saya... saya tidak mau mati seperti Pak Jonathan...!"
"Frida!!! Tutup mulutmu!!!" jerit Budiarto panik setengah mati dari seberang meja.
"Aipda Rudi! Amankan Budiarto dan para direksi!" perintah Harumi tegas tanpa ragu sedikit pun.
"Siap, Bu Kanit!" seru Aipda Rudi bersama dua petugas berseragam Jatanras yang langsung melangkah maju membentengi Budiarto dan jajaran direksi dari posisi Frida.
Harumi memegang kedua bahu Frida Valery dengan hangat, menatapnya dengan penuh kepastian hukum. "Bicaralah yang jujur, Frida. Nyatakan seluruh kebenaran di atas kertas pemeriksaan. Kepolisian Republik Indonesia dan Unit Jatanras akan memberikan perlindungan penuh untuk keselamatan jiwa Anda sebagai Saksi Kunci!"
dr. Haruma yang menyaksikan momen krusial tersebut dari seberang meja menyunggingkan senyuman bahagianya yang paling anggun. Ketegangan hebat di atas meja rapat itu akhirnya pecah oleh kemenangan hukum dan keteguhan batin adiknya.
Frida Valery mengusap air matanya dengan kain tisu yang disodorkan Harumi, menarik napas panjang seraya menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Saya... saya akan menceritakan semuanya, Bu..." bisik Frida dengan nada suara yang penuh kepasrahan dan keberanian baru. "Saya akan bongkar siapa orang yang menyuruh saya membawa surat transaksi 50 miliar itu ke kamar Pak Jonathan..."
Tembok kebohongan dan benteng kekuasaan PT. Cipta Buana Investco seketika hancur berkeping-keping di atas meja rapat tersebut.
Kesaksian kunci dari Frida Valery siap untuk meledak.
Membukakan jalan lebar bagi Haruma dan Harumi untuk menyeret dalang utama di balik persekongkolan sihir pencuri usia ini menuju ke hadapan pengadilan.
intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
penampilan nya udah elit kok nama nya itu