Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1 BENCANA DI MALAM HUJAN
Hujan deras mengguyur kota sejak senja, menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Di dalam kontrakan sempit berukuran tiga kali empat meter, Maya duduk melamun di tepi tempat tidur kayu yang berderit. Sesekali matanya melirik ke arah jam dinding berbentuk bulat yang detik jarumnya terdengar begitu nyaring.
Sudah pukul sebelas malam. Makanan sederhana, tahu goreng, tumis kangkung, dan dua piring nasi, yang ia sajikan di atas meja plastik sejak tadi sore kini sudah mendingin. Namun, Bagas belum juga pulang.
"Harusnya jam sembilan tadi Mas Bagas sudah sampai," gumam Maya pelan. Jarinya yang kurus bertaut cemas di atas pangkuan.
Maya dan Bagas baru menikah satu tahun yang lalu. Kehidupan mereka jauh dari kata mewah.
Bagas bekerja sebagai tenaga kurir lepas di sebuah perusahaan logistik kecil, sementara Maya bekerja paruh waktu di sebuah toko kelontong setelah terpaksa melepas impian kuliahnya. Meski hidup serba kekurangan, Maya tidak pernah mengeluh.
Bagi Maya, kehadiran Bagas yang penyayang dan pekerja keras sudah lebih dari cukup. Bagas selalu berjanji, kelak ia akan mengumpulkan modal untuk membangun usaha sendiri dan membahagiakan Maya.
Kringgg... Kringgg...
Dering telepon genggam di atas meja mengejutkan Maya.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung menyambar ponsel murah berkaca retak milik kekasih hatinya yang tertinggal, bukan, itu ponsel lamanya. Dilihatnya layar yang menyala, menampilkan nomor tidak dikenal.
Dengan dada berdebar aneh, Maya menggeser tombol hijau. "Halo? Assalamu’alaikum..."
"Apakah ini dengan keluarga dari Saudara Bagas Pratama?" suara pria berseragam terdengar di ujung telepon, bernada terburu-buru dan berat.
"I-iya, betul. Saya istrinya. Ada apa ya, Pak?" tawar suara Maya, mendadak gemetar.
"Ibu, mohon tenang. Suami Ibu mengalami kecelakaan lalu lintas yang cukup parah di Jalan Raya Utama. Truk kontainer menabrak sepeda motor yang dikendarainya. Saat ini korban sudah dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Medika Sejahtera dalam kondisi kritis. Mohon Ibu segera datang."
Brak!
Ponsel di genggaman Maya terlepas dan jatuh ke lantai semen
Pandangannya mendadak kabur, dunianya serasa runtuh dalam sekejap mata.
Tanpa sempat mengambil payung atau jaket tebal, Maya berlari menembus kegelapan malam dan lebatnya hujan.
Aroma cairan antiseptik dan karbol menyengat hidung begitu Maya melangkahkan kaki menembus pintu kaca ruang IGD.
Pakaiannya basah kuyup, rambutnya lepek menempel di dahi, dan kakinya gemetar hebat. Ia mengabaikan pandangan aneh dari para perawat dan pengunjung lain.
"Suster... suami saya... Bagas Pratama..." ucap Maya terbata-bata kepada perawat di meja informasi.
"Pasien kecelakaan dari Jalan Utama? Beliau ada di ruang penanganan darurat nomor tiga, Bu. Saat ini dokter sedang..."
Belum selesai perawat itu berbicara, pintu ruang penanganan terbuka.
Seorang dokter pria berwajah letih keluar sambil melepas sarung tangan karetnya yang bernoda darah.
Maya langsung menghampiri dokter tersebut dengan tatapan penuh keputusasaan.
"Dokter! Bagaimana suami saya, Dok? Tolong katakan suami saya baik-baik saja!" seru Maya sembari memegang lengan jas putih sang dokter.
Dokter itu menghela napas panjang, menatap Maya dengan pandangan iba yang mendalam. "Apakah Anda istri dari Pasien Bagas?"
"Iya, Dok. Saya istrinya."
"Ibu, saya minta Ibu bersabar dan menguatkan hati. Kecelakaan yang dialami Suami Ibu sangat hebat. Benturan keras di kepala menyebabkan trauma otak berat atau traumatic brain injury. Selain itu, tulang belakangnya mengalami kerusakan permanen akibat terhimpit beban berat," ujar dokter itu pelan
Airmata yang sejak tadi ditahan Maya akhirnya meleleh deras membasahi pipinya yang pucat. "Maksud Dokter... apa?"
"Saat ini Pak Bagas jatuh ke dalam koma yang sangat dalam. Refleks tubuhnya hilang, dan fungsinya kini sepenuhnya ditopang oleh alat pemacu jantung dan respirator. Selain itu, jika pun nanti beliau bisa siuman... kemungkinan besar Suami Ibu akan mengalami kelumpuhan total dari dada ke bawah."
Kata yang keluar dari mulut dokter itu menyayat dada Maya
Tubuh Maya limbung. Ia harus berpegangan pada dinding koridor agar tidak roboh ke lantai. Kelumpuhan? Koma?
Suami yang baru tadi pagi mencium keningnya dan berjanji akan pulang membawa kue kesukaannya, kini terbaring tak berdaya di atas brankar
"Tidak... tidak mungkin... Mas Bagas orang baik, Dok. Dia tidak pernah jahat pada siapapun... kenapa harus dia?" bisik Maya seraya menggelengkan kepala berulang kali.
"Kami sudah melakukan tindakan maksimal untuk menghentikan pendarahan di otaknya, Bu. Tapi untuk masa kritis ini, kita hanya bisa bergantung pada keajaiban dan daya tahan tubuhnya. Ibu harus siap dengan segala kemungkinan," tambah Dokter dengan suara lirih sebelum mengusap bahu Maya dan berlalu pergi.
Maya melangkah perlahan mendekati ranjang tempat Bagas terbaring. Di balik pintu kaca, ia melihat pria yang dicintainya kini seperti sesosok mayat hidup.
Berbagai selang medis menempel di mulut, hidung, dan lengannya.
Maya menyentuh jemari Bagas yang terasa amat dingin. Tidak ada respons. Tidak ada genggaman hangat yang biasa menenangkan hatinya saat ia merasa cemas.
"Mas... Bangun, Mas... Ini Maya. Aku sudah masak makanan kesukaanmu di rumah. Kenapa Mas tidur seperti ini?" tangis Maya pecah seketika di samping ranjang.
Ia mencium jemari kaku itu berulang kali, mengabaikan rasa dingin yang menjalar.
Ruangan yang hening itu hanya dihiasi oleh suara mesin medis dan isak tangis Maya yang memilukan.
Sambil memeluk jemari suaminya yang tak bergerak, Maya berbisik di dekat telinga Bagas.
"Mas Bagas jangan takut... Maya tidak akan pernah tinggalkan Mas. Apapun yang terjadi, bagaimanapun kondisimu, aku yang akan jadi kaki dan tanganmu. Aku akan merawatmu sampai Mas sembuh. Aku janji, Mas..."