Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum di Balik Air Mata
"Ratna! Kamu tuli?!"
Teriakan itu menggema di lorong rumah besar berlantai marmer. Ratna yang sedang berjongkok di kamar mandi lantai dua, menggosok kerak sabun di celah ubin dengan sikat gigi bekas, tersentak hebat. Sikat itu terlepas dari tangannya yang licin karena deterjen dan jatuh ke lantai basah.
Nyonya Amira berdiri di ambang pintu kamar mandi, wajahnya merah padam, jari telunjuknya yang berhias cincin berlian menunjuk tepat ke wajah Ratna.
"Saya panggil kamu tiga kali dari bawah! Tiga kali! Dan kamu tidak menjawab? Apa gunanya saya bayar kamu kalau telinga kamu tidak berfungsi?" bentak Nyonya Amira dalam bahasa Arab yang keras, lalu beralih ke bahasa Inggris yang patah-patah agar Ratna mengerti. "You! Come down! NOW!"
Ratna segera bangkit, lututnya nyeri karena berjongkok terlalu lama. Ia menundukkan kepala, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. "Maaf, Nyonya. Saya tidak dengar karena air keran menyala. Saya datang sekarang."
"Maaf, maaf, maaf! Setiap hari hanya kata maaf yang keluar dari mulutmu!" Nyonya Amira memukul lengan Ratna dengan gulungan majalah yang ada di tangannya. Tidak keras, tapi cukup untuk meninggalkan rasa perih dan penghinaan. "Tamu saya datang satu jam lagi. Meja makan belum ditata. Bunga di ruang tamu belum diganti. Dan kamu di sini, main-main di kamar mandi?!"
"Saya tidak main-main, Nyonya. Saya sedang membersihkan kerak—"
"Diam!" potong Nyonya Amira tajam. "Saya tidak bayar kamu untuk membantah. Kamu bayar untuk bekerja. Kerjakan semuanya dalam satu jam. Kalau tidak selesai, tidak ada makan malam untukmu malam ini. Mengerti?"
"Mengerti, Nyonya," jawab Ratna pelan, suaranya hampir tidak terdengar.
Nyonya Amira berbalik dengan angkuh, heels sepatunya berdetak-detak di lantai marmer. Ratna mendengar pintu kamar utama dibanting keras dari atas.
Ratna berdiri diam sejenak di kamar mandi yang basah. Tangannya gemetar. Ada bekas merah di lengannya tempat majalah itu mendarat. Ia menarik napas panjang, dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang memburu. Air matanya sudah di ujung pelupuk, siap jatuh.
"Jangan," bisiknya pada dirinya sendiri. "Jangan nangis. Nangis nggak akan menyelesaikan apa-apa."
Ia menutup matanya sejenak. Di balik kegelapan kelopak matanya, sebuah gambar muncul dengan jelas: wajah Lily. Wajah putrinya yang tersenyum lebar saat menerima rapor semester lalu, menunjukkan nilai A di hampir semua mata pelajaran. Senyum itu begitu cerah, begitu tulus, begitu penuh kebanggaan.
*"Mama lihat, Ma! Aku dapat peringkat tiga besar! Ini buat Mama!"*
Ratna membuka matanya. Air mata yang tadi menggenang kini surut, digantikan oleh tekad yang membara. Ia mengambil sikat gigi dari lantai, meletakkannya di tempatnya, lalu bergegas turun ke lantai bawah.
Di dapur, ia bertemu dengan Fatimah, sesama TKW asal Indonesia yang bekerja di rumah tetangga sebelah. Fatimah sedang mengambil air di keran luar dan melihat Ratna berlari-lari kecil dengan wajah tegang.
"Ratna! Kenapa mukamu pucat begitu?" tanya Fatimah, mendekat dengan khawatir. "Lagi-lagi Nyonya Amira?"
Ratna mengangguk sambil mengambil piring-piring dari lemari. "Tamu datang satu jam lagi. Semua harus beres. Kalau nggak, aku nggak makan malam."
Fatimah menggelengkan kepala, wajahnya penuh simpati. "Kamu harus lapor ke agen, Rat. Itu perlakuan tidak manusiawi. Memukul, tidak kasih makan... itu melanggar kontrak."
Ratna berhenti sejenak, menatap Fatimah dengan mata yang lelah namun tegas. "Lapor ke agen? Fat, kamu tahu sendiri bagaimana agen itu bekerja. Mereka berpihak pada majikan. Kalau aku lapor, aku yang dipulangkan dengan status buruk. Surat peringatan masuk ke catatan. Siapa yang mau mempekerjakan aku lagi? Dan kalau aku dipulangkan sekarang, siapa yang bayar sekolah Lily?"
"Tapi kesehatanmu—"
"Kesehatanku masih baik," potong Ratna cepat, meski punggungnya nyeri dan tangannya pecah-pecah. "Dengar, Fat. Aku tahu ini berat. Aku tahu ini nggak adil. Tapi setiap kali aku mau menyerah, aku ingat satu hal."
"Apa?" tanya Fatimah pelan.
Ratna tersenyum, senyuman yang tulus dan hangat di tengah wajahnya yang kusam. "Senyum anakku. Lily. Dia baru dapat peringkat tiga besar di sekolahnya. Tiga besar, Fat! Padahal dia tinggal di rumah neneknya yang sederhana, tanpa bimbingan belajar mahal, tanpa fasilitas mewah. Dia melakukannya sendiri, dengan semangat yang aku tanamkan. Kalau anakku bisa sekuat itu, masa ibunya kalah sama majikan galak?"
Fatimah terdiam, matanya berkaca-kaca. "Kamu wanita hebat, Rat."
"Bukan hebat," koreksi Ratna sambil mulai menata meja makan dengan cepat dan teliti. "Cuma ibu yang sayang anaknya. Itu saja. Nggak ada yang spesial."
"Bagi Lily, kamu pasti sangat spesial," kata Fatimah lembut sebelum pamit kembali ke rumah majikannya.
Satu jam kemudian, rumah sudah tampak sempurna. Meja makan tertata rapi dengan taplak putih dan rangkaian bunga segar. Lantai mengkilap. Dapur bersih. Ratna berdiri di sudut dapur, napasnya memburu karena berlari-lari menyelesaikan semuanya tepat waktu.
Nyonya Amira turun, memeriksa sekeliling dengan mata elang. Ia menggeser sebuah garpu yang menurutnya kurang lurus satu milimeter, lalu menatap Ratna.
"Lumayan," ucapnya datar. Itu adalah pujian tertinggi yang pernah keluar dari mulutnya. "Sekarang siapkan teh dan kurma untuk tamu. Jangan sampai ada yang kurang."
"Siap, Nyonya," jawab Ratna, membungkuk sopan.
Malam harinya, setelah tamu pulang dan semua piring dicuci, Ratna akhirnya bisa masuk ke kamarnya. Tubuhnya remuk redam. Ia merebahkan diri di kasur tipis, setiap ototnya menjerit minta istirahat.
Ia meraih ponselnya. Ada pesan baru dari Lily.
*"Ma, hari ini aku bantuin Nenek jualan kue di pasar. Seru banget! Banyak yang bilang kuenya enak. Nenek seneng banget. Oh iya, Bu Guru bilang tulisanku tentang keluarga dipajang di mading sekolah. Temen-temen pada baca dan bilang bagus. Aku seneng, Ma. Semua ini berkat Mama yang selalu ngajarin aku buat kuat. Love you, Ma. Tidur nyenyak ya."*
Ratna membaca pesan itu berulang-ulang. Setiap kali membacanya, air matanya menetes, jatuh ke layar ponsel yang retak. Namun, ini bukan air mata kesedihan. Ini adalah air mata kebahagiaan murni yang bercampur dengan rasa haru yang tak terhingga.
Ia membalas dengan suara yang direkam, karena jari-jarinya terlalu lelah untuk mengetik.
*"Sayang Mama, Lily. Mama bangga banget sama kamu. Jualan kue di pasar? Wah, cucu Nenek Surti memang hebat! Tulisanmu dipajang di mading? Mama mau lihat fotonya! Kirim ya besok. Mama di sini baik-baik saja. Kerjaan lancar. Majikan Mama... baik kok. Jangan khawatir. Tidur yang nyenyak, Nak. Mimpi indah. Mama sayang kamu lebih dari seluruh bintang di langit."*
Ratna menghapus bagian tentang majikan yang kejam. Ia tidak ingin Lily tahu. Ia tidak ingin kekhawatiran menghantui pikiran putrinya yang seharusnya fokus pada sekolah dan masa remaja.
Ia meletakkan ponsel di dada, memejamkan mata. Punggungnya sakit, tangannya perih, hatinya lelah. Namun, di tengah semua rasa sakit itu, ada satu hal yang membuatnya tersenyum dalam tidurnya malam itu: senyum Lily. Senyum itu adalah obat, perisai, dan bahan bakarnya. Selama senyum itu masih ada, Ratna tahu ia bisa menghadapi apa pun. Bahkan seribu Nyonya Amira sekalipun.
Di luar, gurun Arab yang sunyi terbentang luas di bawah bulan sabit. Namun di kamar kecil tanpa jendela itu, hati seorang ibu bersinar lebih terang dari semua bintang di langit Jeddah.