Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip Merekah di Tukang Sayur
Kehangatan tubuh Mbak Wiwin yang menindih dadanya di atas tikar pandan kusam membuat seluruh persendian Mamat serasa dilumpuhkan sengatan listrik ribuan volt. Bau wangi sabun mawar yang menyeruak dari rambut janda muda itu bercampur dengan aroma hangus sisa letupan bubuk magnesium, menciptakan suasana gila yang tak pernah dibayangkan Mamat sebelumnya.
"Aduh, Ki Mamat! Maaf, Ki! Saya takut sekali!" jerit Mbak Wiwin sambil tergesa-gesa bangkit. Wajahnya yang kuning langsat merona merah padam. Dengan tangan gemetar, ia merapikan daster batiknya yang sedikit tersingkap di bagian paha, menyingkapkan kulit mulus yang membuat tenggorokan Mamat mendadak terasa kering seperti Padang Pasir Sahara.
Mamat memegang dadanya yang berdegup kencang bak drum panggung dangdut keliling. Dengan sisa-sisa tenaga dan fokusnya yang hampir buyar, ia berusaha bangkit lalu duduk bersila kembali. Ia membetulkan ikatan sarung hitamnya, menatap keris bengkok di tangannya yang masih memancarkan sisa kilatan fosfor hijau tipis, lalu mengembuskan napas panjang secara dramatis.
"Tidak apa-apa, Nyai Wiwin..." kata Mamat dengan nada suara yang diperberat dan dibuat serendah mungkin, mencoba menutupi fakta bahwa napasnya sendiri hampir putus. "Semburan api tadi adalah pertanda bahwa Jin Banaspati Kencana baru saja mencoba menerobos pertahanan ghaib tempat ini. Namun, tuah Keris Bengkok Brajamukti berhasil membakarnya menjadi abu di udara."
Mbak Wiwin menatap Mamat dengan sisa rasa takjub dan panik yang bercampur aduk. Cahaya api ajaib yang melompat dua meter dan kilatan hijau pada keris di tangan Mamat barusan adalah bukti tak terbantahkan bagi otaknya yang polos. Di mata Mbak Wiwin, pemuda kerempeng di hadapannya ini bukan lagi Mamat si pengangguran mesum, melainkan seorang wali gaib pelindung nyawa!
"Luar biasa... Ki Mamat memang sakti tiada tanding!" bisik Mbak Wiwin penuh kekaguman. Ia merogoh saku dasternya dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan, menyodorkannya dengan kedua tangan yang bersedekap hormat. "Ini uang tanda bakti saya, Ki. Tolong bantu saya dalam ritual Selasa Kliwon nanti."
Mamat menatap dua lembar uang merah itu dengan binar mata yang sengaja ditahan. Tanpa banyak bicara, ia menerima uang itu dengan gerakan lambat yang penuh keagungan. "Ingat pesan saya, Nyai. Siapkan kain dalam hijau muda itu dan datanglah kembali saat malam menyapa. Jangan biarkan orang lain tahu, agar aura gaibnya tidak tercemar."
"Baik, Ki Sastrogati! Saya pamit dulu!" Mbak Wiwin membungkuk hormat berkali-kali sebelum akhirnya berjalan keluar menembus hujan deras yang mulai mereda di luar rumah.
Begitu pintu depan tertutup rapat dan derap langkah Mbak Wiwin menghilang di kejauhan, Mamat langsung melompat berdiri dari tikar pandan!
"YESSS! JANCUK KOWE! BERHASIL KALI INI!" jerit Mamat histeris sambil berguling-guling di atas kasur kapuk tua kamarnya.
Ia mencium dua lembar uang seratus ribuan di tangannya, lalu mengingat-ingat momen manis saat Mbak Wiwin menindih dadanya tadi. "Dua ratus ribu tunai lagi! Plus janji ritual megang punggung janda tercantik se-Kalisari! Mamat... Mamat, kamu memang genius!"
Keesokan paginya, matahari naik mengusir sisa basah hujan semalam. Di belokan Gang 3 Kampung Kalisari, gerobak sayur milik Kang Slamet sudah dikerumuni oleh emak-emak kampung yang membawa baskom plastik dan kantong belanjaan. Tempat itu bukan sekadar pasar darurat, melainkan pusat komando informasi dan markas penyebaran gosip paling mematikan di seluruh penjuru desa.
Bu Siami, pemilik warung kelontong yang kemarin menjual dupa dan obat nyamuk bakar kepada Mamat, berdiri paling depan sambil memilah cabai keriting.
"Eh, Bu RT! Sampeyan sudah dengar belum berita paling ghot kemarin sore?" bisik Bu Siami dengan mata membelalak penuh drama pada Bu Sugino, istri Pak RT yang sedang memilih tempe.
Bu RT Sugino yang berbadan subur langsung menaikkan sebelah alisnya. "Berita apa toh, Bu Siami? Soal Si Jalak yang balik lagi itu?"
"Bukan cuma Si Jalak, Bu!" potong Mbak Wiwin yang tiba-tiba muncul dari balik pohon mangga sambil membawa wadah plastik. Wajah Mbak Wiwin terlihat lebih segar dan merona pagi itu. "Ini soal Ki Mamat Sastrogati!"
Emak-emak lain yang sedang sibuk memilih terong dan kangkung mendadak menghentikan aktivitas mereka. Nama "Mamat" yang biasanya diidentikkan dengan maling jambu atau pemuda pemalas, kini disandingkan dengan gelar "Ki" yang berbau mistis.
"Ki Mamat? Mamat anaknya Pak Budi almarhum itu?" tanya Bu Tejo, emak-emak berkerudung kuning yang terkenal paling vokal. "Halah, si Mamat kerempeng itu kan kerjaannya cuma nongkrong di pos ronda sambil minta rokok orang!"
"Jangan sembarangan bicara, Bu Tejo!" sela Pak RT Sugino yang baru saja melintas sambil menuntun sepeda onthelnya. Pak RT yang mendengar pembicaraan itu langsung membusungkan dadanya. "Mamat yang dulu memang pengangguran. Tapi Mamat yang sekarang sudah diwisuda secara ghaib! Kemarin Si Jalak saya yang hilang di dasar sungai bisa ditarik balik cuma dalam hitungan menit lewat mantra Keris Bengkok-nya!"
Mbak Wiwin mengangguk cepat menyetujui ucapan Pak RT. "Betul, Bu Tejo! Saya saksi matanya sendiri! Kemarin sore saya berobat ke kamar ritual Ki Mamat. Demi Allah, saya lihat sendiri dengan mata kepala saya, kamar Ki Mamat menyebarkan semburan api gaib warna kebiruan dua meter tinggi! Kerisnya sampai menyala hijau!"
"Hah?! Semburan api?!" jerit emak-emak serentak. Suara mereka melengking mengalahkan bising klakson motor yang lewat.
"Iya!" lanjut Mbak Wiwin penuh semangat. "Ternyata rumah saya yang kemarin gaduh itu gara-gara diserang Jin Banaspati Kencana kiriman orang jahat. Kalau tidak ditolong Ki Mamat pakai pusaka Brajamukti, mungkin nyawa saya sudah melayang!"
Bu Siami menepuk dadanya kaget. "Oalah Gusti... pantesan kemarin Mamat beli dupa cina sama minyak melati di warung saya! Katanya mau dipakai buat syuting... eh, buat ritual gaib! Berarti keris patah yang diselipkan di pinggangnya itu beneran keris pusaka sakti toh?!"
"Bukan patah, Bu Siami!" sahut Pak RT membetulkan dengan nada sok tahu. "Itu Keris Bengkok Brajamukti! Kerisnya melengkung karena energi gaib di dalamnya terlalu padat! Makanya bentuknya unik begitu!"
Dalam waktu kurang dari lima belas menit, gosip itu meledak bak bom atom di arena tukang sayur. Cerita tentang Mamat yang dulunya diremehkan kini terdistorsi menjadi kisah spektakuler. Semburan api dari trik bubuk magnesium kini berubah cerita menjadi "Mamat bertarung lawan genderuwo api sembari terbang di udara", sementara keris bengkok berkarat dari sampah sungai dipuji-puji sebagai benda pusaka peninggalan Mataram Kuno.
Bu Tejo yang tadinya skeptis mendadak merapatkan barisan. "Waduh... kalau begitu, Ki Mamat bisa buat pelet pengasihan ndak ya? Suamiku belakangan ini suka pulang malam, jangan-jangan digoda janda sebelah desa!"
"Jelas bisa, Bu Tejo!" Darto yang baru saja lewat sambil membawa cangkir kopi ikut menyambar gosip tersebut sesuai skenario yang disusun Mamat. "Jangankan pelet pengasihan, memutar balikkan nasib usaha yang bangkrut saja Ki Mamat sanggup! Tapi ingat, kalau mau ke sana harus bawa sajen uang tunai sama kembang setaman, soalnya pusaka kerisnya butuh energi!"
Emak-emak kampung saling berpandangan dengan mata berbinar-binar penuh harapan. Bagi masyarakat perkampungan pinggiran Semarang yang masih dibelit masalah ekonomi, kemiskinan, dan keputusasaan, sosok "Ki Mamat Sastrogati" mendadak menjadi oasis ghaib yang menjanjikan jalan pintas menuju kebahagiaan.
Sementara gosip di tukang sayur makin merekah hebat, Mamat sendiri sedang menikmati sarapan paling mewah dalam enam bulan terakhir. Di meja makan kayunya yang lapuk, terhidang dua piring nasi uduk lengkap dengan telur balado, tahu goreng, dan dua bungkus kopi kapal api kelas premium—semuanya dibeli dari uang sajen Mbak Wiwin dan Pak RT.
Mamat mengunyah gigitan terakhir telur baladonya dengan nikmat. Tangannya memegang gelas kopi yang masih mengepul panas.
"Ah... nikmatnya hidup," gumam Mamat puas sambil menepuk-nepuk perutnya yang mulai agak kenyang.
Namun, ketenangan pagi itu tidak bertahan lama. Dari arah pintu depan rumahnya, terdengar suara langkah kaki rombongan orang yang datang dengan tergesa-gesa. Tidak hanya satu atau dua orang, tapi seperti rombongan demonstran kecil yang sedang memenuhi halaman depan rumahnya!
TOK! TOK! TOK! TOK!
"Mbah Dukun! Ki Mamat Sastrogati! Tolong kami, Ki!" teriak suara wanita dari luar pintu.
Mamat hampir tersedak kopi hitamnya. Uhuk! Uhuk! Ia membelalakkan mata, buru-buru menyapu mulutnya dengan ujung sarung kusamnya. Mamat mengintip dari celah jendela depan yang berdebu.
Di pekarangan rumahnya yang sempit, sudah berdiri lima orang warga Kampung Kalisari! Ada Bu Tejo, Pak Sastro tukang jamu yang usahanya sepi, hingga beberapa pemuda kampung yang ingin pelet cepat dapat pacar. Mereka semua berdiri membawa bungkusan kantong plastik berisi kembang, minyak wangi murah, dan amplop-amplop kertas di tangan mereka!
Jantung Mamat mendadak berdebar keras. Di satu sisi, ia melihat tumpukan uang sajen yang siap mengalir masuk ke sakunya untuk melunasi utang-utang pinjaman online yang menumpuk. Namun di sisi lain, Mamat sadar betul: gelombang kepercayaan warga yang makin membesar ini adalah bom waktu.
Jika ia gagal membuktikan "kesaktiannya" di hadapan warga yang makin banyak ini, maka kedoknya sebagai dukun palsu akan terbongkar, dan amukan warga Kalisari akan jauh lebih mengerikan daripada gertakan dua depkolektor sungai kemarin.
Mamat memegangi Keris Bengkok Brajamukti di pinggangnya, menarik napas panjang, lalu menyunggingkan senyum nekatnya yang khas.
"Tidak ada jalan untuk mundur lagi," bisik Mamat pada dirinya sendiri. "Saatnya Ki Mamat Sastrogati membuka panggung pertunjukan terbesar di Kampung Kalisari!"