Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.
Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!
Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)
Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5 : perjamuan teh yang mendebarkan
Tiga hari kemudian, Xie Yufei sudah dinyatakan sembuh total dari insiden tenggelam di kolam. Sesuai dengan aturan istana yang kaku, dia tidak punya pilihan selain menghadiri Perjamuan Teh Musim Semi di taman istana belakang. Ini adalah momen pertamanya tampil di hadapan publik istana setelah bertransmigrasi.
Yufei berjalan dengan langkah yang diatur sedemikian rupa tidak terlalu lebar, tidak terlalu cepat. Gaun sutra merah mudanya melambai indah ditiup angin sepoi-sepoi. Di belakangnya, Xiao Mei berjalan menunduk, sementara Kakak Xie Jian berjalan di sisi kanannya sebagai pengawal keluarga.
(Oalah... jalannya harus begini banget ya? Berasa kayak lagi ikutan latihan gerak jalan 17 Agustusan, kaku bener. Mana pundak harus tegak terus. Kalau di dunia modern, gue udah jalan santai sambil dengerin lagu pakai earphone nih,) keluh Yufei di dalam hati sembari mempertahankan senyum porselennya yang tampak begitu anggun di luar.
Xiao Mei yang berjalan di belakangnya otomatis mengatupkan bibir rapat-rapat. Dia sudah mulai terbiasa mendengar istilah-istilah aneh seperti “17 Agustusan” dan “earphone” dari kepala nonanya, meski dia tetap tidak tahu apa artinya.
Ketika mereka memasuki area taman perjamuan, suasana mendadak senyap sejenak. Puluhan pasang mata para nona bangsawan dan pejabat muda langsung tertuju pada Yufei. Di sudut taman, duduklah sosok yang paling menarik perhatian di seluruh tempat itu: Pangeran Mo Cheng.
Pangeran Mo Cheng mengenakan jubah formal berwarna biru tua bersulam benang perak. Wajahnya tetap datar, dingin, dan memancarkan aura wibawa yang tak tertandingi. Namun, begitu matanya menangkap siluet Yufei, ketukan jarinya di atas cangkir giok sempat terhenti sejenak.
Yufei melangkah maju dengan anggun, lalu menekuk lututnya dalam-dalam di hadapan Pangeran Mo Cheng untuk memberi hormat sesuai tata krama terbaik yang dia pelajari.
"Yufei memberi hormat kepada Yang Mulia Pangeran Mo Cheng. Semoga Yang Mulia selalu dilimpahi kesehatan dan keberkahan," ucap Yufei dengan suara yang begitu lembut, merdu, dan terdengar sangat patuh. (Sempurna! Akting gue gak ada cela), batinnya bangga.
Namun, detik berikutnya, sebuah jeritan batin bernada heboh dan histeris langsung meledak bergemuruh di dalam kepala Pangeran Mo Cheng, Xie Jian, dan Xiao Mei:
(MAMAAAKKK!!! Mas Jenderal hari ini gantengnya meresahkan banget woy! Jubah birunya pas banget di badan dia yang tegap begitu. Visualnya bener-bener gak ngotak, ini mah kalau di dunia modern udah jadi aktor papan atas yang menang piala Oscar! Makin dilihat makin bikin jantungan. Untung kemarin gue dikasih sup pedas, jadi sekarang aura dia kelihatan agak mendingan daripada pas muka ditekuk tempo hari, hehehe...)
Uhuk!
Pangeran Mo Cheng yang baru saja mengangkat cangkir tehnya untuk berpura-pura tenang, seketika mendadak batuk kecil karena tersedak untuk kedua kalinya. Untungnya, kali ini dia berhasil mengendalikan diri dengan cepat sehingga tidak sekonyol kejadian di kamar tempo hari. Dia meletakkan cangkirnya perlahan, walau daun telinganya yang putih bersih perlahan-lahan berubah menjadi sedikit kemerahan.
"Aktor? Piala Oscar? Gadis ini benar-benar tidak bisa diam sedetik pun di dalam kepalanya!" batin Pangeran Mo Cheng, merasa gemas sekaligus jengkel karena batinnya terus-menerus diguncang oleh pujian absurd Yufei.
Xie Jian yang berdiri di samping Yufei buru-buru mengepalkan tangannya di depan mulut, berpura-pura batuk demi menyembunyikan senyum lebarnya yang hampir pecah. Dia melirik Pangeran Mo Cheng dengan tatapan meledek, seolah berkata, “Selamat menikmati siaran langsung isi kepala adik hamba, Yang Mulia.”
"Nona Xie, silakan duduk," ucap Pangeran Mo Cheng dengan suara yang sengaja dibuat sedingin mungkin untuk menutupi rasa salah tingkahnya.
"Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia," jawab Yufei sopan sembari melangkah menuju meja rendah yang sudah disediakan.
Begitu duduk dengan anggun, Yufei kembali melanjutkan gumaman batinnya yang tanpa sensor:
(Tapi kok Mas Jenderal hobi banget tersedak ya? Apa tenggorokannya sensitif? Kasihan banget ganteng-ganteng amandelan. Besok-besok kalau gue punya akses keluar istana, gue musti cari jeruk nipis atau kecap manis deh buat ramuan radang tenggorokan biar dia gak batuk-batuk mulu pas minum teh.)
Mendengar kata "amandelan" dan "kecap manis", Pangeran Mo Cheng yang baru saja ingin meminum tehnya kembali, langsung mengurungkan niatnya. Dia menatap Yufei dengan pandangan yang teramat rumit.
Sementara Yufei yang sama sekali tidak sadar dengan apa yang terjadi, justru membalas tatapan tajam Pangeran Mo Cheng dengan senyuman paling manis, polos, dan tanpa dosa yang dia miliki merasa sangat percaya diri bahwa "Mas Jenderal" miliknya sedang terpesona oleh keanggunannya.