Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERBATASAN DOSA DAN SUARA KECIL DI LORONG SEPI
Jarak di antara wajah kami terkikis hingga tak menyisakan ruang bagi udara. Hembusan napas Ammar yang hangat dan memburu menerpa permukaan kulit wajahku, membakar tiap inci ketakutan dan keberanian yang kupunya.
Aku bisa melihat dengan sangat jelas kilatan gejolak di dalam manik mata cokelat mewahnya. Dinding pertahanan seorang pria suci yang selama ini begitu kokoh berdiri di atas benteng keangkuhan ilmunya, kini retak dan runtuh dalam hitungan detik. Jemari tegapnya yang mencengkeram bahuku perlahan melunak, naik mengelus leher jenjangku dengan sentuhan yang begitu halus namun sanggup menyengat seluruh saraf tubuhku.
Jantungku berdegup gila-gilaan, menghantam rongga dada bagai drum yang bertalu-talu. Mataku perlahan memejam, pasrah pada pusaran energi asing yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Ini bukan tatapan bernafsu nan menjijikkan dari pria-pria hidung belang di kelab malam. Ini adalah gelombang ketertarikan alami dari seorang pria yang sedang berjuang keras menahan nalurinya.
Bibir Ammar tinggal berjarak beberapa milimeter dari bibirku. Usapan napasnya kian panas.
Namun, tepat saat sentuhan itu hampir menyatu...
Tik. Tok. Tik. Tok.
Suara jarum jam dinding berdentang pelan, diiringi sayup-sayup lantunan ayat suci Al-Qur'an dari pengeras suara masjid perumahan yang sedang diputar menantikan waktu Isya.
Deg!
Ammar membeku seketika.
Pria itu membelalakkan matanya lebar-lebar, bagaikan seseorang yang baru saja tersiram air es di tengah mimpi buruk. Binar gairah dan emosi di matanya menguap dalam sekejap, digantikan oleh rasa terkejut dan ketakutan yang teramat sangat atas apa yang hampir saja ia lakukan.
"Astaghfirullahal'adzim! Astaghfirullahal'adzim!"
Pekikan istighfar meluncur beruntun dari bibirnya. Ammar menyentakkan tangannya menjauh dari leherku seolah-olah kulitku adalah kobaran api neraka yang membakar jarinya. Ia mundur bertapak-tapak hingga punggung tegapnya menghantam meja kerja di belakangnya.
Napas Ammar memburu heboh, dadanya naik-turun tak beraturan. Wajahnya yang tampan mendadak pucat pasi, sementara pelipis dan keningnya dibanjiri keringat dingin yang menetes deras.
Aku membuka mata perlahan, terduduk lemas menyandarkan punggungku pada dinding kamar. Bibirku gemetar, menatap pria di hadapanku dengan pandangan linglung.
"Kamu..." suara Ammar bergetar hebat, terdengar parau dan sarat akan penyesalan yang mendalam. Ia menatap tangannya sendiri dengan pandangan tak percaya, lalu mengalihkan matanya padaku dengan sorot ketakutan. "...kamu hampir membuat saya terjerumus!"
Aku tertawa hambar, sebuah tawa pahit yang keluar dari tenggorokanku yang terasa menyempit. "Aku? Aku yang membuatmu terjerumus?! Kamu yang memojokkan aku ke dinding, Ammar! Kamu yang mendekat!"
"Cukup!" bentak Ammar keras, meski suaranya pecah menahan getaran di dadanya. Pria itu mencengkeram erat peci hitam di atas meja, tidak berani lagi menyapu pandangannya ke arahku. "Cukup, Aisyah..."
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Ammar berbalik dan menyambar gagang pintu kamar utama. Ia memutar selot kunci dengan terburu-buru, lalu melangkah keluar dan menutup pintu kamar dengan dentuman keras yang bergema di sepanjang lorong.
BLAM!
Aku sendirian di dalam kamar yang mendadak terasa begitu luas dan dingin. Aku memeluk kedua lututku di atas lantai marmer, menyandarkan keningku di sana. Rasa malu, bingung, dan desiran asing yang sempat membakar dadaku kini melebur menjadi air mata yang perlahan menetes membasahi kain gamisku.
Di luar kamar, atmosfer malam di lantai dua terasa mencekam.
Ammar berjalan setengah berlari menyusuri lorong berkarpet tebal, menjauh dari pintu kamar utama. Pria itu menyandarkan sebelah tangannya pada dinding koridor, memejamkan mata rapat-rapat seraya terus merancik kalimat istighfar di dalam hatinya.
"Astaghfirullahal'adzim... Ya Allah, ampunilah hamba... Ampunilah hamba..." bisik Ammar lirih. Tangannya yang menempel di dinding gemetar hebat.
Bayangan paras polos Aisyah, aroma wangi rambutnya, serta getaran lembut dari napas wanita itu di lehernya terus berputar bagaikan hantu yang menggerogoti akal sehatnya. Sebagai seorang Habib yang dididik belasan tahun dalam benteng kesucian ilmu agama, fakta bahwa ia hampir menyerahkan kesucian dirinya pada godaan hasrat alami di dalam kamar tadi terasa bagaikan sebuah pukulan yang menghancurkan seluruh harga dirinya.
Ammar menarik napas panjang, mencoba menetralisir detak jantungnya yang masih bergemuruh hebat. Pria itu mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dengan kedua telapak tangan.
Namun, tepat saat ia hendak melangkah menuju tangga untuk turun ke lantai bawah... sebuah suara kecil menyapa pendengarannya dari arah kegelapan lorong.
"Om Habib...?"
Ammar tersentak kaget. Langkah kakinya berhenti seketika. Ia menoleh ke arah sudut koridor dekat perpustakaan kecil.
Di sana, berdiri seorang anak laki-laki kecil berusia lima tahun dengan kaos oblong gambar kartun yang agak longgar dan celana pendek. Matanya yang bulat polos menatap Ammar dengan pandangan lugu. Tangan kecilnya menggenggam erat sebuah mobil-mobilan plastik berwarna merah yang rodanya sudah agak longgar.
Awan—adik kandung Aisyah.
Ammar membelalakkan matanya pelan. Kehadiran bocah kecil itu di tengah lorong sepi malam-malam begini sama sekali tidak ia duga. Pria itu berdeham canggung, mencoba merapikan pakaian dan raut wajahnya agar tetap terlihat tenang.
"Awan...?" panggil Ammar dengan suara yang dipelankan, mencoba sehalus mungkin. "Kenapa belum tidur, Nak? Ini sudah malam."
Awan melangkah pelan mendekati Ammar. Langkah kaki kecilnya tanpa alas membuat suara gesekan halus di atas karpet. Bocah itu menghentikan langkahnya tepat di hadapan Ammar, mendongak menatap pria tinggi berot yang kini menjadi kakak iparnya.
"Awan kebangun, Om," jawab bocah itu dengan suara serak khas anak kecil yang baru bangun tidur. "Awan haus mau minum... tapi Awan takut. Rumah ini besar banget, gelap di bawah."
Ammar menatap mata bulat polos milik Awan. Di dalam binar mata bocah kecil itu, Ammar melihat kejujuran murni tanpa kepura-puraan sesuatu yang sangat kontras dengan kepalsuan dunia yang selama ini menyelimuti pertemuan Ammar dan Aisyah.
Rasa sesak dan kepanikan yang tadinya memenuhi dada Ammar perlahan-lahan mengendur, digantikan oleh rasa iba yang tak terduga.
Ammar berlutut di atas karpet, menyamakan tingginya dengan bocah lima tahun itu. Pria itu tersenyum tipis sebuah senyuman tulus yang sangat langka.
"Takut gelap?" tanya Ammar lembut.
Awan mengangguk pelan. Jemari kecilnya meremas mobil-mobilan plastiknya lebih erat. "Dulu waktu tidur di teras ruko sama Ibu dan Mbak Sya, Awan gak takut gelap soalnya ada lampu jalan. Tapi di sini... kamarnya besar, Awan bingung."
Kata-kata sederhana yang keluar dari mulut Awan menghantam kesadaran Ammar bagaikan godam berat. Tidur di teras ruko. Kenyataan pahit tentang betapa sengsaranya kehidupan keluarga Aisyah sebelum malam di hotel itu kembali terbentang jelas di dalam pikirannya.
Ammar menghembuskan napas pelan. Tangan tegapnya bergerak secara alami, mengusap kepala Awan dengan lembut, merapikan helai rambut pendek bocah itu.
"Jangan takut lagi," ucap Ammar dengan nada bariton yang menenangkan. "Di rumah ini ada Om, ada Ibu, dan ada Mbak Aisyah. Nggak akan ada yang menyakiti Awan lagi."
Awan menatap Ammar dengan mata berbinar. "Om Habib baik banget... Kata Ibu, Om Habib ini malaikat yang dikirim Tuhan buat nolongin Mbak Sya sama Ibu."
Malaikat.
Ammar membeku mendengar kata itu. Dadanya mendadak terasa ngilu. Jika bocah kecil ini dan ibunya tahu bahwasanya 'malaikat' ini baru saja memandang dan memperlakukan Aisyah seperti wanita pemuas nafsu di dalam kamar beberapa menit lalu... apakah mereka masih akan menyebutnya malaikat?
Ammar menundukkan kepalanya sejenak, menekan rasa bersalah yang kian menusuk batinnya.
"Om bukan malaikat, Awan," bisik Ammar pelan. "Om cuma manusia biasa."
"Tapi Om punya mobil bagus, punya rumah besar, dan Om beliin Awan mainan ini!" seru Awan gembira seraya memamerkan mobil-mobilan plastiknya. "Mbak Sya juga kelihatan senang... Walaupun Mbak Sya sering nangis di kamar mandi kalau malam."
Ammar tersentak mendongak. "Mbak Aisyah... sering menangis di kamar mandi?"
Awan mengangguk lugu. "Iya. Waktu masih di tempat lama, tiap malam Mbak Sya suka nangis pelan-pelan di kamar mandi biar Ibu gak denger. Mbak Sya bilang ke Awan, Mbak Sya capek cari uang buat beli obat Ibu. Tapi sekarang Mbak Sya udah gak nangis lagi kata Ibu, soalnya udah ada Om Habib."
Ammar membisu total. Kata-kata polos Awan merobek benteng prasangka buruk yang selama ini ia bangun terhadap Aisyah.
Selama ini, Ammar hanya melihat Aisyah sebagai cewek kelab malam yang liar, kurang bahan, tidak beretika, dan wanita yang memanfaatkan situasi salah kamar untuk menguras harta keluarganya melalui mahar rumah dan pelunasan utang. Namun, mendengar pengakuan tulus dari mulut seorang anak kecil tentang bagaimana Aisyah mengorbankan air mata dan harga dirinya setiap malam demi obat sang ibu... Ammar merasa lidahnya kelu dan dadanya dihimpit penyesalan yang luar biasa.
"Awan haus, kan?" panggil Ammar seraya menguasai emosinya kembali.
"Iya, Om."
Ammar berdiri tegap, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Awan. "Ayo, Om antarkan ke dapur di bawah. Kita ambil air minum."
Awan menatap uluran tangan tegap itu tanpa ragu. Jemari mungilnya yang hangat menyambut genggaman Ammar, menggenggam dua jari besar pria itu dengan erat.
Di lantai bawah, area dapur diterangi oleh pendar lampu kuning yang hangat.
Ammar mengambil sebuah gelas kaca bersih, mengisinya dengan air mineral hangat dari dispenser, lalu menyerahkannya pada Awan. Bocah kecil itu menenggak air putih tersebut hingga kandas dengan lahapnya, menyapu sisa air di bibirnya menggunakan punggung lengan.
"Pelan-pelan minumnya," senyum Ammar tipis, mengambil kembali gelas kosong itu dan meletakkannya di konter.
"Makasih, Om Habib!" cengir Awan lebar.
Ammar mendudukkan dirinya di salah satu kursi kayu dapur, memperhatikan Awan yang kini sibuk menjalankan mobil-mobilannya di atas permukaan meja dapur yang licin.
"Awan," panggil Ammar pelan.
"Iya, Om?" bocah itu mendongak.
"Awan sayang sama Mbak Aisyah?"
"Sayang bangat!" jawab Awan tanpa ragu, matanya membelalak antusias. "Mbak Sya itu orang paling baik di dunia! Mbak Sya selalu ngalah kalau ada makanan sikit. Mbak Sya kasih buat Awan sama Ibu, terus Mbak Sya bilangnya udah kenyang. Padahal Awan tahu perut Mbak Sya bunyi."
Ammar memejamkan matanya sejenak. Setiap helai cerita yang keluar dari bibir mungil Awan terasa seperti sabetan cemeti yang menguliti keangkuhan jiwanya. Pria yang selama ini merasa dirinya paling suci dan paling benar, kini merasa sangat kecil di hadapan pengorbanan seorang wanita yang selalu ia hina sebagai 'kupu-kupu malam'.
"Awan mau Om janji satu hal?" tanya Ammar lagi, menatap mata bocah itu dengan raut wajah yang amat serius.
"Janji apa, Om?"
"Om akan menjaga Mbak Aisyah, Ibu, dan Awan di rumah ini," ucap Ammar dengan nada suara yang dalam, mantap, dan sarat akan ikrar. "Nggak akan ada lagi yang berani menyakiti atau membuat Mbak Aisyah menangis."
Awan tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit. "Hore! Berarti Om Habib beneran pahlawan!"
Tepat saat itu, suara langkah kaki perlahan terdengar turun dari arah tangga.
Ammar dan Awan menoleh bersamaan ke arah ambang pintu dapur. Di sana, Aisyah berdiri mematung. Wanita itu telah menyapu air matanya, kini mengenakan kain selendang tipis yang ditutupkan kaku di atas kepalanya. Matanya yang sedikit sembab menatap adegan di hadapannya dengan pandangan tidak percaya.
Aisyah melihat adik kecilnya sedang duduk riang di meja dapur, dan di sisinya... Habib Ammarullah pria yang beberapa menit lalu hampir menciumnya dalam emosi sedang menggenggam lembut jemari Awan dengan raut wajah yang teramat hangat.
"Mbak Sya!" panggil Awan riang seraya meloncat turun dari kursi. "Lihat! Om Habib ngambilin Awan air minum! Om Habib janji mau jagain kita!"
Aisyah melangkah mendekati meja dapur, matanya tak lepas dari Ammar. Ada kecanggungan luar biasa yang kembali mengudara di antara mereka berdua, namun kali ini atmosfernya terasa berbeda. Tidak ada lagi percikan kebencian yang tajam.
"Awan... kenapa kebangun gak bangunin Mbak?" tegur Aisyah pelan, mengusap kepala adiknya.
"Awan haus, Mbak. Terus ketemu Om Habib di lorong," jawab Awan jujur.
Ammar berdiri dari kursinya. Pria itu menetralkan posisinya, membetulkan letak peci hitamnya. Ia menatap Aisyah, namun kali ini sorot matanya tidak lagi memancarkan keangkuhan dingin atau penghinaan. Ada sebuah keteduhan baru dan rasa hormat yang samar tersirat di dalam manik cokelat mewahnya.
"Saya ketemu Awan di dekat perpustakaan," ucap Ammar, suaranya terdengar berat dan lembut. "Dia haus, jadi saya bimbing ke bawah."
Aisyah menundukkan pandangannya, menelan ludah dengan susah payah. "Terima kasih... dan maaf kalau Awan mengganggu tidurmu."
"Dia tidak mengganggu sama sekali," potong Ammar cepat.
Ammar melangkah mendekati Aisyah. Ketika jarak mereka hanya tersisa satu langkah, Ammar menghentikan kakinya. Bau wangi kayu cendana dari tubuhnya kembali tercium, namun kali ini terasa menenangkan.
"Bawa Awan kembali ke kamar bawah," lanjut Ammar pelan, tatapannya terkunci pada wajah Aisyah. "Malam ini... kamu tidur di kamar bawah bersama ibumu dan Awan. Biar kamu bisa istirahat dengan tenang."
Aisyah mendongak, tertegun menatap mata Ammar. Pengertian tersirat dari kalimat Ammar sangat jelas: Pria itu memberikannya ruang dan jarak agar incident panas di kamar atas tidak terulang lagi malam ini.
"Iya," bisik Aisyah pelan. "Makasih, Ammar."
Ammar mengangguk pelan. Sebelum berbalik pergi, Ammar menundukkan tubuhnya sedikit ke arah Awan, menepuk bahu bocah kecil itu.
"Selamat tidur, Awan," ucap Ammar.
"Selamat tidur juga, Om Habib pahlawan!" cengir Awan.
Ammar berbalik dan melangkah naik kembali menuju lantai dua. Aisyah memperhatikan punggung tegap itu menyusuri tangga hingga menghilang di belokan lorong.
Di dalam keremangan malam dapur, Aisyah memegang dadanya sendiri. Detak jantungnya masih bergemuruh, bukan lagi karena rasa takut atau amarah... melainkan karena sebuah kesadaran baru yang perlahan merayap di dalam jiwanya.
Pria yang dinikahinya semalam bukanlah sekadar Habib kaku yang membencinya. Di balik jubah kesucian dan keangkuhannya, Habib Ammarullah adalah seorang pria yang sedang belajar membuka matanya untuk melihat kebenaran. Dan malam ini, batas dingin di antara dua dunia mereka... resmi mulai terkikis.